Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Pusaka Tombak Cacing Kanil Pamor Adeg Mrambut
- Keris Naga Liman Kinatah Emas
- Keris Nogo Siluman Luk 13 Tangguh Kesultanan Cireb
- Keris Tilam Upih Pamor Bendo Segodo Tangguh Pajaja
- Adeg Sodo Lanang
- Keris Sabuk Inten Pamor Tunggul Kukus Mataram Seno
- Keris Tilam Upih Pamor Pedaringan Kebak Sepuh
- Keris Sengkelat Luk 13 Pamor Kulit Semangka Sepuh
Keris Dholog Pamor Wahyu Tumurun Kebak
| Kode | FR064 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Dholog, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 5, Pamor Pedaringan Kebak, Pamor Wahyu Tumurun, Tangguh Mataram, Tangguh Mataram Sultan Agung |
| Jenis | : Keris Luk 5 |
| Dhapur | : Dholog |
| Pamor | : Pedaringan Kebak Wahyu Tumurun |
| Tangguh | : Mataram Sultan Agung |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Kayu Trembalo |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Kemuning Bang |
| Pendok | : Bleweh, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Kendhit, Bahan Kuningan |
Keris Dholog Pamor Wahyu Tumurun Kebak
Dhapur Dholog
Dholog merupakan salah satu dhapur keris luk 5 dengan ricikan yang cukup lengkap. Ciri-cirinya antara lain gandhik lugas, pejetan, tikel alis, sogokan rangkap, dan sraweyan. Pada beberapa bilah dapat dijumpai greneng, sementara pada bilah lainnya tidak.
Nama Dholog menarik untuk dibaca dari sisi filosofis. Dalam pemahaman budaya Jawa, kata dholog dapat dikaitkan dengan sesuatu yang kokoh, mantap, dan tidak mudah bergeser dari tempatnya. Pemaknaan ini dapat dijadikan simbol tentang sikap batin seseorang dalam menghadapi kehidupan.
Lima luk pada dhapur ini juga dapat dibaca sebagai pengingat untuk menjaga keseimbangan antara pikiran, ucapan, tindakan, hubungan dengan sesama, dan tanggung jawab kepada kehidupan. Tentu, pembacaan semacam ini merupakan tafsir simbolik yang berkembang dalam kebudayaan, bukan makna tunggal yang bersifat mutlak.
Dengan demikian, Dholog dapat ditempatkan sebagai simbol keteguhan dalam menjalani kehidupan. Bukan berarti manusia harus keras dan tidak mau berubah, melainkan memiliki prinsip yang cukup kuat untuk tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi perubahan keadaan.
Justru orang yang kokoh bukanlah orang yang tidak pernah berubah, tetapi orang yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan pijakan.
Pamor Wahyu Tumurun Kebak
Keris ini memiliki susunan pamor yang cukup menarik. Jika dilihat sekilas dari kejauhan, keseluruhan motifnya memberikan kesan seperti Pamor Pedaringan Kebak, karena permukaan bilah tampak dipenuhi oleh pamor.
Namun ketika diamati lebih dekat, terlihat adanya motif bulatan-bulatan yang tersebar dari bagian pangkal hingga ujung bilah. Karena terdapat perpaduan karakter antara pola yang memenuhi bilah dan motif bulatan yang mengingatkan pada Wahyu Tumurun, kami menyebut karakter pamor pada bilah ini sebagai Wahyu Tumurun Kebak.
Penyebutan tersebut merupakan cara deskriptif untuk menjelaskan karakter visual khusus pada bilah ini, karena dalam tradisi pamor, tidak semua perpaduan motif memiliki satu nama pakem yang berlaku secara seragam.
Secara simbolik, Wahyu Tumurun sering dimaknai sebagai turunnya anugerah, petunjuk, atau karunia dari Yang Maha Kuasa. Sementara kesan kebak, atau penuh, memberikan gambaran tentang sesuatu yang tercukupi dan tidak kekurangan.
Karena itu, pamor ini dapat dibaca sebagai representasi harapan akan datangnya anugerah, kecukupan rezeki, serta keberkahan yang memenuhi kehidupan.
Namun seperti halnya pemaknaan pamor lainnya, nilai tersebut lebih tepat dipahami sebagai doa dan simbol budaya, bukan sebagai jaminan bahwa sebuah motif pamor akan mendatangkan rezeki secara otomatis.
Tangguh Mataram Sultan Agung
Keris ini memiliki karakter yang dikaitkan dengan Tangguh Mataram Sultan Agung, yaitu keris yang berkembang pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, salah satu raja terbesar Kesultanan Mataram pada abad ke-17.
Masa pemerintahan Sultan Agung merupakan periode penting dalam perkembangan kebudayaan Mataram. Pada masa ini terjadi berbagai perkembangan dalam bidang seni, budaya, tata pemerintahan, dan penanggalan. Dunia perkerisan pun berkembang dengan beragam bentuk dan karakter garap.
Salah satu hal menarik dalam tradisi perkerisan Mataram adalah adanya proses pelestarian sekaligus pengembangan bentuk-bentuk keris dari masa sebelumnya. Para empu tidak hanya membuat bentuk baru, tetapi juga meneruskan dhapur dan karakter keris yang telah dikenal sejak masa Pajang maupun Mataram awal, kemudian mengolahnya dengan gaya garap yang berkembang pada zamannya.
Karena itu, keris tangguh Mataram Sultan Agung memiliki variasi pasikutan yang cukup luas. Secara umum, karakter bilahnya sering memberikan kesan demes, yaitu serasi, proporsional, dan enak dipandang. Besinya cenderung terlihat mentah atau natural, dengan serat besi yang masih terasa, sementara pamornya dapat tampil cukup jelas hingga mubyar.
Dalam tradisi lisan perkerisan juga dikenal kisah Pakelun, yaitu pengerahan para empu dan pande besi untuk mendukung kebutuhan persenjataan Mataram ketika Sultan Agung mempersiapkan ekspedisi militernya ke Batavia untuk menghadapi VOC. Kisah tersebut menggambarkan bagaimana keterampilan para empu dan pande besi memiliki posisi penting dalam kehidupan kerajaan.
Dalam beberapa sumber tradisi perkerisan disebutkan bahwa ratusan empu dari berbagai wilayah dikumpulkan di Mataram dan dikoordinasikan oleh para empu senior. Nama-nama seperti Ki Tepas, Ki Salatea, Ki Mayi, Ki Legi, Empu Gedhe, Empu Luwing, Ki Guling, Ki Ancer, hingga Ki Tundhung disebut dalam tradisi tersebut. Ki Tundhung bahkan dikenal sebagai Empu Jejeneng, dengan gelar Pangeran Sendhang dari Sultan Agung.
Kisah ini perlu dipahami sebagai bagian dari tradisi sejarah dan literatur perkerisan, karena rincian mengenai jumlah empu, struktur kepemimpinan, dan peristiwa Pakelun tidak semuanya dapat diverifikasi melalui sumber sejarah primer.
Secara visual, keris yang dikaitkan dengan tangguh Mataram Sultan Agung umumnya memiliki pasikutan yang harmonis, besi yang cenderung natural dan berserat, serta pamor yang dapat tampil cukup jelas. Jika dibandingkan dengan keris Mataram Senopaten, karakter keduanya memang memiliki kesinambungan, tetapi keris Mataram Sultan Agung sering memperlihatkan perkembangan garap yang lebih matang sesuai dengan zamannya.
Masa Sultan Agung pada akhirnya menjadi salah satu periode penting dalam perjalanan seni tempa Mataram. Keris tidak hanya menjadi bagian dari perlengkapan kehidupan bangsawan dan prajurit, tetapi juga berkembang sebagai karya budaya yang mempertemukan teknologi, estetika, tradisi, dan simbol kehidupan.
Karena itu, nilai keris tangguh Mataram Sultan Agung tidak semata-mata terletak pada usianya. Ia juga menarik sebagai jejak keterampilan para empu dan gambaran perkembangan kebudayaan Mataram pada salah satu periode penting dalam sejarah Jawa.
FR064
Keris Dholog Pamor Wahyu Tumurun Kebak
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 281 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Panimbal Luk 9 Majapahit Gonjo Wilut Keris Panimbal Luk 9 Majapahit Gonjo Wilut – Keris Panimbal gonjo wilut merupakan salah satu peninggalan otentik dari masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Pusaka ini tergolong langka dan bernilai tinggi di kalangan pecinta Tosan Aji. Dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap keris ini meningkat pesat, membuat permintaannya melonjak tajam…. selengkapnya
Rp 8.500.000Keris Pamor Mlinjon Sepuh Langka Keris Pamor Mlinjon Sepuh Langka merupakan salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris kami. Keris ini berdhapur Tilam Upih, merupakan dhapur keris lurus yang sederhana dengan ricikan antara lain gandik polos, tikel alis dan pejetan. Untuk pamor yang tergurat di sekujur bilahnya adalah pamor Mlinjon, yaitu salah satu pamor yang… selengkapnya
Rp 5.200.000Keris Pusaka Naga Liman Maknda dan Filosofi Dhapur Keris Naga Liman NAGA LIMAN, adalah salah satu bentuk dhapur keris, dimana bagian gandik keris diukir dengan bentuk kepala gajah, lengkap dengan belalainya (kadang dibuat sangat detail lengkap dengan bagian gading dan telinga) tetapi tanpa badan sang gajah itu sendiri karena badan naga liman merupakan perwujudan dari… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Sepuh Jangkung Mataram Sultan Agung Pamor Wahyu Tumurun Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jangkung Luk 3 Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Wahyu Tumurun (pamor ngebyar meteorit) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Sultan Agung Panjang Bilah : 36,2 cm Warangka : Gayaman Jogjakarta Kayu Timoho Handle / Gagang : Kayu Kemuning… selengkapnya
Rp 4.555.000Keris Sangat Langka Dhapur Laler Mengeng Tangguh Mataram Sultan Agung Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Laler Mengeng (dhapur super langka) Pamor (motif lipatan besi) : Beras Wutah Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Sultan Agung Panjang Bilah : 36,1 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang… selengkapnya
Rp 7.555.000Pusaka Keris Sengkelat Kembang Kacang Bungkem Mataram Kartasura Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sengkelat Luk 13 Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Kartasura / Amangkurat Panjang Bilah : 37,5 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Trembalo Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno Pendok :… selengkapnya
Rp 4.130.000Keris Parungsari Luk 13 Pamor Segoro Muncar Mataram Amangkurat Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Parungsari Luk 13 Pamor (motif lipatan besi) : Segoro Muncar Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Amangkurat Panjang Bilah : 36,3 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Kemuning Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno Pendok :… selengkapnya
Rp 4.555.000




















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.