Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Kudi Temuan Senjata Kuno Indonesia Peninggalan Zam
- Keris Patrem Kebo Lajer Tangguh Pajajaran Ori Sepu
- Jual Keris Jalak Sangu Tumpeng JST Mataram Sultan
- Senjata Kuno Peninggalan Nusantara Kudi Kujang Tem
- Keris Sempaner Pamor Rojo Gundolo Pajajaran Kuno
- MASTERPIECE! Keris Dalem Keraton Surakarta PB IV S
- Kalamisani Pamor Wiji Timun
- Keris Tilam Upih Pamor Lintas Mas Langka
Keris Tilam Upih Mataram Sultan Agung
Rp 3.000.000| Kode | FR067 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Dhapur Tilam Upih, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Beras Wutah, Tangguh Mataram, Tangguh Mataram Sultan Agung |
| Jenis | : Keris Leres |
| Dhapur | : Tilam Upih |
| Pamor | : Wos Wutah |
| Tangguh | : Mataram Sultan Agung |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Kayu Trembalo Iras |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Kemuning Bang |
| Pendok | : Bleweh, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Tumpalan, Bahan Tembaga |
Keris Tilam Upih Mataram Sultan Agung
Dhapur Tilam Upih
Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sederhana dan sangat dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Ciri utamanya adalah gandhik polos, dengan ricikan berupa tikel alis dan pejetan. Karena tidak banyak menggunakan ricikan tambahan, bentuk Tilam Upih tampak sederhana, bersih, dan tidak berlebihan.
Di beberapa daerah, dhapur ini juga dikenal dengan sebutan Tilam Petak atau Tilam Putih. Kesederhanaannya membuat Tilam Upih menjadi salah satu dhapur yang relatif populer dan banyak dijumpai di tengah masyarakat.
Nama Tilam Upih berasal dari dua kata. Tilam berkaitan dengan alas atau tempat berbaring, sedangkan upih adalah pelepah pinang yang dahulu dapat dimanfaatkan sebagai alas. Dari sini, nama Tilam Upih membawa gambaran tentang tempat bersandar, beristirahat, dan memperoleh ketenteraman.
Menariknya, simbol yang digunakan justru berasal dari sesuatu yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengingatkan bahwa ketenteraman tidak selalu membutuhkan kemewahan. Terkadang, yang paling dibutuhkan manusia hanyalah tempat untuk pulang, hati yang tenang, dan kehidupan yang cukup.
Karena itu, Tilam Upih dapat dimaknai sebagai sebuah pameling agar manusia tidak kehilangan kemampuan untuk berhenti sejenak, menata diri, dan mensyukuri apa yang telah dimiliki.
Pamor Wos Wutah
Wos Wutah, secara harfiah berarti beras tumpah. Motif pamor ini memiliki ciri berupa butiran atau titik-titik pamor yang tersebar pada bilah, menyerupai beras yang tercecer.
Dalam masyarakat Jawa yang memiliki latar budaya agraris, beras bukan sekadar bahan makanan. Beras merupakan simbol kehidupan, kecukupan, dan kesejahteraan keluarga. Karena itu, Wos Wutah kemudian banyak dimaknai sebagai harapan akan kelimpahan rezeki dan tercukupinya kebutuhan hidup.
Namun, Wos Wutah juga memiliki sisi filosofi yang lebih dalam. Beras yang telah tumpah tentu tidak mudah dikembalikan seluruhnya ke tempat semula. Dari kenyataan sederhana tersebut, pamor ini dapat dibaca sebagai sebuah pameling tentang pentingnya menjaga sesuatu sebelum ia hilang.
Dalam kehidupan, bukan hanya harta yang perlu dijaga. Kepercayaan, hubungan, kehormatan, dan perasaan orang lain juga demikian. Sekali kepercayaan rusak, memperbaikinya membutuhkan waktu dan tidak selalu dapat mengembalikannya seperti keadaan semula.
Maka Wos Wutah dapat menjadi pengingat agar manusia berhati-hati dalam berucap, bersikap, dan menjaga amanah. Rezeki memang perlu disyukuri, tetapi hubungan baik juga merupakan kekayaan yang tidak kalah penting.
Dengan demikian, Wos Wutah bukan hanya dapat dibaca sebagai simbol kelimpahan, tetapi juga sebagai ajakan untuk menjaga apa yang telah dipercayakan kepada kita agar tidak tercecer dan hilang begitu saja.
Pemaknaan tersebut merupakan bagian dari tafsir budaya terhadap motif pamor. Ia lebih tepat dipahami sebagai doa dan pengingat, bukan sebagai klaim bahwa pamor secara otomatis mendatangkan rezeki.
Tangguh Mataram Sultan Agung
Keris ini memiliki karakter yang dikaitkan dengan Tangguh Mataram Sultan Agung, yaitu tradisi keris yang berkembang pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, salah satu raja terpenting dalam sejarah Mataram pada abad ke-17.
Masa Sultan Agung merupakan periode penting dalam perkembangan kebudayaan Mataram. Pada masa ini terjadi berbagai perkembangan dalam bidang pemerintahan, seni, kebudayaan, hingga penanggalan. Tradisi perkerisan pun berkembang dengan beragam bentuk dan karakter garap.
Salah satu hal menarik pada masa tersebut adalah adanya kesinambungan antara tradisi lama dengan perkembangan baru. Para empu tidak hanya membuat bentuk-bentuk baru, tetapi juga tetap melestarikan berbagai dhapur dari masa sebelumnya dengan memberikan karakter garap yang berkembang pada lingkungan Mataram.
Karena itu, keris Mataram Sultan Agung memiliki pasikutan yang cukup beragam. Secara umum, banyak bilahnya memberikan kesan demes, yaitu serasi, proporsional, dan enak dipandang. Besinya cenderung memberikan kesan mentah atau natural, sehingga serat besinya masih tampak jelas. Pamornya pun dapat tampil cukup jelas hingga memberikan kesan mubyar.
Dalam tradisi perkerisan juga dikenal kisah Pakelun, yaitu pengerahan para empu dan pande besi dari berbagai wilayah untuk memenuhi kebutuhan persenjataan Mataram ketika Sultan Agung mempersiapkan ekspedisi ke Batavia menghadapi VOC. Kisah ini menggambarkan betapa pentingnya keahlian para empu dan pande besi dalam mendukung kehidupan kerajaan.
Dalam sejumlah sumber tradisi perkerisan disebutkan bahwa para empu tersebut berasal dari berbagai daerah di Jawa dan dikoordinasikan oleh empu-empu senior. Nama-nama seperti Ki Tepas, Ki Salatea, Ki Mayi, Ki Legi, Empu Gedhe, Empu Luwing, Ki Guling, Ki Ancer, hingga Ki Tundhung dikenal dalam tradisi tersebut. Ki Tundhung disebut sebagai Empu Jejeneng dan mendapatkan gelar Pangeran Sendhang dari Sultan Agung.
Kisah Pakelun tersebut sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari tradisi dan literatur perkerisan, karena tidak seluruh detailnya dapat diverifikasi melalui sumber sejarah primer. Namun secara kebudayaan, cerita tersebut tetap menarik karena memperlihatkan posisi empu sebagai bagian penting dari kehidupan politik, teknologi, dan kebudayaan Mataram.
Pada keris ini, karakter Tangguh Mataram Sultan Agung berpadu dengan dhapur Tilam Upih yang sederhana dan pamor Wos Wutah yang sarat simbol kecukupan. Pertemuan ketiganya menghadirkan karakter yang menarik: sederhana dalam bentuk, penuh dalam makna, dan kuat dalam jejak sejarahnya.
Sebuah pengingat bahwa keagungan sebuah keris tidak selalu terletak pada banyaknya ricikan atau rumitnya bentuk. Terkadang, justru melalui kesederhanaan kita dapat menemukan nilai tentang ketenteraman, kecukupan, dan kemampuan menjaga apa yang telah kita miliki.
FR067
Keris Tilam Upih Mataram Sultan Agung
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 8 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Pusaka Keris Sabuk Inten Mataram Sultan Agung Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sabuk Inten Luk 11 Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Kebak (Tidak Putus dari ujung sampai pangkal keris) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Sultan Agung Panjang Bilah : 35 cm Pesi Panjang Warangka : Gayaman Jogjakarta Kayu Timoho Kuno Handle… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Lurus Mataram Sultan Agung Pamor Pedaringan Kebak Keris Lurus Mataram Sultan Agung Pamor Pedaringan Kebak merupakan salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris kami. Keris ini termasuk dalam golongan jenis keris lurus. Jika dilihat dari bentuk dan ricikannya, keris ini berdhapur Tilam Upih. Untuk pamor yang tergurat di sekujur bilahnya adalah pamor Pedaringan Kebak. Warangka memakai model Ladrang… selengkapnya
Rp 1.900.000Pusaka Keris Pamor Mlinjon Akhodiyat Meteor Langka Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jalak Pamor (motif lipatan besi) : Mlinjon (pamor akhodiyat meteor, pamor tiban alif) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajang Mataram Panjang Bilah : 34 cm Pesi utuh masih panjang original Warangka : Gayaman surakarta kayu trembalo kuno Handle / Gagang :… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Lar Ngatap Keleng Kinatah Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Lar Ngatap Pamor (motif lipatan besi) : Keleng Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kamardikan Panjang Bilah: 37,5 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Kemuning Handle / Gagang : Kayu Kemuning Pendok: Bunton Surakarta Mendak : Selut
Hubungi AdminPedang Luwuk Patimura Pamor Dwi Warna Damaskus Kuno Dhapur/ Nama bentuk Pedang : Pedang Luwu Pamor / Motif Lipatan Besi : Damaskus Setro Banyu Dan pamor raja ( ada pamengkang jagad di tengah bilah) Tangguh : Mataram Sultan Agung Panjang bilah tajam : 51,5 cm Panjang Total Ketika Disarungkan : 68 cm Warangka : kayu… selengkapnya
Hubungi AdminPusaka Keris Kyai Carubuk Luk 7 Tangguh Pengging Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Carubuk Pamor (motif lipatan besi) : Beras Wutah Ceprit Ceprit Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pengging Madya Panjang Bilah : 34 cm Pesi masih utuh panjang original Warangka : Kayu Jati Ladrang Surakarta Handle / Gagang : Kayu Jati Pendok :… selengkapnya
Hubungi AdminPusaka Keris Kyai Kolo Munyeng Keleng Hurap Sepuh Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Kolomunyeng (dhapur legend langka) Pamor (motif lipatan besi) : Keleng Hurap Asli Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Abad Ke 16 Masehi Panjang Bilah :34 cm Warangka : Gayaman Jogjakarta Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang : Putri Kinurung Pendok… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Pamengkang Jagad Pamor Pandito Bolo Pandito Keris Pamengkang Jagad Pamor Pandito Bolo Pandito – Di antara banyak pusaka Nusantara, ada yang hadir dengan keunikan tak biasa—Keris Brojol Pamengkang Jagad. Sebuah pusaka yang seolah “retak” di bagian tengah bilahnya, menghadirkan kesan misterius sekaligus menegaskan bahwa ia bukan sekadar sebilah keris biasa. Dalam dunia perkerisan, Pamengkang… selengkapnya
Rp 4.600.000Keris Berkelas Super Istimewa Naga Liman Lar Monga Kinatah Kamarogan Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Naga Liman / Lar Monga Pamor (motif lipatan besi) : Pedaringan Kebak Segoro Muncar (kinatah tembaga lapis emas) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kamardikan Alusan (Dipesan Secara Khusus) Panjang Bilah : 38,1 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Galih… selengkapnya
Rp 11.555.000Pusaka Kujang Naga Primitif Tangguh Pajajaran Pamor Banyu Mili Dhapur / Bentuk : Kujang Naga ( Asli original sepuh kuno tua) Pamor : Banyu Mili mrambut dom kecer Tangguh : Pajajaran Madya Panjang Bilah : 17 cm Panjang pesi : 7 cm Panjang total kujang & warangka : 28,5 cm Warangka : Kayu cendana jawa… selengkapnya
Rp 2.111.000




















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.