Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Bima Rangsang » Keris Bima Rangsang Luk 17 Kalawijan
click image to preview activate zoom

Keris Bima Rangsang Luk 17 Kalawijan

Rp 5.000.000
KodeTAG057
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Bima Rangsang, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 17, Pamor Pedaringan Kebak, Tangguh Palembang
Jenis : Keris Luk 17 (Kalawijan)
Dhapur Bima Rangsang
Pamor Pedaringan Kebak
Tangguh Palembang
Warangka : Gayaman Surakarta, Kayu Trembalo Iras
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Kemuning Bang
Pendok : Bleweh, Bahan Kuningan
Mendak : Kendhit, Bahan Kuningan
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Bima Rangsang Luk 17 Kalawijan

Dhapur Bima Rangsang Luk 17

Dhapur Bima Rangsang merupakan salah satu dhapur keris luk 17. Dalam sejumlah sumber atau tradisi penyebutan, dhapur ini juga disebut memiliki varian luk 25. Karena jumlah luknya melebihi 13, maka secara klasifikasi bentuk ia termasuk dalam kelompok keris Kalawijan, yaitu keris dengan jumlah luk yang berada di luar pola jumlah luk yang lazim ditemukan pada keris-keris pada umumnya.

Dari sisi ricikan, Bima Rangsang memiliki susunan yang cukup kompleks. Ricikan yang umum disebut antara lain kembang kacang, jalen, dua lambe gajah, pejetan, tikel alis, serta sogokan rangkap. Pada beberapa varian dapat dijumpai pudhak sategal, sementara pada varian lainnya ricikan tersebut tidak ada. Perbedaan semacam ini penting diperhatikan karena dalam tradisi dhapur keris, satu nama dhapur dapat memiliki variasi ricikan menurut sumber, gaya garap, maupun tradisi perkerisan yang berkembang di suatu daerah.

Nama Bima Rangsang menarik untuk dibaca dari sisi simboliknya. Bima atau Werkudara merupakan salah satu tokoh utama dalam pewayangan yang dikenal memiliki karakter kuat, teguh, berani, dan tidak mudah mundur dari tanggung jawab. Sementara kata rangsang dapat dikaitkan dengan pengertian dorongan, gerak untuk maju, atau semangat untuk melakukan suatu tindakan.

Dari perpaduan kedua unsur tersebut, nama Bima Rangsang dapat ditafsirkan sebagai gambaran tentang kekuatan yang bergerak maju—bukan sekadar kuat secara fisik, tetapi memiliki keberanian untuk menghadapi tantangan dan keteguhan untuk terus berjalan menuju tujuan.

Karena itu, secara filosofis dhapur ini dapat ditempatkan sebagai simbol semangat, keberanian, keteguhan hati, dan daya juang. Namun seperti halnya pemaknaan nama-nama dhapur lainnya, tafsir tersebut sebaiknya dipahami sebagai interpretasi simbolik dalam tradisi budaya, bukan sebagai makna tunggal yang bersifat mutlak.

Pamor Pedaringan Kebak

Pamor Pedaringan Kebak merupakan salah satu motif pamor dengan tampilan yang relatif penuh dan rapat, sehingga permukaan bilah terlihat kaya dengan sebaran unsur pamor. Jika dibandingkan dengan Wos Wutah, corak Pedaringan Kebak umumnya memberikan kesan yang lebih padat dan menyeluruh pada bilah.

Nama Pedaringan Kebak berasal dari dua kata. Pedaringan dalam tradisi rumah tangga Jawa merujuk pada tempat atau ruang untuk menyimpan beras dan bahan pangan, sedangkan kebak berarti penuh. Dari pengertian tersebut lahir simbol tentang tempat penyimpanan yang selalu terisi, sehingga berkaitan dengan gagasan kecukupan dan keberlangsungan kehidupan.

Teknik Tempa Pamor: Mlumah
Kemunculan motif pamor: Rekan

Dalam pemaknaan tradisional, Pedaringan Kebak sering dikaitkan dengan kecukupan rezeki, kemakmuran, ketenteraman rumah tangga, dan keberlangsungan penghidupan. Simbolismenya sebenarnya cukup sederhana tetapi dalam: bukan semata-mata tentang menjadi kaya, melainkan tentang tidak kekurangan dan mampu mencukupi kebutuhan hidup.

Jika ditarik ke dalam konteks kehidupan sekarang, filosofi Pedaringan Kebak justru dapat dibaca lebih luas. Pedaringan yang penuh tidak hanya berbicara tentang banyaknya harta, tetapi juga tentang kecukupan yang dikelola dengan baik. Sebab memiliki banyak belum tentu berarti berkecukupan apabila manusia tidak mampu mengelolanya.

Tangguh Palembang

Keris ini menunjukkan karakter yang mengarah pada tangguh Palembang, sebuah identitas yang menarik karena perkembangan budaya keris di Sumatera memiliki sejarah dan karakter yang tidak sepenuhnya sama dengan tradisi perkerisan di Jawa.

Kesultanan Palembang Darussalam merupakan salah satu kesultanan Melayu-Islam yang berkembang di wilayah Sumatera bagian selatan dengan pusat pemerintahan di Palembang. Kesultanan ini didirikan oleh Sri Susuhunan Abdurrahman pada 1659 dan kemudian mengalami penghapusan kekuasaan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1823.

Palembang sendiri sejak dahulu merupakan wilayah perdagangan dan pertemuan berbagai kelompok masyarakat. Posisi geografisnya yang strategis di jalur perdagangan Sumatera menjadikan kawasan ini sebagai ruang perjumpaan berbagai kebudayaan, termasuk Melayu, Jawa, Tionghoa, Arab, dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya. Kondisi tersebut turut membentuk karakter budaya Palembang yang bersifat terbuka dan beragam.

Dalam konteks tosan aji, keris yang berkembang di Sumatera sering ditempatkan dalam pembahasan keris rumpun Sumatera. Istilah tersebut tidak berarti bahwa seluruh keris Sumatera memiliki satu bentuk yang sama. Justru terdapat keragaman bentuk akibat adanya interaksi budaya yang panjang antara tradisi lokal Sumatera dengan pengaruh Jawa, Bugis, Melayu, serta berbagai lingkungan budaya lainnya.

Karena itu, identifikasi asal sebuah keris Sumatera terkadang tidak sesederhana mengelompokkannya berdasarkan satu ciri visual. Bentuk bilah, ricikan, teknik garap, bahan, dan gaya keseluruhan perlu diperhatikan secara bersama-sama. Tradisi penangguhan di Sumatera juga tidak berkembang dengan sistem dan tingkat standardisasi yang sama seperti tradisi tangguh dalam perkerisan Jawa. Oleh sebab itu, penyebutan “tangguh Palembang” sebaiknya dipahami sebagai identifikasi gaya dan karakter tradisional, bukan selalu sebagai kepastian mengenai tempat dan tahun pembuatan bilah.

Secara umum, karakter yang sering digunakan dalam membaca keris bergaya Palembang antara lain terlihat pada besi yang matang tempaan, liat, dan memperlihatkan urat besi. Gandiknya cenderung pendek, agak pipih, tetapi tetap tegas dan proporsional. Karakternya memiliki kemiripan tertentu dengan keris Jawa nom-noman.

Pada bagian ricikan, jalen dan lambe gajah umumnya tampak runcing namun relatif pendek. Apabila memiliki sogokan, bentuknya dapat terlihat cukup dalam, tegas, tetapi relatif sempit. Greneng atau rigi cenderung tegas, pendek, agak jarang, dan tidak terlalu dalam. Sementara pejetan atau picitan terlihat relatif lebar dan tegas.

Pada bagian atas bilah, sekar kacang atau kembang kacang cenderung pendek dengan lengkungan yang cukup luwes. Ganja umumnya berukuran sedang hingga agak pendek, dengan bagian ekor yang sedikit menurun. Pinggang bilah juga cenderung menunjukkan penyempitan yang cukup jelas.

Apabila seluruh unsur tersebut diamati secara bersamaan, keris ini memperlihatkan karakter yang menarik: dhapur Kalawijan dengan jumlah luk yang sangat banyak, dipadukan dengan pamor Pedaringan Kebak yang penuh, serta rancang bangun yang mengarah pada gaya Palembang. Perpaduan tersebut menjadikannya bukan sekadar benda dengan bentuk yang unik, tetapi juga representasi dari luasnya perjalanan budaya keris di Nusantara—di mana satu tradisi dapat berkembang, berinteraksi, dan melahirkan karakter baru tanpa kehilangan akar budayanya.

Keris Bima Rangsang Luk 17 Kalawijan

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 4 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us