Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Pusaka Keris Tilam Upih Pamor Lintang Kemukus
- Pusaka Keris Sabuk Inten Sedayu Pamor Tunggak Semi
- Panji Nom
- Keris Naga Siluman Kinatah Pamor Segoro Muncar Gar
- Keris Sengkelat Luk 13 Tangguh Demak
- Keris Sengkelat Luk 13 Tangguh Majapahit Sepuh Kun
- Pendok Bunton Sepuh Perak
- PAMOR LANGKA!! Keris Pamor Lintang Kemukus Winengk
Keris Tilam Upih Pamor Jung Isi Dunyo Gonjo Sumber
| Kode | TAG073 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Tilam Upih, Katalog Produk, Keris, Pamor Jung Isi Dunya, Pamor Sumber, Tangguh Tuban |
| Jenis | : Keris Leres |
| Dhapur | : Tilam Upih |
| Pamor | : Jung Isi Dunyo + Udan Mas Tiban |
| Pamor Gonjo | : Sumber |
| Tangguh | : Tuban |
| Warangka | : Gayaman Kagok, Kayu Timoho |
| Deder/Handle | : Canteng, Kayu Kemuning |
| Pendok | : Bunton, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Widhengan, Bahan Kuningan |
Keris Tilam Upih Pamor Jung Isi Dunyo Gonjo Sumber
DHAPUR TILAM UPIH
Dhapur Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus atau leres yang sangat populer dalam tradisi perkerisan Jawa. Ricikannya relatif sederhana, yaitu gandik lugas, tikel alis, dan pejetan. Kesederhanaan tersebut justru menjadi salah satu karakter utama Dhapur Tilam Upih.
Nama Tilam Upih berasal dari kata tilam yang berarti alas atau tempat tidur, sedangkan upih merujuk pada pelepah pinang. Pada masa lalu, pelepah pinang dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat alas sederhana.
Dari makna tersebut, Tilam Upih kemudian dapat dibaca sebagai simbol tempat beristirahat, ketenteraman, dan kehidupan yang nyaman. Dalam konteks keluarga, makna tersebut berkembang menjadi harapan akan rumah tangga yang harmonis, tenteram, dan berkecukupan.
Karena itu, Tilam Upih sering ditempatkan sebagai pusaka yang memiliki kedekatan dengan kehidupan keluarga dan kesinambungan generasi. Dalam tradisi pewarisan, keris dengan dhapur ini juga kerap diberikan kepada anggota keluarga sebagai bagian dari doa dan nasihat agar mampu membangun kehidupan rumah tangga yang baik.
Makna tersebut tidak harus dipahami sebagai harapan terhadap kemewahan. Tilam Upih justru dapat menjadi pengingat bahwa ketenteraman keluarga dibangun melalui kasih sayang, tanggung jawab, kecukupan, saling menghormati, dan kemampuan menghadapi kehidupan bersama.
Sebutan “Ibu dari Semua Keris” yang kadang dilekatkan kepada Tilam Upih lebih tepat dipahami sebagai ungkapan atau tradisi lisan di kalangan sebagian pemerhati keris, bukan istilah baku dalam nomenklatur dhapur. Demikian pula berbagai kisah mengenai anjuran tokoh tertentu untuk memiliki Tilam Upih sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari tradisi tutur perkerisan, bukan sebagai fakta sejarah yang berdiri sendiri tanpa sumber pendukung.
PAMOR JUNG ISI DUNYO & GONJO SUMBER
Pada keris ini terdapat Pamor Jung Isi Dunyo pada bilah dan Pamor Sumber pada bagian gonjo.
Pamor Jung Isi Dunyo merupakan pamor dengan pola bulatan-bulatan kecil yang berada atau tersusun di dalam lingkaran yang lebih besar. Pada bilah ini, pamor tersebut tergolong mlumah, dengan pola yang dapat muncul pada beberapa bagian bilah.
Nama Jung Isi Dunyo secara tradisional dapat dimaknai sebagai jung atau kapal yang membawa isi dunia, sehingga kemudian dikaitkan dengan gambaran kapal yang penuh muatan atau harta benda. Dalam konteks simbolik, nama tersebut dapat dibaca sebagai harapan mengenai kecukupan, kelimpahan rezeki, dan kemampuan membawa serta mengelola hasil kehidupan.
Makna tersebut menarik apabila dikaitkan dengan fungsi kapal sebagai wadah perjalanan sekaligus pembawa muatan. Manusia pun membutuhkan “wadah” berupa kemampuan, pengetahuan, tanggung jawab, dan kebijaksanaan agar apa yang diperoleh dalam kehidupan tidak sekadar terkumpul, tetapi dapat dikelola dengan baik.
Dengan demikian, Jung Isi Dunyo dapat dipahami sebagai doa dan harapan agar kehidupan memiliki bekal dan kecukupan, serta mampu membawa hasil yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Pada bagian gonjo, terdapat pola Pamor Sumber. Pamor ini ditandai dengan bulatan-bulatan kecil menyerupai pusaran air yang tersebar pada bagian gonjo. Pada bilah ini, pola tersebut tampak pada bagian wuwungan dan kedua sisi gonjo, sehingga memberikan karakter visual yang cukup menonjol.
Dalam tradisi perkerisan, Pamor Sumber sering dikaitkan dengan makna sumber kehidupan dan kelimpahan rezeki. Pemaknaan ini memiliki kedekatan dengan simbol air sebagai sumber kehidupan. Karena itu, Pamor Sumber juga kerap ditempatkan dalam kelompok pamor yang memiliki harapan berkaitan dengan kecukupan dan kekayaan.
Keberadaan pamor pada gonjo juga menarik dari sisi garap. Motif yang berkembang pada bagian tersebut menunjukkan bahwa pamor tidak hanya menjadi unsur dekoratif pada bilah, tetapi dapat menjadi bagian penting dari karakter keseluruhan sebuah keris.
Namun, anggapan bahwa keberadaan Gonjo Sumber secara otomatis menunjukkan keris kelas tinggi atau pasti merupakan pusaka para pembesar sebaiknya dipahami sebagai bagian dari tradisi dan penilaian kolektor. Kualitas sebuah keris tetap perlu dilihat dari keseluruhan aspek, termasuk bahan, garap, teknik tempa, keserasian bilah, serta kondisi objeknya.
TANGGUH TUBAN
Dalam tradisi perkerisan, Tangguh Tuban memiliki sejumlah ciri yang digunakan sebagai bahan pembanding dalam mengenali karakter bilah. Beberapa di antaranya adalah pejetan yang relatif sempit, gandik yang cenderung tegak, bilah yang agak lebar atau nglimpo, serta gonjo yang relatif lurus hingga sedikit melengkung atau wuwung.
Pada bagian gonjo, kepala gonjo dapat berbentuk buweng, bagian perut dikenal dengan istilah mbathok mengkurep, sedangkan bagian ekornya dapat menunjukkan karakter nguceng mati. Ciri-ciri tersebut merupakan terminologi tradisional yang digunakan dalam pengamatan bentuk bilah dan ricikan.
Tuban sendiri memiliki posisi penting dalam sejarah Jawa. Wilayah ini berkembang sebagai salah satu kawasan pesisir yang memiliki hubungan erat dengan perdagangan, politik, dan kerajaan-kerajaan besar di Jawa. Dalam sejarah Majapahit, Tuban juga dikenal sebagai salah satu wilayah penting di pesisir utara.
Salah satu tokoh yang sangat kuat dalam ingatan masyarakat Tuban adalah Ronggolawe, tokoh yang dikaitkan dengan awal berdirinya Majapahit. Dalam tradisi lokal, Ronggolawe sering dipandang sebagai simbol keberanian dan keteguhan dalam menyampaikan sikap. Namun, kisah mengenai dirinya juga memiliki versi yang berbeda antara tradisi tutur dan sumber sejarah seperti Pararaton dan Kidung Ranggalawe.
Dalam sumber-sumber tersebut, konflik Ronggolawe dengan pusat kekuasaan Majapahit berujung pada pemberontakan dan kematiannya. Peristiwa tersebut kemudian menjadi bagian penting dari ingatan sejarah dan kebudayaan Tuban.
Kisah lain yang melekat pada Tuban adalah Brandal Lokajaya, nama yang dalam tradisi kemudian dikaitkan dengan perjalanan Sunan Kalijaga. Kedua kisah tersebut memperlihatkan bagaimana Tuban memiliki lapisan sejarah dan tradisi tutur yang kuat, yang kemudian turut membentuk identitas budaya daerah tersebut.
Dalam konteks perkerisan, sejarah tersebut menarik karena keris bukan hanya dapat dipandang sebagai benda dengan bentuk dan teknik tertentu, tetapi juga sebagai bagian dari lingkungan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan tempat tradisi pembuatannya berkembang.
Karena itu, karakter Tangguh Tuban sebaiknya tidak dibaca hanya dari satu ciri fisik. Pasikutan, ricikan, proporsi bilah, besi, pamor, gonjo, serta keseluruhan garap perlu dipertimbangkan secara bersama-sama sebelum menarik kesimpulan mengenai tangguh.
CATATAN: Identifikasi dhapur, pamor, dan tangguh merupakan bagian dari pengetahuan dan terminologi tradisional perkerisan. Ciri-ciri yang disebutkan merupakan bahan pengamatan dan pembanding, bukan rumus tunggal.
Perbedaan hasil pengamatan dapat terjadi karena dipengaruhi oleh objek yang diamati maupun cara pengamatan. Kondisi bilah, usia, perawatan, perubahan permukaan, kelengkapan ricikan, pengalaman pemerhati, sudut pandang, serta rujukan yang digunakan dapat memengaruhi hasil identifikasi.
Karena itu, deskripsi ini merupakan hasil pembacaan berdasarkan karakter yang dapat diamati, dan tetap terbuka terhadap perbandingan, kajian, maupun koreksi apabila terdapat data atau rujukan lain yang lebih kuat.
Keris Tilam Upih Pamor Jung Isi Dunyo Gonjo Sumber
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 323 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Pusaka Kujang Naga Primitif Tangguh Pajajaran Pamor Banyu Mili Dhapur / Bentuk : Kujang Naga ( Asli original sepuh kuno tua) Pamor : Banyu Mili mrambut dom kecer Tangguh : Pajajaran Madya Panjang Bilah : 17 cm Panjang pesi : 7 cm Panjang total kujang & warangka : 28,5 cm Warangka : Kayu cendana jawa… selengkapnya
Rp 2.111.000Tombak Pusaka Cipir Totog Singosari Keleng Dhapur / Jenis Bentuk Tombak : Cipir Totog Tangguh / Masa Pembuatan : Singosari Pamor / Motif lipatan besi : Keleng Hurap berserat Panjang Bilah Tajam : 28 cm Panjang pesi : 10,7 (bentuk Pesi kotak menandakan tombak dibuat zaman sebelum majapahit) Warangka : Kayu jati Landeyan / gagang… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Sempana Luk 9 Pamor Putri Kinurung Tangguh Pajajaran Sepuh Kuno Tua Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sempono Luk 9 Pamor (motif lipatan besi) : Beras Wutah, Pamor Putri Kinurung di Bagian Sor-soran Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajajaran Panjang Bilah : 32,2 cm Warangka : Gayaman Jogjakarta Kayu TImoho Kuno Handle / Gagang… selengkapnya
Rp 1.555.000Keris Tumenggung PB IV Keris Dhapur Tumenggung Keris Tumenggung PB IV – Masih sangat jarang literatur isoteris tentang keris berdhapur Tumenggung. Kebanyakan pembahasan yang ada hanya membahas soal ricikan dan wujud fisiknya semata. Tetapi kali ini saya tertarik dengan nilai esoteris dari keris dengan dhapur Tumenggung ini. Entah mengapa dhapur keris ini dinamakan Tumenggung. Apakah… selengkapnya
Rp 7.500.000Tombak Pusaka Baru Kuping Pamor Mrambut Dhapur / Jenis Bentuk Tombak : Baru Kuping Tangguh / Masa Pembuatan : Kasultanan Cirebon Sepuh Pamor / Motif lipatan besi : Sanak Mrambut Panjang Bilah Tajam : 19,5 cm Panjang Pesi : 10 cm Warangka : Kayu SOno Keling / Rose Wood Landeyan : Kayu Jati 50 cm… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Pamor Bonang Rinenteng Sepuh Asli Keris Pamor Bonang Rinenteng Sepuh Asli – Pamor Bonang Rinenteng atau Bonang Serenteng termasuk pamor yang cukup langka dan merupakan pamor rekan. Bentuknya berupa garis lurus ditengah bilah Keris atau Tombak mulai dari pangkal sampai ujung bilah, dan di sisi kanan – kiri garis terdapat bulatan-bulatan kecil yang menempel… selengkapnya
Rp 7.888.000Pedang Luwuk Patimura Pamor Dwi Warna Damaskus Kuno Dhapur/ Nama bentuk Pedang : Pedang Luwu Pamor / Motif Lipatan Besi : Damaskus Setro Banyu Dan pamor raja ( ada pamengkang jagad di tengah bilah) Tangguh : Mataram Sultan Agung Panjang bilah tajam : 51,5 cm Panjang Total Ketika Disarungkan : 68 cm Warangka : kayu… selengkapnya
Hubungi Admin


















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.