Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Keris Singo Barong Kinatah Pamor Tambal Mataram....
- Tempat Perhiasan Bentuk Love Kayu Jati....
- Keris Tilam Sari Tangguh Tuban Mataram....
- Jual Blawong Keris Ukir Tokoh Wayang Puntadewa....
- Keris Jaran Goyang Madura Sepuh Pamor Jung Isi Dun....
- Keris Lurus Brojol Pamor Sanak Gonjo Maskumambang ....
- Jual Keris Tumenggung Pamor Satrio Pinayungan PB X....
- Keris Sengkelat Gonjo Wilut Mataram Sultan Agung S....
KERISPEDIA II – Mengapa Pengetahuan Keris Sering Berbeda-beda?
Mengapa Pengetahuan Keris Sering Berbeda-beda?
Sebagian besar pengetahuan tentang keris yang dihayati dan dipraktikkan hingga hari ini pada dasarnya merupakan pengetahuan yang diwariskan secara lisan, dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pola pewarisan ini lazim berlangsung melalui hubungan orang tua kepada anak, guru kepada murid, atau tokoh sepuh kepada generasi yang lebih muda. Dalam konteks masyarakat Jawa masa lalu, pengetahuan perkerisan termasuk ke dalam kategori kawruh ingkang sinengker, yakni pengetahuan yang dianggap sakral, terbatas, dan tidak boleh disampaikan kepada sembarang orang. Hanya mereka yang dinilai “layak” secara etika, spiritual, dan sosial yang diperkenankan menerimanya. Orang-orang yang menguasai pengetahuan ini kemudian menempati posisi sebagai guru atau rujukan utama di kalangan penggemar dan penghayat keris.
Namun, budaya relasi guru–murid semacam ini, meskipun sarat nilai adab dan penghormatan, dalam praktiknya tidak selalu berkontribusi pada kejernihan dan ketepatan pengetahuan perkerisan itu sendiri. Yang kerap terjadi justru sebatas pengulangan ajaran sang guru oleh muridnya, layaknya rekaman yang direproduksi terus-menerus. Dalam proses ini, ruang dialog kritis hampir tidak tersedia, sehingga potensi distorsi, penafsiran sepihak, atau subjektivitas personal menjadi sangat besar. Ketika sang guru menyampaikan pemahaman yang keliru, tidak utuh, atau bercampur antara pengalaman pribadi dan mitos, maka kekeliruan itu pun akan diwariskan tanpa koreksi. Pengetahuan tersebut lalu menyebar lebih luas melalui pergaulan sesama penghayat keris secara tutur tinular, dari mulut ke mulut, dan perlahan membentuk “kebenaran bersama” yang sesungguhnya belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.
Sebagian dari pengetahuan lisan ini kemudian dibukukan, tetapi sering kali masih dengan pendekatan yang tradisional, sederhana, dan belum memenuhi kaidah ilmiah. Penulisan semacam ini cenderung lebih bersifat pencatatan cerita, pengalaman, dan keyakinan, daripada upaya kajian kritis yang memeriksa sumber, konteks, serta keterkaitan historisnya. Fenomena tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan sejajar dengan berbagai praktik budaya tradisional lainnya, seperti upacara perkawinan, khitanan, ruwatan, peringatan hari-hari besar Jawa, tradisi mencuci dan me-warangi pusaka pada bulan Sura atau Maulud, pergelaran wayang kulit, serta berbagai ritus dan perhelatan adat lainnya. Semua ruang itu menjadi panggung subur bagi peragaan tradisi sekaligus sarana penyebaran pengetahuan lisan yang bercampur antara nilai, simbol, kepercayaan, dan cerita turun-temurun.
Dalam konteks perkerisan, pengetahuan lisan umumnya bersumber dari sosok-sosok yang dianggap lebih arif, lebih terhormat, memiliki kedudukan sosial yang tinggi, serta secara spiritual dinilai lebih “berisi” dibandingkan orang kebanyakan. Otoritas pengetahuan bertumpu pada figur, bukan pada metode atau verifikasi. Dengan cara demikian, secara sadar ataupun tidak, terjadi kecenderungan pengkultusan terhadap sumber dan narasumber pengetahuan tersebut. Ucapan seorang tokoh diterima bukan karena argumennya diuji, melainkan karena siapa yang mengucapkannya.
Kesadaran akan problem dominasi tradisi lisan semacam ini sesungguhnya telah lama disinggung oleh sejumlah pemerhati keris. Salah satunya dapat ditemukan dalam pembahasan mengenai tradisi lisan dalam buku Keris Jawa: Antara Mistik dan Nalar karya Haryono Haryoguritno, yang menekankan bahwa pengetahuan yang berkembang melalui penuturan turun-temurun sangat rentan mengalami pergeseran makna apabila tidak disertai kejelasan sumber, konteks, dan pijakan verifikasi.
Akibatnya, apa pun yang dituturkan oleh seorang narasumber—meskipun berangkat dari sudut pandang yang subjektif, keterbatasan pengalaman, bahkan kekeliruan—sering kali diperlakukan sebagai kebenaran objektif yang tidak layak dipertanyakan. Sikap semacam ini masih dapat kita jumpai dalam dunia perkerisan masa kini. Tidak mengherankan jika kemudian muncul berbagai kesimpangsiuran informasi, perbedaan tafsir yang tajam, hingga pertentangan narasi yang sama-sama mengklaim diri sebagai “pakem”. Dalam penuturan sejarah perkerisan, misalnya, sering terjadi fakta sejarah yang didongengkan, sementara dongeng justru disejarahkan, sehingga batas antara data, tafsir, dan mitos menjadi kabur.
Kesimpulannya, tradisi lisan dalam dunia perkerisan merupakan warisan budaya yang bernilai dan tidak dapat begitu saja diabaikan. Ia menyimpan kearifan, pengalaman batin, serta cara pandang leluhur yang penting untuk dipahami. Namun, ketika tradisi tutur tinular dibiarkan tanpa sikap kritis, tanpa verifikasi, dan tanpa upaya pembacaan ulang yang lebih metodologis, ia berpotensi melanggengkan kekeliruan dan menutup ruang pembaruan pengetahuan. Oleh karena itu, tantangan perkerisan masa kini bukanlah memilih antara tradisi atau ilmu, melainkan merajut keduanya secara seimbang: menghormati tradisi lisan sebagai sumber awal, sekaligus menempatkannya dalam kerangka kajian yang lebih terbuka, rasional, dan bertanggung jawab, agar pengetahuan tentang keris dapat terus hidup, jernih, dan relevan lintas generasi.
penulis: Daksa Niyata (Tosan Aji Group)
KERISPEDIA II – Mengapa Pengetahuan Keris Sering Berbeda-beda?
Jual Keris Sempono Luk 9 Asli Sepuh Kuno Jual Keris Sempono Luk 9 Asli Sepuh Kuno – Sempana atau Sempono... selengkapnya
Blangkon Kepala yang Membawa Filosofi dan Kebanggaan Budaya Blangkon, topi tradisional Jawa, bukan hanya sekadar aksesori pakaian, melainkan simbol yang... selengkapnya
Cara Membedakan Keris Sepuh dan Keris Kamardikan Membedakan antara Keris Sepuh (antik atau tua) dan Keris Kamardikan (kontemporer atau baru)... selengkapnya
Keistimewaan dan Keindahan Keris Luk Keistimewaan dan Keindahan Keris Luk – Keris pusaka legendaris hasil jerih payah nenek moyang bangsa Indonesia... selengkapnya
Elegansi dan Makna Simbolis: Memahami Kekayaan Batik Motif Kawung Batik, sebagai kekayaan warisan budaya Indonesia, menyimpan sejuta cerita dan makna... selengkapnya
Toko Keris Jogja Terlengkap Anda bingung ingin membeli keris di daerah Jogja? Ingin mencari Toko Keris Jogja terlengkap? Kini kami... selengkapnya
Toko Keris Kota Surakarta Terlengkap Apakah Anda sedang mencari Toko Keris Kota Surakarta terlengkap ? Anda ingin berburu tosan aji... selengkapnya
Filosofi Keris Pusaka Sebagai Pesan Simbolik Bagi masyarakat Jawa, keris memiliki nilai tertentu. Bukan sebagai klenik, melainkan sebagai filosofi dalam... selengkapnya
Tips Menjadi Kolektor Keris Tips Menjadi Kolektor Keris adalah artikel yang akan saya buat untuk para pecinta tosan aji pusaka... selengkapnya
Keris untuk Generasi Muda Keris bukan benda kuno yang tertinggal oleh zaman. Ia adalah pesan lama yang menunggu untuk dibaca... selengkapnya
Keris Semar Pethak Tangguh Tuban Empu Bekel Jati Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Semar Pethak Pamor (motif lipatan besi)… selengkapnya
Rp 5.555.000Keris Sempana Mataram Sultan Agung Keris Sempana Mataram Sultan Agung adalah salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris. Keris ini… selengkapnya
Rp 3.500.000Jam Meja Duduk Model Timbangan Kayu Jati Jam Meja Duduk Model Timbangan Kayu Jati: Kecantikan dan Fungsionalitas yang Menawan Jam… selengkapnya
Rp 87.250Keris Sabuk Inten Empu Supo Majapahit Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sabuk Inten Luk 11 Pamor (motif lipatan besi)… selengkapnya
Rp 4.111.000Dhapur Keris Jaka Supa Disebut pula Empu Adipati Jenu, sebuah wilayah dekat Jipang di daerah perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa… selengkapnya
Hubungi AdminWedung Kuno Majapahi Pamor Kenanga Ginubah Wedung atau Wedhung adalah salah satu jenis senjata tradisional Jawa yang dulu merupakan kelengkapan… selengkapnya
Rp 5.500.000Pusaka Tindih Kudi Kabudhan Kuno Dhapur (jenis bentuk pusaka) : Kudi Pamor (motif lipatan besi) : Sanak Meteorit (Besi Nglempung)… selengkapnya
Rp 900.000
WhatsApp us
Saat ini belum tersedia komentar.