Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Deder Gagang Keris Jogja
- Keris Jalak Sangu Tumpeng Pamor Uler Lulut
- Pusaka Keris Dholog Pamor Kulit Semangka
- Dhapur Keris Kelap Lintah
- Jual Blawong Keris Tombak Ukir Naga Paksi Dewata
- Keris Sengkelat Tangguh PB Sepuh Pakubuwono Ke 2
- Pusaka Keris Kalawijan Luk 17 Pedaringan Kebak
- Keris Pasundan Sepuh
Jalak Ngore Segoro Muncar HB Sepuh
Rp 5.500.000| Kode | F214 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Jalak Ngore, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Keris Sepuh, Pamor Segoro Muncar, Tangguh Mataram HB (Hamengkubuwono) |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Jalak Ngore |
| Pamor | : Segoro Muncar |
| Pamor Tiban | : Telaga Membleng + Tunggul Wulung |
| Tangguh | : Mataram HB Sepuh |
| Warangka | : Gayaman Yogyakarta, Kayu Gembol Jati |
| Deder/Handle | : Banaran, Kayu Gembol Jati |
| Pendok | : Blewah, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Parijata, Bahan Kuningan |
Jalak Ngore Segoro Muncar HB Sepuh
Jalak Ngore Segoro Muncar HB Sepuh
Keris Jalak Ngore pamor Segoro Muncar bertangguh Mataram HB Sepuh ini adalah salah satu pusaka yang memadukan keanggunan bentuk, kedalaman makna, dan jejak sejarah yang kuat dari era awal Kasultanan Yogyakarta. Dalam bilahnya terpahat simbol-simbol ketekunan dan pelepasan beban hidup sebagaimana filosofi Jalak Ngore, dipadukan dengan pamor Segoro Muncar yang melambangkan kelapangan rezeki dan keluasan relasi. Ciri garap HB Sepuh yang lugas, wibawa, namun tetap menyisakan aura teduh khas Mataram menjadikan pusaka ini bukan sekadar keris, melainkan rekaman perjalanan budaya—lahir dari masa penuh pergolakan, namun tetap memancarkan kekuatan adiluhung yang lestari hingga kini.
Dhapur Jalak Ngore
Dhapur Jalak Ngore dalam khazanah perkerisan Jawa dipandang sebagai simbol pencapaian kebahagiaan batin serta kemampuan melepaskan diri dari berbagai persoalan hidup, khususnya yang berkaitan dengan nafkah. Dalam pandangan masyarakat Jawa, burung — kukila tumraping tiyang Jawi — adalah perlambang pelipur lara; ia memberikan keteduhan hati, menghapus kejengkelan, dan menghadirkan rasa gembira. Gambaran burung yang mengepakkan sayapnya sambil bersuara keras (ngore) menjadi candra kehidupan manusia dalam upaya mencari rezeki demi memenuhi kebutuhan keluarga, lalu kembali ke sarangnya setelah tujuan itu tercapai.
Burung Jalak sendiri adalah hewan peliharaan yang sangat akrab dalam budaya Jawa. Ia dikenal waspada, peka terhadap lingkungan, tidak merugikan sesamanya ketika mencari makan, dan memiliki kesetiaan yang kuat kepada pasangannya. Kata ngore kerap dihubungkan dengan “mudhar” yang bermakna mengurai—suatu proses bergerak aktif melepaskan diri dari persoalan secara sabar, teliti, dan bertahap. Karena itu, Jalak Ngore menjadi simbol ketekunan dan upaya tanpa henti untuk keluar dari kesulitan hidup. Ia melambangkan manusia yang bekerja keras, bijak, dan tetap kembali pada sumber kehidupannya: rumah, keluarga, dan nilai-nilai luhur.
Pamor Segoro Muncar
Pamor Segoro Muncar secara harfiah berarti “lautan yang bergelora atau memancar”, menghadirkan gambaran samudra luas yang penuh dinamika. Dalam dunia tosan aji, pamor ini dipercaya membawa tuah berupa kelancaran rezeki, kemudahan dalam usaha, dan keluasan dalam relasi sosial. Lautan diibaratkan sebagai sumber kehidupan, dan Segoro Muncar mengajarkan bahwa rezeki datang bukan semata karena keberuntungan, tetapi karena usaha yang konsisten, kelapangan hati, dan pikiran yang terbuka.
Makna “meluaskan pergaulan” tidak berhenti pada banyaknya relasi, tetapi pada kemampuan menjalin hubungan yang saling membawa manfaat. Persahabatan menjadi jembatan untuk belajar, bertukar gagasan, dan memperkaya pengalaman. Dalam kelapangan relasi inilah pintu-pintu kesempatan terbuka dari arah yang tidak terduga.
Dengan demikian, Segoro Muncar tidak hanya berbicara tentang kelimpahan materi, tetapi juga pertumbuhan spiritual dan sosial. Ia mengingatkan bahwa hidup yang sejahtera menuntut ketekunan, kebijaksanaan dalam bergaul, serta hati yang luas bak samudra. Seperti lautan yang terus memancar dan tidak pernah berhenti bergerak, demikian pula perjalanan manusia menuju keberkahan.
Tangguh Mataram HB
Keris Jalak Ngore bertangguh Mataram HB (Hamengkubuwono) lahir dari periode sejarah yang penuh pergolakan, dari masa HB I hingga HB V. Masa ini menyaksikan kraton menghadapi tekanan besar, terutama setelah peristiwa pendudukan oleh Inggris dan penandatanganan perjanjian politik antara Sultan HB III dan Thomas Stamford Raffles pada Oktober 1813. Sejak saat itu, kekuatan militer Kasultanan Yogyakarta dipangkas habis; pasukan dibatasi, persenjataan dikontrol, dan fungsi militer kraton tidak lebih dari pengawal dan penjaga internal.
Perang Diponegoro (1825–1830) semakin memperlemah struktur militer dan mengguncang kehidupan budaya di lingkungan kraton. Dalam situasi demikian, posisi para empu, seniman, dan pujangga menjadi terdesak. Mereka tetap berkarya, namun tidak lagi untuk kebutuhan besar kraton. Banyak empu akhirnya berkarya di luar benteng, di wilayah Gading Mataram (Bagelen dan Ngentho-entho), menghasilkan tosan aji yang kualitasnya tetap mengesankan meski lahir dalam kondisi penuh keterbatasan.
Tangguh Ngayogyakarta sering disalahpahami sebagai keris “jaman Mataram awal”, padahal lebih tepat bila merujuk pada era Kraton Hamengkubuwono—sering disebut tangguh nem-neman (muda). Karakter keris-keris tangguh ini merupakan percampuran antara gaya Majapahit dan Mataram (Sultan Agung). Bentuknya umumnya normal dan proposional: dedeg tidak terlalu panjang, pawakan sembodo (sepadan), tidak ngadal meteng seperti Surakarta, dan tidak menunjukkan bentuk-bentuk yang berlebihan. Kesannya sederhana, lurus, lugas, namun menyimpan aura angker dan wibawa yang khas.
Karisma keris Mataram HB terletak pada kesederhanaan yang kuat, perpaduan antara keluhuran lama dan adaptasi zaman baru. Ia adalah simbol ketahanan budaya—tosan aji yang tetap hidup meski kraton diguncang perang, politik, dan perubahan dunia.
F214
Tags: keris jalak ngore, Keris Jogja, keris pusaka, keris tangguh HB
Jalak Ngore Segoro Muncar HB Sepuh
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 491 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Jual Pusaka Kudi Kabudhan Kuno Dhapur / Bentuk : Kudi Pamor : Sanak Metorit/ Besi nglempung Tangguh : Kabudhan / setara dengan candi borobudur panjang bilah : 21 cm warangka : kayu Jati handle : kayu Jati senjata primitif nusantara karya adilihung asli unik untuk menambah koleksi anda Kode : PK205
Hubungi AdminSabuk Inten Nggelung Wayang Jenis : Keris Luk 11 Dhapur : Sabuk Inten Pamor : Wos Wutah + Udan Mas Tiban Tangguh : Mataram Abad / Tahun : XVII Warangka : Ladrang Surakarta Bahan Warangka : Kayu Trembalo Pendok : Bunton bahan kuningan sepuh perak Mendak : Parijata Kuningan Sejarah Singkat dan Filosofi Keris Sabuk… selengkapnya
Rp 6.311.000Pusaka Keris Putut Sajen Pamor Singkir Dhapur: Putut Sajen Pamor: Singkir Kode: PK027 INFO SELENGKAPNYA Tentang Pusaka Keris Putut Sajen Pamor Singkir Silahkan Hubungi Kami Melalui Whatsapp/Telp/SMS: 082177400100
Hubungi AdminKeris Tilam Sari HB VII Istimewa Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Sari Pamor (motif lipatan besi) : Tambal Wengkon Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram HB VII / Hamengkubuwono ke-7 Panjang Bilah : 35 cm Pesi Utuh Masih Panjang Original Warangka : Gayaman Yogyakarta Kayu Timoho Handle / Gagang : Yogya Kayu Timoho Pendok… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Sempaner Pamor Setro Banyu Pajajaran Kuno Dhapur Keris (Jenis Bentuk Keris) : Sempaner Pamor (Motif Lipatan Besi) : Setro Banyu/Banyu Mili Tangguh (Perkiraan Masa Pembuatan) : Pajajaran Panjang Bilah : 30 Cm Warangka : Ladrang Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang : Kayu Sawo Ukiran Pendok : Blewah Surakarta Mamas Kuno Mendak : Kuno… selengkapnya
Rp 1.777.000Tombak Korowelang Mataram Senopaten Tombak Korowelang Mataram Senopaten yang satu ini adalah salah satu koleksi dari PusakKeris.Com dengan kode KAR540 siap untuk dialihrawatkan. Dengan bentuk bilah yang masih utuh, pamor yang kontras serta filosofi yang tinggi dari tombak yang satu ini tentu menjadi nilai tersendiri. Berdhapur Korowelang dengan perkiraan masa pembuatan (Tangguh) era Mataram Senopaten… selengkapnya
Rp 3.500.000Keris Mundarang Pamor Bonang Rinenteng TAG141
Rp 17.000.000Keris Parungsari Mataram Senopaten Keris Parungsari Mataram Senopaten merupakan salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris kami. Keris ini termasuk dalam golongan jenis keris luk 13. Jika dilihat dari bentuk dan ricikannya, keris ini berdhapur Parungsari. Untuk pamor yang tergurat di sekujur bilahnya adalah pamor Kulit Semangka. Warangka memakai model Gayaman dari bahan kayu Trembalo, nampak sangat pas dan… selengkapnya
Rp 2.000.000Keris Sempaner Pamor Rojo Gundolo Pajajaran Kuno Keris Sempaner Pamor Rojo Gundolo Pajajaran Kuno adalah salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris. Keris ini termasuk dalam golongan jenis keris lurus. Jika dilihat dari bentuk dan ricikannya, keris ini berdhapur Sempaner. Untuk pamor yang tergurat di sekujur bilahnya adalah pamor Wos Wutah dan pamor Rojo Gundolo pada bagian sor-sorannya. Warangka… selengkapnya
Rp 1.800.000






















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.