Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Jual Keris Naga Salira Bersayap Luk 23 Kinatah Kam
- Keris Luk 9 Sempono Pamor Pedaringan Kebak Akhodiy
- Tombak Pusaka Baru Kuping Pamor Mrambut
- Keris Brojol Tangguh Tuban
- Keris Naga Sapta Kinatah Kamarogan
- Keris Panji Nom Tangguh Hamengkubuwono HB V ISTIME
- Pusaka Keris Udan Mas Sepuh
- Keris Tangguh Jenggala Abad 13
Jalak Ngore Segoro Muncar HB Sepuh
Rp 5.500.000| Kode | F214 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Jalak Ngore, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Segoro Muncar, Tangguh Yogyakarta (HB) |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Jalak Ngore |
| Pamor | : Segoro Muncar |
| Pamor Tiban | : Telaga Membleng + Tunggul Wulung |
| Tangguh | : Mataram HB Sepuh |
| Warangka | : Gayaman Yogyakarta, Kayu Gembol Jati |
| Deder/Handle | : Banaran, Kayu Gembol Jati |
| Pendok | : Blewah, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Parijata, Bahan Kuningan |
Jalak Ngore Segoro Muncar HB Sepuh
Jalak Ngore Segoro Muncar HB Sepuh
Keris Jalak Ngore pamor Segoro Muncar bertangguh Mataram HB Sepuh ini adalah salah satu pusaka yang memadukan keanggunan bentuk, kedalaman makna, dan jejak sejarah yang kuat dari era awal Kasultanan Yogyakarta. Dalam bilahnya terpahat simbol-simbol ketekunan dan pelepasan beban hidup sebagaimana filosofi Jalak Ngore, dipadukan dengan pamor Segoro Muncar yang melambangkan kelapangan rezeki dan keluasan relasi. Ciri garap HB Sepuh yang lugas, wibawa, namun tetap menyisakan aura teduh khas Mataram menjadikan pusaka ini bukan sekadar keris, melainkan rekaman perjalanan budaya—lahir dari masa penuh pergolakan, namun tetap memancarkan kekuatan adiluhung yang lestari hingga kini.
Dhapur Jalak Ngore
Dhapur Jalak Ngore dalam khazanah perkerisan Jawa dipandang sebagai simbol pencapaian kebahagiaan batin serta kemampuan melepaskan diri dari berbagai persoalan hidup, khususnya yang berkaitan dengan nafkah. Dalam pandangan masyarakat Jawa, burung — kukila tumraping tiyang Jawi — adalah perlambang pelipur lara; ia memberikan keteduhan hati, menghapus kejengkelan, dan menghadirkan rasa gembira. Gambaran burung yang mengepakkan sayapnya sambil bersuara keras (ngore) menjadi candra kehidupan manusia dalam upaya mencari rezeki demi memenuhi kebutuhan keluarga, lalu kembali ke sarangnya setelah tujuan itu tercapai.
Burung Jalak sendiri adalah hewan peliharaan yang sangat akrab dalam budaya Jawa. Ia dikenal waspada, peka terhadap lingkungan, tidak merugikan sesamanya ketika mencari makan, dan memiliki kesetiaan yang kuat kepada pasangannya. Kata ngore kerap dihubungkan dengan “mudhar” yang bermakna mengurai—suatu proses bergerak aktif melepaskan diri dari persoalan secara sabar, teliti, dan bertahap. Karena itu, Jalak Ngore menjadi simbol ketekunan dan upaya tanpa henti untuk keluar dari kesulitan hidup. Ia melambangkan manusia yang bekerja keras, bijak, dan tetap kembali pada sumber kehidupannya: rumah, keluarga, dan nilai-nilai luhur.
Pamor Segoro Muncar
Pamor Segoro Muncar secara harfiah berarti “lautan yang bergelora atau memancar”, menghadirkan gambaran samudra luas yang penuh dinamika. Dalam dunia tosan aji, pamor ini dipercaya membawa tuah berupa kelancaran rezeki, kemudahan dalam usaha, dan keluasan dalam relasi sosial. Lautan diibaratkan sebagai sumber kehidupan, dan Segoro Muncar mengajarkan bahwa rezeki datang bukan semata karena keberuntungan, tetapi karena usaha yang konsisten, kelapangan hati, dan pikiran yang terbuka.
Makna “meluaskan pergaulan” tidak berhenti pada banyaknya relasi, tetapi pada kemampuan menjalin hubungan yang saling membawa manfaat. Persahabatan menjadi jembatan untuk belajar, bertukar gagasan, dan memperkaya pengalaman. Dalam kelapangan relasi inilah pintu-pintu kesempatan terbuka dari arah yang tidak terduga.
Dengan demikian, Segoro Muncar tidak hanya berbicara tentang kelimpahan materi, tetapi juga pertumbuhan spiritual dan sosial. Ia mengingatkan bahwa hidup yang sejahtera menuntut ketekunan, kebijaksanaan dalam bergaul, serta hati yang luas bak samudra. Seperti lautan yang terus memancar dan tidak pernah berhenti bergerak, demikian pula perjalanan manusia menuju keberkahan.
Tangguh Mataram HB
Keris Jalak Ngore bertangguh Mataram HB (Hamengkubuwono) lahir dari periode sejarah yang penuh pergolakan, dari masa HB I hingga HB V. Masa ini menyaksikan kraton menghadapi tekanan besar, terutama setelah peristiwa pendudukan oleh Inggris dan penandatanganan perjanjian politik antara Sultan HB III dan Thomas Stamford Raffles pada Oktober 1813. Sejak saat itu, kekuatan militer Kasultanan Yogyakarta dipangkas habis; pasukan dibatasi, persenjataan dikontrol, dan fungsi militer kraton tidak lebih dari pengawal dan penjaga internal.
Perang Diponegoro (1825–1830) semakin memperlemah struktur militer dan mengguncang kehidupan budaya di lingkungan kraton. Dalam situasi demikian, posisi para empu, seniman, dan pujangga menjadi terdesak. Mereka tetap berkarya, namun tidak lagi untuk kebutuhan besar kraton. Banyak empu akhirnya berkarya di luar benteng, di wilayah Gading Mataram (Bagelen dan Ngentho-entho), menghasilkan tosan aji yang kualitasnya tetap mengesankan meski lahir dalam kondisi penuh keterbatasan.
Tangguh Ngayogyakarta sering disalahpahami sebagai keris “jaman Mataram awal”, padahal lebih tepat bila merujuk pada era Kraton Hamengkubuwono—sering disebut tangguh nem-neman (muda). Karakter keris-keris tangguh ini merupakan percampuran antara gaya Majapahit dan Mataram (Sultan Agung). Bentuknya umumnya normal dan proposional: dedeg tidak terlalu panjang, pawakan sembodo (sepadan), tidak ngadal meteng seperti Surakarta, dan tidak menunjukkan bentuk-bentuk yang berlebihan. Kesannya sederhana, lurus, lugas, namun menyimpan aura angker dan wibawa yang khas.
Karisma keris Mataram HB terletak pada kesederhanaan yang kuat, perpaduan antara keluhuran lama dan adaptasi zaman baru. Ia adalah simbol ketahanan budaya—tosan aji yang tetap hidup meski kraton diguncang perang, politik, dan perubahan dunia.
F214
Tags: keris jalak ngore, Keris Jogja, keris pusaka, keris tangguh HB
Jalak Ngore Segoro Muncar HB Sepuh
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 1.389 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Jual Golok Cibatu Kuno Pamor Damaskus Janur Sinebit Banyu Mili Dhapur/ Nama bentuk Pedang : Golok Cibatu Pamor / Motif Lipatan Besi : Damarkus janur Sinebit Banyu Mili Tangguh : Kuno Panjang bilah tajam : 32,8 cm Panjang Total Ketika Disarungkan : 45 cm Warangka : Kayu jati kuno Handel / Gagang Pedang : Kayu… selengkapnya
Rp 1.555.000Pusaka Keris Sengkelat Tundung Madiun Kinatah Perak Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sengkelat Luk 13 (Kinatah Perak) Pamor (motif lipatan besi) : Ngulit Semangka Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kadipaten Madiun Era Mataram – Tundung Madiun (Abad XVII) Panjang Bilah : 35 cm Warangka : Gayaman Yogyakarta (Kayu Pandan Laut Motif Kendit) Handle… selengkapnya
Rp 2.550.000Dhapur Bima Rangsang Luk 25 Bima Rangsang Luk 25 merupakan salah satu dhapur keris yang sangat langka dijumpai. Sejak dahulu, keris dengan jumlah luk sebanyak ini memang tidak dibuat secara umum, melainkan untuk tujuan-tujuan tertentu sehingga jumlahnya sangat terbatas. Oleh sebab itu, keberadaannya hingga hari ini menjadi sebuah keberuntungan tersendiri bagi siapa pun yang dapat… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Kuno Sempono Parmor Adeg Singkir Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sempono Luk 9 Pamor (motif lipatan besi) : Adeg Singkir Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Blambangan Warangka : Ladrang Suramarta Kayu Timoho Handle / Gagang : Solo, Kayu Kemuning Pendok: Blewah Surakarta Mendak : Selut Kuningan Hias Permata Kode: P520 “Kalis Ing Sambikala” adalah… selengkapnya
Rp 6.111.000Pusaka Keris Marak Pamor Kulit Semangka Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Marak (dhapur langka) Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka (besi padat pulen) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Demak abad ke 15 masehi Panjang Bilah : 33 cm pesi utuh masih panjang original Warangka : Gayaman Jogja Kayu Timoho Handle / Gagang :… selengkapnya
Rp 1.555.000Keris Pusaka Singo Barong Luk 11 Tinatah Emas Mataram Sultan Agung Dalam khazanah tosan aji Nusantara, Singo Barong menempati posisi istimewa sebagai simbol kekuasaan, keberanian, dan kewibawaan. Figur singa jantan yang ditatah pada gandhik bukan sekadar hiasan, melainkan perlambang kekuatan penjaga dan ketegasan pemimpin. Dalam wujud luk 11, keris ini mencerminkan daya gerak yang dinamis—keteguhan… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Sengkelat Mataram Pamor Kulit Semangka Meteorit Bilah Besar Tebal Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sengkelat Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Meteorit Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Abad ke 17 Masehi Panjang Bilah : 37,5 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Trembalo Gandar Iras Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning… selengkapnya
Rp 6.555.000Dhapur Gumbeng Gumbeng merupakan salah satu dhapur keris lurus dengan bentuk yang sederhana dan berkarakter tenang. Sepintas, bentuknya menyerupai Kebo Lajer, terutama pada gandhik yang memanjang, namun bilahnya cenderung lebih lebar. Sebagian besar Keris Gumbeng yang dikenal saat ini berasal dari tangguh sepuh sehingga memiliki nilai historis sekaligus spiritual yang tinggi. Di balik tampilannya yang… selengkapnya
Hubungi Admin






















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.