Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Parungsari » Keris Mataram Senopaten Parungsari Luk 13
click image to preview activate zoom

Keris Mataram Senopaten Parungsari Luk 13

Rp 4.200.000
KodeTAG043
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Parungsari, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 13, Pamor Beras Wutah, Tangguh Mataram Senopaten
Jenis : Keris Luk 13
Dhapur Parungsari
Pamor Wos Wutah
Tangguh Mataram Senopaten
Warangka : Branggah Yogyakarta, Bahan Kayu Eboni
Deder/Handle : Krajan, Bahan Kayu Kemuning Werut
Pendok : Bunton Slorok Topengan, Bahan Kuningan
Mendak : Untu Walang, Bahan Kuningan
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Mataram Senopaten Parungsari Luk 13

Dhapur Parungsari

Parungsari merupakan salah satu dhapur keris berluk tiga belas dengan perawakan bilah sedang dan proporsi yang seimbang. Dhapur ini memiliki ricikan berupa kembang kacang, lambe gajah dua, sogokan rangkap, pejetan, sraweyan, serta greneng yang tersusun harmonis. Secara sepintas bentuknya sering disamakan dengan dhapur Sengkelat, namun pembeda utamanya terletak pada keberadaan dua lambe gajah, yang menjadi ciri khas Parungsari sekaligus menghadirkan kesan kokoh, mantap, namun tetap anggun.

Secara etimologis, parung berarti deretan bukit atau lembah, sedangkan sari bermakna bunga, inti, atau esensi keindahan. Gabungan keduanya melahirkan makna filosofis tentang keindahan yang tumbuh secara alami—tidak dipaksakan, tidak dibuat-buat, dan tidak menuntut pengakuan.

Dhapur Parungsari mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh kemegahan yang tampak di permukaan, melainkan oleh ketulusan budi dan manfaat yang diberikannya kepada sesama. Seperti bunga yang mekar di lereng perbukitan, ia tumbuh dalam kesunyian, namun kehadirannya membawa keindahan dan kehidupan bagi lingkungan di sekitarnya.

Filosofi tersebut mengajarkan sikap rendah hati, ikhlas menerima setiap keadaan, serta tidak terikat pada pujian maupun celaan. Seseorang yang tidak merasa lebih tinggi tidak akan takut jatuh, dan mereka yang tidak merasa paling mulia tidak akan gentar ketika direndahkan. Dalam kesederhanaan itulah tumbuh kematangan batin dan kebijaksanaan hidup.

Oleh karena itu, Dhapur Parungsari menjadi perlambang pribadi yang teguh, rendah hati, serta mampu memberi manfaat tanpa harus menonjolkan diri. Sebuah pengingat bahwa keindahan sejati lahir dari keluhuran budi dan ketulusan hati.


Pamor Wos Wutah

Pamor Wos Wutah, atau dikenal pula sebagai Beras Wutah, merupakan salah satu motif pamor yang ditandai oleh butiran-butiran kecil yang tersebar merata di seluruh permukaan bilah sehingga menyerupai butir-butir beras yang tercecer.

Dalam falsafah Jawa, beras merupakan lambang kehidupan, kemakmuran, dan sumber penghidupan. Oleh karena itu, makna wutah bukan sekadar melambangkan kelimpahan rezeki, tetapi juga menjadi pengingat agar manusia mampu menjaga, merawat, dan mensyukuri setiap anugerah yang telah diterimanya.

Pamor Wos Wutah mengajarkan bahwa keberlimpahan akan membawa manfaat apabila disertai rasa syukur, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Rezeki yang dimiliki hendaknya digunakan secara bijaksana, bukan dihamburkan tanpa makna.

Dalam kehidupan berumah tangga, pamor ini juga menjadi pameling atau pengingat akan pentingnya menjaga kepercayaan. Sebagaimana beras yang telah tumpah sulit dikembalikan ke takarannya semula, demikian pula kepercayaan yang telah rusak tidak mudah dipulihkan. Oleh sebab itu, setiap ucapan, sikap, dan perbuatan hendaknya dilandasi kejujuran, kesetiaan, serta rasa saling menghormati.

Karena makna tersebut, Pamor Wos Wutah dipercaya melambangkan kelimpahan rezeki yang disertai keberkahan, keharmonisan keluarga, serta kemampuan menjaga hubungan yang dilandasi rasa saling percaya.


Tangguh Mataram Senopaten

Tangguh Mataram Senopaten merupakan salah satu periode penting dalam perkembangan seni tempa keris Nusantara. Keris-keris dari masa pemerintahan Panembahan Senopati memperlihatkan karakter yang menjadi jembatan antara tradisi besar Majapahit dengan gaya khas Mataram yang kemudian berkembang pada masa-masa berikutnya.

Dalam Serat Centhini, keris tangguh Mataram Senopaten digambarkan memiliki perawakan pasikutan yang prigel dan indah dipandang. Besinya bersemu kebiruan, bertekstur halus namun terasa kering, dengan pamor yang menancap pandhes. Wataknya dikenal ngawat, kencang, dan keras—melambangkan pusaka yang tangguh, berwibawa, serta tan ana kang nguciwani, yakni tidak mengecewakan pemiliknya.

Karakter tersebut tidak terlepas dari kesinambungan tradisi para empu Majapahit. Banyak empu yang berkarya pada masa Panembahan Senopati merupakan empu Majapahit atau keturunannya, sehingga ruh artistik dan teknik penempaan Majapahit masih sangat terasa pada keris-keris periode ini. Salah satu tokoh penting pada masa peralihan tersebut adalah Empu Supo Anom, yang juga dikenal dengan sebutan Empu Kinom.

Dalam Pakem Pusaka Duwung, Sabet, Tombak karya R.Ng. Ronggowarsito (ditulis ulang oleh R.Ng. Hartokretarto, 1964), keris tangguh Senopaten dijelaskan memiliki gandik sedang hingga agak panjang, sekar kacang berukuran besar, tikel alis, pejetan, serta sogokan yang dalam dan lebar. Bilahnya berperawakan sedang dengan ketebalan yang relatif lebih besar, sedangkan bentuk luknya tampak kokoh dan berisi. Besinya halus, sedikit kering, dengan pamor berwarna putih terang yang tampil lembut namun tegas.

Keris tangguh Senopaten juga kerap dijumpai menggunakan gonjo sebit ron tal, yaitu jenis gonjo yang dinamakan berdasarkan bentuk wuwungan-nya yang menyerupai sobekan daun tal atau siwalan. Bentuk gonjo ini lazim ditemukan pada keris-keris bertangguh tua dan memiliki ekor cicak yang relatif pendek serta tidak terlalu runcing. Karakter tersebut berbeda dengan gonjo nguceng mati, yang memiliki sirah cicak kecil dan lancip serta buntut yang lebih panjang dan tajam.

Keseluruhan ciri tersebut memperlihatkan identitas kuat keris tangguh Mataram Senopaten sebagai pusaka masa transisi yang berhasil memadukan warisan estetika Majapahit dengan lahirnya gaya Mataram. Perawakannya yang kokoh, proporsional, dan berwibawa menjadikannya salah satu tangguh yang sangat dihargai oleh para pecinta dan kolektor keris hingga kini.

TAG043

Keris Mataram Senopaten Parungsari Luk 13

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 5 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us