Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Keris Dhapur Santan Tangguh Majapahit Pamor Ceprit
- Pusaka Kujang Ciung Siliwangi Mata 4 Pajajaran Sep
- Keris Sabuk Inten Sepuh Pamor Meteor Akhodiyat
- Keris Nogo Topo Damar Murup Kinatah Emas Pamor Kel
- Keris Tangguh Kahuripan Abad 12
- Pendok Aksesoris Keris Penutup Gandar Warangka
- Keris Tilam Sari Pamor Wahyu Tumurun Mataram Sulta
- Keris Pamor Puser Bumi Mataram Sepuh
Keris Dholog Pamor Wahyu Tumurun Kebak
| Kode | FR064 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Dholog, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 5, Pamor Pedaringan Kebak, Pamor Wahyu Tumurun, Tangguh Mataram, Tangguh Mataram Sultan Agung |
| Jenis | : Keris Luk 5 |
| Dhapur | : Dholog |
| Pamor | : Pedaringan Kebak Wahyu Tumurun |
| Tangguh | : Mataram Sultan Agung |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Kayu Trembalo |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Kemuning Bang |
| Pendok | : Bleweh, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Kendhit, Bahan Kuningan |
Keris Dholog Pamor Wahyu Tumurun Kebak
Dhapur Dholog
Dholog merupakan salah satu dhapur keris luk 5 dengan ricikan yang cukup lengkap. Ciri-cirinya antara lain gandhik lugas, pejetan, tikel alis, sogokan rangkap, dan sraweyan. Pada beberapa bilah dapat dijumpai greneng, sementara pada bilah lainnya tidak.
Nama Dholog menarik untuk dibaca dari sisi filosofis. Dalam pemahaman budaya Jawa, kata dholog dapat dikaitkan dengan sesuatu yang kokoh, mantap, dan tidak mudah bergeser dari tempatnya. Pemaknaan ini dapat dijadikan simbol tentang sikap batin seseorang dalam menghadapi kehidupan.
Lima luk pada dhapur ini juga dapat dibaca sebagai pengingat untuk menjaga keseimbangan antara pikiran, ucapan, tindakan, hubungan dengan sesama, dan tanggung jawab kepada kehidupan. Tentu, pembacaan semacam ini merupakan tafsir simbolik yang berkembang dalam kebudayaan, bukan makna tunggal yang bersifat mutlak.
Dengan demikian, Dholog dapat ditempatkan sebagai simbol keteguhan dalam menjalani kehidupan. Bukan berarti manusia harus keras dan tidak mau berubah, melainkan memiliki prinsip yang cukup kuat untuk tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi perubahan keadaan.
Justru orang yang kokoh bukanlah orang yang tidak pernah berubah, tetapi orang yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan pijakan.
Pamor Wahyu Tumurun Kebak
Keris ini memiliki susunan pamor yang cukup menarik. Jika dilihat sekilas dari kejauhan, keseluruhan motifnya memberikan kesan seperti Pamor Pedaringan Kebak, karena permukaan bilah tampak dipenuhi oleh pamor.
Namun ketika diamati lebih dekat, terlihat adanya motif bulatan-bulatan yang tersebar dari bagian pangkal hingga ujung bilah. Karena terdapat perpaduan karakter antara pola yang memenuhi bilah dan motif bulatan yang mengingatkan pada Wahyu Tumurun, kami menyebut karakter pamor pada bilah ini sebagai Wahyu Tumurun Kebak.
Penyebutan tersebut merupakan cara deskriptif untuk menjelaskan karakter visual khusus pada bilah ini, karena dalam tradisi pamor, tidak semua perpaduan motif memiliki satu nama pakem yang berlaku secara seragam.
Secara simbolik, Wahyu Tumurun sering dimaknai sebagai turunnya anugerah, petunjuk, atau karunia dari Yang Maha Kuasa. Sementara kesan kebak, atau penuh, memberikan gambaran tentang sesuatu yang tercukupi dan tidak kekurangan.
Karena itu, pamor ini dapat dibaca sebagai representasi harapan akan datangnya anugerah, kecukupan rezeki, serta keberkahan yang memenuhi kehidupan.
Namun seperti halnya pemaknaan pamor lainnya, nilai tersebut lebih tepat dipahami sebagai doa dan simbol budaya, bukan sebagai jaminan bahwa sebuah motif pamor akan mendatangkan rezeki secara otomatis.
Tangguh Mataram Sultan Agung
Keris ini memiliki karakter yang dikaitkan dengan Tangguh Mataram Sultan Agung, yaitu keris yang berkembang pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, salah satu raja terbesar Kesultanan Mataram pada abad ke-17.
Masa pemerintahan Sultan Agung merupakan periode penting dalam perkembangan kebudayaan Mataram. Pada masa ini terjadi berbagai perkembangan dalam bidang seni, budaya, tata pemerintahan, dan penanggalan. Dunia perkerisan pun berkembang dengan beragam bentuk dan karakter garap.
Salah satu hal menarik dalam tradisi perkerisan Mataram adalah adanya proses pelestarian sekaligus pengembangan bentuk-bentuk keris dari masa sebelumnya. Para empu tidak hanya membuat bentuk baru, tetapi juga meneruskan dhapur dan karakter keris yang telah dikenal sejak masa Pajang maupun Mataram awal, kemudian mengolahnya dengan gaya garap yang berkembang pada zamannya.
Karena itu, keris tangguh Mataram Sultan Agung memiliki variasi pasikutan yang cukup luas. Secara umum, karakter bilahnya sering memberikan kesan demes, yaitu serasi, proporsional, dan enak dipandang. Besinya cenderung terlihat mentah atau natural, dengan serat besi yang masih terasa, sementara pamornya dapat tampil cukup jelas hingga mubyar.
Dalam tradisi lisan perkerisan juga dikenal kisah Pakelun, yaitu pengerahan para empu dan pande besi untuk mendukung kebutuhan persenjataan Mataram ketika Sultan Agung mempersiapkan ekspedisi militernya ke Batavia untuk menghadapi VOC. Kisah tersebut menggambarkan bagaimana keterampilan para empu dan pande besi memiliki posisi penting dalam kehidupan kerajaan.
Dalam beberapa sumber tradisi perkerisan disebutkan bahwa ratusan empu dari berbagai wilayah dikumpulkan di Mataram dan dikoordinasikan oleh para empu senior. Nama-nama seperti Ki Tepas, Ki Salatea, Ki Mayi, Ki Legi, Empu Gedhe, Empu Luwing, Ki Guling, Ki Ancer, hingga Ki Tundhung disebut dalam tradisi tersebut. Ki Tundhung bahkan dikenal sebagai Empu Jejeneng, dengan gelar Pangeran Sendhang dari Sultan Agung.
Kisah ini perlu dipahami sebagai bagian dari tradisi sejarah dan literatur perkerisan, karena rincian mengenai jumlah empu, struktur kepemimpinan, dan peristiwa Pakelun tidak semuanya dapat diverifikasi melalui sumber sejarah primer.
Secara visual, keris yang dikaitkan dengan tangguh Mataram Sultan Agung umumnya memiliki pasikutan yang harmonis, besi yang cenderung natural dan berserat, serta pamor yang dapat tampil cukup jelas. Jika dibandingkan dengan keris Mataram Senopaten, karakter keduanya memang memiliki kesinambungan, tetapi keris Mataram Sultan Agung sering memperlihatkan perkembangan garap yang lebih matang sesuai dengan zamannya.
Masa Sultan Agung pada akhirnya menjadi salah satu periode penting dalam perjalanan seni tempa Mataram. Keris tidak hanya menjadi bagian dari perlengkapan kehidupan bangsawan dan prajurit, tetapi juga berkembang sebagai karya budaya yang mempertemukan teknologi, estetika, tradisi, dan simbol kehidupan.
Karena itu, nilai keris tangguh Mataram Sultan Agung tidak semata-mata terletak pada usianya. Ia juga menarik sebagai jejak keterampilan para empu dan gambaran perkembangan kebudayaan Mataram pada salah satu periode penting dalam sejarah Jawa.
FR064
Keris Dholog Pamor Wahyu Tumurun Kebak
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 282 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Tuban Kuno Pamor Pedaringan Kebak Keris Tuban Kuno Pamor Pedaringan Kebak adalah salah satu keris dari ratusan koleksi pusaka keris. Keris ini tergolong ke dalam jenis keris lurus. Dilihat dari bentuk dan ricikannya keris ini berdhapur Tilam Upih. Sedangkan untuk pamor yang tergurat pada bilahnya adalah pamor Pedaringan Kebak (di bagian sor-soran ada pamor Rojo Gundolo)…. selengkapnya
Rp 1.850.000Badik Rencong Aceh Kuno Dhapur / Bentuk : Rencong (senjata tradisional Aceh) Pamor : Keleng Hurap Tangguh : Kuno panjang bilah : 22,6 cm panjang total ketika disarungkan : 32 cm warangka : kayu kuno handle : tanduk kuno Kode : PK190
Rp 900.000Keris Carita Keprabon Sultan Agung Keris Carita Keprabon Sultan Agung merupakan salah satu koleksi galeri Pusaka Keris Indonesia yang sangat tua dan sepuh. Keris ini berpamor Wos Wutah atau juga biasa disebut Beras Wutah. Bahan pamor meteorit membuat pamor keris ini nampak indah dan kontras dengan baja bilahnya. Ricikan keris berdhapur Carita Keprabon ini masih… selengkapnya
Rp 2.850.000Keris Corok Kalawijan Bima Rangsang Luk 23 Pamor Banyu Mili Sepuh Kuno
Rp 23.000.000Carita Keprabon Luk 11 Majapahit Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Carito Keprabon Luk 11 Pamor (motif lipatan besi) : Beras Wutah Ceprit (besi Padat Berserat Khas Majapahit) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Majapahit Abad Ke 13 Masehi Panjang Bilah : 33 cm Warangka : Ladrang Surakarta Gandar Iras Kayu Trembalo Kuno Handle / Gagang… selengkapnya
Rp 3.111.000Jalak Sangu Tumpeng Amangkurat Jalak Sangu Tumpeng Sepuh adalah pusaka yang merekam ajaran hidup Jawa dalam bentuk bilah. Ia tidak sekadar menghadirkan dhapur keraton yang luhur, tetapi menyimpan filosofi tentang sangu—bekal lahir dan batin—yang harus dibawa manusia dalam menempuh perjalanan hidup. Dipadu dengan pamor Kulit Semangka yang melambangkan rezeki berlapis dan tangguh Mataram Amangkurat yang… selengkapnya
Rp 2.850.000Keris Pamor Keris ini adalah salah satu benda bernilai seni tinggi yang penuh sarat makna dan hakikat. Dalam memandang sebilah keris orang bisa memandangnya dari nilai eksoteris dan esoterisnya. Eksoteris adalah nilai-nilai yang nampak dari wujud bentuk ragawinya. Sedangkan esoteris adalah nilai-nilai pada sebilah keris yang dilihat daripada sudut arti, makna, falsafah hingga tuahnya. Jika… selengkapnya
Hubungi AdminDhapur Kebo Lajer Dhapur Kebo Lajer merupakan salah satu dhapur keris lurus yang dikenal dengan bentuknya yang tegas dan sederhana. Ciri utamanya terletak pada gandhik yang memanjang dan lugas, sehingga menghadirkan kesan kokoh serta berwibawa tanpa banyak ornamen yang berlebihan. Nama Kebo Lajer mengandung makna simbolik yang erat kaitannya dengan karakter seekor kerbau. Dalam tradisi… selengkapnya
Rp 3.500.000




















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.