Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Keris Pamor Raja Kamkam Wengkon Isen
- Pusaka Tombak Sigar Jantung Pamor Banyu Mili
- Jagrak Keris Model Tugu Isi 1
- Keris Majapahit Pamor Rojo Gundolo
- Keris Udan Mas Mataram Sepuh
- Pusaka Keris Sengkelat Pamor Wos Wutah
- Keris Pamor Janur Sinebit Tangguh Tuban Kuno
- Keris Pamor Mlinjon Akhodiyat Meteor Langka Sepuh
Keris Bima Rangsang Luk 25 Kalawijan
Rp 13.500.000| Kode | TAG029 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Dhapur Bima Rangsang, Kawruh Keris, Keris, Keris Luk 25, Pamor Pedaringan Kebak, Tangguh Cirebon |
| Jenis | : Keris Luk 25 |
| Dhapur | : Bima Rangsang (Kalawijan) |
| Pamor | : Pedaringan Kebak |
| Tangguh | : Cirebon |
| Warangka | : Ladrang, Bahan Kayu Kemuning Bang |
| Deder/Handle | : Sekar Kacang, Bahan Kayu Kemuning Bang |
| Pendok | : Bunton, Bahan Perak |
| Mendak | : Selut Mangkukan, Bahan Perak |
Keris Bima Rangsang Luk 25 Kalawijan
Dhapur Bima Rangsang Luk 25
Bima Rangsang Luk 25 merupakan salah satu dhapur keris yang sangat langka dijumpai. Sejak dahulu, keris dengan jumlah luk sebanyak ini memang tidak dibuat secara umum, melainkan untuk tujuan-tujuan tertentu sehingga jumlahnya sangat terbatas. Oleh sebab itu, keberadaannya hingga hari ini menjadi sebuah keberuntungan tersendiri bagi siapa pun yang dapat memilikinya.
Dhapur Bima Rangsang termasuk ke dalam golongan dhapur kalawijan, yakni kelompok dhapur yang berada di luar pakem keris pada umumnya. Ciri ricikannya antara lain terdiri atas sekar kacang, jalen, lambe gajah rangkap, tikel alis, pejetan, sogokan rangkap, serta greneng, berpadu dengan bilah luk 25 yang memberikan kesan agung sekaligus berwibawa.
Apabila ditinjau melalui pendekatan etimologi, nama Bima Rangsang diduga berasal dari tokoh Bima (Werkudara) dalam pewayangan yang dipadukan dengan kata “rangsang”. Dalam bahasa Jawa Kawi, rangsang dapat dimaknai sebagai menyerang atau bergerak maju, sedangkan dalam pemaknaan Jawa yang lebih baru dapat pula dimaknai sebagai dorongan untuk menggapai cita-cita yang luhur. Karena itu, dhapur ini sering dipahami sebagai perlambang keteguhan hati, keberanian menghadapi tantangan, serta semangat yang tidak pernah surut dalam menggapai tujuan hidup.
Tentang Keris Kalawijan
Dalam tradisi Jawa, istilah kalawijan pada mulanya merujuk kepada mereka yang terlahir dengan kondisi fisik yang berbeda, seperti bucu (bungkuk), wujil (cebol), bule (albino), maupun bentuk fisik lain yang dianggap tidak lazim. Masyarakat Jawa kuno memandang bahwa setiap kekurangan selalu diimbangi oleh kelebihan yang dianugerahkan Tuhan.
Karena keyakinan tersebut, para kalawijan sering diangkat menjadi abdi dalem kesayangan raja. Mereka dipercaya memiliki daya batin, kesetiaan, serta tuah tertentu yang mampu menjadi pelindung sekaligus pendamping penguasa. Bahkan dalam sejarah, Pangeran Diponegoro dikenal memiliki dua panakawan bertubuh cebol, yakni Roto dan Bantengwareng, yang setia mendampingi beliau hingga akhir hayat.
Dalam dunia tosan aji, istilah kalawijan memiliki makna yang berbeda.
Menurut pakem Babon Surakarta, keris kalawijan adalah keris yang memiliki jumlah luk lebih dari tiga belas, namun tetap mempunyai nama dhapur dan pakem ricikan yang jelas. Semakin banyak jumlah luknya, umumnya ukuran bilah juga semakin panjang. Karena dahulu pembuatannya sangat jarang, keris kalawijan tua dengan kualitas baik kini menjadi salah satu kategori pusaka yang paling sulit ditemukan.
Pada perkembangan berikutnya, istilah kalawijan juga digunakan untuk menyebut keris yang ricikannya tidak mengikuti pakem dhapur umum, meskipun jumlah luknya masih berada di bawah tiga belas atau bahkan keris lurus. Dengan demikian, istilah kalawijan tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah luk, melainkan juga menunjukkan bentuk yang bersifat khusus atau tidak lazim.
Secara filosofis, istilah kalawijan memiliki hubungan dengan kata palawija, yakni tanaman selingan di antara tanaman pokok berupa padi. Dalam konteks perkerisan, makna tersebut dapat dipahami bahwa keris kalawijan merupakan pusaka yang memang diciptakan untuk maksud tertentu, berbeda dari keris-keris pakem yang dibuat secara umum.
Tangguh Cirebon Era Mataram Sultan Agung
Keris ini memperlihatkan karakter yang menarik karena memadukan gaya garap Cirebon dengan kualitas material yang menunjukkan pengaruh kuat dari masa kejayaan Kesultanan Mataram pada era Sultan Agung.
Secara bentuk, bilahnya masih mempertahankan ciri khas keris Cirebon yang ramping dan anggun. Namun kualitas besi serta pamornya memperlihatkan peningkatan yang identik dengan karya-karya Mataram pada masa Sultan Agung, terutama melalui hadirnya pamor pethak mubyar yang oleh para kolektor sering disebut sebagai royal pamor.
Fenomena tersebut diduga berkaitan dengan peristiwa pakelun, ketika Sultan Agung menghimpun para empu terbaik dari berbagai wilayah Nusantara, termasuk Cirebon, untuk mengembangkan mutu pembuatan tosan aji. Pertemuan berbagai tradisi tempa itu melahirkan karya-karya yang memadukan karakter lokal dengan kualitas material yang semakin tinggi.
Hubungan antara Cirebon dan Mataram pada masa itu memang sangat erat. Setelah berada di bawah pengaruh Mataram, Cirebon menjadi salah satu daerah penting dalam strategi politik dan militer Sultan Agung, termasuk sebagai pangkalan dalam ekspedisi menuju Batavia. Hubungan tersebut semakin kuat melalui ikatan keluarga kerajaan yang kemudian melahirkan Sunan Amangkurat I sebagai penerus takhta Mataram.
Di luar ranah politik, hubungan tersebut juga membawa dampak besar terhadap perkembangan seni dan budaya. Sebagai kota pelabuhan yang sejak masa Sunan Gunung Jati menjadi pusat perdagangan internasional, Cirebon merupakan tempat bertemunya berbagai tradisi, termasuk tradisi perkerisan. Tidak mengherankan apabila karya-karya empu Cirebon pada masa ini memperlihatkan perpaduan antara karakter pesisir yang khas dengan teknik tempa dan kualitas material yang berkembang di lingkungan Mataram.
Keris bertangguh Cirebon Era Mataram Sultan Agung menjadi bukti bahwa perkembangan tosan aji Nusantara tidak berlangsung secara terpisah, melainkan melalui proses saling memengaruhi antardaerah. Dari perpaduan tersebut lahirlah pusaka-pusaka adiluhung yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga merekam perjalanan sejarah, politik, dan kebudayaan Nusantara dalam sebilah bilah keris.
TAG029
Keris Bima Rangsang Luk 25 Kalawijan
| Berat | 300 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 19 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Sengkelat Luk 13 Sepuh Pamor Wengkon Keris Sengkelat Luk 13 merupakan salah satu dhapur paling ikonik dalam jagad perkerisan Jawa, sebuah bentuk yang selalu menempati posisi istimewa di hati para kolektor dan pemerhati tosan aji. Bilahnya berluk tiga belas—jumlah luk yang sarat makna spiritual—dengan ricikan lengkap dan garap yang tegas namun tetap anggun. Di… selengkapnya
Rp 7.000.000Mahesa Lajer Pamor Putri Kinurung Mahesa Lajer Pamor Putri Kinurung merupakan keris koleksi yang memiliki dhapur Mahesa Lajer atau juga biasa dikenal dengan sebutan Kebo Lajer. Keris ini merupakan keris yang usianya sudah sangat tua ratusan tahun lamanya. Pamor keris ini adalah Putri Kinurung. Terdapat di bagian sor-soran dengan pola lingakaran-lingkaran kecil yang berada di… selengkapnya
Rp 1.700.000Tilam Upih Pamor Wahyu Tumurun Tilam Upih Pamor Wahyu Tumurun – Keris bukan sekadar benda pusaka, melainkan sebuah simbol, sebuah doa yang terukir dalam bilahnya. Dan di antara sekian banyak pamor, Wahyu Tumurun adalah salah satu yang paling dicari, karena dipercaya membawa anugerah, ilham, dan keberuntungan bagi pemiliknya. Nama Wahyu Tumurun sendiri bermakna “turunnya wahyu”—sebuah… selengkapnya
Rp 2.300.000Keris Sengkelat Pamor Pedaringan Kebak Keris Sengkelat Pamor Pedaringan Kebak merupakan salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris kami. Keris ini termasuk dalam golongan jenis keris luk 13. Jika dilihat dari bentuk dan ricikannya, keris ini berdhapur Sengkelat / Sangkelat. Untuk pamor yang tergurat di bilahnya adalah pamor Pedaringan Kebak. Warangka memakai model Ladrang dari bahan kayu Trembalo gandar… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Sempono Luk 9 Pamor Sumur Bandung Mataram Sepuh Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sempono Luk 9 Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Kebak Meteorit (terdapat pamor tiban Sumur Bandung dibagian sor soran) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Abad Ke 17 Masehi Panjang Bilah : 35,5 cm Warangka : Ladrang Surakarta… selengkapnya
Rp 2.250.000Dhapur Sinom Sinom merupakan salah satu dhapur keris lurus yang dikenal dengan ricikan khas berupa sekar kacang, jalen, lambe gajah satu, pejetan, sogokan rangkap, sraweyan, serta greneng. Secara perawakan, Sinom menampilkan kesan sederhana namun rapi, memancarkan rasa halus yang menjadi ciri utama dhapur ini. Secara harfiah, sinom merujuk pada daun pohon asam yang masih muda,… selengkapnya
Rp 3.500.000MASTERPIECE Keris Tumenggung Pamor Ron Genduru MASTERPIECE keris Tumenggung Pamor Ron Genduru – Tumenggung merupakan keris pusaka yang dibuat sejak zaman dulu. Walaupun keris ini dibuat sudah lama akan tetapi keberadaan dari keris pusaka tumenggung ini masih diburu atau dicari sampai sekarang. Keris tumenggung ini memiliki bentuk yang sangat indah dan ditambah dengan pamornya yaitu… selengkapnya
Rp 25.000.000Pusaka Keris Brojol Pamor Tangkis Sepuh Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Brojol Pamor (motif lipatan besi) : Tangkis 2 sisi bilah beda pamor (pamor wengkon dan sebaliknya pamor kulit semangka) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Tuban Era Mataram Abad Ke 16 Masehi Panjang Bilah :28,5 cm Warangka : Gayaman Surakarta Gandar Iras Kayu… selengkapnya
Hubungi Admin
























WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.