Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
Keris Tilam Upih Tangguh Wengker Ponorogo
Rp 3.000.000| Kode | FR065 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Dhapur Tilam Upih, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Pedaringan Kebak, Tangguh Wengker |
| Jenis | : Keris Leres |
| Dhapur | : Tilam Upih |
| Pamor | : Pedaringan Kebak |
| Tangguh | : Wengker |
| Warangka | : Gayaman Surakarta, Kayu Gembol Jati |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Gembol Jati |
| Pendok | : Bunton, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Rujakwuni, Bahan Kuningan |
Keris Tilam Upih Tangguh Wengker Ponorogo
Dhapur Tilam Upih
Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya dhapur ini menjadi salah satu bentuk keris yang sangat dikenal dan banyak dijumpai dalam tradisi perkerisan Jawa.
Ciri utama Tilam Upih terletak pada gandhik yang polos, dengan ricikan berupa tikel alis dan pejetan. Tidak banyak ornamen atau ricikan yang ditambahkan pada bilahnya, sehingga keseluruhan bentuknya tampak sederhana, bersih, dan tidak berlebihan. Di beberapa daerah, dhapur ini juga dikenal dengan nama Tilam Petak atau Tilam Putih.
Nama Tilam Upih sendiri memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Tilam berarti alas atau tempat untuk berbaring, sedangkan upih merujuk pada pelepah pinang yang dahulu dapat dimanfaatkan sebagai alas.
Dari sini, Tilam Upih dapat dibaca sebagai simbol tempat bersandar dan tempat beristirahat. Ia menggambarkan kebutuhan manusia untuk memiliki tempat kembali setelah menjalani perjalanan kehidupan.
Filosofinya menjadi semakin menarik karena yang digunakan sebagai perumpamaan bukanlah tempat tidur yang mewah, melainkan upih—sesuatu yang sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Seolah mengingatkan bahwa ketenteraman tidak selalu lahir dari kemewahan.
Kadang yang dibutuhkan manusia hanyalah tempat berpijak yang cukup, kehidupan yang tertata, dan hati yang mampu merasa cukup.
Karena itu, Tilam Upih dapat dimaknai sebagai pengingat tentang kesederhanaan, ketenteraman, kecukupan, dan kemampuan untuk kembali menata diri. Sebuah filosofi yang justru terasa relevan dalam kehidupan modern: bahwa semakin banyak yang kita kejar, semakin penting pula kita memiliki tempat untuk berhenti dan beristirahat.
Pamor Pedaringan Kebak
Pedaringan Kebak merupakan salah satu motif pamor yang memiliki tampilan khas berupa permukaan bilah yang dipenuhi oleh susunan pamor, sehingga memberikan kesan penuh, padat, dan merata.
Nama Pedaringan berasal dari kata daringan, yaitu tempat untuk menyimpan beras atau bahan pangan. Sementara kebak berarti penuh. Secara harfiah, Pedaringan Kebak berarti tempat penyimpanan beras yang penuh.
Makna tersebut sangat erat dengan pandangan hidup masyarakat Jawa yang menempatkan beras sebagai simbol pangan, kecukupan, dan keberlangsungan kehidupan. Pada masyarakat agraris, pedaringan yang penuh bukan sekadar tanda bahwa seseorang memiliki banyak makanan, tetapi juga menjadi gambaran tentang rumah tangga yang tenteram karena kebutuhan pokoknya tercukupi.
Karena itu, Pedaringan Kebak secara simbolik sering dibaca sebagai harapan akan rezeki yang cukup, kehidupan yang berkecukupan, serta rumah tangga yang tidak mengalami kekurangan.
Namun, menariknya, kata kebak tidak harus dimaknai hanya sebagai banyaknya harta. Ia juga dapat dibaca lebih luas sebagai penuh dalam arti positif: penuh rasa syukur, penuh tanggung jawab, penuh kasih sayang, dan penuh manfaat bagi orang lain.
Dengan demikian, pamor Pedaringan Kebak dapat menjadi sebuah pameling bahwa keberlimpahan yang sesungguhnya bukan sekadar memiliki banyak, tetapi mampu membuat apa yang dimiliki menjadi cukup dan bermanfaat.
Dalam konteks sebuah keris, pemaknaan tersebut merupakan bagian dari tradisi simbolik masyarakat terhadap motif pamor. Ia dapat dipandang sebagai doa dan harapan pemiliknya, bukan sebagai jaminan datangnya rezeki secara otomatis.
Tangguh Wengker
Wengker merupakan nama yang memiliki tempat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa. Dalam sumber-sumber sejarah tradisional, Wengker dikenal sebagai salah satu wilayah atau kadipaten penting di Jawa Timur pada masa kerajaan-kerajaan Jawa kuno hingga periode Majapahit.
Nama Wengker sangat erat dengan tokoh Bhre Wengker, salah satu tokoh penting dalam sejarah Majapahit. Istilah Bhre sendiri merupakan gelar yang digunakan untuk menyebut penguasa suatu wilayah atau daerah bawahan dalam struktur politik Majapahit.
Dalam tradisi sejarah Jawa, wilayah Wengker umumnya dikaitkan dengan kawasan Ponorogo dan sekitarnya. Namun, batas wilayah Wengker pada masa lampau tidak dapat begitu saja disamakan dengan batas administratif modern. Karena itu, penyebutan Wengker lebih tepat dipahami sebagai sebuah wilayah historis yang cakupannya dapat berubah mengikuti perkembangan politik pada zamannya.
Dalam dunia perkerisan, Tangguh Wengker kemudian dikenal sebagai salah satu klasifikasi tangguh keris tua. Penyebutan tangguh tidak semata-mata berarti keris tersebut pasti ditemukan atau ditempa tepat di wilayah yang dahulu disebut Wengker. Tangguh merupakan sistem pembacaan tradisional yang mempertimbangkan berbagai karakter bilah untuk memperkirakan masa, lingkungan budaya, gaya garap, serta tradisi penempaan yang melatarbelakanginya.
Keris yang dikaitkan dengan tangguh Wengker umumnya dikenal memiliki kesan tua, sederhana, dan kuat pada karakter besinya. Garapnya cenderung tidak berlebihan, tetapi justru memperlihatkan karakter natural yang menjadi daya tarik keris-keris tua. Dalam pembacaan tangguh, tentu tidak cukup hanya berpegang pada satu ciri. Bentuk bilah, pasikutan, ricikan, besi, pamor, serta keseluruhan karakter garap perlu dilihat secara bersamaan.
Menariknya, karakter Wengker dapat dibaca berdampingan dengan dhapur Tilam Upih pada keris ini. Tilam Upih menawarkan kesederhanaan bentuk dan ketenteraman, sementara karakter Wengker mengingatkan kita pada jejak wilayah tua dalam perjalanan sejarah Jawa.
Pertemuan keduanya menghadirkan sebuah keris yang tidak perlu tampil berlebihan untuk memiliki karakter. Sederhana dalam bentuk, penuh dalam makna, dan tua dalam jejak kebudayaan yang dibawanya.
Pada akhirnya, memahami tangguh Wengker bukan sekadar mencari jawaban mengenai “keris ini berasal dari mana”, tetapi juga belajar melihat bagaimana sebuah bilah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah, teknologi tempa, estetika, dan ingatan budaya Jawa.
FR065
Keris Tilam Upih Tangguh Wengker Ponorogo
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 272 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Sempono Bungkem Asli Sepuh Keris Sempono Bungkem Asli Sepuh memang merupakan keris pusaka yang sangat langka. Dengan ciri khas yang unik yaitu kembang kacang model bungkem menyatu dengan gandik. Tidak hanya sekadar kembang kacang yang menempel saja, melainkan menancap dengan gandiknya. Kebanyakan keris Sempono Bungkem hanya sekadar kembang kacang yang menempel tidak sampai menyatu…. selengkapnya
Rp 6.500.000Keris Patrem Kebo Lajer Tangguh Pajajaran Ori Sepuh TAG150
Rp 1.520.000Tombak Pusaka Karacan Luk 7 Majapahit Tombak Pusaka Karacan Luk 7 Tangguh Majapahit hadir sebagai perwujudan kehalusan rasa dan keteguhan laku khas masa keemasan Nusantara. Kesan pertama yang terpancar adalah luwes namun wingit—sebuah perpaduan antara keanggunan dan kewibawaan batin. Tangguh Majapahit dapat dirasakan dari tantingannya yang ringan, seolah menyatu dengan gerak tangan, sementara besinya padat… selengkapnya
Rp 2.500.000Pedang Sabet Sokayana Pamor Damaskus Kuno Dhapur/ Nama bentuk Pedang : Sabet Sokayana Pamor / Motif Lipatan Besi : Kulit Semangka damaskus Tangguh : Mataram Surakarta Abad Ke 17 masehi Panjang bilah tajam : 53 cm Panjang Total Ketika Disarungkan : 67,5 cm Warangka : Kayu Cendana Handel / Gagang Pedang : Tanduk Kerbau Kuno… selengkapnya
Hubungi AdminPandawa Cinarita Pamor Gumbolo Geni Majapahit Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Pandawa Cinarito Luk 5 Pamor (motif lipatan besi) : Gumbolo Geni Akhodiyat Meteor Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Majapahit Madya Panjang Bilah : 33 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Trembalo Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Pendok : Bunton Mamas Kuno… selengkapnya
Rp 2.555.000Korowelang Luk 13 Kinatah Emas Original Sepuh Dhapur Korowelang Korowelang merupakan singkatan dari ungkapan “Perkoro piweling lan piwulang”, yang bermakna nasihat dan ajaran. Ia hadir sebagai pengingat bahwa waktu—kala—adalah sesuatu yang tidak pernah dapat diulang. Sekali berlalu, ia tidak akan kembali. Dalam tradisi tutur, tombak dan keris Korowelang juga kerap disebut Kolowelang. Istilah ini berasal… selengkapnya
Rp 25.000.000Keris Tilam Sari Mataram Amangkurat Sepuh Keris Tilam Sari Mataram Amangkurat Sepuh – Keris, sebuah senjata tradisional yang telah mengakar dalam budaya Indonesia, terutama di kalangan masyarakat Jawa, bukan sekadar sebuah benda mati. Ia merupakan warisan leluhur yang sarat akan makna, nilai budaya, dan filosofi kehidupan. Dalam setiap goresan dan pola yang terpahat di bilahnya,… selengkapnya
Rp 3.500.000Keris Pamor Bonang Rinenteng Sepuh Asli Keris Pamor Bonang Rinenteng Sepuh Asli – Pamor Bonang Rinenteng atau Bonang Serenteng termasuk pamor yang cukup langka dan merupakan pamor rekan. Bentuknya berupa garis lurus ditengah bilah Keris atau Tombak mulai dari pangkal sampai ujung bilah, dan di sisi kanan – kiri garis terdapat bulatan-bulatan kecil yang menempel… selengkapnya
Rp 7.888.000Keris Sabuk Inten Pusaka Legendaris Keris Sabuk Inten Pusaka Legendaris adalah salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris. Keris ini termasuk dalam golongan jenis keris luk 11. Jika dilihat dari bentuk dan ricikannya, keris ini berdhapur Sabuk Inten. Untuk pamor yang tergurat di sekujur bilahnya adalah pamor Wos Wutah Meteorit Akhodiyat. Warangka memakai model Ladrang Kacir dari bahan kayu kemuning… selengkapnya
Rp 1.400.000




















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.