Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Blog » Keris dalam Perspektif Agama Islam

Keris dalam Perspektif Agama Islam

Diposting pada 25 Januari 2026 oleh admin / Dilihat: 16 kali / Kategori:

Keris dalam Perspektif Agama Islam

Keris dalam Perspektif Agama Islam

Antara Budaya, Simbol, dan Tauhid

Keris merupakan salah satu warisan budaya Nusantara yang memiliki sejarah panjang dan kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat. Namun, ketika keris dibicarakan dalam konteks agama Islam, sering muncul kesalahpahaman—baik yang terlalu memistiskan, maupun yang menafikan nilai budayanya sama sekali.

Islam sebagai agama tauhid memiliki prinsip yang tegas dalam soal keyakinan, namun juga memberi ruang yang luas terhadap tradisi dan budaya, selama tidak bertentangan dengan akidah. Di sinilah keris perlu dipahami secara jernih: bukan sebagai benda sakral yang disembah, melainkan sebagai artefak budaya yang sarat makna simbolik.


Keris sebagai Benda, Bukan Objek Akidah

Dalam ajaran Islam, segala bentuk kekuatan, perlindungan, dan rezeki semata-mata berasal dari Allah SWT. Tidak ada satu pun benda yang memiliki kekuatan gaib mandiri, termasuk keris.

Oleh karena itu, Islam tidak membenarkan keyakinan bahwa keris dapat:

  • Memberi keselamatan atau celaka

  • Menentukan nasib dan keberuntungan

  • Menjadi perantara kekuatan supranatural

Keyakinan semacam ini dapat menggeser tauhid dan masuk ke dalam wilayah syirik. Namun demikian, memiliki, merawat, dan mempelajari keris sebagai warisan budaya dan sejarah sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam, selama keyakinan tetap lurus.


Keris dalam Sejarah Islam Nusantara

Proses masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara berlangsung secara damai dan kultural. Para ulama dan wali tidak serta-merta menghapus tradisi lokal, melainkan melakukan proses penyaringan dan pemaknaan ulang.

Dalam konteks ini, keris tetap dipertahankan sebagai:

  • Senjata dan perlengkapan ksatria

  • Simbol kehormatan dan tanggung jawab

  • Identitas budaya masyarakat Muslim Nusantara

Nilai-nilai mistik yang bertentangan dengan tauhid secara perlahan diluruskan. Bahkan pada banyak keris era Islam—seperti masa Demak, Mataram, Cirebon, dan pesisir Tuban—kita justru menemukan penekanan pada etika, kepemimpinan, dan pengendalian diri.


Makna Filosofis Keris yang Selaras dengan Nilai Islam

Jika dipahami secara simbolik dan filosofis, bukan secara mistik, unsur-unsur keris memiliki keselarasan dengan nilai-nilai Islam:

  • Bilah keris melambangkan keteguhan iman dan kejujuran

  • Pamor menggambarkan proses, ikhtiar, dan kesabaran dalam kehidupan

  • Luk mencerminkan perjalanan hidup manusia yang berliku dan penuh ujian

  • Warangka melambangkan adab dan pengendalian diri

Dalam Islam, ilmu dan kekuatan harus dibingkai oleh akhlak. Sebagaimana keris tidak dibiarkan telanjang, manusia pun tidak boleh mempertontonkan kekuasaan tanpa adab.


Keris dan Konsep Wasîlah dalam Islam

Islam mengenal konsep wasîlah (sarana), namun dengan batas yang sangat jelas. Wasîlah tidak boleh diyakini memiliki kekuatan mandiri atau menjadi objek permohonan.

Keris bukan sarana ibadah dan tidak memiliki kedudukan spiritual dalam ritual Islam. Namun, keris dapat berfungsi sebagai:

  • Media pengingat nilai leluhur

  • Sarana refleksi moral dan etika

  • Simbol tanggung jawab seorang pemimpin atau ksatria

Selama tidak disertai praktik klenik, pemujaan, atau permohonan kepada selain Allah, keberadaan keris tetap berada dalam koridor yang dibenarkan.


Batas Tegas Keris Menurut Ajaran Islam

Islam memberikan batas yang jelas dan tidak abu-abu:

Yang tidak dibenarkan:

  • Pemujaan terhadap keris

  • Pemberian sesaji

  • Meminta perlindungan kepada keris

  • Meyakini keris “berisi” makhluk halus

Yang dibenarkan:

  • Menjaga dan merawat keris sebagai warisan budaya

  • Mengkaji sejarah dan filosofi keris

  • Memaknainya sebagai simbol etika, bukan sumber kekuatan


Penutup

Dalam perspektif Islam, keris adalah benda budaya yang memiliki nilai sejarah dan simbolik, bukan sumber kekuatan atau kesaktian. Tauhid tetap menjadi panglima, sementara budaya berada dalam bingkai akidah yang lurus.

Seperti halnya pedang di masa Rasulullah SAW, kemuliaan tidak terletak pada besinya, melainkan pada iman, akhlak, dan niat orang yang menggenggamnya.

Memahami keris secara jernih justru membantu kita menjaga warisan leluhur tanpa mengorbankan prinsip tauhid—sebuah sikap bijak yang menjadi ciri khas Islam Nusantara.

penulis: Daksa Niyata (Tosan Aji Group)

Bagikan ke

Keris dalam Perspektif Agama Islam

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.

Keris dalam Perspektif Agama Islam

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us