Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Jalak Sangu Tumpeng » Keris Jalak Sangu Tumpeng Tangguh Mataram Sultan Agung
click image to preview activate zoom

Keris Jalak Sangu Tumpeng Tangguh Mataram Sultan Agung

Rp 7.000.000
KodeTAG237
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Jalak Sangu Tumpeng, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Pedaringan Kebak, Tangguh Mataram, Tangguh Mataram Sultan Agung
Jenis : Keris Leres
Dhapur : Jalak Sangu Tumpeng
Pamor : Pedaringan Kebak
Tangguh : Mataram Sultan Agung
Warangka : Ladrang Surakarta, Kayu Trembalo Iras
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Nagasari
Pendok : Blewah, Bahan Kuningan Mamas
Mendak : Widengan, Bahan Kuningan
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Jalak Sangu Tumpeng Tangguh Mataram Sultan Agung

Dhapur Jalak Sangu Tumpeng

Jalak Sangu Tumpeng merupakan salah satu dhapur keris lurus dengan ukuran bilah sedang. Dhapur ini memiliki gandik polos dengan ricikan berupa pejetan, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan.

Dalam buku Sedjarah Keris Pedang Tumbak karya Sadubudi yang diterbitkan di Solo pada 1951, disebutkan bahwa dhapur Jalak Sangu Tumpeng pertama kali dibabar oleh Empu Hanggareksa di Desa Tapan, Pajajaran, pada tahun Jawa 1303. Keterangan tersebut merupakan catatan dalam literatur perkerisan yang menarik untuk diketahui sebagai bagian dari tradisi pengetahuan mengenai asal-usul dhapur ini.

Filosofi Jalak Sangu Tumpeng

Secara harfiah, Jalak Sangu Tumpeng dapat dimaknai sebagai burung jalak yang membawa bekal berupa tumpeng. Nama ini menghadirkan gambaran sederhana, tetapi menyimpan ruang pemaknaan yang luas melalui dua unsur utamanya, yaitu jalak dan tumpeng.

Burung jalak dikenal dekat dengan kehidupan manusia. Burung ini memiliki kemampuan beradaptasi, tangkas mencari makan, dan peka terhadap lingkungan sekitarnya. Dalam hubungan tertentu dengan makhluk lain, jalak juga dikenal dapat memberikan manfaat timbal balik. Sifat-sifat tersebut dapat dijadikan perlambang kecermatan, ketekunan, serta kemampuan menempatkan diri secara baik di tengah lingkungan sosial.

Sementara itu, tumpeng merupakan sajian nasi berbentuk kerucut yang dilengkapi beragam lauk-pauk dan sayuran, biasanya disajikan di atas tampah. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, tumpeng kerap hadir dalam berbagai upacara dan peringatan penting, mulai dari ungkapan syukur hingga permohonan keselamatan dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Bentuk tumpeng sering dimaknai melalui hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Bentuknya yang menjulang ke atas mengingatkan pada gunung, yang dalam pandangan masyarakat tradisional memiliki kedudukan simbolis sebagai sesuatu yang agung dan melampaui jangkauan manusia. Sementara itu, nasi, lauk-pauk, dan sayuran yang mengelilinginya menggambarkan hasil bumi serta kekayaan alam yang menopang kehidupan.

Dalam pemaknaan tersebut, puncak tumpeng dapat menjadi pengingat akan kedudukan Tuhan Yang Maha Pencipta, sedangkan aneka sajian di sekelilingnya melambangkan keberagaman karunia yang patut disyukuri. Bentuk kerucutnya juga dapat direnungkan sebagai simbol perjalanan kehidupan, dari asal mula hingga kembali kepada Sang Pencipta. Makna-makna ini berkembang dalam tradisi dan penafsiran budaya, sehingga tidak harus dipahami sebagai satu tafsir tunggal yang berlaku bagi seluruh masyarakat.

Ketika kedua unsur tersebut dipadukan, Jalak Sangu Tumpeng dapat dimaknai sebagai piwulang tentang pentingnya kecermatan dan ketekunan dalam mencari penghidupan, disertai kesadaran untuk mensyukuri hasil yang diperoleh. Manusia perlu pandai membaca keadaan, tekun berusaha, serta mampu membangun hubungan yang baik dengan sesama dan lingkungan.

Sebab, bekal kehidupan tidak hanya berupa materi yang dikumpulkan, tetapi juga pengetahuan, tata krama, rasa syukur, dan kemampuan memberikan manfaat bagi orang lain.

Pamor Pedaringan Kebak

Pamor Pedaringan Kebak merupakan motif pamor yang dalam penamaan tradisional dikaitkan dengan gambaran tempat penyimpanan beras yang terisi penuh. Kata pedaringan merujuk pada tempat menyimpan beras, sedangkan kebak berarti penuh. Nama ini menghadirkan perlambang kecukupan, persediaan pangan, dan harapan akan kehidupan yang berkecukupan.

Secara visual, pamor Pedaringan Kebak kerap dibandingkan dengan pamor Wos Wutah karena keduanya memiliki gambaran motif yang menyerupai butiran atau sebaran beras. Wos Wutah secara harfiah berarti beras yang tumpah, sedangkan Pedaringan Kebak menggambarkan tempat penyimpanan beras yang penuh. Perbedaan pemaknaan nama tersebut menjadi salah satu cara untuk memahami karakter motifnya.

Pada Pedaringan Kebak, pola pamor dapat tampak memenuhi sebagian besar permukaan bilah dengan sebaran yang relatif menyeluruh. Sementara itu, pada Wos Wutah, susunan motif pada sejumlah bilah dapat terlihat lebih berkelompok. Meski demikian, pembedaan keduanya tetap perlu mempertimbangkan bentuk motif yang benar-benar tampak pada bilah, karena penamaan pamor dalam tradisi perkerisan dapat memiliki variasi.

Dalam kepercayaan tradisional perkerisan, pamor Pedaringan Kebak sering dikaitkan dengan harapan akan rezeki yang melimpah, kecukupan kebutuhan hidup, dan kemakmuran. Pemaknaan tersebut selaras dengan gambaran tempat penyimpanan beras yang penuh, yakni adanya persediaan yang mencukupi untuk menopang kehidupan.

Secara filosofis, Pedaringan Kebak dapat menjadi pengingat bahwa kemakmuran tidak hanya berkaitan dengan banyaknya harta yang diperoleh, tetapi juga dengan kemampuan mengelola hasil usaha, menjaga kecukupan, dan berbagi dengan sesama. Rezeki yang baik bukan sekadar rezeki yang datang, melainkan juga rezeki yang dikelola dengan bijaksana dan membawa manfaat.

Tangguh Mataram Sultan Agung

Tangguh Mataram Sultan Agung merujuk pada salah satu pengelompokan karakter keris dalam tradisi penangguhan yang dikaitkan dengan masa pemerintahan Sultan Agung Anyokrokusumo, raja Mataram Islam yang memerintah pada 1613 hingga 1645.

Masa pemerintahan Sultan Agung dikenal sebagai periode penting dalam sejarah Mataram. Selain memperkuat pemerintahan dan kekuatan militer, Sultan Agung juga memberikan perhatian terhadap perkembangan kebudayaan. Dalam berbagai kajian mengenai sejarah keris, masa Mataram menjadi salah satu periode yang penting dalam perkembangan bentuk, teknik pengerjaan, dan tradisi perkerisan di Jawa.

Dalam literatur perkerisan, terdapat kisah mengenai kelompok empu yang dikenal sebagai empu pakelun. Menurut penuturan yang berkembang, menjelang penyerangan Mataram ke Batavia, terdapat ratusan empu yang bekerja di bawah kepemimpinan sembilan empu jejeneng. Nama-nama yang disebut dalam tradisi tersebut meliputi Ki Nom, Empu Legi, Empu Tepas, Empu Luwing, Empu Guling, Empu Tundung, Empu Anjir, Empu Gede, dan Empu Mayi.

Kisah tersebut menggambarkan besarnya perhatian yang dalam tradisi perkerisan dikaitkan dengan masa Sultan Agung. Namun, jumlah empu, struktur kelompok, dan rincian penugasannya sebaiknya dipahami sebagai keterangan dari literatur perkerisan yang masih memerlukan penelusuran sumber sejarah lebih lanjut.

Dalam Ensiklopedi Keris karya Bambang Harsrinuksmo yang diterbitkan pada 2004, karakter tangguh Mataram Sultan Agung antara lain dijelaskan melalui istilah pasikutan demes, yaitu perawakan yang serasi, menyenangkan, dan enak dipandang. Sementara itu, karakter besinya disebut mentah dan pamornya mubyar, yakni menampilkan kesan pamor yang cerah atau berkilau.

Istilah-istilah tersebut merupakan bagian dari kosakata tradisional untuk membaca karakter bilah keris. Dalam penerapannya, penangguhan tidak semata-mata didasarkan pada satu ciri, tetapi mempertimbangkan keseluruhan bentuk, ricikan, karakter besi, pamor, garap, dan perbandingannya dengan keris rujukan.

Dengan demikian, penyebutan Tangguh Mataram Sultan Agung pada keris ini merupakan identifikasi berdasarkan tradisi penangguhan, bukan bukti pasti bahwa bilah tersebut dibuat langsung pada masa pemerintahan Sultan Agung.

TAG237

Keris Jalak Sangu Tumpeng Tangguh Mataram Sultan Agung

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 0 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us