Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Dholog » Keris Dholog Pamor Wahyu Tumurun Kebak
click image to preview activate zoom

Keris Dholog Pamor Wahyu Tumurun Kebak

Rp 3.500.000
KodeFR064
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Dholog, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 5, Pamor Pedaringan Kebak, Pamor Wahyu Tumurun, Tangguh Mataram, Tangguh Mataram Sultan Agung
Jenis : Keris Luk 5
Dhapur Dholog
Pamor Pedaringan Kebak Wahyu Tumurun
Tangguh Mataram Sultan Agung
Warangka : Ladrang Surakarta, Kayu Trembalo
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Kemuning Bang
Pendok : Bleweh, Bahan Kuningan
Mendak : Kendhit, Bahan Kuningan
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Dholog Pamor Wahyu Tumurun Kebak

Dhapur Dholog

Dholog merupakan salah satu dhapur keris luk 5 dengan ricikan yang cukup lengkap. Ciri-cirinya antara lain gandhik lugas, pejetan, tikel alis, sogokan rangkap, dan sraweyan. Pada beberapa bilah dapat dijumpai greneng, sementara pada bilah lainnya tidak.

Nama Dholog menarik untuk dibaca dari sisi filosofis. Dalam pemahaman budaya Jawa, kata dholog dapat dikaitkan dengan sesuatu yang kokoh, mantap, dan tidak mudah bergeser dari tempatnya. Pemaknaan ini dapat dijadikan simbol tentang sikap batin seseorang dalam menghadapi kehidupan.

Lima luk pada dhapur ini juga dapat dibaca sebagai pengingat untuk menjaga keseimbangan antara pikiran, ucapan, tindakan, hubungan dengan sesama, dan tanggung jawab kepada kehidupan. Tentu, pembacaan semacam ini merupakan tafsir simbolik yang berkembang dalam kebudayaan, bukan makna tunggal yang bersifat mutlak.

Dengan demikian, Dholog dapat ditempatkan sebagai simbol keteguhan dalam menjalani kehidupan. Bukan berarti manusia harus keras dan tidak mau berubah, melainkan memiliki prinsip yang cukup kuat untuk tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi perubahan keadaan.

Justru orang yang kokoh bukanlah orang yang tidak pernah berubah, tetapi orang yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan pijakan.

 

Pamor Wahyu Tumurun Kebak

Keris ini memiliki susunan pamor yang cukup menarik. Jika dilihat sekilas dari kejauhan, keseluruhan motifnya memberikan kesan seperti Pamor Pedaringan Kebak, karena permukaan bilah tampak dipenuhi oleh pamor.

Namun ketika diamati lebih dekat, terlihat adanya motif bulatan-bulatan yang tersebar dari bagian pangkal hingga ujung bilah. Karena terdapat perpaduan karakter antara pola yang memenuhi bilah dan motif bulatan yang mengingatkan pada Wahyu Tumurun, kami menyebut karakter pamor pada bilah ini sebagai Wahyu Tumurun Kebak.

Penyebutan tersebut merupakan cara deskriptif untuk menjelaskan karakter visual khusus pada bilah ini, karena dalam tradisi pamor, tidak semua perpaduan motif memiliki satu nama pakem yang berlaku secara seragam.

Secara simbolik, Wahyu Tumurun sering dimaknai sebagai turunnya anugerah, petunjuk, atau karunia dari Yang Maha Kuasa. Sementara kesan kebak, atau penuh, memberikan gambaran tentang sesuatu yang tercukupi dan tidak kekurangan.

Karena itu, pamor ini dapat dibaca sebagai representasi harapan akan datangnya anugerah, kecukupan rezeki, serta keberkahan yang memenuhi kehidupan.

Namun seperti halnya pemaknaan pamor lainnya, nilai tersebut lebih tepat dipahami sebagai doa dan simbol budaya, bukan sebagai jaminan bahwa sebuah motif pamor akan mendatangkan rezeki secara otomatis.

 

Tangguh Mataram Sultan Agung

Keris ini memiliki karakter yang dikaitkan dengan Tangguh Mataram Sultan Agung, yaitu keris yang berkembang pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, salah satu raja terbesar Kesultanan Mataram pada abad ke-17.

Masa pemerintahan Sultan Agung merupakan periode penting dalam perkembangan kebudayaan Mataram. Pada masa ini terjadi berbagai perkembangan dalam bidang seni, budaya, tata pemerintahan, dan penanggalan. Dunia perkerisan pun berkembang dengan beragam bentuk dan karakter garap.

Salah satu hal menarik dalam tradisi perkerisan Mataram adalah adanya proses pelestarian sekaligus pengembangan bentuk-bentuk keris dari masa sebelumnya. Para empu tidak hanya membuat bentuk baru, tetapi juga meneruskan dhapur dan karakter keris yang telah dikenal sejak masa Pajang maupun Mataram awal, kemudian mengolahnya dengan gaya garap yang berkembang pada zamannya.

Karena itu, keris tangguh Mataram Sultan Agung memiliki variasi pasikutan yang cukup luas. Secara umum, karakter bilahnya sering memberikan kesan demes, yaitu serasi, proporsional, dan enak dipandang. Besinya cenderung terlihat mentah atau natural, dengan serat besi yang masih terasa, sementara pamornya dapat tampil cukup jelas hingga mubyar.

Dalam tradisi lisan perkerisan juga dikenal kisah Pakelun, yaitu pengerahan para empu dan pande besi untuk mendukung kebutuhan persenjataan Mataram ketika Sultan Agung mempersiapkan ekspedisi militernya ke Batavia untuk menghadapi VOC. Kisah tersebut menggambarkan bagaimana keterampilan para empu dan pande besi memiliki posisi penting dalam kehidupan kerajaan.

Dalam beberapa sumber tradisi perkerisan disebutkan bahwa ratusan empu dari berbagai wilayah dikumpulkan di Mataram dan dikoordinasikan oleh para empu senior. Nama-nama seperti Ki Tepas, Ki Salatea, Ki Mayi, Ki Legi, Empu Gedhe, Empu Luwing, Ki Guling, Ki Ancer, hingga Ki Tundhung disebut dalam tradisi tersebut. Ki Tundhung bahkan dikenal sebagai Empu Jejeneng, dengan gelar Pangeran Sendhang dari Sultan Agung.

Kisah ini perlu dipahami sebagai bagian dari tradisi sejarah dan literatur perkerisan, karena rincian mengenai jumlah empu, struktur kepemimpinan, dan peristiwa Pakelun tidak semuanya dapat diverifikasi melalui sumber sejarah primer.

Secara visual, keris yang dikaitkan dengan tangguh Mataram Sultan Agung umumnya memiliki pasikutan yang harmonis, besi yang cenderung natural dan berserat, serta pamor yang dapat tampil cukup jelas. Jika dibandingkan dengan keris Mataram Senopaten, karakter keduanya memang memiliki kesinambungan, tetapi keris Mataram Sultan Agung sering memperlihatkan perkembangan garap yang lebih matang sesuai dengan zamannya.

Masa Sultan Agung pada akhirnya menjadi salah satu periode penting dalam perjalanan seni tempa Mataram. Keris tidak hanya menjadi bagian dari perlengkapan kehidupan bangsawan dan prajurit, tetapi juga berkembang sebagai karya budaya yang mempertemukan teknologi, estetika, tradisi, dan simbol kehidupan.

Karena itu, nilai keris tangguh Mataram Sultan Agung tidak semata-mata terletak pada usianya. Ia juga menarik sebagai jejak keterampilan para empu dan gambaran perkembangan kebudayaan Mataram pada salah satu periode penting dalam sejarah Jawa.

 

FR064

Keris Dholog Pamor Wahyu Tumurun Kebak

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 131 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us