Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
Keris Empu Ki Nom Mataram Sultan Agung
Rp 25.000.000| Kode | GB011 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Dhapur Carita Keprabon, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 11, Pamor Pedaringan Kebak, Tangguh Mataram Sultan Agung |
| Jenis | : Keris Luk 11 |
| Dhapur | : Carita Keprabon |
| Pamor | : Pedaringan Kebak |
| Tangguh | : Mataram Sultan Agung |
| Warangka | : Branggah Yogyakarta, Kayu Sono Keling |
| Deder/Handle | : Banaran, Kayu Kemuning Bang |
| Pendok | : Bunton, Bahan Perak Ukir Tatah Lung-lungan |
| Mendak | : Parijata, Bahan Kuningan |
Keris Empu Ki Nom Mataram Sultan Agung
Keris Empu Ki Nom Mataram Sultan Agung
Di masa kejayaan Mataram di bawah Sultan Agung Hanyokrokusumo, keris tidak sekadar ditempa sebagai senjata atau pusaka, melainkan sebagai manifestasi kebijaksanaan, wibawa, dan laku hidup seorang empu. Keris buatan Empu Ki Nom hadir dari zaman peralihan yang panjang—menghubungkan napas akhir Majapahit dengan kematangan spiritual Mataram—menjadikannya bukan hanya karya wesi aji yang indah, tetapi juga penanda watak kepemimpinan, keteguhan batin, dan kemuliaan budi yang dijunjung tinggi pada era Sultan Agung.
Empu Ki Nom
Empu Ki Nom adalah salah satu empu besar yang masyhur pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo di Mataram. Dalam penuturan para sepuh dan ahli keris, Ki Nom dikenal memiliki usia yang sangat panjang dan penampilan yang tetap awet muda. Nama Ki Nom—yang juga dikenal sebagai Pangeran Warih Anom atau Ki Supo Anom—dipercaya bukan sekadar nama lahir, melainkan gelar kehormatan yang diberikan langsung oleh Sultan Agung sebagai ungkapan kekaguman atas kebijaksanaan dan umur panjang sang empu.
Konon, usia Empu Ki Nom melampaui seratus tahun. Jika ditelusuri dari kisah hidupnya, hal ini bukan sesuatu yang mustahil. Ia diperkirakan lahir menjelang akhir masa Majapahit, sekitar tahun 1520-an. Ketika Sultan Agung mempersiapkan penyerangan ke Batavia pada tahun 1626, Ki Nom masih aktif menjalankan tugas sebagai empu tindih—seorang pemimpin empu yang membawahi sekitar delapan puluh empu lainnya. Artinya, pada masa itu usia Ki Nom diperkirakan telah mencapai lebih dari 100 tahun.
Empu Supo Anom, yang semasa kecil bernama Jaka Supa, merupakan putra dari Empu Supa Mandrangi atau Pangeran Sedayu, seorang empu ternama di penghujung Majapahit. Ibunya adalah seorang putri kerabat kraton yang diberikan kepada Empu Supa Mandrangi ketika ia diangkat menjadi pangeran. Kakaknya, Jaka Sura—satu ayah berbeda ibu—juga dikenal sebagai empu besar, bahkan diangkat oleh raja Majapahit terakhir sebagai Adipati Jenu, sehingga masyhur dengan sebutan Empu Adipati Jenu.
Sebutan Ki Nom sendiri merupakan singkatan dari Pangeran Warih Anom, seorang empu yang menguasai tanah perdikan di daerah Sendang. Karena itulah ia juga dikenal dengan gelar Pangeran Sendang. Karya-karya Empu Ki Nom—baik keris maupun tombak—selalu menampilkan kesan agung, anggun, dan mewah, sekaligus memancarkan wibawa yang kuat. Keindahan garapnya berpadu dengan aura kebesaran, menjadi ciri utama pusaka-pusaka buatannya.
Dhapur Carita Keprabon
Dalam pandangan Jawa, manusia ibarat seorang lakon yang memainkan drama kehidupannya sendiri di panggung dunia fana. Hidup berjalan mengikuti alur waktu yang terus berputar, dengan skenario besar yang dituliskan oleh Sang Pencipta. Kata carita bermakna sesuatu yang sedang berlangsung—peristiwa, proses, sekaligus gambaran sifat manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Setiap insan memainkan peran dan alur ceritanya sendiri, dan kehidupan yang dijalani hari ini merupakan buah dari pilihan, keputusan, serta peran yang diambilnya.
Sementara itu, keprabon berasal dari kata prabu yang berarti raja atau ratu. Dalam konteks Jawa, keprabon bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan cerminan kepemimpinan yang patut diteladani. Ia mencerminkan tanggung jawab moral, kebijaksanaan, dan kemampuan menata diri serta masyarakat, bukan kekuasaan yang diagungkan secara kosong.
Menurut pitutur lisan, pada masa lampau hanya mereka yang memiliki trah ningrat atau darah biru yang diperkenankan memiliki keris luk sebelas dengan dhapur Carita Keprabon atau Carita Daleman. Keris-keris ini merupakan pusaka kaum priyayi. Terdapat pula kepercayaan unik bahwa pemilik keris berdhapur ini kerap memelihara burung Gelatik Jawa sebagai klangenan, yang dipercaya berkaitan dengan “mbahurekso” pusaka tersebut.
Angka sebelas sendiri memiliki makna simbolis yang mendalam. Susunan dua angka satu melambangkan kemanunggalan kepada Tuhan. Jika dijumlahkan, angka sebelas menghasilkan angka dua, yang mencerminkan sifat dikotomis—dua sisi kehidupan—namun tetap berada dalam keseimbangan dan keselarasan. Makna ini juga dapat dimaknai sebagai hukum sebab-akibat, bahwa perjalanan hidup manusia tak lepas dari buah perbuatannya sendiri.
Pamor Pedaringan Kebak
Pada masa lalu, masyarakat Jawa menyimpan beras dalam peti kayu besar yang disebut pendaringan. Dari makna inilah pamor Pedaringan Kebak mendapatkan namanya. Wos wutah berarti beras yang tumpah, sedangkan pedaringan kebak bermakna peti beras yang penuh. Keduanya sama-sama melambangkan rezeki, namun dengan penekanan yang berbeda.
Secara visual, pamor Pedaringan Kebak memiliki kemiripan dengan pamor Wos Wutah, tetapi tampil lebih padat dan kompleks. Motif pamornya menyebar memenuhi seluruh permukaan bilah, menyatu dan tidak terpecah dalam kelompok-kelompok terpisah. Karena itulah, pamor ini dipercaya memiliki tuah yang lebih kuat: segala usaha, jerih payah, dan kerja keras akan berbuah hasil yang melimpah, laksana panenan yang menumpuk dan lumbung-lumbung yang terisi penuh oleh rezeki yang mengalir deras.
Tangguh Mataram Sultan Agung
Masa Mataram Islam, khususnya pada pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, sering dianggap sebagai salah satu puncak kejayaan dunia perkerisan di Jawa. Pada periode ini, pembuatan keris dan tombak berkembang pesat, baik dari segi kualitas garap maupun jumlah produksi. Dikisahkan, Sultan Agung mengeluarkan titah yang memperkenankan rakyat memiliki pusaka wesi aji tanpa rasa takut akan perampasan oleh pihak keraton. Titah ini menumbuhkan rasa aman, kepercayaan kepada pemimpin, serta semangat membangun dari desa hingga pusat kerajaan.
Dalam konteks tersebut, keris tidak lagi menjadi simbol eksklusif kalangan elit, melainkan bagian dari identitas dan kepercayaan diri masyarakat. Pada berbagai upacara dan pisowanan, rakyat berani mengenakan busana adat lengkap dengan keris—baik sebagai ageman maupun pusaka tayuhan. Sultan Agung juga menganugerahkan pusaka kinatah emas kepada mereka yang berjasa, dengan ragam motif yang disesuaikan dengan kedudukan dan peran masing-masing. Prajurit hingga lurah menerima kinatah sederhana, para perwira dan panewu memperoleh motif gajah atau singa, sementara kerabat dan patih dalem dianugerahi motif yang lebih halus dan sarat simbol.
Zaman Mataram Sultan Agung menjadi masa yang subur bagi para empu. Mereka diberi ruang untuk berkreasi sekaligus melestarikan bentuk-bentuk lama, memadukan warisan masa sebelumnya dengan karakter khas Mataram. Karena itulah, keris-keris bertangguh ini tampil beragam dalam pasikutan dan garap, namun tetap memancarkan watak yang matang, agung, dan berwibawa—menjadikan era ini kerap disebut sebagai surga bagi para empu.
GB011
Tags: Keris Empu Ki Nom, Keris Jawa Kuno, keris mataram, keris pusaka, keris sultan agung
Keris Empu Ki Nom Mataram Sultan Agung
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 108 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Pusaka Keris Sepang Nogo Kembar Kalacakra Kinatah Kamardikan Alusan Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Kontemporer Sepang Nogo Kembar Kalacakra Pamor (motif lipatan besi) : Keleng (kinatah tembaga sepuh emas) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kamardikan Alusan Panjang Bilah : 36 cm Warangka : Sandhang Walikat Kayu Galeh Jati Handle / Gagang : Kayu Galeh… selengkapnya
Rp 2.250.000Keris Carita Keprabon Pamor Wos Wutah Pajang Mataram Keris Carita Keprabon Pamor Wos Wutah Pajang Mataram – Manusia bak lakon yang memainkan drama kehidupan sendiri dalam dunia fana. Dalam dunia yang tak tahu kapan berakhirnya ini manusia hanya pelaku yang bermain di atas kisaran waktu yang terus berputar dengan skenario atau jalan yang sudah ditulis… selengkapnya
Rp 5.500.000Jual Keris Naga Salira Bersayap Luk 23 Kinatah Kamarogan Kamardikan Istimewa Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Naga Lar Sayap / Naga Salira Bersayap Luk 23 Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka (Kinatah Kamoragan Tembaga Sepuh Emas) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kamardikan Alusan Panjang Bilah : 37 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu… selengkapnya
Rp 3.555.000Keris Nogo Temanten Kalawijan Luk 27 Kinatah Kamarogan Unik Antik Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Naga Temanten Kolowijan Luk 27 Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka (kinatah kuningan sepuh emas ) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kamardikan Garap Alus (pesanan khusus) Panjang Bilah : 41,5 cm (keris corok panjang) Warangka : Gayaman Surakarta… selengkapnya
Rp 2.250.000Pusaka Keris Pamor Toya Mambeg Sepuh Tangguh Blambangan Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Brojol Pamor (motif lipatan besi) : Toya Mambeg (pamor Miring) Pamor Gonjo : Lar Gangsir Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Blambangan Era Majapahit Panjang Bilah : 33 cm Pesi masih utuh panjang Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Kemuning Gandar Iras Utuh… selengkapnya
Rp 7.111.000Keris Sengkelat Pamor Pedaringan Kebak Keris Sengkelat Pamor Pedaringan Kebak merupakan salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris kami. Keris ini termasuk dalam golongan jenis keris luk 13. Jika dilihat dari bentuk dan ricikannya, keris ini berdhapur Sengkelat / Sangkelat. Untuk pamor yang tergurat di bilahnya adalah pamor Pedaringan Kebak. Warangka memakai model Ladrang dari bahan kayu Trembalo gandar… selengkapnya
Hubungi AdminPusaka Keris Brojol Pamor Beras Wutah Dhapur: Brojol Pamor: Beras Wutah / Wos Wutah Kode: PK094 INFO SELENGKAPNYA Tentang Pusaka Keris Brojol Pamor Beras Wutah Silahkan Hubungi Kami Melalui Whatsapp/Telp/SMS: 082177400100
Hubungi AdminPedang Sabet Sokayana Pamor Damaskus Kuno Dhapur/ Nama bentuk Pedang : Sabet Sokayana Pamor / Motif Lipatan Besi : Kulit Semangka damaskus Tangguh : Mataram Surakarta Abad Ke 17 masehi Panjang bilah tajam : 53 cm Panjang Total Ketika Disarungkan : 67,5 cm Warangka : Kayu Cendana Handel / Gagang Pedang : Tanduk Kerbau Kuno… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Jangkung Naga Temanten Kinatah Kamarogan Kamardikan Alusan Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jangkung Naga Temanten (Kontemporer) Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kamardikan (Garap Alus) Panjang Bilah : 36 cm Warangka : Gayaman Solo Kayu Jati Alas Handle / Gagang : Kayu Jati Alas Pendok : Bunton… selengkapnya
Rp 1.888.000Keris Kebo Teki Keleng Tangguh Tuban Majapahit Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Kebo Teki / Mahesa Teki Pamor (motif lipatan besi) : Keleng (Besi Padat Nglempung Istimewa) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Tuban Era Majapahit (Abad XIII) Panjang Bilah : 34 cm (Pesi Masih Utuh Panjang Original) Warangka : Sandang Walikat Kayu Sono… selengkapnya
Rp 3.500.000


















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.