Menu

Keris Corok Kalawijan Bima Rangsang Luk 23 Pamor Banyu Mili Sepuh

KategoriDhapur Bima Rangsang, Keris, Keris Istimewa, Keris Kalawijan, Keris Luk 23, Keris Sepuh, Pamor Banyu Mili, Tangguh Cirebon
KodePK112
Di lihat31 kali
DhapurBima Rangsang Luk 23 (Kalawijan)
PamorBanyu Mili / Setro Banyu
TangguhKasultanan Cirebon (Abad XVI)
Panjang Bilah41 cm (keris gagah corok panjang)
WarangkaModel Cirebon Kayu Timoho Kuno
Deder/HuluUkiran Jawa Demam Kayu Kemuning Kuno
PendokBunton Model Cirebon
Harga Rp 15.500.000
Beli Sekarang

Ulasan Keris Corok Kalawijan Bima Rangsang Luk 23 Pamor Banyu Mili Sepuh

Keris Corok Kalawijan Bima Rangsang Luk 23 Pamor Banyu Mili Sepuh Kuno

  • Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Bima Rangsang Luk 23 (Kalawijan)
  • Pamor (motif lipatan besi) : Banyu Mili / Setro Banyu
  • Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kasultanan Cirebon (Abad XVI)
  • Panjang Bilah : 41 cm (keris gagah corok panjang)
  • Warangka : Model Cirebon Kayu Timoho Kuno
  • Handle / Gagang : Ukiran Jawa Demam Kayu Kemuning Kuno
  • Pendok : Bunton Model Cirebon
  • Mendak : Perak Kuno
  • Kode: PK112

Dialih rawatkan (dimaharkan) Keris Corok Kalawijan Bima Rangsang Luk 23 Pamor Banyu Mili Sepuh sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Keris Corok Kalawijan Bima Rangsang Luk 23 Pamor Banyu Mili Sepuh Keris Corok Kalawijan Bima Rangsang Luk 23 Pamor Banyu Mili Sepuh Keris Corok Kalawijan Bima Rangsang Luk 23 Pamor Banyu Mili Sepuh Keris Corok Kalawijan Bima Rangsang Luk 23 Pamor Banyu Mili Sepuh Keris Corok Kalawijan Bima Rangsang Luk 23 Pamor Banyu Mili Sepuh Keris Corok Kalawijan Bima Rangsang Luk 23 Pamor Banyu Mili Sepuh

Tentang Keris Kalawijan Luk 23

KALAWIJAN, pada jaman dahulu merujuk sebutan kepada mereka yang terlahir dalam kekurang-beruntungan atau keterbatasan fisik, seperti bucu (terlahir punggungnya bongkok), wujil cecebolan (orang cebol), bule (albino), jangkung (raksasa) dan yang memiliki ciri fisik berbeda lain. Tuhan itu Maha Adil, bila seseorang memiliki kekurangan, maka Ia akan memberikan suatu “kelebihan” lain yang tidak dimiliki orang biasa. Mereka-mereka ini kemudian diangkat menjadi kelompok abdi dalem pengiring kesayangan (disantuni kerajaan), karena dianggap manjur untuk melindungi Raja. Bahkan ada abdi dalem Bupati Nayaka Njawi-Lebet berpangkat Tumenggung yang sengaja ditugaskan oleh Raja untuk menangani persoalan langka ini, seperti mencari orang-orang yang dianggap aneh/tidak normal untuk menjadi klangenan Raja. Ibarat harus keluar masuk hutan, naik turun gunung, dan menyeberangi sungai harus siap sedia. Selain itu juga harus mampu membersihkan tempat-tempat yang dianggap angker dan wingit.

Abdi dalem palawija tak hanya dimiliki raja Jawa yang berkedudukan di dalam istana. Mereka yang berada di luar tembok istana atau berseberangan paham pun memilikinya. Abdi ini menjalani peran yang sama, sebagai pendamping setia. Pangeran Diponegoro pun memiliki dua panakawannya, Roto dan Bantengwareng yang bertubuh cebol, mereka selalu menemani sang Pangeran selama masa perang, penangkapan, hingga masa-masa sulit pembuangan, sampai akhir hayatnya. Bantengwareng juga berperan sebagai penjaga, pelawak di kala sedih, penasehat, peracik obat, dan penafsir mimpi. Bantengwareng juga memenuhi sumpah setianya hingga mati (teguh pati) untuk mengiringi Diponegoro. Dia meninggal dua tahun setelah wafatnya Sultan Abdulhamid Cokro Amirulmukminin Sayidin Panotogomo Kalifatullah Tanah Jowo.

Sedangkan dalam dunia tosan aji, istilah kalawijan atau palawijan paling tidak memiliki dua arti:

  • Pertama, Menurut sumber dari Babon Surakarta, Kalawija adalah nama yang diberikan kepada keris-keris yang jumlah luknya lebih dari tiga belas. Walaupun lebih dari 13 jumlah luknya, dhapur kalawija juga mempunyai pakem ricikan dan nama dhapur. Yang luknya lima belas atau tujuh belas, biasanya panjang bilahnya masih normal, tetapi bilah jumlah luknya lebih dari 19, ukuran panjang blahnya hampir selalu lebih panjang daripada keris umumnya. Makin banyak jumlah luknya, ukurannya juga semakin panjang. Namun, karena keris kalawija dulu memang jarang dibuat, sekarang ini sangat jarang dijumpai keris tua dan bagus yang luknya lebih dari 13. Terbanyak adalah kalawijan luk 15; banyak diantaranya yang tergolong master piece atau adikarya.
  • Kedua, Saat ini Kalawijan juga lazim digunakan untuk menyebut keris berluk 3,5,7 sampai 13 bahkan keris lurus yang ricikan-nya tidak sesuai pakem atau tidak punya nama dhapur. Selain pada keris, dhapur kalawija juga terdapat pada tombak juga pedang. Pada tombak penggolongan jenis kalawijan tidak dikaitkan dengan jumlah luknya sebagaimana keris. Kalawijan pada tombak menyangkut pada bentuknya yang tidak umum. Beberapa bentuk tombak yang tergolong kalawijan antara lain adalah; sarpamina, wulan tumanggal dan rosandita. Sedangkan pada pedang yang disebut dengan kalawijan adalah yang bentuknya tidak pakem atau di luar ricikan pedang yang benar. Ada beberapa ricikan yang ditambahkan dalam pedang kalawijan yang biasanya adalah ricikan yang terdapat pada keris, misalnya yang paling umum adalah penambahan gonjo, kembang kacang atau ditambah hiasan naga pada bagian pangkalnya.

Mengenai istilah kalawijan ini tentunya sangat berhubungan dengan nama ‘Palawija’, palawija adalah tanaman selingan, karena tanaman utama sebagai makanan pokok alias ‘pakem’ adalah padi. Karena itu tosan aji palawijan dapat dimaknai sebagai keris selingan, artinya maksud pembuatannya memang khusus, tidak seperti biasanya. Khusus keris luk-23 tidak pernah ada di buku-buku kepustakaan mengenai dhapur perkerisan, kecuali pada buku karangan Bambang Harsrinuksmo. Meskipun jarang sekali, keris luk-23 masih bisa dijumpai juga di masyarakat. Menurut pitutur orang tua jaman dahulu menyebutkan luk-23 merupakan dhapur sinengker (ditabukan). Hanya boleh dimiliki Raja dan keturunannya serta hanya dibabar ketika dibutuhkan dan oleh orang-orang tertentu saja.

Keris Corok Kalawijan Bima Rangsang Luk 23 Pamor Banyu Mili Sepuh Keris Corok Kalawijan Bima Rangsang Luk 23 Pamor Banyu Mili Sepuh Keris Corok Kalawijan Bima Rangsang Luk 23 Pamor Banyu Mili Sepuh

Pamor Banyu Mili / Setro Banyu / Ilining Warih

PAMOR ILINING WARIH, atau sering disebut banyu mili secara harafiah berarti air yang mengalir, merupakan salah satu motif pamor yang bentuk gambarannya menyerupai garis-garis yang membujur dari pangkal bilah hingga ke ujung. Garis-garis pamor itu ada yang utuh, ada yang putus-putus, dan banyak juga yang bercabang. Garis yang berkelok-kelok itu seolah menampilkan kesan mirip gambaran air sedang mengalir.

Seperti filosofi air yang selalu mengalir mencari jalannya sendiri dari Gunung (hulu) hingga Samudera (hilir), membasahi daratan kering, menghidupi tempat-tempat yang tandus. Pamor ini dipercaya membawa semangat pembaharuan, keluar dari masa sulit dalam kehidupannya. Tak heran banyak Pecinta keris menggemari keris dengan pamor motif sederhana ini karena tuahnya yang baik untuk kerejekian dan keluar dari kesulitan hidup.

Rp 3.333.000
Order Sekarang » SMS : 082 177 400 100
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeK220
Nama BarangKeris Pusaka Naga Liman Tangguh Kartasura
Harga Rp 3.333.000
Lihat Detail
Rp 3.550.000
Order Sekarang » SMS : 082 177 400 100
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeK160
Nama BarangKeris Janur Sinebit Majapahit Kuno
Harga Rp 3.550.000
Lihat Detail
Rp 2.100.000
Order Sekarang » SMS : 082 177 400 100
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeK117
Nama BarangPusaka Keris Carubuk Luk 7 Pamor Beras Wutah Kebak
Harga Rp 2.100.000
Lihat Detail
Rp 2.550.000
Order Sekarang » SMS : 082 177 400 100
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeK206
Nama BarangPusaka Keris Kebo Teki Sepuh Kuno
Harga Rp 2.550.000
Lihat Detail

Hubungi Kami

082 177 400 100
082 177 400 100
082 177 400 100
cspusakakeris@gmail.com

Semua Kategori