Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Bima Rangsang » Keris Bima Rangsang Luk 25 Kalawijan
click image to preview activate zoom

Keris Bima Rangsang Luk 25 Kalawijan

Rp 13.500.000
KodeTAG029
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Bima Rangsang, Kawruh Keris, Keris, Keris Luk 25, Pamor Pedaringan Kebak, Tangguh Cirebon
Jenis : Keris Luk 25
Dhapur Bima Rangsang (Kalawijan)
Pamor Pedaringan Kebak
Tangguh Cirebon
Warangka : Ladrang, Bahan Kayu Kemuning Bang
Deder/Handle : Sekar Kacang, Bahan Kayu Kemuning Bang
Pendok : Bunton, Bahan Perak
Mendak : Selut Mangkukan, Bahan Perak
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Bima Rangsang Luk 25 Kalawijan

Dhapur Bima Rangsang Luk 25

Bima Rangsang Luk 25 merupakan salah satu dhapur keris yang sangat langka dijumpai. Sejak dahulu, keris dengan jumlah luk sebanyak ini memang tidak dibuat secara umum, melainkan untuk tujuan-tujuan tertentu sehingga jumlahnya sangat terbatas. Oleh sebab itu, keberadaannya hingga hari ini menjadi sebuah keberuntungan tersendiri bagi siapa pun yang dapat memilikinya.

Dhapur Bima Rangsang termasuk ke dalam golongan dhapur kalawijan, yakni kelompok dhapur yang berada di luar pakem keris pada umumnya. Ciri ricikannya antara lain terdiri atas sekar kacang, jalen, lambe gajah rangkap, tikel alis, pejetan, sogokan rangkap, serta greneng, berpadu dengan bilah luk 25 yang memberikan kesan agung sekaligus berwibawa.

Apabila ditinjau melalui pendekatan etimologi, nama Bima Rangsang diduga berasal dari tokoh Bima (Werkudara) dalam pewayangan yang dipadukan dengan kata “rangsang”. Dalam bahasa Jawa Kawi, rangsang dapat dimaknai sebagai menyerang atau bergerak maju, sedangkan dalam pemaknaan Jawa yang lebih baru dapat pula dimaknai sebagai dorongan untuk menggapai cita-cita yang luhur. Karena itu, dhapur ini sering dipahami sebagai perlambang keteguhan hati, keberanian menghadapi tantangan, serta semangat yang tidak pernah surut dalam menggapai tujuan hidup.


Tentang Keris Kalawijan

Dalam tradisi Jawa, istilah kalawijan pada mulanya merujuk kepada mereka yang terlahir dengan kondisi fisik yang berbeda, seperti bucu (bungkuk), wujil (cebol), bule (albino), maupun bentuk fisik lain yang dianggap tidak lazim. Masyarakat Jawa kuno memandang bahwa setiap kekurangan selalu diimbangi oleh kelebihan yang dianugerahkan Tuhan.

Karena keyakinan tersebut, para kalawijan sering diangkat menjadi abdi dalem kesayangan raja. Mereka dipercaya memiliki daya batin, kesetiaan, serta tuah tertentu yang mampu menjadi pelindung sekaligus pendamping penguasa. Bahkan dalam sejarah, Pangeran Diponegoro dikenal memiliki dua panakawan bertubuh cebol, yakni Roto dan Bantengwareng, yang setia mendampingi beliau hingga akhir hayat.

Dalam dunia tosan aji, istilah kalawijan memiliki makna yang berbeda.

Menurut pakem Babon Surakarta, keris kalawijan adalah keris yang memiliki jumlah luk lebih dari tiga belas, namun tetap mempunyai nama dhapur dan pakem ricikan yang jelas. Semakin banyak jumlah luknya, umumnya ukuran bilah juga semakin panjang. Karena dahulu pembuatannya sangat jarang, keris kalawijan tua dengan kualitas baik kini menjadi salah satu kategori pusaka yang paling sulit ditemukan.

Pada perkembangan berikutnya, istilah kalawijan juga digunakan untuk menyebut keris yang ricikannya tidak mengikuti pakem dhapur umum, meskipun jumlah luknya masih berada di bawah tiga belas atau bahkan keris lurus. Dengan demikian, istilah kalawijan tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah luk, melainkan juga menunjukkan bentuk yang bersifat khusus atau tidak lazim.

Secara filosofis, istilah kalawijan memiliki hubungan dengan kata palawija, yakni tanaman selingan di antara tanaman pokok berupa padi. Dalam konteks perkerisan, makna tersebut dapat dipahami bahwa keris kalawijan merupakan pusaka yang memang diciptakan untuk maksud tertentu, berbeda dari keris-keris pakem yang dibuat secara umum.


Tangguh Cirebon Era Mataram Sultan Agung

Keris ini memperlihatkan karakter yang menarik karena memadukan gaya garap Cirebon dengan kualitas material yang menunjukkan pengaruh kuat dari masa kejayaan Kesultanan Mataram pada era Sultan Agung.

Secara bentuk, bilahnya masih mempertahankan ciri khas keris Cirebon yang ramping dan anggun. Namun kualitas besi serta pamornya memperlihatkan peningkatan yang identik dengan karya-karya Mataram pada masa Sultan Agung, terutama melalui hadirnya pamor pethak mubyar yang oleh para kolektor sering disebut sebagai royal pamor.

Fenomena tersebut diduga berkaitan dengan peristiwa pakelun, ketika Sultan Agung menghimpun para empu terbaik dari berbagai wilayah Nusantara, termasuk Cirebon, untuk mengembangkan mutu pembuatan tosan aji. Pertemuan berbagai tradisi tempa itu melahirkan karya-karya yang memadukan karakter lokal dengan kualitas material yang semakin tinggi.

Hubungan antara Cirebon dan Mataram pada masa itu memang sangat erat. Setelah berada di bawah pengaruh Mataram, Cirebon menjadi salah satu daerah penting dalam strategi politik dan militer Sultan Agung, termasuk sebagai pangkalan dalam ekspedisi menuju Batavia. Hubungan tersebut semakin kuat melalui ikatan keluarga kerajaan yang kemudian melahirkan Sunan Amangkurat I sebagai penerus takhta Mataram.

Di luar ranah politik, hubungan tersebut juga membawa dampak besar terhadap perkembangan seni dan budaya. Sebagai kota pelabuhan yang sejak masa Sunan Gunung Jati menjadi pusat perdagangan internasional, Cirebon merupakan tempat bertemunya berbagai tradisi, termasuk tradisi perkerisan. Tidak mengherankan apabila karya-karya empu Cirebon pada masa ini memperlihatkan perpaduan antara karakter pesisir yang khas dengan teknik tempa dan kualitas material yang berkembang di lingkungan Mataram.

Keris bertangguh Cirebon Era Mataram Sultan Agung menjadi bukti bahwa perkembangan tosan aji Nusantara tidak berlangsung secara terpisah, melainkan melalui proses saling memengaruhi antardaerah. Dari perpaduan tersebut lahirlah pusaka-pusaka adiluhung yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga merekam perjalanan sejarah, politik, dan kebudayaan Nusantara dalam sebilah bilah keris.

TAG029

Keris Bima Rangsang Luk 25 Kalawijan

Berat 300 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 19 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us