Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Pedang Luwuk Patimura Pamor Dwi Warna Damaskus Kun
- Jual Blawong Keris Ukir Paksi Naga Liman Kayu Jati
- Keris Naga Seluman
- Jalak Sangu Tumpeng Pamor Kulit Semangka
- Keris Corok Pajajaran Kuno
- Keris HB Hamengkubuwono VII Pamor Tambal Wengkon
- Keris Tuban Winongan
- Keris Kontemporer Panji Pengawak Wojo Kamardikan A
Keris Mataram Senopaten Parungsari Luk 13
Rp 4.200.000| Kode | TAG043 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Dhapur Parungsari, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 13, Pamor Beras Wutah, Tangguh Mataram Senopaten |
| Jenis | : Keris Luk 13 |
| Dhapur | : Parungsari |
| Pamor | : Wos Wutah |
| Tangguh | : Mataram Senopaten |
| Warangka | : Branggah Yogyakarta, Bahan Kayu Eboni |
| Deder/Handle | : Krajan, Bahan Kayu Kemuning Werut |
| Pendok | : Bunton Slorok Topengan, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Untu Walang, Bahan Kuningan |
Keris Mataram Senopaten Parungsari Luk 13
Dhapur Parungsari
Parungsari merupakan salah satu dhapur keris berluk tiga belas dengan perawakan bilah sedang dan proporsi yang seimbang. Dhapur ini memiliki ricikan berupa kembang kacang, lambe gajah dua, sogokan rangkap, pejetan, sraweyan, serta greneng yang tersusun harmonis. Secara sepintas bentuknya sering disamakan dengan dhapur Sengkelat, namun pembeda utamanya terletak pada keberadaan dua lambe gajah, yang menjadi ciri khas Parungsari sekaligus menghadirkan kesan kokoh, mantap, namun tetap anggun.
Secara etimologis, parung berarti deretan bukit atau lembah, sedangkan sari bermakna bunga, inti, atau esensi keindahan. Gabungan keduanya melahirkan makna filosofis tentang keindahan yang tumbuh secara alami—tidak dipaksakan, tidak dibuat-buat, dan tidak menuntut pengakuan.
Dhapur Parungsari mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh kemegahan yang tampak di permukaan, melainkan oleh ketulusan budi dan manfaat yang diberikannya kepada sesama. Seperti bunga yang mekar di lereng perbukitan, ia tumbuh dalam kesunyian, namun kehadirannya membawa keindahan dan kehidupan bagi lingkungan di sekitarnya.
Filosofi tersebut mengajarkan sikap rendah hati, ikhlas menerima setiap keadaan, serta tidak terikat pada pujian maupun celaan. Seseorang yang tidak merasa lebih tinggi tidak akan takut jatuh, dan mereka yang tidak merasa paling mulia tidak akan gentar ketika direndahkan. Dalam kesederhanaan itulah tumbuh kematangan batin dan kebijaksanaan hidup.
Oleh karena itu, Dhapur Parungsari menjadi perlambang pribadi yang teguh, rendah hati, serta mampu memberi manfaat tanpa harus menonjolkan diri. Sebuah pengingat bahwa keindahan sejati lahir dari keluhuran budi dan ketulusan hati.
Pamor Wos Wutah
Pamor Wos Wutah, atau dikenal pula sebagai Beras Wutah, merupakan salah satu motif pamor yang ditandai oleh butiran-butiran kecil yang tersebar merata di seluruh permukaan bilah sehingga menyerupai butir-butir beras yang tercecer.
Dalam falsafah Jawa, beras merupakan lambang kehidupan, kemakmuran, dan sumber penghidupan. Oleh karena itu, makna wutah bukan sekadar melambangkan kelimpahan rezeki, tetapi juga menjadi pengingat agar manusia mampu menjaga, merawat, dan mensyukuri setiap anugerah yang telah diterimanya.
Pamor Wos Wutah mengajarkan bahwa keberlimpahan akan membawa manfaat apabila disertai rasa syukur, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Rezeki yang dimiliki hendaknya digunakan secara bijaksana, bukan dihamburkan tanpa makna.
Dalam kehidupan berumah tangga, pamor ini juga menjadi pameling atau pengingat akan pentingnya menjaga kepercayaan. Sebagaimana beras yang telah tumpah sulit dikembalikan ke takarannya semula, demikian pula kepercayaan yang telah rusak tidak mudah dipulihkan. Oleh sebab itu, setiap ucapan, sikap, dan perbuatan hendaknya dilandasi kejujuran, kesetiaan, serta rasa saling menghormati.
Karena makna tersebut, Pamor Wos Wutah dipercaya melambangkan kelimpahan rezeki yang disertai keberkahan, keharmonisan keluarga, serta kemampuan menjaga hubungan yang dilandasi rasa saling percaya.
Tangguh Mataram Senopaten
Tangguh Mataram Senopaten merupakan salah satu periode penting dalam perkembangan seni tempa keris Nusantara. Keris-keris dari masa pemerintahan Panembahan Senopati memperlihatkan karakter yang menjadi jembatan antara tradisi besar Majapahit dengan gaya khas Mataram yang kemudian berkembang pada masa-masa berikutnya.
Dalam Serat Centhini, keris tangguh Mataram Senopaten digambarkan memiliki perawakan pasikutan yang prigel dan indah dipandang. Besinya bersemu kebiruan, bertekstur halus namun terasa kering, dengan pamor yang menancap pandhes. Wataknya dikenal ngawat, kencang, dan keras—melambangkan pusaka yang tangguh, berwibawa, serta tan ana kang nguciwani, yakni tidak mengecewakan pemiliknya.
Karakter tersebut tidak terlepas dari kesinambungan tradisi para empu Majapahit. Banyak empu yang berkarya pada masa Panembahan Senopati merupakan empu Majapahit atau keturunannya, sehingga ruh artistik dan teknik penempaan Majapahit masih sangat terasa pada keris-keris periode ini. Salah satu tokoh penting pada masa peralihan tersebut adalah Empu Supo Anom, yang juga dikenal dengan sebutan Empu Kinom.
Dalam Pakem Pusaka Duwung, Sabet, Tombak karya R.Ng. Ronggowarsito (ditulis ulang oleh R.Ng. Hartokretarto, 1964), keris tangguh Senopaten dijelaskan memiliki gandik sedang hingga agak panjang, sekar kacang berukuran besar, tikel alis, pejetan, serta sogokan yang dalam dan lebar. Bilahnya berperawakan sedang dengan ketebalan yang relatif lebih besar, sedangkan bentuk luknya tampak kokoh dan berisi. Besinya halus, sedikit kering, dengan pamor berwarna putih terang yang tampil lembut namun tegas.
Keris tangguh Senopaten juga kerap dijumpai menggunakan gonjo sebit ron tal, yaitu jenis gonjo yang dinamakan berdasarkan bentuk wuwungan-nya yang menyerupai sobekan daun tal atau siwalan. Bentuk gonjo ini lazim ditemukan pada keris-keris bertangguh tua dan memiliki ekor cicak yang relatif pendek serta tidak terlalu runcing. Karakter tersebut berbeda dengan gonjo nguceng mati, yang memiliki sirah cicak kecil dan lancip serta buntut yang lebih panjang dan tajam.
Keseluruhan ciri tersebut memperlihatkan identitas kuat keris tangguh Mataram Senopaten sebagai pusaka masa transisi yang berhasil memadukan warisan estetika Majapahit dengan lahirnya gaya Mataram. Perawakannya yang kokoh, proporsional, dan berwibawa menjadikannya salah satu tangguh yang sangat dihargai oleh para pecinta dan kolektor keris hingga kini.
TAG043
Keris Mataram Senopaten Parungsari Luk 13
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 194 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Carita Prasaja Luk 11 HB V Empu Riyokusuman Garap Dalem Keraton Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Carito Prasaja Luk 11 Pamor (motif lipatan besi) : Beras Wutah Lembut Nyutro (Khas Tangguh HB) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : HB V (Garap Dalem Keraton, Empu Riyokusuman – Yasan Sri Manganti) Panjang Bilah : 35,7 cm… selengkapnya
Rp 9.555.000Keris Sengkelat Pamor Keleng Keris ini bernama Keris Sengkelat Pamor Keleng yang asli sepuh, berikut penjabaran spesifikasinya : Dhapur Keris : Sengkelat Pamor Keris : Keleng Tangguh Keris : Mataram Senopaten Panjang Bilah : 35,7 cm Kode Produk : KAR594 Filosofi Keris Dengan Dhapur Sengkelat Keris yang satu ini berdhapur Sengkelat dengan jumlah luk 13…. selengkapnya
Rp 2.999.000Keris Carubuk Pamor Pedaringan Kebak Keris Carubuk Pamor Pedaringan Kebak adalah koleksi pusaka kami yang berusia ratusan tahun. Keris pusaka yang satu ini memiliki luk 7 dengan dhapur Carubuk. Carubuk sendiri memiliki arti sebagai “bagaikan bumi”. Keris pusaka Carubuk memiliki filosofi agar manusia bisa menerima segala situasi, baik yang dia suka maupun tidak suka, dengan… selengkapnya
Rp 1.700.000Keris Parungsari Pamor Pedaringan Kebak Keris Parungsari Pamor Pedaringan Kebak Tangguh Mataram Sultan Agung adalah pusaka yang menyimpan kekayaan filosofi dan keindahan seni tempa logam dari masa kejayaan Mataram. Dengan bilah berluk tiga belas yang ramping dan dihiasi pamor Pedaringan Kebak yang melambangkan kemakmuran, keris ini menghadirkan pesan tentang keikhlasan, keteguhan hati, dan kelimpahan rezeki…. selengkapnya
Rp 2.555.000Keris Sengkelat Luk 13 Keleng Tangguh Mataram Sepuh Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sangkelat / Sengkelat Pamor (motif lipatan besi) : Keleng Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Abad Ke 17 Masehi Panjang Bilah : 36 cm Warangka : Gayaman Jogja Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang : Kayu Gembol Jati Pendok :… selengkapnya
Rp 3.111.000Keris Jalak Sangu Tumpeng Tangguh Mataram Senopaten Sepuh Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jalak Sangu Tumpeng Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Senopaten Panjang Bilah : 33,5 cm Warangka : Ladrang Surakarta Gandar Iras Kayu Trembalo Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno Pendok… selengkapnya
Rp 1.850.000Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Udan Mas Tiban Meteorit Majapahit Kuno Combong Antik Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jalak Sangu Tumpeng Pamor (motif lipatan besi) : Wos Wutah + Udan Mas Tiban (Pamor Akhodiyat Meteorit) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Majapahit (Abad XIII) Panjang Bilah : 33 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Timoho… selengkapnya
Rp 1.777.000Keris Carito Keprabon Luk 11 Tangguh Pajang TUS Sepuh Era Jaka Tingkir Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Carito Keprabon Luk 11 Pamor (motif lipatan besi) : Beras Wutah Ceprit-Ceprit Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajang (Abad ke 15 Masehi) Panjang Bilah : 36,5 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Bonggol Cendana Handle / Gagang… selengkapnya
Rp 5.555.000




















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.