Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
Sempono Pamor Banyu Mili
Rp 3.300.000| Kode | GT193 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Sempono, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 9, Keris Sepuh, Pamor Banyu Mili, Tangguh Pajajaran |
| Jenis | : Keris Luk 9 |
| Dhapur | : Sempana |
| Pamor | : Banyu Mili |
| Tangguh | : Pajajaran |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Kayu Trembalo Iras |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Kemuning |
| Mendak | : Untu Walang Bahan Kuningan |
| Pendok | : Blewah, Bahan Kuningan |
Sempono Pamor Banyu Mili
Sempono Pamor Banyu Mili
Sempono Pamor Banyu Mili, Sebilah keris bukan hanya wujud logam yang ditempa, tetapi cermin dari kepribadian dan laku batin manusia. Demikian pula sebuah keris Sempoño luk sembilan, yang sejak masa lalu dipandang sebagai pusaka para pangabdi—mereka yang memilih jalan ketekunan, kesetiaan, dan pengabdian sebagai dasar kehidupannya. Bentuknya sederhana tetapi berwibawa, mencerminkan harapan agar pemiliknya memiliki tekad lurus serta kemampuan mengendalikan diri, sebagaimana makna mendalam yang terkandung dalam ajaran Babahan Hawa Sanga. Keris ini bukan hanya perhiasan, melainkan tuntunan tentang bagaimana manusia menjaga sembilan pintu dirinya agar tetap berada pada jalan keluhuran.
Keistimewaan keris ini kian lengkap dengan hadirnya pamor Banyu Mili, salah satu motif pamor yang sarat pesan tentang kehidupan. Garis-garisnya yang mengalir dari pangkal hingga ujung bilah mengajarkan bahwa hidup selayaknya diteruskan dengan ketabahan, kerendahan hati, serta arah yang jelas—sebagaimana air yang selalu bergerak menuju muara tanpa kehilangan kejernihannya. Dan ketika bilah ini membawa ciri kuat tangguh Pajajaran, ia tidak hanya menjadi pusaka, tetapi juga serpihan sejarah yang menyimpan wibawa Prabu Siliwangi dan kejayaan tanah Sunda. Keris ini hadir sebagai kesatuan yang utuh: indah dalam bentuk, dalam dalam makna, dan kaya dalam jejak peradabannya.
Dhapur Sempana Luk 9
Sempana—sering pula disebut Sempoño—adalah salah satu dhapur keris luk sembilan yang bentuknya sederhana namun memikat. Bilahnya hanya mengenakan ricikan pokok seperti kembang kacang, satu lambe gajah, serta greneng, tanpa ornamen tambahan lain. Kesederhanaan ini justru menjadikan dhapur Sempana begitu populer, terutama di masa lampau ketika banyak dimiliki oleh para abdi dalem dan mereka yang hidup dalam dunia pengabdian. Bentuknya yang lurus, rapi, dan tidak berlebih, mencerminkan watak pemilik yang diharapkan: tekun, tulus, dan konsisten dalam menjalankan tugas.
Luk sembilan sendiri memiliki kedudukan khusus dalam filosofi Jawa. Pepatah tua mengatakan, “Yen kowe kepingin selamet, joganen bolongan songo,” yang mengingatkan manusia agar menjaga sembilan pintu dirinya—sembilan lubang tubuh yang menjadi tempat keluar masuknya hawa, keinginan, dan godaan. Ajaran Babahan Hawa Sanga menuntun manusia untuk mengendalikan sembilan pintu itu agar tetap berada dalam keluhuran. Melalui disiplin batin dan kesadaran diri, seseorang dapat menempuh jalan terang menuju derajat mulia, atau sebaliknya jatuh menuju kehinaan bila gagal menjaganya. Karena itu, keris luk sembilan kerap dimaknai sebagai wahana pengingat agar manusia senantiasa eling, waspada, dan teguh memelihara akhlaknya. Dalam tradisi tosan aji, dhapur luk sembilan juga sering dikaitkan dengan tuah penunjang karier dan kemajuan, terutama bagi mereka yang memiliki ambisi baik untuk meraih kedudukan melalui kerja keras dan ketekunan.
Pamor Banyu Mili
Pamor Banyu Mili, atau sering disebut ilining warih, menghadirkan gambaran aliran air melalui garis-garis pamor yang membujur dari pangkal hingga ujung bilah. Garis-garis itu ada yang utuh, ada yang terputus, ada pula yang bercabang dan berkelok, seolah menggambarkan perjalanan air yang tak pernah berhenti mengalir menuju muara. Dari air, manusia diajak belajar tentang keteguhan: betapa pun jauh jaraknya, air akan selalu tiba pada tujuan. Ia tidak mengenal putus asa, tidak takut berbelok, dan tidak berhenti walau menghadapi batu atau rintangan.
Dalam perspektif kepemimpinan, air menjadi simbol kerendahan hati. Air selalu bergerak menuju tempat yang rendah, memberi manfaat bagi semua makhluk yang membutuhkannya. Ia adalah gambaran pemimpin yang melayani, bukan dilayani; pemimpin yang menghadirkan kemaslahatan, keteduhan, dan kesejahteraan. Karena itu, pamor Banyu Mili dianggap baik bagi mereka yang memegang amanah kepemimpinan maupun pekerjaan yang melibatkan pelayanan kepada masyarakat. Ia menjadi pengingat bahwa kekuasaan sejati adalah kemampuan mengalirkan kebaikan kepada sesama.
Tangguh Pajajaran
Pusaka bertangguh Pajajaran selalu menghadirkan pesona yang khas: kokoh, berwibawa, dan berakar pada kebesaran tanah Sunda. Ia bukan sekadar benda tempa, tetapi jejak sebuah peradaban yang tumbuh dari kerajaan-kerajaan besar sebelumnya—Tarumanegara, Galuh, Kawali, dan Sunda—yang membentuk identitas budaya Pasundan. Berdasarkan Prasasti Sanghyang Tapak, Pajajaran berdiri sekitar abad ke-10 M di bawah Sri Jayabhupati, lalu mencapai puncak kemegahannya pada masa Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja pada tahun 1428 M. Pada masa itu rakyat hidup tenteram di bawah prinsip silih asah, silih asih, silih asuh—sebuah tatanan moral yang menekankan kebijaksanaan, kasih sayang, dan tanggung jawab sosial.
Namun sejarah selalu berputar. Ketika pengaruh Islam menguat dan Kesultanan Banten bangkit, cahaya Pajajaran mulai meredup. Serangan Maulana Yusuf pada 1579 yang merebut Pakuan serta membawa Palangka Sriman Sriwacana ke Surosowan menandai berakhirnya kejayaan itu. Para bangsawan yang selamat kemudian menyepi ke pedalaman Lebak, mempertahankan laku hidup lama yang berpadu dengan alam. Mereka inilah yang hari ini dikenal sebagai masyarakat Baduy—penjaga nilai-nilai luhur Pajajaran yang tetap hidup dalam kesunyian gunung dan hutan.
Sebilah keris selalu melampaui bentuknya. Ia menyimpan petuah, perjalanan manusia, dan suara masa lalu. Dalam dhapur Sempana, luk sembilan, pamor Banyu Mili, dan tangguh Pajajaran, terangkum ajaran tentang kelurusan, pengendalian diri, ketekunan, kerendahan hati, hingga kebijaksanaan nenek moyang. Keris seperti ini bukan hanya artefak sejarah, tetapi pengingat bagi kita: bahwa kehidupan adalah aliran panjang yang perlu dijalani dengan niat baik, kontrol diri, dan budi pekerti yang luhur.
Sempono Pamor Banyu Mili
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 778 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
KERIS KUNO!! Tangguh Majapahit Tilam Upih Pamor Tirto Tumetes Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Upih Pamor (motif lipatan besi) : Tirto Tumetes Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Majapahit (besi padat basah dan pamor berkarakter) Panjang Bilah : 34 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang : Kemuning Bang Kuno… selengkapnya
Rp 2.150.000Keris Pamor Wahyu Tumurun Tirto Tejo Dhapur Sempaner Sepuh Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sempaner Pamor (motif lipatan besi) : Wahyu Tumurun / Tirto Tejo Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajajaran Sepuh Panjang Bilah : 33,5 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Trembalo Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Pendok :… selengkapnya
Rp 2.755.000Keris Sabuk Inten Pamor Putih Byar Tangguh Mataram Sultan Agung Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sabuk Inten Luk 11 Pamor (motif lipatan besi) : Beras Wutah (Pamor Putih Full Byar) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Sultan Agung Panjang Bilah : 35 cm Warangka : Ladrang Surakarta Gandar Iras Kayu Trembalo Kuno Handle /… selengkapnya
Rp 3.111.000Keris Jalak Nyucup Madu Pamor Wos Wutah Era Pajajaran Filosofi Keris Jalak Nyucup Madu Keris Jalak Nyucup Madu adalah pusaka yang memancarkan kesederhanaan dan keanggunan. Lebih dari sekadar sebuah senjata, keris ini sarat akan makna mendalam yang mengajarkan jalan menuju makrifat. Bentuknya yang sederhana menjadi simbol ketenangan jiwa yang tidak terpengaruh oleh gemerlap dunia…. selengkapnya
Rp 2.500.000Senjata Kuno Peninggalan Nusantara Kudi Kujang Temuan Zaman Mataram Hindu Dhapur / Bentuk : Kudi / Arit Pamor : Sanak Metorit/ Besi Nglempung Tangguh : Kabudhan / Mataram Hindu Budha Panjang Bilah : 22 cm Warangka : Kayu Jati Handle : Kayu Jati Kode : PK378 Senjata kuno temuan dari peninggalan Nusantara yang menjadi saksi… selengkapnya
Rp 850.000Keris Tilam Sari Majapahit Pamor Ceprit-Ceprit “Daripada memiliki banyak keris atau tombak, lebih baik memiliki satu bilah keris atau tombak tangguh Majapahit.” Demikianlah ungkapan guyonan yang kerap beredar di kalangan kolektor perkerisan. Sekilas terdengar berlebihan, seolah mengangkat keris tangguh Majapahit ke singgasana yang terlalu tinggi. Namun di balik nada bercanda itu, tersimpan makna yang tidak… selengkapnya
Rp 4.000.000Keris Kolonadah Luk 5 Pamor Banyu Mili Sepuh Kuno Tua Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Kalanadah / Kolonadah Luk 5 Pamor (motif lipatan besi) : Banyu Mili Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajajaran Akhir Panjang Bilah : 32 cm Warangka : Gayaman Jogjakarta Kayu Trembalo Kuno Handle / Gagang : Kayu Cendana Jawa Pendok… selengkapnya
Rp 1.777.000Pusaka Keris Tilam Sari Pamor Miring Kenongo Ginubah Kuno Langka Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Sari Pamor (motif lipatan besi) : Kenanga Ginubah Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Tuban Era Mataram Abad ke 17 Masehi Panjang Bilah : 34,6 cm Warangka : Gayaman Surakarta Gandar Iras Kayu Trembalo Kuno Handle / Gagang :… selengkapnya
Rp 8.555.000


















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.