Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Jangkung » Jangkung Pacar Pamor Tambal Lima
click image to preview activate zoom

Jangkung Pacar Pamor Tambal Lima

KodeTAG125
Stok Habis
Kategori Dhapur Jangkung, Dhapur Jangkung Pacar, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 3, Pamor Tambal
Tentukan pilihan yang tersedia!
OUT OF STOCK
Maaf, produk ini tidak tersedia.
Bagikan ke

Jangkung Pacar Pamor Tambal Lima

Jangkung Pacar Pamor Tambal Lima

Filosofi Jangkung Pacar

Jangkung panganggenya, kudu jinangkung dèn-eling… Dhapur Jangkung mengandung arti agar dalam hidupnya manusia untuk selalu “eling” memohon dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Esa dengan sumarah, sumeleh serta mituhu” agar hidupnya jinangkung-jinampangan (dilindungi dan diberkati oleh Yang Maha Kuasa).

Sumarah berarti berserah atau pasrah dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena kita mengetahui betapa Maha Kuasa-Nya Allah sekaligus memahami betapa tidak berharga dan tidak berdayanya kita manusia di hadapan Allah. Bahwa DIA lah yang mengatur segala sesuatunya dan akan memberikan yang terbaik dalam kehidupan kita. Di saat kita menghadapi cobaan hidup maka kita bekeyakinan bahwa Allah telah punya rancangan-Nya sendiri bagi kita.

Sumeleh bukan berarti menyerah. Manusia sebagai hamba hanyalah bisa berusaha dan apapun hasilnya tergantung ridho-Nya. Maka dengan sumeleh manusia di harapkan tak mudah putus asa dan teguh dalam usahanya, termasuk ikhlas menerima yang tidak dikehendaki atau tidak kita harapkan terjadi.

Mituhu : artinya patuh dan menurut nasehat orang tua, karena orang tua adalah salah satu jalan yang membuat seorang manusia bisa sukses. Menjadi langkah awal menuju sebuah kesuksesan yang luar biasa.

Pacar sendiri adalah daun yang biasa dipakai untuk menghias kuku, juga pada jaman dahulu digunakan untuk mewarnai kayu, warnanya merah darah. Daun pacar memiliki sifat magis dan melambangkan kesucian. Hal yang disucikan adalah berkenaan dengan raga, penyucian jiwa yang berkenaan dengan niat (artinya memberikan petuah kepada anak agar memperbaiki niatnya dalam menyongsong kehidupannya di masa mendatang) dan menyucikan tekad (artinya bercita-cita atau bersungguh-sungguh untuk menjaga hidup yang benar).

Tak heran pada jaman dahulu kala, seorang anak yang sudah beranjak dewasa dan siap memilih jodoh dan menentukan jalan hidupnyanya sendiri dibekali oleh ayahnya dengan sebuah keris berdapur Jangkung Pacar – karena menjadi sebuah hal yang penting dalam tradisi Jawa untuk mengawali pernikahan. Hal ini dianggap karena sebuah pernikahan memiliki kedudukan tinggi bagi perjalanan hidup seseorang. Hal ini berkenaan dengan makna yang juga terkandung dalam agama bahwa salah satu prosesi pernikahan adalah proses penyempurnaan agama bagi setiap orang (baik laki-laki maupun perempuan). Dimana ibadah orang yang menikah dianggap lebih tinggi derajatnya ketimbang yang belum menikah. Inilah makna filosofi dari tradisi yang mengandung nilai-nilai yang begitu kental dengan ajaran agama. Maka tradisi yang demikian adalah baik untuk dijaga dan dilestarikan.

Keris berdapur luk tiga Jangkung dipercaya mempunyai tuah atau melambangkan dorongan semangat untuk mencapai cita-cita : “sae kagem ingkang kagungan gegayuhan – Kajangkung Gegayuhaning Manah”. Konon pula pada masa mudanya Sultan Agung mempunyai keris andalan Jangkung Manglar Monga, keris luk tiga dimana pada bagian bawah terdapat gambaran burung garuda dengan sayap mengepak. Adapun keris Jangkung Manglar Monga ini mengandung makna akan harapan dan cita-cita melanglang jagad dengan menjadikan budaya Jawa sebagai budaya yang tinggi.

Pamor Tambal

Sesuai dengan namanya dibuat dengan cara ditambal di bilah, bentuknya mirip dengan goresan kuas besar pada sebuah bidang lukisan. Walau seringkali posisi/jaraknya tidak merata/sama namun tetap indah dipandang. Pamor tambal tergolong pamor rekan yang sengaja dirancang oleh sang Empu.

Bagi sebagian pecinta keris, pamor tambal dipercaya sebagai pamor pemilih, artinya tidak semua orang cocok untuk memilikinya. Namun bagi mereka yang cocok, pamor ini mempunyai tuah yang konon baik untuk kemajuan karir, serta memudahkan pemiliknya mencapai derajad dan kedudukan sosial yang tinggi di dalam masyarakat (junjung derajad).

Sacara filosofi dan spiritual, pamor tambal dibuat sebagai doa/harapan agar setiap kelemahan dan kekurangan kita akan ditambal dan ditutupi-Nya, sebagai pemilik kuas Sang Pelukis Kehidupan. Pamor Tambal dapat juga mengandung arti akan adanya sebuah “ikhtiar” untuk mewujudkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Sebuah perlambang bahwa kita manusia sadar sebagai hamba yang penuh ketidaksempurnaan. Dalam kerendahan hati memohon agar setiap celah kelemahan dan kekurangan kita akan ditambal oleh Sang Penata Kehidupan dan berharap segala sesuatunya ditutup sesuai rancangan-Nya.

Filosofi Pamor Tambal Lima

Dalam budaya Jawa angka lima melambangkan kesempurnaan hidup manusia, baik secara fisik/lahiriah maupun tingkat spiritual/agama. Anugerah pertama dan terbesar dalam hidup adalah ketika Sang Pencipta memberikan kelengkapan panca indera. Manusia yang sempurna secara fisik/lahiriah adalah mereka yang terlahir tanpa ada kekurangan dalam salah satu panca inderanya, yang diikuti pula tanda fisik lainnya yakni memiliki lima jari tangan dan lima jari kaki. Selanjutnya Tuhan selalu mengingatkan bahwa manusia harus selalu bersyukur dan meminta ampun atas segala dosa dilakukannya di dunia dengan menjalani syariat Agama, yang misal dalam Islam berjumlah lima hal pokok, rukun islam serta sholat lima waktu.

Maka bagi orang Jawa, angka lima adalah pokok menuju kesempurnaan. Oleh karena itu pula, orang Jawa memiliki lima jenis hari (bukan tujuh yang seperti kita anut) yaitu pon, wage, kliwon, legi, dan pahing. Tidak hanya dijadikan sebagai jumlah hari, masyarakat Jawa menilai lelaki sempurna lahir batin baru akan dianggap sebagai seorang “satria” ketika sudah mencapai astobroto atau memiliki lima hal yang melengkapi hidupnya. Lima hal itu ialah: Griya (rumah), Wanita (isteri), Turangga (kuda), Kukila (burung), dan Curiga (keris).

 

TAG125

Tags: , , ,

Jangkung Pacar Pamor Tambal Lima

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 1.306 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
WhatsApp WhatsApp us