Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Keris Tilam Upih Pamor Pedaringan Kebak Meteorit T
- Keris Sempana Pamor Adeg Singkir
- Dhapur Keris Regol
- Pusaka Tombak Cacing Kanil Majapahit Sepuh Kuno
- Dhapur Keris Naga Tapa
- Jual Keris Carita Keprabon Mataram Amangkurat
- Keris Yudho Gati Sumenep Empu Citranala
- Keris Sempana Luk 9 Pamor Setro Banyu Sepuh Kuno
Keris Carang Soka Pamor Pandita Bala Pandita
| Kode | FEN071 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Carang Soka, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 9, Pamor Pandito Bolo Pandito, Tangguh Mataram, Tangguh Mataram Sultan Agung |
| Jenis | : Keris Luk 9 |
| Dhapur | : Carang Soka |
| Pamor | : Pandita Bala Pandita |
| Tangguh | : Mataram Sultan Agung |
| Warangka | : Gayaman Yogyakarta, Kayu Cendana Jawa |
| Deder/Handle | : Krajan, Kayu Kemuning |
| Pendok | : Bunton Slorok, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Rujakwuni, Bahan Kuningan |
Keris Carang Soka Pamor Pandita Bala Pandita
DHAPUR CARANG SOKA
Dhapur Carang Soka merupakan salah satu dhapur keris luk 9. Ricikan yang menjadi cirinya antara lain sekar kacang, jalen, lambe gajah, pejetan, tikel alis, sraweyan, dan greneng. Susunan ricikan tersebut menjadi bagian penting dalam mengenali Dhapur Carang Soka dan membedakannya dari dhapur luk 9 lainnya.
Nama Carang Soka secara harfiah dapat dipahami sebagai ranting pohon soka. Carang berarti ranting atau cabang kecil, sedangkan soka merujuk pada tanaman soka yang dikenal memiliki banyak percabangan dan bunga yang khas.
Secara simbolik, ranting merupakan bagian kecil dari sebuah pohon, tetapi dari rantinglah daun dan bunga tumbuh. Ia menjadi bagian dari proses pertumbuhan dan perpanjangan kehidupan pohon.
Dari sini, Carang Soka dapat dimaknai sebagai gambaran tentang pertumbuhan, kesinambungan, dan perkembangan dari akar kehidupan yang telah ada. Manusia pun demikian. Ia tumbuh dari keluarga, lingkungan, pengalaman, ilmu, dan nilai-nilai yang telah diwariskan sebelumnya.
Karena itu, Carang Soka dapat menjadi pengingat untuk terus berkembang tanpa melupakan akar, meneruskan nilai yang baik, dan memberikan manfaat bagi kehidupan di sekitarnya.
Pemaknaan tersebut merupakan interpretasi budaya terhadap nama dhapur, bukan filosofi baku yang memiliki satu pengertian tunggal.
PAMOR PANDITA BALA PANDITA
Pamor Pandita Bala Pandita secara visual memiliki kemiripan dengan pamor Adeg Mrambut atau Singkir, berupa garis-garis yang memanjang pada bilah. Ciri yang membedakannya adalah pada bagian ujung, garis-garis tersebut menyatu dan membentuk sudut yang menyerupai pola Junjung Derajat.
Nama Pandita Bala Pandita dapat dipahami sebagai gambaran tentang pandita yang memiliki bala atau pasukan pandita. Kata pandita sendiri berasal dari bahasa Sanskerta dan dalam tradisi Hindu merujuk pada orang yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan.
Konsep pandita juga dikenal dalam Bhagavad Gita, antara lain sebagai gambaran manusia yang tidak terikat oleh hasil keduniawian dari perbuatannya dan menjalankan kehidupan berdasarkan pengetahuan serta kebijaksanaan. Dalam tradisi Nusantara, istilah pandita kemudian berkembang dalam berbagai konteks dan dapat merujuk kepada kelompok rohaniwan, orang berilmu, atau penasihat spiritual.
Dalam kehidupan kerajaan, pandita juga memiliki posisi penting sebagai penasihat raja. Hubungan antara penguasa dan pandita menggambarkan bahwa kekuasaan idealnya tidak hanya membutuhkan kekuatan, tetapi juga pengetahuan, kebijaksanaan, dan pertimbangan moral.
Istilah Pandita Bala Pandita kemudian memiliki konteks yang menarik dalam sejarah Jawa. Pada masa Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830), terdapat pembagian kelompok pasukan yang antara lain mencakup kelompok Bulkiyo, Turkiyo, dan Arkio. Kelompok Bulkiyo banyak beranggotakan ulama dan santri serta dikaitkan dengan semangat perang sabil.
Dengan demikian, nama Pandita Bala Pandita dapat dibaca sebagai simbol mengenai kekuatan pengetahuan dan kebijaksanaan yang terorganisasi untuk menghadapi kehidupan. Makna tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai interpretasi budaya terhadap nama pamor, bukan sebagai sifat atau tuah objektif yang melekat pada material pamor.
TANGGUH MATARAM SULTAN AGUNG
Dalam tradisi perkerisan, Tangguh Mataram Sultan Agung merupakan salah satu klasifikasi yang dikaitkan dengan masa pemerintahan Sultan Agung di Kerajaan Mataram. Keris yang dikaitkan dengan periode ini umumnya dikenal memiliki pasikutan yang tampan, luwes, dan ndemes, dengan perpaduan antara bentuk bilah dan pamor yang memberikan kesan serasi.
Karakter tersebut merupakan bagian dari bahan pengamatan tradisional dalam mengenali keris yang dikaitkan dengan masa Sultan Agung. Namun, seperti halnya identifikasi tangguh lainnya, ciri tersebut tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar penetapan.
Masa pemerintahan Sultan Agung Anyokrokusumo (1613–1645) merupakan salah satu periode penting dalam sejarah Mataram. Di bawah pemerintahannya, Mataram berkembang menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Jawa. Selain bidang pemerintahan dan militer, perkembangan seni dan kebudayaan juga mendapat perhatian yang besar.
Dalam tradisi perkerisan, masa Sultan Agung sering dianggap sebagai salah satu periode penting perkembangan teknologi tempa, bentuk bilah, garap, dan tatah. Tradisi tutur perkerisan juga mengenal keberadaan kelompok empu yang dalam beberapa sumber disebut Empu Pakelun, yang dikaitkan dengan pengerjaan berbagai tosan aji untuk kepentingan kerajaan.
Periode ini juga dikenal dengan berkembangnya keris ageman, termasuk bilah yang diberi hiasan kinatah dengan berbagai ragam motif. Hal tersebut menunjukkan bahwa keris pada masa itu tidak hanya dipandang dari fungsi dan bentuk bilah, tetapi juga berkembang sebagai bagian dari seni, simbol status, dan kebudayaan keraton.
Sultan Agung sendiri merupakan tokoh penting dalam sejarah Mataram. Pemerintahannya ditandai dengan upaya memperluas kekuasaan Mataram, termasuk ekspedisi besar terhadap Batavia. Pada masa inilah Mataram mencapai salah satu puncak kekuatannya sebelum mengalami perubahan politik pada masa pemerintahan setelahnya.
Dalam konteks perkerisan, latar sejarah tersebut membantu menjelaskan mengapa Tangguh Mataram Sultan Agung sering ditempatkan sebagai salah satu periode penting dalam perkembangan keris Mataram. Namun, istilah tangguh tetap merupakan klasifikasi tradisional, sehingga penilaiannya perlu dilakukan melalui keseluruhan karakter bilah, bukan hanya berdasarkan usia atau satu ciri tertentu.
Pada keris yang dikaitkan dengan tangguh ini, kesan ndemes dan luwes pada pasikutan menjadi salah satu karakter yang menarik untuk diperhatikan. Bentuk luk, proporsi bilah, ricikan, pamor, besi, serta kualitas garap kemudian perlu dibaca secara keseluruhan untuk memperkuat atau menguji dugaan tangguhnya.
Jika identifikasi belum melalui kajian yang lebih mendalam, istilah “diperkirakan Tangguh Mataram Sultan Agung” atau “memiliki karakter yang mengarah pada Tangguh Mataram Sultan Agung” lebih tepat digunakan daripada menyatakannya sebagai kepastian mutlak.
CATATAN: Identifikasi dhapur, pamor, dan tangguh merupakan bagian dari pengetahuan dan terminologi tradisional perkerisan. Ciri-ciri yang disebutkan merupakan bahan pengamatan dan pembanding, bukan rumus tunggal.
Perbedaan hasil pengamatan dapat terjadi karena dipengaruhi oleh objek yang diamati maupun cara pengamatan. Kondisi bilah, usia, perawatan, kelengkapan ricikan, perubahan permukaan, pengalaman pemerhati, sudut pandang, serta rujukan yang digunakan dapat memengaruhi hasil identifikasi.
Karena itu, deskripsi ini merupakan hasil pembacaan berdasarkan karakter yang dapat diamati, dan tetap terbuka terhadap perbandingan, kajian, maupun koreksi apabila terdapat data atau rujukan lain yang lebih kuat.
FEN071
Keris Carang Soka Pamor Pandita Bala Pandita
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 262 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Pusaka Keris Tilam Upih Pamor Meteor Tangguh Tuban Sepuh Empu Suratman Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Upih Pamor (motif lipatan besi) : Wos Wutah (Pamor Putih Bersih Meteor, Besi Berserat) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Tuban Empu Suratman Panjang Bilah : 35,5 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Pandawa Lare Luk 5 Sepuh Keris Pandawa Lare Luk 5 Sepuh adalah salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris kami. Keris ini termasuk dalam golongan jenis keris luk lima. Jika dilihat dari bentuk dan ricikannya, keris ini berdhapur Pandawa Lare. Untuk pamor yang tergurat di bilahnya adalah pamor Beras Wutah. Warangka memakai model Gayaman dari bahan kayu Trembalo… selengkapnya
Rp 6.500.000Dhapur Brojol Kesederhanaan yang membawa kelancaran Dhapur Brojol merupakan salah satu bentuk keris lurus dengan ukuran bilah yang proporsional. Ciri utamanya terletak pada kesederhanaan garap—gandhik polos tanpa ornamen, hanya dilengkapi pejetan sebagai satu-satunya ricikan, sementara elemen lainnya ditiadakan. Kesederhanaan ini justru menjadi kekuatan utama. Ia mencerminkan keteguhan, ketepatan, dan kematangan sikap—tanpa perlu banyak hiasan untuk… selengkapnya
Rp 1.100.000Keris Kebo Lajer Pamor Bawang Sebungkul Keris Kebo Lajer Pamor Bawang Sebungkul ini memang sangat unik, antik dan kuno. Memiliki bentuk bilah sederhana dengan keunikan pada pamornya yang hanya ada di bagian sor-soran Keris saja. Para Empu Keris jaman dulu adalah orang-orang linuwih yang memiliki kemampuan membaca isyarat alam. Bahkan banyak karya-karya para Empu Keris… selengkapnya
Rp 1.800.000Keris Pamor Bendo Segodo Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Upih Pamor (motif lipatan besi) : Bendo Segodo Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram abad ke 17 Masehi Panjang Bilah : 35,1 cm Warangka : Ladrang Surakarta Gandar Iras Kayu Walikukun Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno Pendok : Blewah… selengkapnya
Rp 4.111.000














WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.