Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Keris » Keris Jangkung Mayang Keleng Hurap Sepuh Kuno
click image to preview activate zoom

Keris Jangkung Mayang Keleng Hurap Sepuh Kuno

KodeK149
Stok Habis
Kategori Keris, Keris Luk 3, Keris Sepuh, Pamor Kelengan, Tangguh Mataram, TOSAN AJI 3
Tentukan pilihan yang tersedia!
OUT OF STOCK
Maaf, produk ini tidak tersedia.
Bagikan ke

Keris Jangkung Mayang Keleng Hurap Sepuh Kuno

Pusaka Keris Jangkung Mayang Keleng Hurap Sepuh Kuno

  • Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jangkung Mayang (Liman Primitif)
  • Pamor (motif lipatan besi) : Keleng Hurap Berserat (tempaan padat pulen)
  • Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram
  • Panjang Bilah : 33 cm
  • Pesi masih utuh panjang original tidak sambungan
  • Warangka : Gayaman Jogjakarta Kayu Timoho Kuno Bawaan Bilah
  • Handle / Gagang : Kayu Kemuning
  • Pendok : Bunton Jogja
  • Mendak: Kuningan
  • Kode: K149

Dialih rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Keris Jangkung Mayang Keleng Hurap Sepuh Kuno Keris Jangkung Mayang Keleng Hurap Sepuh Kuno Keris Jangkung Mayang Keleng Hurap Sepuh Kuno Keris Jangkung Mayang Keleng Hurap Sepuh Kuno Keris Jangkung Mayang Keleng Hurap Sepuh Kuno

Makna Filosofi Pusaka Keris Jangkung Mayang Keleng Hurap Sepuh Kuno

” Gonjo iras minangka prasemoning angganing manusa kaliyan Pangeran, kawula kaliyan Gusti, ingkang mucuki kaliyan ingkang mekasi, serta pepethan, tansah sih-sinihan, boten nate pepisahan. “

Dhapur Keris Jangkung Mayang (Liman Primitif)

Jangkung, biasanya orang-orang perkerisan menyebut keris luk tiga yang memakai ricikan sederhana: sekar kacang baik yang memakai sogokan maupun tidak dengan sebutan keris Jangkung. Dhapur keris luk tiga (jangkung), umumnya dianggap membawakan sifat isi keris yang menunjang cita-cita, karena bentuknya membawa perlambang terhindar dari godaan (fokus pada tujuan). Dalam bahasa jawa sering diungkapkan : ‘sae kagem ingkang kagungan gegayuhan‘. Baik bagi orang yang sedang memperjuangkan cita-cita. Jadi, lebih kurang sifat isi keris itu adalah untuk menambah ambisi dan semangat seseorang dalam meraih cita-citanya.

Liman Primitif, disebut ‘primitif’ karena abstrak atau kurang jelas bentuknya, perlu ruang imajinasi yang lebih dalam untuk memahami wujudnya. Motif pahatan semacam ini biasanya dibuat oleh empu-empu luar benteng keraton (empu-empu desa yang tinggal jauh dari pusat) yang penguasaan teknologi maupun sarana dan prasananya masih sederhana dan terbatas. Penggunaannya adalah masyarakat yang pada umumnya (orang desa) atau para kepala desa yang status sosialnya tidak begitu tinggi. Mereka mencoba mengira-ira dan meniru keris-keris agung (pancer) yang dimiliki oleh raja atau bangsawan.

Penamaan keris yang menambahkan kata ‘primitif’ di belakangnya menjadi penanda bahwa keris jenis ini dihasilkan oleh Empu-Empu pedesaan. Misalnya Jangkung Liman Primitif, keris luk tiga yang seharusnya pada bagian sor-soran gajah dilukiskan secara detail, bisa dengan belalai, gading, kaki dan ekornya namun dikerjakan dengan garap yang sangat sederhana (primitif). Namun pendapat dari kelompok pemuja esoteri justru berbeda lagi. Keris-keris seperti ini dalam wacana pakem dhapur dan value pasar dianggap keris garap njobo atau ndeso yang nilai maharnya relatif terjangkau.

Bagi penggemar keris yang tingkatan pemahamannya sudah makrifat, dianggap keris yang punya nilai cipta rasa dan karsa tersendiri, baik pemilik maupun sang empu sudah tidak terjebak dalam mempertimbangkan pakem (medal paugeran), belenggu material atau , wadag luar. Cipta rasa dan karsanya sudah mengikuti tuntunan hati dan mempertimbangkan kearifan lokal, sehingga karya tersebut menjadi sesuatu yang sifatnya sangat pribadi tidak dapat diperbandingkan.

Pamor Keleng atau Kelengan

Pamor konon melambangkan keduniawian. Menutup kekurangan pada kapasitas olah besi. Menjadikannya sebagai hiasan yang kasat mata. Jelas dan terbaca. Sedangkan Kelengan merupakan demonstrasi olah besi yang mumpuni.

Kapasitas teknis & spirituil sehingga mampu menghasilkan kadar pemurnian yang tinggi. Dan Kelengan yang tanpa dihiasi pamor sanak ataupun tempa mentah menunjukkan betapa tingginya kemampuan sang mPu dalam mengolah besi menjadi lebih “kajen”.

Dan disinilah.. setelah sekian lama berkubang pada keduniawian, sedikit banyak kurang menahan diri atas hasrat hati.. maka kini saatnya mengambil momentum untuk mengingat kepadaNya. Kembali meningkatkan kapasitas spirituil untuk lebih “menyatu”, manunggal dalam segala aspek kehidupan.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Keris Jangkung Mayang Keleng Hurap Sepuh Kuno

Berat 1500 gram
Kondisi Baru
Dilihat 2.880 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
WhatsApp WhatsApp us