Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Pudhak Panimbal » Keris Pudhak Panimbal Luk 9 Pamor Wengkon Isen
click image to preview activate zoom

Keris Pudhak Panimbal Luk 9 Pamor Wengkon Isen

Rp 35.000.000
KodeDN030
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Pudhak Panimbal, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 9, Pamor Wengkon Isen, Tangguh Mataram Sultan Agung
Jenis : Keris Luk 9
Dhapur Pudhak Panimbal
Pamor Wengkon Isen
Tangguh Mataram Sultan Agung
Warangka : Branggah Yogyakarta, Bahan Kayu Timoho Pelet Mbelang Sapi
Deder/Handle : Krajan, Bahan Kayu Kemuning Bang
Pendok : Bunton, Bahan Perak
Mendak : Parijata, Bahan Perak
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Pudhak Panimbal Luk 9 Pamor Wengkon Isen

Dhapur Pudhak Panimbal Luk 9

Dhapur Pudhak Panimbal merupakan salah satu dhapur keris luk 9 yang tergolong langka. Dhapur ini merupakan pengembangan dari Panimbal, dengan ciri khas hadirnya ricikan pudhak sategal pada bagian sor-soran. Perpaduan tersebut menjadikan Pudhak Panimbal sebagai dhapur yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat akan makna filosofis.

Secara etimologi, nama Pudhak Panimbal tersusun dari dua simbol penting dalam tradisi Jawa.

Pudhak adalah bunga pandan yang dikenal karena keharumannya. Dalam budaya Jawa, pudhak melambangkan keharuman nama, keluhuran budi, serta manfaat bagi sesama. Tanaman pandan sendiri tumbuh sederhana, namun hampir seluruh bagiannya berguna bagi kehidupan. Oleh karena itu, ricikan pudhak pada keris menjadi perlambang agar manusia senantiasa menjadi pribadi yang membawa ketenteraman, memberikan manfaat, dan meninggalkan nama baik sepanjang hayat.

Sementara itu, Panimbal adalah nama palu kecil yang digunakan empu saat menempa keris. Lebih dari sekadar alat pemukul, panimbal berfungsi sebagai alat pemberi aba-aba kepada para panjak. Melalui ketukan panimbal, sang empu mengarahkan irama, kekuatan pukulan, hingga proses pembentukan bilah. Dari sinilah panimbal dimaknai sebagai simbol kepemimpinan, ketegasan, kebijaksanaan dalam memberi arah, serta kemampuan memengaruhi tanpa harus banyak berkata-kata.

Perpaduan kedua makna tersebut menjadikan Pudhak Panimbal sebagai perlambang seorang pemimpin yang tidak hanya mampu memberi arahan, tetapi juga menghadirkan kesejukan, keteladanan, dan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Wibawanya lahir bukan karena kekuasaan, melainkan karena karakter, kebijaksanaan, dan ketulusan dalam mengabdi.

Pamor Wengkon Isen

Keris ini dihiasi Pamor Wengkon Isen, salah satu pamor yang memiliki karakter sangat khas. Polanya ditandai oleh hadirnya wengkon, yaitu garis pamor yang membingkai tepi bilah, sementara bagian tengah bilah diisi (isen) oleh motif pamor lainnya. Perpaduan tersebut menghasilkan komposisi yang indah sekaligus memiliki makna simbolik yang mendalam.

Secara etimologi, wengkon berarti bingkai, batas, pagar, atau pelindung, sedangkan isen berarti isi atau sesuatu yang memenuhi bagian dalam. Dari makna tersebut lahirlah filosofi bahwa kehidupan yang baik bukan hanya memiliki isi yang bernilai, tetapi juga memiliki batas yang menjaganya.

Dalam falsafah Jawa, wengkon melambangkan pagar yang menjaga segala sesuatu yang berharga, sedangkan isen melambangkan ilmu, pengalaman, rezeki, keluarga, hingga kebijaksanaan yang dimiliki seseorang. Filosofi ini mengajarkan bahwa setiap anugerah hendaknya dijaga dengan akhlak, pengendalian diri, dan kebijaksanaan agar tetap membawa keberkahan.

Pamor ini juga menggambarkan keseimbangan antara lahir dan batin. Bingkai pada bagian luar melambangkan tata krama, karakter, dan sikap seseorang di hadapan masyarakat, sedangkan isi di bagian dalam melambangkan kualitas batin, ilmu pengetahuan, dan kedewasaan berpikir. Keindahan sejati bukan hanya tampak dari luar, tetapi juga berasal dari isi diri yang luhur.

Di sisi lain, Wengkon Isen juga menjadi perlambang keteguhan dalam memegang prinsip. Sebagaimana pagar memiliki batas yang jelas, manusia pun hendaknya memahami batas moral dalam setiap tindakan: mengetahui kapan harus berbicara, kapan harus diam, kapan melangkah, dan kapan menahan diri.

Dalam tradisi perkerisan Jawa, pamor Wengkon Isen juga sering dikaitkan dengan harapan agar rezeki, keluarga, kedudukan, dan segala anugerah kehidupan senantiasa berada dalam lindungan sehingga tetap utuh, terjaga, dan membawa manfaat. Pemaknaan tersebut merupakan bagian dari tradisi simbolik masyarakat Jawa yang diwariskan secara turun-temurun.

Tangguh Mataram Sultan Agung

Keris ini diperkirakan berasal dari Tangguh Mataram Sultan Agung, salah satu masa keemasan dalam sejarah perkembangan tosan aji Nusantara. Pada era pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613–1645), seni perkerisan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Para empu diberi keleluasaan untuk berkarya, sementara masyarakat umum mulai memperoleh kesempatan lebih luas untuk memiliki keris. Situasi tersebut melahirkan ragam pasikutan dan dhapur yang sangat kaya, menjadikan masa ini sering disebut sebagai surga para empu.

Selain menciptakan karya-karya baru, para empu juga melestarikan bentuk-bentuk keris dari tangguh sebelumnya dengan memadukan ciri khas Mataram Sultan Agung. Dari sinilah lahir berbagai keris yang tetap menghormati tradisi lama, namun memiliki karakter garap dan kualitas material yang semakin matang.

Perkembangan tersebut tidak terlepas dari kebijakan Sultan Agung ketika mempersiapkan ekspedisi besar melawan VOC di Batavia. Untuk memenuhi kebutuhan persenjataan, beliau menghimpun sekitar 800 empu dan pande besi dari berbagai wilayah di Pulau Jawa dalam sebuah peristiwa yang dikenal sebagai Pakelun. Para empu dibagi ke dalam beberapa kelompok di bawah pimpinan empu senior, sehingga terjadi pertukaran pengetahuan, teknik tempa, dan pengalaman yang memperkaya tradisi perkerisan Nusantara.

Secara pasikutan, keris Tangguh Mataram Sultan Agung memiliki karakter yang demes, serasi, anggun, dan memancarkan kewibawaan tanpa kesan berlebihan. Besinya tampak alami dengan serat yang masih jelas, sementara pamornya umumnya mubyar, memperlihatkan kualitas bahan yang sangat baik. Sekilas tampilannya memang menyerupai keris Mataram Senopaten, namun dapat dibedakan melalui karakter besi yang lebih matang, cenderung berwarna pucat alami, serta pancaran pamor yang lebih hidup dan elegan.

Tidak mengherankan apabila keris-keris dari masa Sultan Agung hingga kini menjadi salah satu tangguh yang paling banyak dicari para kolektor. Selain memiliki nilai estetika yang tinggi, setiap bilahnya juga menjadi saksi kejayaan seni tempa, perkembangan budaya, serta sejarah besar Kesultanan Mataram yang terpatri dalam sebilah pusaka.

DN030

Keris Pudhak Panimbal Luk 9 Pamor Wengkon Isen

Berat 300 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 16 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us