Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Keris Pusaka Kyai Sengkelat Mataram Sultan Agung
- Keris Pamor Ron Genduru Sinebit Winengku
- Keris Corok Pajajaran Kuno
- Keris Pusaka Singo Barong Luk 11 Tinatah Emas Mata
- Keris Pamor Mlinjon Sepuh Langka
- Keris Jalak Ngore Pamor Ron Genduru Sinebit Wineng
- Keris Jangkung Luk 3 Keleng Sendang Sedayu Sepuh K
- Keris Naga Sapta Luk 7 Kinatah Kamarogan Kamardika
Jalak Ngore Segoro Muncar HB Sepuh
Rp 5.500.000| Kode | F214 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Jalak Ngore, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Keris Sepuh, Pamor Segoro Muncar, Tangguh Mataram HB (Hamengkubuwono) |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Jalak Ngore |
| Pamor | : Segoro Muncar |
| Pamor Tiban | : Telaga Membleng + Tunggul Wulung |
| Tangguh | : Mataram HB Sepuh |
| Warangka | : Gayaman Yogyakarta, Kayu Gembol Jati |
| Deder/Handle | : Banaran, Kayu Gembol Jati |
| Pendok | : Blewah, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Parijata, Bahan Kuningan |
Jalak Ngore Segoro Muncar HB Sepuh
Jalak Ngore Segoro Muncar HB Sepuh
Keris Jalak Ngore pamor Segoro Muncar bertangguh Mataram HB Sepuh ini adalah salah satu pusaka yang memadukan keanggunan bentuk, kedalaman makna, dan jejak sejarah yang kuat dari era awal Kasultanan Yogyakarta. Dalam bilahnya terpahat simbol-simbol ketekunan dan pelepasan beban hidup sebagaimana filosofi Jalak Ngore, dipadukan dengan pamor Segoro Muncar yang melambangkan kelapangan rezeki dan keluasan relasi. Ciri garap HB Sepuh yang lugas, wibawa, namun tetap menyisakan aura teduh khas Mataram menjadikan pusaka ini bukan sekadar keris, melainkan rekaman perjalanan budaya—lahir dari masa penuh pergolakan, namun tetap memancarkan kekuatan adiluhung yang lestari hingga kini.
Dhapur Jalak Ngore
Dhapur Jalak Ngore dalam khazanah perkerisan Jawa dipandang sebagai simbol pencapaian kebahagiaan batin serta kemampuan melepaskan diri dari berbagai persoalan hidup, khususnya yang berkaitan dengan nafkah. Dalam pandangan masyarakat Jawa, burung — kukila tumraping tiyang Jawi — adalah perlambang pelipur lara; ia memberikan keteduhan hati, menghapus kejengkelan, dan menghadirkan rasa gembira. Gambaran burung yang mengepakkan sayapnya sambil bersuara keras (ngore) menjadi candra kehidupan manusia dalam upaya mencari rezeki demi memenuhi kebutuhan keluarga, lalu kembali ke sarangnya setelah tujuan itu tercapai.
Burung Jalak sendiri adalah hewan peliharaan yang sangat akrab dalam budaya Jawa. Ia dikenal waspada, peka terhadap lingkungan, tidak merugikan sesamanya ketika mencari makan, dan memiliki kesetiaan yang kuat kepada pasangannya. Kata ngore kerap dihubungkan dengan “mudhar” yang bermakna mengurai—suatu proses bergerak aktif melepaskan diri dari persoalan secara sabar, teliti, dan bertahap. Karena itu, Jalak Ngore menjadi simbol ketekunan dan upaya tanpa henti untuk keluar dari kesulitan hidup. Ia melambangkan manusia yang bekerja keras, bijak, dan tetap kembali pada sumber kehidupannya: rumah, keluarga, dan nilai-nilai luhur.
Pamor Segoro Muncar
Pamor Segoro Muncar secara harfiah berarti “lautan yang bergelora atau memancar”, menghadirkan gambaran samudra luas yang penuh dinamika. Dalam dunia tosan aji, pamor ini dipercaya membawa tuah berupa kelancaran rezeki, kemudahan dalam usaha, dan keluasan dalam relasi sosial. Lautan diibaratkan sebagai sumber kehidupan, dan Segoro Muncar mengajarkan bahwa rezeki datang bukan semata karena keberuntungan, tetapi karena usaha yang konsisten, kelapangan hati, dan pikiran yang terbuka.
Makna “meluaskan pergaulan” tidak berhenti pada banyaknya relasi, tetapi pada kemampuan menjalin hubungan yang saling membawa manfaat. Persahabatan menjadi jembatan untuk belajar, bertukar gagasan, dan memperkaya pengalaman. Dalam kelapangan relasi inilah pintu-pintu kesempatan terbuka dari arah yang tidak terduga.
Dengan demikian, Segoro Muncar tidak hanya berbicara tentang kelimpahan materi, tetapi juga pertumbuhan spiritual dan sosial. Ia mengingatkan bahwa hidup yang sejahtera menuntut ketekunan, kebijaksanaan dalam bergaul, serta hati yang luas bak samudra. Seperti lautan yang terus memancar dan tidak pernah berhenti bergerak, demikian pula perjalanan manusia menuju keberkahan.
Tangguh Mataram HB
Keris Jalak Ngore bertangguh Mataram HB (Hamengkubuwono) lahir dari periode sejarah yang penuh pergolakan, dari masa HB I hingga HB V. Masa ini menyaksikan kraton menghadapi tekanan besar, terutama setelah peristiwa pendudukan oleh Inggris dan penandatanganan perjanjian politik antara Sultan HB III dan Thomas Stamford Raffles pada Oktober 1813. Sejak saat itu, kekuatan militer Kasultanan Yogyakarta dipangkas habis; pasukan dibatasi, persenjataan dikontrol, dan fungsi militer kraton tidak lebih dari pengawal dan penjaga internal.
Perang Diponegoro (1825–1830) semakin memperlemah struktur militer dan mengguncang kehidupan budaya di lingkungan kraton. Dalam situasi demikian, posisi para empu, seniman, dan pujangga menjadi terdesak. Mereka tetap berkarya, namun tidak lagi untuk kebutuhan besar kraton. Banyak empu akhirnya berkarya di luar benteng, di wilayah Gading Mataram (Bagelen dan Ngentho-entho), menghasilkan tosan aji yang kualitasnya tetap mengesankan meski lahir dalam kondisi penuh keterbatasan.
Tangguh Ngayogyakarta sering disalahpahami sebagai keris “jaman Mataram awal”, padahal lebih tepat bila merujuk pada era Kraton Hamengkubuwono—sering disebut tangguh nem-neman (muda). Karakter keris-keris tangguh ini merupakan percampuran antara gaya Majapahit dan Mataram (Sultan Agung). Bentuknya umumnya normal dan proposional: dedeg tidak terlalu panjang, pawakan sembodo (sepadan), tidak ngadal meteng seperti Surakarta, dan tidak menunjukkan bentuk-bentuk yang berlebihan. Kesannya sederhana, lurus, lugas, namun menyimpan aura angker dan wibawa yang khas.
Karisma keris Mataram HB terletak pada kesederhanaan yang kuat, perpaduan antara keluhuran lama dan adaptasi zaman baru. Ia adalah simbol ketahanan budaya—tosan aji yang tetap hidup meski kraton diguncang perang, politik, dan perubahan dunia.
F214
Tags: keris jalak ngore, Keris Jogja, keris pusaka, keris tangguh HB
Jalak Ngore Segoro Muncar HB Sepuh
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 489 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Jangkung Luk 3 Tebal Gagah Garap Mataram Kartasura Asli Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jangkung luk 3 Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Kartasura Panjang Bilah : 37 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno Pendok… selengkapnya
Rp 3.555.000Jual Keris Jalak Sangu Tumpeng JST Mataram Sultan Agung Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jalak Sangu Tumpeng Pamor (motif lipatan besi) : Wos Wutah Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Sultan Agung Panjang Bilah : 33 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Trembalo Kuno Handle / Gagang : Kayu Timoho Pendok : Blewah… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Jalak Nguwuh Mpu Koso Madura Sepuh Keris Jalak Nguwuh Mpu Koso Madura Sepuh adalah salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris. Keris ini termasuk dalam golongan jenis keris lurus. Jika dilihat dari bentuk dan ricikannya, keris ini berdhapur Jalak Nguwuh. Untuk pamor yang tergurat di sekujur bilahnya adalah pamor Brahma Watu, yaitu salah satu pamor khas dari… selengkapnya
Rp 2.500.000Pusaka Keris Kuno Pamor Putri Kinurung Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Upih Pamor (motif lipatan besi) : Putri Kinurung Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajajaran Akhir Panjang Bilah : 34 cm Pesi masih utuh panjang original tidak sambungan Warangka : Branggah Jogja Kayu Mangga Hutan Kuno Handle / Gagang : Kayu Sono Keling… selengkapnya
Hubungi AdminTilam Upih Pamor Tirto Tumetes Original Sepuh Keris dhapur Tilam Upih selalu ditempatkan sebagai pusaka yang sarat makna laku hidup. Ia tidak menampilkan kegagahan yang mencolok, tetapi justru memancarkan keteduhan dan kewibawaan yang halus. Sejak dahulu, Tilam Upih kerap dihadirkan dalam peristiwa-peristiwa penting kehidupan, khususnya dalam ikatan perkawinan, sebagai simbol doa agar rumah tangga berlandaskan… selengkapnya
Rp 2.500.000Pulanggeni Pangeran Sedayu Mpu Supo Madrangi Keris Pulanggeni Pulanggeni merupakan salah satu dapur keris yang populer dan banyak dikenal karena memiliki padan nama dengan pusaka Arjuna. Pulang Geni bermakna Ratus atau Dupa atau juga Kemenyan. Bahwa manusia hidup harus berusaha memiliki nama harum dengan berperilaku yang baik, suka tolong menolong dan mengisi hidupnya dengan hal-hal… selengkapnya
Rp 3.555.000Pusaka Keris Tilam Upih Pamor Tritik Tuban Empu Bekel Jati Sepuh Langka Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Upih Pamor (motif lipatan besi) : Tritik Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Tuban (Empu Bekel Jati) Panjang Bilah : 34,5 cm Warangka : Branggah Jogjakarta Kayu Trembalo Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno… selengkapnya
Rp 3.555.000Keris Sempana Pamor Uler Lulut Tangguh Segaluh TUS Keris Sempana Pamor Uler Lulut Tangguh Segaluh TUS – Keris dari era Segaluh kuno dengan dhapur Sempono ini memiliki pamor Uler Lulut yang tampil begitu indah dan otentik. Boleh dikatakan, keris ini merupakan salah satu pusaka era Segaluh yang cukup istimewa. Sebab, menemukan keris dari masa itu… selengkapnya
Rp 13.000.000






















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.