Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Keris Sengkelat Pamor Wos Wutah Kebak Meteorit Mat
- Keris Carita Keprabon Tangguh Mataram Senopaten
- Pusaka Keris Sengkelat PB Pamor Akhodiyat Meteorit
- Tilam Upih Pamor Tetesing Warih
- Dhapur Keris Mahesa Lajer
- Keris Singa Barong Luk 11 Tinatah Emas
- Keris Brojol Pamor Tritik Tangguh Madiun
- Keris Klika Benda Unik Antik Sepuh
Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Jung Isi Dunyo
| Kode | FR055 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Jalak Sangu Tumpeng, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Jung Isi Dunya, Pamor Telaga Membleng, Tangguh Madura |
| Jenis | : Keris Leres |
| Dhapur | : Jalak Sangu Tumpeng |
| Pamor | : Jung Isi Dunyo + Telaga Membleng |
| Tangguh | : Madura |
| Warangka | : Gayaman Surakarta, Kayu Timoho |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Kemuning |
| Pendok | : Bleweh, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Parijata, Bahan Kuningan |
Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Jung Isi Dunyo
DHAPUR JALAK SANGU TUMPENG
Dhapur Jalak Sangu Tumpeng merupakan salah satu dhapur keris lurus atau leres. Ricikan yang terdapat pada dhapur ini antara lain gandik lugas, pejetan, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, dan tingil. Susunan ricikan tersebut menjadi bagian penting dalam mengenali Dhapur Jalak Sangu Tumpeng.
Nama Jalak Sangu Tumpeng tersusun dari beberapa unsur kata. Jalak adalah nama burung yang dalam kehidupan sehari-hari dikenal sebagai burung yang aktif, lincah, dan mudah beradaptasi dengan lingkungan. Sementara sangu berarti bekal, sedangkan tumpeng merupakan bentuk sajian nasi yang dalam tradisi Jawa memiliki kedudukan simbolik sebagai ungkapan syukur, doa, dan harapan atas kehidupan yang baik.
Dari rangkaian makna tersebut, Jalak Sangu Tumpeng dapat ditafsirkan sebagai gambaran tentang manusia yang menjalani kehidupan dengan membawa bekal yang cukup serta selalu mengingat rasa syukur. Bekal tersebut tidak hanya berupa harta benda, tetapi juga pengetahuan, pengalaman, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai kehidupan.
Jalak yang dikenal lincah dapat menjadi gambaran tentang kemampuan untuk bergerak, mencari peluang, dan menyesuaikan diri, sedangkan sangu mengingatkan bahwa setiap perjalanan membutuhkan bekal. Adapun tumpeng dapat menjadi simbol bahwa perjalanan tersebut idealnya tetap diarahkan pada tujuan yang baik dan dilandasi rasa syukur.
Karena itu, Jalak Sangu Tumpeng dapat dimaknai sebagai pengingat untuk pandai menjalani kehidupan, mempersiapkan bekal dengan baik, mampu membaca keadaan, serta tidak lupa bersyukur atas apa yang telah dimiliki.
Pemaknaan tersebut merupakan interpretasi budaya terhadap nama dhapur, bukan pengertian baku yang secara tunggal menentukan filosofi Jalak Sangu Tumpeng.
PAMOR JUNG ISI DUNYO & TELAGA MEMBLENG
Pada bilah ini terdapat dua pola pamor, yaitu Jung Isi Dunyo dan Telaga Membleng.
Pamor Jung Isi Dunyo memiliki motif berupa lingkaran-lingkaran kecil yang berada di dalam atau mengisi lingkaran yang lebih besar. Pada keris ini, Teknik Tempa Pamor: Mlumah, sedangkan Kemunculan Motif Pamor: Tiban.
Nama Jung Isi Dunyo dapat dipahami dari kata jung, yang dalam konteks bahasa dan budaya Jawa dapat merujuk pada perahu atau wadah, sedangkan isi dunyo berarti isi dunia. Dari pengertian tersebut, nama ini dapat ditafsirkan sebagai gambaran sebuah wadah yang membawa atau menampung berbagai isi kehidupan.
Dalam pemaknaan simbolik, jung isi dunyo dapat menjadi gambaran tentang bekal kehidupan, kecukupan, dan kemampuan menampung berbagai bentuk rezeki serta kesempatan. Sebagaimana sebuah perahu membutuhkan ruang untuk membawa muatan, manusia juga membutuhkan kemampuan untuk mengelola apa yang dimilikinya agar dapat menjadi bekal dalam menjalani kehidupan.
Karena itu, Pamor Jung Isi Dunyo dapat dipahami sebagai doa dan harapan agar seseorang memperoleh kecukupan, keluasan rezeki, serta kemampuan mengelola dan memanfaatkan apa yang dimilikinya dengan baik. Makna tersebut merupakan simbolisme budaya dan harapan pemilik, bukan sifat objektif yang secara ilmiah melekat pada pamor.
Sementara itu, Pamor Telaga Membleng memiliki motif berupa lingkaran-lingkaran berlapis yang berada pada bagian pejetan dan termasuk pamor tiban dalam klasifikasi tradisional perkerisan.
Nama Telaga Membleng dapat dibayangkan sebagai sebuah telaga yang airnya penuh, tenang, dan tidak kekurangan isi. Dari gambaran tersebut, pamor ini kemudian sering dikaitkan dengan harapan terkumpulnya kekayaan dan kecukupan.
Dalam pemaknaan yang lebih luas, “menumpuk kekayaan” tidak harus dipahami hanya sebagai mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Ia dapat menjadi pengingat bahwa kekayaan juga perlu dikelola, dipelihara, dan digunakan secara bijaksana agar memberikan manfaat bagi kehidupan.
Dengan demikian, kedua pamor pada bilah ini dapat dibaca melalui satu benang merah, yaitu harapan akan kecukupan, terkumpulnya rezeki, serta kemampuan mengelola hasil kehidupan dengan baik.
Pemaknaan mengenai rezeki, kekayaan, dan kecukupan tersebut merupakan simbolisme budaya dan doa atau harapan pemilik, bukan jaminan atau tuah objektif yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
TANGGUH MADURA
Dalam tradisi perkerisan, Tangguh Madura umumnya dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu Madura Majapahit dan Madura Mataram. Pembagian tersebut berkaitan dengan karakter bilah yang secara tradisional dibaca dalam hubungannya dengan periode dan lingkungan budaya yang memengaruhinya.
Pada Madura Majapahit, pasikutannya kerap digambarkan demes, yaitu memberikan kesan serasi, seimbang, dan menyenangkan. Besinya cenderung memberikan kesan kering, seperti kurang wasuhan, dengan warna yang dapat terlihat hitam pucat hingga kehijauan. Pamornya sering disebut nggajih dan nyekrak, dengan permukaan yang terasa relatif kasar ketika diraba. Panjang bilahnya tidak selalu seragam, dapat ditemukan dalam ukuran panjang, sedang, maupun agak pendek. Pada bagian gonjo sering dijumpai bentuk sebit ron tal, sementara sirah cecak cenderung pendek.
Sementara itu, Madura Mataram memiliki pasikutan yang lebih galak. Besinya juga cenderung memberikan kesan kering seperti kurang wasuhan, dengan warna hitam agak keabu-abuan dan karakter baja yang relatif tidak dominan. Pamornya sering digambarkan mubyar dan nyekrak. Pada bagian tertentu dapat ditemukan gandik yang miring, gonjo sebit ron tal, dan sirah cecak yang relatif pendek.
Ciri-ciri tersebut merupakan terminologi tradisional dan bahan pembanding dalam pengamatan tangguh. Tidak setiap bilah akan memperlihatkan seluruh ciri tersebut secara sama persis. Karena itu, penetapan tangguh tetap perlu melihat keseluruhan karakter bilah dan membandingkannya dengan rujukan yang relevan.
Madura sendiri memiliki sejarah yang panjang dalam perkembangan politik dan kebudayaan Jawa. Wilayah ini tidak berdiri sebagai satu kerajaan tunggal sepanjang sejarah, melainkan terdiri atas sejumlah pusat kekuasaan dan kadipaten yang berkembang pada masa yang berbeda, seperti Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.
Hubungan Madura dengan kerajaan-kerajaan besar di Jawa juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Pada masa Majapahit, wilayah Madura berada dalam lingkup hubungan politik dan kebudayaan dengan kerajaan tersebut. Pada masa berikutnya, hubungan dengan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, termasuk Mataram, turut memberikan pengaruh terhadap perkembangan politik dan budaya di Madura.
Dalam konteks perkerisan, perubahan hubungan tersebut penting untuk dipahami karena perkembangan keris tidak pernah terlepas dari kondisi zamannya. Perpindahan empu, hubungan antarkerajaan, perdagangan, ketersediaan bahan, serta perubahan kekuasaan dapat ikut memengaruhi teknologi dan gaya pembuatan tosan aji.
Karena itu, istilah Madura Majapahit dan Madura Mataram lebih tepat dipahami sebagai bagian dari klasifikasi tradisional yang berusaha membaca karakter bilah berdasarkan konteks zaman, lingkungan budaya, dan ciri garapnya. Istilah tersebut tidak semata-mata berarti bahwa setiap keris dengan label tersebut pasti dibuat di satu tempat atau pada satu tahun tertentu.
Pada akhirnya, Tangguh Madura sebaiknya ditentukan melalui kumpulan karakter yang saling mendukung, bukan berdasarkan satu ciri saja. Pasikutan, besi, pamor, ricikan, bentuk gonjo, sirah cecak, serta keseluruhan garap perlu dilihat secara bersama-sama.
CATATAN: Identifikasi dhapur, pamor, dan tangguh merupakan bagian dari pengetahuan dan terminologi tradisional perkerisan. Ciri-ciri yang disebutkan merupakan bahan pengamatan dan pembanding, bukan rumus tunggal.
Perbedaan hasil pengamatan dapat terjadi karena dipengaruhi oleh objek yang diamati maupun cara pengamatan. Kondisi bilah, usia, perawatan, kelengkapan ricikan, perubahan permukaan, pengalaman pemerhati, sudut pandang, serta rujukan yang digunakan dapat memengaruhi hasil identifikasi.
Karena itu, deskripsi ini merupakan hasil pembacaan berdasarkan karakter yang dapat diamati, dan tetap terbuka terhadap perbandingan, kajian, maupun koreksi apabila terdapat data atau rujukan lain yang lebih kuat.
FR055
Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Jung Isi Dunyo
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 366 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Pusaka Keris Janur Sinebit Majapahit Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Carubuk Luk 7 Pamor (motif lipatan besi) : Janur Sinebit (Langka) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Majapahit Abad Ke 13 Masehi Panjang Bilah : 35 cm Warangka : Gayaman Surakarta Gandar Iras Kayu Trembalo Kuno Original Bawaan Bilah Handle / Gagang : Kayu… selengkapnya
Rp 3.550.000Keris Tilam Upih Pamor Toya Mambeg Sepuh TAG142
Rp 18.000.000Dhapur Pandhawa Lare Pandhawa Lare merupakan salah satu dhapur keris luk 5 yang memiliki ricikan berupa sekar kacang, jalen, lambe gajah, tikel alis, pejetan, sraweyan, dan greneng. Nama Pandhawa Lare berasal dari lakon pewayangan yang mengisahkan masa kanak-kanak para Pandawa ketika hidup dalam pengasingan bersama Dewi Kunti setelah lolos dari peristiwa Bale Sigala-gala. Dalam kisah… selengkapnya
Rp 7.500.000Keris Sengkelat Luk 13 TUS Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sengkelat Luk 13 Pamor (motif lipatan besi) : Wos Wutah Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Sultan Agung Abad 16 Masehi Panjang Bilah: 36,5 cm Warangka : Gayaman Yogya Kayu Kemuning Handle / Gagang : Kayu Tayuman Pendok: Slorok Kemalo Merah Abrit Mendak :… selengkapnya
Rp 7.777.000Pusaka Keris Kuno Kyai Brojol Tuban Majapahit Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Brojol Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka (pasir malelo kerlap kerlip dibagian sor soran ada pamor tiban Kuto Mesir) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Tuban Majapahit Panjang Bilah : 31 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang… selengkapnya
Rp 1.650.000Sempana Pamor Singkir Sepuh Dalam tradisi tosan aji Jawa, keris Dhapur Sempana Luk 9 dipahami sebagai pusaka yang mengajarkan kesederhanaan dalam laku dan kedalaman dalam makna. Ricikannya yang minimal mencerminkan sikap hidup yang tidak berlebihan, sementara filosofi luk sembilan mengingatkan manusia untuk mampu menjaga babahan hawa sanga—sembilan pintu hawa nafsu sebagai jalan menuju keselamatan lahir… selengkapnya
Rp 2.200.000Keris Pamor Singkir Angin Tangguh Tuban Majapahit Sepuh Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Brojol Pamor (motif lipatan besi) : Singkir Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Tuban Era Majapahit Panjang Bilah : 33 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Trembalo Gandar Iras Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno Pendok : Blewah… selengkapnya
Rp 2.555.000Pedang Kuno Lar Bango Original Lar Bango merupakan salah satu pedang tradisional asli Nusantara yang memiliki bentuk khas dan menjadi bagian penting dari warisan budaya senjata tradisional Indonesia. Nama Lar Bango berasal dari bahasa Jawa, yaitu lar yang berarti sayap, dan bango yang berarti burung bangau. Penamaan tersebut merujuk pada bentuk bilahnya yang memanjang dengan… selengkapnya
Hubungi Admin




















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.