Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Tilam Upih » Keris Tilam Upih Tangguh Wengker Ponorogo
click image to preview activate zoom

Keris Tilam Upih Tangguh Wengker Ponorogo

Rp 3.000.000
KodeFR065
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Tilam Upih, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Pedaringan Kebak, Tangguh Wengker
Jenis : Keris Leres
Dhapur Tilam Upih
Pamor Pedaringan Kebak
Tangguh Wengker
Warangka : Gayaman Surakarta, Kayu Gembol Jati
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Gembol Jati
Pendok : Bunton, Bahan Kuningan
Mendak : Rujakwuni, Bahan Kuningan
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Tilam Upih Tangguh Wengker Ponorogo

Dhapur Tilam Upih

Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya dhapur ini menjadi salah satu bentuk keris yang sangat dikenal dan banyak dijumpai dalam tradisi perkerisan Jawa.

Ciri utama Tilam Upih terletak pada gandhik yang polos, dengan ricikan berupa tikel alis dan pejetan. Tidak banyak ornamen atau ricikan yang ditambahkan pada bilahnya, sehingga keseluruhan bentuknya tampak sederhana, bersih, dan tidak berlebihan. Di beberapa daerah, dhapur ini juga dikenal dengan nama Tilam Petak atau Tilam Putih.

Nama Tilam Upih sendiri memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Tilam berarti alas atau tempat untuk berbaring, sedangkan upih merujuk pada pelepah pinang yang dahulu dapat dimanfaatkan sebagai alas.

Dari sini, Tilam Upih dapat dibaca sebagai simbol tempat bersandar dan tempat beristirahat. Ia menggambarkan kebutuhan manusia untuk memiliki tempat kembali setelah menjalani perjalanan kehidupan.

Filosofinya menjadi semakin menarik karena yang digunakan sebagai perumpamaan bukanlah tempat tidur yang mewah, melainkan upih—sesuatu yang sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Seolah mengingatkan bahwa ketenteraman tidak selalu lahir dari kemewahan.

Kadang yang dibutuhkan manusia hanyalah tempat berpijak yang cukup, kehidupan yang tertata, dan hati yang mampu merasa cukup.

Karena itu, Tilam Upih dapat dimaknai sebagai pengingat tentang kesederhanaan, ketenteraman, kecukupan, dan kemampuan untuk kembali menata diri. Sebuah filosofi yang justru terasa relevan dalam kehidupan modern: bahwa semakin banyak yang kita kejar, semakin penting pula kita memiliki tempat untuk berhenti dan beristirahat.

 

Pamor Pedaringan Kebak

Pedaringan Kebak merupakan salah satu motif pamor yang memiliki tampilan khas berupa permukaan bilah yang dipenuhi oleh susunan pamor, sehingga memberikan kesan penuh, padat, dan merata.

Nama Pedaringan berasal dari kata daringan, yaitu tempat untuk menyimpan beras atau bahan pangan. Sementara kebak berarti penuh. Secara harfiah, Pedaringan Kebak berarti tempat penyimpanan beras yang penuh.

Makna tersebut sangat erat dengan pandangan hidup masyarakat Jawa yang menempatkan beras sebagai simbol pangan, kecukupan, dan keberlangsungan kehidupan. Pada masyarakat agraris, pedaringan yang penuh bukan sekadar tanda bahwa seseorang memiliki banyak makanan, tetapi juga menjadi gambaran tentang rumah tangga yang tenteram karena kebutuhan pokoknya tercukupi.

Karena itu, Pedaringan Kebak secara simbolik sering dibaca sebagai harapan akan rezeki yang cukup, kehidupan yang berkecukupan, serta rumah tangga yang tidak mengalami kekurangan.

Namun, menariknya, kata kebak tidak harus dimaknai hanya sebagai banyaknya harta. Ia juga dapat dibaca lebih luas sebagai penuh dalam arti positif: penuh rasa syukur, penuh tanggung jawab, penuh kasih sayang, dan penuh manfaat bagi orang lain.

Dengan demikian, pamor Pedaringan Kebak dapat menjadi sebuah pameling bahwa keberlimpahan yang sesungguhnya bukan sekadar memiliki banyak, tetapi mampu membuat apa yang dimiliki menjadi cukup dan bermanfaat.

Dalam konteks sebuah keris, pemaknaan tersebut merupakan bagian dari tradisi simbolik masyarakat terhadap motif pamor. Ia dapat dipandang sebagai doa dan harapan pemiliknya, bukan sebagai jaminan datangnya rezeki secara otomatis.

 

Tangguh Wengker

Wengker merupakan nama yang memiliki tempat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa. Dalam sumber-sumber sejarah tradisional, Wengker dikenal sebagai salah satu wilayah atau kadipaten penting di Jawa Timur pada masa kerajaan-kerajaan Jawa kuno hingga periode Majapahit.

Nama Wengker sangat erat dengan tokoh Bhre Wengker, salah satu tokoh penting dalam sejarah Majapahit. Istilah Bhre sendiri merupakan gelar yang digunakan untuk menyebut penguasa suatu wilayah atau daerah bawahan dalam struktur politik Majapahit.

Dalam tradisi sejarah Jawa, wilayah Wengker umumnya dikaitkan dengan kawasan Ponorogo dan sekitarnya. Namun, batas wilayah Wengker pada masa lampau tidak dapat begitu saja disamakan dengan batas administratif modern. Karena itu, penyebutan Wengker lebih tepat dipahami sebagai sebuah wilayah historis yang cakupannya dapat berubah mengikuti perkembangan politik pada zamannya.

Dalam dunia perkerisan, Tangguh Wengker kemudian dikenal sebagai salah satu klasifikasi tangguh keris tua. Penyebutan tangguh tidak semata-mata berarti keris tersebut pasti ditemukan atau ditempa tepat di wilayah yang dahulu disebut Wengker. Tangguh merupakan sistem pembacaan tradisional yang mempertimbangkan berbagai karakter bilah untuk memperkirakan masa, lingkungan budaya, gaya garap, serta tradisi penempaan yang melatarbelakanginya.

Keris yang dikaitkan dengan tangguh Wengker umumnya dikenal memiliki kesan tua, sederhana, dan kuat pada karakter besinya. Garapnya cenderung tidak berlebihan, tetapi justru memperlihatkan karakter natural yang menjadi daya tarik keris-keris tua. Dalam pembacaan tangguh, tentu tidak cukup hanya berpegang pada satu ciri. Bentuk bilah, pasikutan, ricikan, besi, pamor, serta keseluruhan karakter garap perlu dilihat secara bersamaan.

Menariknya, karakter Wengker dapat dibaca berdampingan dengan dhapur Tilam Upih pada keris ini. Tilam Upih menawarkan kesederhanaan bentuk dan ketenteraman, sementara karakter Wengker mengingatkan kita pada jejak wilayah tua dalam perjalanan sejarah Jawa.

Pertemuan keduanya menghadirkan sebuah keris yang tidak perlu tampil berlebihan untuk memiliki karakter. Sederhana dalam bentuk, penuh dalam makna, dan tua dalam jejak kebudayaan yang dibawanya.

Pada akhirnya, memahami tangguh Wengker bukan sekadar mencari jawaban mengenai “keris ini berasal dari mana”, tetapi juga belajar melihat bagaimana sebuah bilah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah, teknologi tempa, estetika, dan ingatan budaya Jawa.

 

FR065

Keris Tilam Upih Tangguh Wengker Ponorogo

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 116 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us