Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Parungsari » Parungsari Mataram Senopaten
click image to preview activate zoom

Parungsari Mataram Senopaten

Rp 4.500.000
KodeTAG248
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Parungsari, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 13, Pamor Beras Wutah, Tangguh Mataram Senopaten
Jenis : Keris Luk 13
Dhapur Parungsari
Pamor Wos Wutah
Tangguh Mataram Senopaten
Warangka : Gayaman Yogyakarta, Kayu Trembalo
Deder/Handle : Banaran, Kayu Trembalo
Pendok : Bunton, Bahan Kuningan
Mendak : Widengan, Bahan Kuningan
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Parungsari Mataram Senopaten

Parungsari Mataram Senopaten

Parungsari Mataram Senopaten hadir sebagai pertemuan antara keindahan laku batin dan keteguhan sejarah. Dhapur Parungsari yang anggun—berluk tiga belas dengan ricikan lengkap—menyiratkan ajaran tentang keikhlasan dan keseimbangan hidup, sementara tangguh Mataram Senopaten membawa watak kokoh masa peralihan, ketika ruh Majapahit berpadu dengan lahirnya Mataram Islam. Dalam bilahnya terpatri ketenangan yang tidak rapuh dan wibawa yang tidak berisik; sebuah pusaka yang tidak sekadar memamerkan bentuk, tetapi menyimpan nilai, kedewasaan, dan keteguhan budi sebagai warisan zaman.


Dhapur Parungsari
Parungsari adalah dhapur keris berluk tiga belas dengan perawakan bilah sedang. Dhapur ini dilengkapi ricikan kembang kacang, lambe gajah dua, sogokan rangkap, pejetan, sraweyan, serta greneng yang tertata seimbang. Secara bentuk, Parungsari kerap disamakan dengan dhapur Sengkelat. Namun pembeda utamanya terletak pada keberadaan dua lambe gajah, yang menjadi penanda khas Parungsari dan memberi kesan mantap sekaligus anggun.

Secara etimologis, parung bermakna deretan bukit dan lembah, sementara sari berarti bunga atau inti keindahan. Parungsari melambangkan keindahan yang tumbuh secara alami—tanpa dipaksa dan tanpa dituntut. Ia mengajarkan laku hidup yang menerima keadaan apa adanya; justru dari sikap menerima itulah manfaat bagi sekitar dapat hadir. Parungsari menjadi simbol keikhlasan budi: tidak merasa tinggi sehingga tak gentar jatuh, tidak merasa mulia sehingga tak takut direndahkan. Laksana bunga di lereng parung, ia tumbuh dalam kesunyian, namun meninggalkan kesan yang abadi.


Pamor Wos Wutah
Pamor Wos Wutah, atau Beras Wutah, ditandai oleh butiran-butiran pamor kecil yang tersebar merata di seluruh bilah, menyerupai beras yang tercecer. Dalam falsafah Jawa, beras adalah lambang kehidupan dan penghidupan. Ketika ia “wutah”, maknanya bukan semata kelimpahan rezeki, melainkan juga peringatan agar manusia mampu menjaga, merawat, dan mensyukuri apa yang telah dimiliki.

Sebagai pameling dalam kehidupan berumah tangga, pamor Wos Wutah mengajarkan kehati-hatian dalam sikap dan tutur. Beras yang telah tumpah jarang kembali ke takarannya—sebuah perlambang bahwa kepercayaan, jika sekali retak, tidak mudah dipulihkan. Pamor ini menuntun pemiliknya untuk senantiasa menjaga rasa hormat, kejujuran, dan kesetiaan, sebab kesejahteraan sejati bertumpu pada kepercayaan yang utuh.


Tangguh Mataram Senopaten
Dalam Serat Centhini, keris tangguh Mataram Senopaten digambarkan sebagai pusaka berperawakan pasikutan yang prigel dan bagus. Besinya bersemu biru, terasa kering namun halus, dengan pamor menancap pandhes. Wataknya ngawat, kencang, dan keras—sebuah pusaka yang tan ana kang nguciwani, tidak mengecewakan pemiliknya. Keris-keris dari masa ini umumnya masih membawa ruh dan karakter Majapahit, mengingat banyak empu pada masa Panembahan Senopati merupakan empu Majapahit atau keturunannya. Salah satu tokoh empu penting dalam masa peralihan ini adalah Empu Supo Anom, yang juga dikenal sebagai Empu Kinom.

Dalam Pakem Pusaka Duwung, Sabet, Tombak karya R.Ng. Ronggowarsito (ditulis ulang oleh R.Ng. Hartokretarto, 1964), ciri-ciri keris Senopaten dijelaskan memiliki gandik sedang hingga agak panjang, sekar kacang besar, tikel alis, pejetan, serta sogokan yang dalam dan lebar. Wilahnya berperawakan sedang, cenderung tebal, dengan luk yang kekar. Besinya halus namun agak kering, sementara pamornya tampil putih terang dan alus.

Keris tangguh Mataram Senopaten juga kerap dijumpai menggunakan gonjo sebit ron tal, dinamakan demikian karena bentuk wuwungannya menyerupai sobekan daun tal atau siwalan. Gonjo jenis ini banyak diminati karena lazim ditemukan pada keris-keris bergelar tua, dengan ekor cicak yang tidak terlalu runcing. Hal ini berbeda dengan gonjo nguceng mati, yang memiliki sirah cicak kecil dan lancip, serta buntut panjang dan tajam. Keseluruhan ciri tersebut menegaskan karakter Mataram Senopaten sebagai pusaka masa peralihan: kokoh, matang, dan sarat wibawa sejarah.

Tags: , , , ,

Parungsari Mataram Senopaten

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 8 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us