Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Tilam Upih » Keris Tilam Upih Mataram Sultan Agung
click image to preview activate zoom

Keris Tilam Upih Mataram Sultan Agung

Rp 3.000.000
KodeFR067
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Tilam Upih, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Beras Wutah, Tangguh Mataram, Tangguh Mataram Sultan Agung
Jenis : Keris Leres
Dhapur Tilam Upih
Pamor Wos Wutah
Tangguh : Mataram Sultan Agung
Warangka : Ladrang Surakarta, Kayu Trembalo Iras
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Kemuning Bang
Pendok : Bleweh, Bahan Kuningan
Mendak : Tumpalan, Bahan Tembaga
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Tilam Upih Mataram Sultan Agung

Dhapur Tilam Upih

Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sederhana dan sangat dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Ciri utamanya adalah gandhik polos, dengan ricikan berupa tikel alis dan pejetan. Karena tidak banyak menggunakan ricikan tambahan, bentuk Tilam Upih tampak sederhana, bersih, dan tidak berlebihan.

Di beberapa daerah, dhapur ini juga dikenal dengan sebutan Tilam Petak atau Tilam Putih. Kesederhanaannya membuat Tilam Upih menjadi salah satu dhapur yang relatif populer dan banyak dijumpai di tengah masyarakat.

Nama Tilam Upih berasal dari dua kata. Tilam berkaitan dengan alas atau tempat berbaring, sedangkan upih adalah pelepah pinang yang dahulu dapat dimanfaatkan sebagai alas. Dari sini, nama Tilam Upih membawa gambaran tentang tempat bersandar, beristirahat, dan memperoleh ketenteraman.

Menariknya, simbol yang digunakan justru berasal dari sesuatu yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengingatkan bahwa ketenteraman tidak selalu membutuhkan kemewahan. Terkadang, yang paling dibutuhkan manusia hanyalah tempat untuk pulang, hati yang tenang, dan kehidupan yang cukup.

Karena itu, Tilam Upih dapat dimaknai sebagai sebuah pameling agar manusia tidak kehilangan kemampuan untuk berhenti sejenak, menata diri, dan mensyukuri apa yang telah dimiliki.

 

Pamor Wos Wutah

Wos Wutah, secara harfiah berarti beras tumpah. Motif pamor ini memiliki ciri berupa butiran atau titik-titik pamor yang tersebar pada bilah, menyerupai beras yang tercecer.

Dalam masyarakat Jawa yang memiliki latar budaya agraris, beras bukan sekadar bahan makanan. Beras merupakan simbol kehidupan, kecukupan, dan kesejahteraan keluarga. Karena itu, Wos Wutah kemudian banyak dimaknai sebagai harapan akan kelimpahan rezeki dan tercukupinya kebutuhan hidup.

Namun, Wos Wutah juga memiliki sisi filosofi yang lebih dalam. Beras yang telah tumpah tentu tidak mudah dikembalikan seluruhnya ke tempat semula. Dari kenyataan sederhana tersebut, pamor ini dapat dibaca sebagai sebuah pameling tentang pentingnya menjaga sesuatu sebelum ia hilang.

Dalam kehidupan, bukan hanya harta yang perlu dijaga. Kepercayaan, hubungan, kehormatan, dan perasaan orang lain juga demikian. Sekali kepercayaan rusak, memperbaikinya membutuhkan waktu dan tidak selalu dapat mengembalikannya seperti keadaan semula.

Maka Wos Wutah dapat menjadi pengingat agar manusia berhati-hati dalam berucap, bersikap, dan menjaga amanah. Rezeki memang perlu disyukuri, tetapi hubungan baik juga merupakan kekayaan yang tidak kalah penting.

Dengan demikian, Wos Wutah bukan hanya dapat dibaca sebagai simbol kelimpahan, tetapi juga sebagai ajakan untuk menjaga apa yang telah dipercayakan kepada kita agar tidak tercecer dan hilang begitu saja.

Pemaknaan tersebut merupakan bagian dari tafsir budaya terhadap motif pamor. Ia lebih tepat dipahami sebagai doa dan pengingat, bukan sebagai klaim bahwa pamor secara otomatis mendatangkan rezeki.

 

Tangguh Mataram Sultan Agung

Keris ini memiliki karakter yang dikaitkan dengan Tangguh Mataram Sultan Agung, yaitu tradisi keris yang berkembang pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, salah satu raja terpenting dalam sejarah Mataram pada abad ke-17.

Masa Sultan Agung merupakan periode penting dalam perkembangan kebudayaan Mataram. Pada masa ini terjadi berbagai perkembangan dalam bidang pemerintahan, seni, kebudayaan, hingga penanggalan. Tradisi perkerisan pun berkembang dengan beragam bentuk dan karakter garap.

Salah satu hal menarik pada masa tersebut adalah adanya kesinambungan antara tradisi lama dengan perkembangan baru. Para empu tidak hanya membuat bentuk-bentuk baru, tetapi juga tetap melestarikan berbagai dhapur dari masa sebelumnya dengan memberikan karakter garap yang berkembang pada lingkungan Mataram.

Karena itu, keris Mataram Sultan Agung memiliki pasikutan yang cukup beragam. Secara umum, banyak bilahnya memberikan kesan demes, yaitu serasi, proporsional, dan enak dipandang. Besinya cenderung memberikan kesan mentah atau natural, sehingga serat besinya masih tampak jelas. Pamornya pun dapat tampil cukup jelas hingga memberikan kesan mubyar.

Dalam tradisi perkerisan juga dikenal kisah Pakelun, yaitu pengerahan para empu dan pande besi dari berbagai wilayah untuk memenuhi kebutuhan persenjataan Mataram ketika Sultan Agung mempersiapkan ekspedisi ke Batavia menghadapi VOC. Kisah ini menggambarkan betapa pentingnya keahlian para empu dan pande besi dalam mendukung kehidupan kerajaan.

Dalam sejumlah sumber tradisi perkerisan disebutkan bahwa para empu tersebut berasal dari berbagai daerah di Jawa dan dikoordinasikan oleh empu-empu senior. Nama-nama seperti Ki Tepas, Ki Salatea, Ki Mayi, Ki Legi, Empu Gedhe, Empu Luwing, Ki Guling, Ki Ancer, hingga Ki Tundhung dikenal dalam tradisi tersebut. Ki Tundhung disebut sebagai Empu Jejeneng dan mendapatkan gelar Pangeran Sendhang dari Sultan Agung.

Kisah Pakelun tersebut sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari tradisi dan literatur perkerisan, karena tidak seluruh detailnya dapat diverifikasi melalui sumber sejarah primer. Namun secara kebudayaan, cerita tersebut tetap menarik karena memperlihatkan posisi empu sebagai bagian penting dari kehidupan politik, teknologi, dan kebudayaan Mataram.

Pada keris ini, karakter Tangguh Mataram Sultan Agung berpadu dengan dhapur Tilam Upih yang sederhana dan pamor Wos Wutah yang sarat simbol kecukupan. Pertemuan ketiganya menghadirkan karakter yang menarik: sederhana dalam bentuk, penuh dalam makna, dan kuat dalam jejak sejarahnya.

Sebuah pengingat bahwa keagungan sebuah keris tidak selalu terletak pada banyaknya ricikan atau rumitnya bentuk. Terkadang, justru melalui kesederhanaan kita dapat menemukan nilai tentang ketenteraman, kecukupan, dan kemampuan menjaga apa yang telah kita miliki.

 

FR067

Keris Tilam Upih Mataram Sultan Agung

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 8 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us