Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Keris Tangguh Mataram Sultan Agung
- Keris Sengkelat Luk 13 Kembang Kacang Nggelung Way
- Pendok Selongsong Warangka Keris Blewah Surakarta
- Keris Carubuk Pamor Rojo Gundolo Tangguh Majapahit
- Kudi Kabudhan Kuno Abad 10 Masehi Temuan Sungai Br
- Keris Pamor Bendo Segodo Corok Panjang Sepuh Kuno
- Keris Sabuk Inten Sepuh Pamor Meteor Akhodiyat
- Pusaka Keris Sengkelat Kembang Kacang Bungkem Mata
Tilam Upih Pamor Tirto Tumetes Original Sepuh
Rp 2.500.000| Kode | P217 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Tilam Upih, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Keris Sepuh, Pamor Banyu Tetes, Pamor Batu Lapak, Pamor Putri Kinurung, Pamor Tirto Tumetes, Tangguh Tuban |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Tilam Upih |
| Pamor | : Tirto Tumetes + Putri Kinurung + Batu Lapak |
| Tangguh | : Tuban Majapahit |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Kayu Trembalo |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Trembalo |
| Mendak | : Kendhit, Bahan Kuningan |
Tilam Upih Pamor Tirto Tumetes Original Sepuh
Tilam Upih Pamor Tirto Tumetes Original Sepuh
Keris dhapur Tilam Upih selalu ditempatkan sebagai pusaka yang sarat makna laku hidup. Ia tidak menampilkan kegagahan yang mencolok, tetapi justru memancarkan keteduhan dan kewibawaan yang halus. Sejak dahulu, Tilam Upih kerap dihadirkan dalam peristiwa-peristiwa penting kehidupan, khususnya dalam ikatan perkawinan, sebagai simbol doa agar rumah tangga berlandaskan ketenteraman, kesederhanaan, dan keteguhan batin. Dalam wujudnya yang lurus dan bersahaja, tersimpan ajaran agar manusia mampu menahan diri, memahami batas, serta menjalani hidup dengan penuh kesadaran.
Pusaka Tilam Upih Pamor Tirto Tumetes Original Sepuh ini menghadirkan perpaduan antara laku prihatin dan harapan rezeki yang lumintu. Pamor Tirto Tumetes yang mengalir lembut seperti tetesan air menjadi lambang usaha yang tekun, sabar, dan berkesinambungan—tidak meledak-ledak, namun pasti. Dalam usia sepuhnya, bilah ini memancarkan rasa matang dan teduh, seolah menegaskan bahwa keberkahan sejati lahir dari proses panjang, keikhlasan, serta keselarasan antara niat, laku, dan tujuan hidup.
Dhapur Tilam Upih
Dhapur Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris yang sarat makna simbolik dalam tradisi Jawa. Tilam berarti alas tidur, sedangkan upih adalah pelepah daun—sebuah pembaringan sederhana yang memberi rasa hangat saat dingin dan sejuk saat panas. Simbol ini merepresentasikan ketenteraman, kesahajaan, dan keseimbangan hidup rumah tangga. Karena itulah, sejak dahulu dhapur Tilam Upih kerap dipilih sebagai keris kancing gelung, pusaka yang diberikan dalam peristiwa perkawinan sebagai tanda pengikat lahir batin antara dua insan.
Lebih dalam lagi, Tilam Upih dimaknai sebagai perlambang laku prihatin dan tirakat. Sebuah ajaran agar manusia mampu menahan diri, tidak terlena oleh kenikmatan duniawi, serta senantiasa menjaga keselarasan antara rasa, pikir, dan tindak. Keris berdhapur Tilam Upih bukan pusaka untuk menonjolkan kuasa, melainkan untuk menata kehidupan agar selalu berada dalam lindungan berkah, keselamatan, dan ketenteraman.
Pamor Tirto Tumetes
Pamor Tirto Tumetes, yang juga dikenal sebagai tetesing warih atau banyu tetes, menampilkan gambaran pamor menyerupai tetesan air yang jatuh tidak beraturan. Termasuk pamor mlumah dan tidak memilih, pamor ini dipercaya membawa tuah rezeki yang lumintu—mengalir terus-menerus meski sedikit demi sedikit, namun jarang terputus.
Secara filosofis, Tirto Tumetes adalah pepeling tentang ketekunan dan kegigihan. Seperti tetesan air yang mampu melubangi batu karang, pamor ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada ledakan besar, melainkan pada konsistensi dan kesabaran. Ia menanamkan keyakinan bahwa segala tujuan dapat dicapai selama dijalani dengan istiqamah dan keteguhan niat.
Pamor Putri Kinurung
Di bagian sor-soran bilah tampak Pamor Putri Kinurung, sebuah pamor tiban yang kerap dimaknai sebagai simbol kesucian batin dan keanggunan yang terjaga. Istilah kinurung merujuk pada tradisi pingitan putri Jawa—bukan untuk mengurung, melainkan untuk menjaga, mematangkan jiwa, dan mempersiapkan diri menuju fase kehidupan yang lebih luhur.
Dalam makna laku, Putri Kinurung adalah gambaran kebaikan yang tidak diumbar. Amal utama tidak selalu perlu dipertontonkan, sebab kemuliaan sejati akan memancar dengan sendirinya. Seperti petuah Jawa:
“Aruming jeneng ngambar-ambar saluming bumi, jaya-jaya wijayanti nir ing sambekala.”
Motifnya yang menyerupai danau luas dengan pulau-pulau kecil dipercaya membawa tuah pengayoman, perlindungan dari mara bahaya, serta menjaga keharmonisan batin dan keluarga.
Pamor Batu Lapak
Masih di bagian sor-soran, pamor Batu Lapak (atau Watu Lapak) hadir sebagai simbol pondasi kehidupan. Motifnya berupa garis pamor melengkung setengah lingkaran, menyerupai batu alas atau tempat berpijak. Dalam tradisi tosan aji, Batu Lapak dipercaya membawa tuah kemantapan langkah, kestabilan usaha, serta kemudahan dalam meraih kedudukan dan tanggung jawab yang lebih tinggi.
Secara filosofi, pamor ini mengajarkan pentingnya landasan yang kuat—bahwa pencapaian apa pun harus bertumpu pada pijakan moral, keteguhan prinsip, dan kesiapan batin. Tanpa lapak yang kokoh, ketinggian justru rawan menjatuhkan.
Tangguh Tuban
Keris tangguh Tuban umumnya memiliki pejetan sempit, gandik tegak, bilah agak lebar (nglimpo), serta gonjo lurus atau agak melengkung (wuwung). Kepala gonjonya berbentuk buweng, bagian perut mbathok mengkurep, dan ekornya nguceng mati.
Tuban sendiri bukan hanya sebuah wilayah, melainkan ruang cerita yang hidup dalam ingatan masyarakat. Dua legenda besar yang melekat kuat adalah kisah Ronggolawe dan Brandal Lokajaya—keduanya membentuk nilai-nilai sosial dan keberanian yang diwariskan dari masa ke masa.
Dalam tradisi lisan Tuban, Ronggolawe bukanlah pemberontak, tetapi simbol keadilan. Tindakannya memprotes pengangkatan Empu Nambi sebagai Patih Amangkubumi dianggap wajar, sebab jasa Nambi terhadap Majapahit tidak sebesar tokoh-tokoh lain seperti Lembu Sora, Dyah Singlar, Arya Adikara, atau bahkan dirinya sendiri. Ronggolawe, putra Arya Wiraraja—penguasa Sumenep yang berjasa melindungi Raden Wijaya—adalah tokoh yang ikut membuka Hutan Tarik, menghadapi pasukan Tartar, dan menumpas sisa kekuatan Jayakatwang.
Namun sejarah resmi seperti Pararaton dan Kidung Ranggolawe mencatat peristiwa berbeda: protes Ronggolawe dianggap pemberontakan, sehingga ia diperdayai dan dibunuh di Sungai Tambak Beras oleh Mahisa Anabrang. Bagi masyarakat Tuban, tragedi itu bukan sekadar sejarah, melainkan konspirasi politik tingkat tinggi yang digerakkan oleh Mahapati—tokoh ambisius yang ingin merebut jabatan patih. Intrik politik ini akhirnya juga menewaskan Lembu Sora dan Empu Nambi.
Dengan demikian, setiap pusaka tangguh Tuban bukan hanya mewariskan bentuk fisik, tetapi juga aura sejarahnya—semangat keberanian, keteguhan sikap, dan perjuangan melawan ketidakadilan.
Tilam Upih Pamor Tirto Tumetes Original Sepuh
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 1.250 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Pamor Tejo Kinurung Tuban Mojo Sepuh Keris Pamor Tejo Kinurung Tuban Mojo Sepuh adalah keris dengan dhapur Tilam Upih yang memiliki bilah cukup merbawani. Keris ini diperkirakan tangguh Tuban era Majapahit abad ke-14 Masehi. Sehingga bisa dikategorikan keris ini sangat sepuh karena sudah berusia ratusan tahun. Keris Tilam Upih memiliki filosofi sebagai simbol kebahagiaan,… selengkapnya
Rp 3.500.000Keris Nom-Noman (Muda) tahun 1614 M – 1945 Meliputi Kerajaan-kerajaan : Kartasura dan Surakarta.
Hubungi AdminKeris Jalak Sangu Tumpeng Tangguh Mataram Kartasura Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jalak Sangu Tumpeng Pamor (motif lipatan besi) :Kulit Semangka kebak Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Kartasura Panjang Bilah : 36 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Kemuning Kuno Handle / Gagang : Kemuning Bang Kuno Pendok : Blewah Surakarta Kuningan… selengkapnya
Rp 1.655.000Keris Panimbal Pamor Pedaringan Kebak Mataram Sultan Agung Keris Panimbal Pamor Pedaringan Kebak Mataram Sultan Agung adalah salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris. Keris ini termasuk dalam golongan jenis keris luk sembilan. Jika dilihat dari bentuk dan ricikannya, keris ini berdhapur Panimbal. Untuk pamor yang tergurat di sekujur bilahnya adalah pamor Pedaringan Kebak. Warangka memakai… selengkapnya
Rp 3.000.000Keris Sengkelat Luk 13 Kembang Kacang Nggelung Wayang Sepuh Kuno Dhapur: Sengkelat Pamor: Wos Wutah Tangguh: Mataram Sultan Agung (Abad XVI) Warangka: Ladrang Surakarta Kayu Trembalo Kuno Handle/Deder: Solo (Surakarta) Kayu Kemuning Bang Kuno Mendak: Selut Pendok: Blewah Surakarta Kode: K200 Dialih rawatkan (dimaharkan) Keris Sengkelat Luk 13 Kembang Kacang Nggelung Wayang sesuai dengan foto… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Nogo Sapto Luk 7 Kinatah Kamarogan Pamor Wengkon Keris Nogo Sapto Luk 7 Kinatah Kamarogan Pamor Wengkon adalah salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris kami. Keris ini berdhapur Nogo Sapto atau Naga Sapta, merupakan dhapur keris luk 7 dengan ciri khas gandik yang memiliki ukiran naga. Biasanya keris Nogo Sapto dihias dengan kinatah berupa… selengkapnya
Rp 8.999.000Keris Sempaner Pamor Kulit Semangka Putih Ndeling Tangguh Mataram Asli Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sempaner Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Abad ke 17 Masehi Panjang Bilah : 33 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno… selengkapnya
Rp 1.750.000Keris Panimbal Mataram Senopaten Sepuh Keris Panimbal Mataram Senopaten Sepuh merupakan salah satu koleksi dari sekian banyak koleksi kami. Keris ini berdhapur Panimbal, merupakan dhapur keris lurus dengan ricikan kembang kacang, lambe gajah, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng. Untuk pamor yang tergurat di sekujur bilahnya adalah pamor Wos Wutah. Sedangkan dari penilaian material bilah,… selengkapnya
Rp 3.500.000Pusaka Keris Sepokal Pamor Pedaringan Kebak Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sepokal Luk 7 ( dhapur langka jarang ada) Pamor (motif lipatan besi) : Pedaringan Kebak Ngawat Khas Pamoran pajang Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kerajaan Pajang Abad ke 15 masehi Panjang Bilah :33,5 cm Warangka : Ladrang Surakarta Gandar Iras Kayu Trembalo Kuno… selengkapnya
Hubungi Admin
















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.