Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Parungsari » Keris Parungsari Pamor Untu Walang
click image to preview activate zoom

Keris Parungsari Pamor Untu Walang

Rp 13.000.000
KodeLUK10
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Parungsari, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 13, Pamor Untu Walang, Tangguh Cirebon
Jenis : Keris Luk 13
Dhapur Parungsari
Pamor Untu Walang
Tangguh Cirebon
Warangka : Ladrang Surakarta, Bahan Kayu Kanthil Iras
Deder/Handle : Canteng, Bahan Kayu  Kemuning
Pendok : Bleweh, Bahan Mamas
Mendak : Kendhit, Bahan Perak Inten
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Parungsari Pamor Untu Walang

Dhapur Parungsari

Parungsari merupakan salah satu dhapur keris berluk tiga belas yang memiliki pasikutan anggun sekaligus berwibawa. Ricikannya tergolong lengkap, meliputi kembang kacang, lambe gajah dua, sraweyan, sogokan rangkap, pejetan, dan greneng. Sekilas bentuknya menyerupai dhapur Sengkelat, namun perbedaan paling mudah dikenali terletak pada jumlah lambe gajah; Parungsari memiliki dua, sedangkan Sengkelat hanya satu. Menurut tradisi perkerisan Jawa, dhapur ini mulai dikenal pada masa pemerintahan Prabu Banjaransekar di Pajajaran.

Bilah Parungsari yang dihadirkan pada keris ini memiliki keunikan berupa jalen dua, sebuah ricikan yang sangat jarang dijumpai. Keberadaan dua jalen tersebut masih menjadi ruang kajian di kalangan pecinta tosan aji. Ada yang berpendapat bahwa hal itu merupakan ciri khas garap seorang empu, sementara pendapat lain menganggapnya sebagai penanda varian dhapur yang hingga kini belum banyak terdokumentasikan dalam literatur perkerisan. Justru keunikan inilah yang memperkaya khazanah bentuk keris Nusantara.

Secara etimologis, parung berarti lereng atau lembah, sedangkan sari berarti bunga atau keindahan. Parungsari dapat dimaknai sebagai hamparan lereng yang dipenuhi bunga-bunga, sebuah gambaran tentang keindahan yang tumbuh secara alami di tempat yang tidak selalu mudah. Sebagaimana bunga-bunga liar yang mekar di lereng bukit tanpa banyak campur tangan manusia, ia tetap memberi kehidupan, melindungi tanah dari kerusakan, serta menjadi tempat berbagai makhluk berteduh dan berkembang.

Falsafah Parungsari mengajarkan bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari kemegahan. Keindahan sejati justru tumbuh dari ketulusan, keikhlasan, dan kemampuan memberi manfaat tanpa mengharapkan pujian. Ia hadir sebagaimana adanya, sederhana namun bermakna, menjadi perlambang pribadi yang rendah hati, mudah dipahami, serta meninggalkan nama baik melalui budi pekerti dan karya yang bermanfaat bagi sesama.

Pamor Untu Walang

Untu Walang merupakan pamor yang memperlihatkan pola menyerupai deretan gigi belalang pada sisi bilah keris. Susunan garis-garisnya yang teratur menghadirkan kesan dinamis sekaligus kokoh.

Dalam falsafah Jawa, belalang dikenal sebagai hewan yang lincah, mudah menyesuaikan diri, dan mampu bertahan di berbagai lingkungan. Oleh karena itu, pamor Untu Walang dimaknai sebagai perlambang kemampuan beradaptasi, kecakapan membangun hubungan, serta keluwesan dalam menghadapi perubahan zaman. Pamor ini juga dipercaya membawa tuah berupa kemudahan dalam pergaulan, memperluas jaringan persahabatan maupun pekerjaan, serta membuka berbagai kesempatan yang baik bagi pemiliknya. Karena sifatnya yang luwes dan universal, Untu Walang termasuk pamor yang dianggap cocok dimiliki oleh berbagai kalangan.

Tangguh Cirebon

Tangguh Cirebon merujuk pada kelompok keris yang berkembang di wilayah Kesultanan Cirebon pada sekitar abad ke-15 hingga ke-16. Sebagai kerajaan pelabuhan yang menjadi pertemuan berbagai budaya, Cirebon melahirkan karakter keris yang memadukan tradisi Jawa, Sunda, serta pengaruh Islam dan budaya maritim.

Keris tangguh Cirebon umumnya memiliki bilah berukuran sedang dengan bentuk relatif tipis sehingga terasa ringan ketika dikenakan. Pasikutannya memancarkan kesan wingit, sementara pamornya tampak mengambang dengan warna besi cenderung hitam kecokelatan. Ganjanya tipis, sirah cecaknya pendek, dan keseluruhan bentuknya menghadirkan karakter yang sederhana namun berwibawa.

Sebagai bandar niaga yang ramai, Cirebon menjadi tempat bertemunya para empu, saudagar, ulama, dan pelaut dari berbagai penjuru Nusantara maupun mancanegara. Keberagaman tersebut turut membentuk corak perkerisan yang khas, tidak hanya sebagai senjata atau pusaka, tetapi juga sebagai simbol identitas budaya pesisir yang terbuka terhadap berbagai pengaruh tanpa kehilangan jati dirinya.

Hingga kini, pusaka-pusaka Cirebon masih menjadi bagian penting dari warisan keraton dan masyarakat. Sebagian tersimpan di lingkungan keraton sebagai pusaka inti, sementara sebagian lainnya tersebar di kalangan masyarakat sebagai saksi bisu kejayaan Kesultanan Cirebon yang pernah menjadi salah satu pusat kebudayaan dan perdagangan terpenting di pesisir utara Pulau Jawa.

LUK10

Keris Parungsari Pamor Untu Walang

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 21 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us