Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Carita Keprabon » Keris Empu Ki Nom Mataram Sultan Agung
click image to preview activate zoom

Keris Empu Ki Nom Mataram Sultan Agung

Rp 25.000.000
KodeGB011
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Carita Keprabon, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 11, Pamor Pedaringan Kebak, Tangguh Mataram Sultan Agung
Jenis : Keris Luk 11
Dhapur Carita Keprabon
Pamor Pedaringan Kebak
Tangguh Mataram Sultan Agung
Warangka : Branggah Yogyakarta, Kayu Sono Keling
Deder/Handle : Banaran, Kayu Kemuning Bang
Pendok : Bunton, Bahan Perak Ukir Tatah Lung-lungan
Mendak : Parijata, Bahan Kuningan
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Empu Ki Nom Mataram Sultan Agung

Keris Empu Ki Nom Mataram Sultan Agung

Di masa kejayaan Mataram di bawah Sultan Agung Hanyokrokusumo, keris tidak sekadar ditempa sebagai senjata atau pusaka, melainkan sebagai manifestasi kebijaksanaan, wibawa, dan laku hidup seorang empu. Keris buatan Empu Ki Nom hadir dari zaman peralihan yang panjang—menghubungkan napas akhir Majapahit dengan kematangan spiritual Mataram—menjadikannya bukan hanya karya wesi aji yang indah, tetapi juga penanda watak kepemimpinan, keteguhan batin, dan kemuliaan budi yang dijunjung tinggi pada era Sultan Agung.


Empu Ki Nom

Empu Ki Nom adalah salah satu empu besar yang masyhur pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo di Mataram. Dalam penuturan para sepuh dan ahli keris, Ki Nom dikenal memiliki usia yang sangat panjang dan penampilan yang tetap awet muda. Nama Ki Nom—yang juga dikenal sebagai Pangeran Warih Anom atau Ki Supo Anom—dipercaya bukan sekadar nama lahir, melainkan gelar kehormatan yang diberikan langsung oleh Sultan Agung sebagai ungkapan kekaguman atas kebijaksanaan dan umur panjang sang empu.

Konon, usia Empu Ki Nom melampaui seratus tahun. Jika ditelusuri dari kisah hidupnya, hal ini bukan sesuatu yang mustahil. Ia diperkirakan lahir menjelang akhir masa Majapahit, sekitar tahun 1520-an. Ketika Sultan Agung mempersiapkan penyerangan ke Batavia pada tahun 1626, Ki Nom masih aktif menjalankan tugas sebagai empu tindih—seorang pemimpin empu yang membawahi sekitar delapan puluh empu lainnya. Artinya, pada masa itu usia Ki Nom diperkirakan telah mencapai lebih dari 100 tahun.

Empu Supo Anom, yang semasa kecil bernama Jaka Supa, merupakan putra dari Empu Supa Mandrangi atau Pangeran Sedayu, seorang empu ternama di penghujung Majapahit. Ibunya adalah seorang putri kerabat kraton yang diberikan kepada Empu Supa Mandrangi ketika ia diangkat menjadi pangeran. Kakaknya, Jaka Sura—satu ayah berbeda ibu—juga dikenal sebagai empu besar, bahkan diangkat oleh raja Majapahit terakhir sebagai Adipati Jenu, sehingga masyhur dengan sebutan Empu Adipati Jenu.

Sebutan Ki Nom sendiri merupakan singkatan dari Pangeran Warih Anom, seorang empu yang menguasai tanah perdikan di daerah Sendang. Karena itulah ia juga dikenal dengan gelar Pangeran Sendang. Karya-karya Empu Ki Nom—baik keris maupun tombak—selalu menampilkan kesan agung, anggun, dan mewah, sekaligus memancarkan wibawa yang kuat. Keindahan garapnya berpadu dengan aura kebesaran, menjadi ciri utama pusaka-pusaka buatannya.


Dhapur Carita Keprabon

Dalam pandangan Jawa, manusia ibarat seorang lakon yang memainkan drama kehidupannya sendiri di panggung dunia fana. Hidup berjalan mengikuti alur waktu yang terus berputar, dengan skenario besar yang dituliskan oleh Sang Pencipta. Kata carita bermakna sesuatu yang sedang berlangsung—peristiwa, proses, sekaligus gambaran sifat manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Setiap insan memainkan peran dan alur ceritanya sendiri, dan kehidupan yang dijalani hari ini merupakan buah dari pilihan, keputusan, serta peran yang diambilnya.

Sementara itu, keprabon berasal dari kata prabu yang berarti raja atau ratu. Dalam konteks Jawa, keprabon bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan cerminan kepemimpinan yang patut diteladani. Ia mencerminkan tanggung jawab moral, kebijaksanaan, dan kemampuan menata diri serta masyarakat, bukan kekuasaan yang diagungkan secara kosong.

Menurut pitutur lisan, pada masa lampau hanya mereka yang memiliki trah ningrat atau darah biru yang diperkenankan memiliki keris luk sebelas dengan dhapur Carita Keprabon atau Carita Daleman. Keris-keris ini merupakan pusaka kaum priyayi. Terdapat pula kepercayaan unik bahwa pemilik keris berdhapur ini kerap memelihara burung Gelatik Jawa sebagai klangenan, yang dipercaya berkaitan dengan “mbahurekso” pusaka tersebut.

Angka sebelas sendiri memiliki makna simbolis yang mendalam. Susunan dua angka satu melambangkan kemanunggalan kepada Tuhan. Jika dijumlahkan, angka sebelas menghasilkan angka dua, yang mencerminkan sifat dikotomis—dua sisi kehidupan—namun tetap berada dalam keseimbangan dan keselarasan. Makna ini juga dapat dimaknai sebagai hukum sebab-akibat, bahwa perjalanan hidup manusia tak lepas dari buah perbuatannya sendiri.


Pamor Pedaringan Kebak

Pada masa lalu, masyarakat Jawa menyimpan beras dalam peti kayu besar yang disebut pendaringan. Dari makna inilah pamor Pedaringan Kebak mendapatkan namanya. Wos wutah berarti beras yang tumpah, sedangkan pedaringan kebak bermakna peti beras yang penuh. Keduanya sama-sama melambangkan rezeki, namun dengan penekanan yang berbeda.

Secara visual, pamor Pedaringan Kebak memiliki kemiripan dengan pamor Wos Wutah, tetapi tampil lebih padat dan kompleks. Motif pamornya menyebar memenuhi seluruh permukaan bilah, menyatu dan tidak terpecah dalam kelompok-kelompok terpisah. Karena itulah, pamor ini dipercaya memiliki tuah yang lebih kuat: segala usaha, jerih payah, dan kerja keras akan berbuah hasil yang melimpah, laksana panenan yang menumpuk dan lumbung-lumbung yang terisi penuh oleh rezeki yang mengalir deras.


Tangguh Mataram Sultan Agung

Masa Mataram Islam, khususnya pada pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, sering dianggap sebagai salah satu puncak kejayaan dunia perkerisan di Jawa. Pada periode ini, pembuatan keris dan tombak berkembang pesat, baik dari segi kualitas garap maupun jumlah produksi. Dikisahkan, Sultan Agung mengeluarkan titah yang memperkenankan rakyat memiliki pusaka wesi aji tanpa rasa takut akan perampasan oleh pihak keraton. Titah ini menumbuhkan rasa aman, kepercayaan kepada pemimpin, serta semangat membangun dari desa hingga pusat kerajaan.

Dalam konteks tersebut, keris tidak lagi menjadi simbol eksklusif kalangan elit, melainkan bagian dari identitas dan kepercayaan diri masyarakat. Pada berbagai upacara dan pisowanan, rakyat berani mengenakan busana adat lengkap dengan keris—baik sebagai ageman maupun pusaka tayuhan. Sultan Agung juga menganugerahkan pusaka kinatah emas kepada mereka yang berjasa, dengan ragam motif yang disesuaikan dengan kedudukan dan peran masing-masing. Prajurit hingga lurah menerima kinatah sederhana, para perwira dan panewu memperoleh motif gajah atau singa, sementara kerabat dan patih dalem dianugerahi motif yang lebih halus dan sarat simbol.

Zaman Mataram Sultan Agung menjadi masa yang subur bagi para empu. Mereka diberi ruang untuk berkreasi sekaligus melestarikan bentuk-bentuk lama, memadukan warisan masa sebelumnya dengan karakter khas Mataram. Karena itulah, keris-keris bertangguh ini tampil beragam dalam pasikutan dan garap, namun tetap memancarkan watak yang matang, agung, dan berwibawa—menjadikan era ini kerap disebut sebagai surga bagi para empu.

GB011

Tags: , , , ,

Keris Empu Ki Nom Mataram Sultan Agung

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 108 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us