Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Tilam Sari HB III Sepuh
- Keris Jangkung Luk 3 Tebal Gagah Garap Mataram Kar
- Pusaka Keris Kebo Lajer Pamor Dwi Warna
- Blawong Keris Tombak Pusaka Ukiran Lambang Keraton
- Keris Carang Soka Pamor Nggajih Meteorit Empu Koso
- Pusaka Keris Tindih Jalak Budho Temuan
- Pusaka Tombak Pleret PB IX Pamor Segoro Muncar
- Keris Nogo Siluman Luk 9 Kamardikan
Keris Tilam Sari Majapahit Pamor Ceprit-Ceprit
Rp 4.000.000| Kode | TAG249 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Tilam Sari, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Beras Wutah, Pamor Ceprit, Pamor Tunggak Semi, Tangguh Majapahit |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Tilam Sari |
| Pamor | : Wos Wutah + Tunggak Semi Ceprit-Ceprit |
| Tangguh | : Majapahit |
| Warangka | : Gayaman Yogyakarta, Kayu Trembalo |
| Deder/Handle | : Banaran, Kayu Trembalo |
| Pendok | : Blewah, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Kendhit, Bahan Kuningan |
Keris Tilam Sari Majapahit Pamor Ceprit-Ceprit
Keris Tilam Sari Majapahit Pamor Ceprit-Ceprit
“Daripada memiliki banyak keris atau tombak, lebih baik memiliki satu bilah keris atau tombak tangguh Majapahit.” Demikianlah ungkapan guyonan yang kerap beredar di kalangan kolektor perkerisan. Sekilas terdengar berlebihan, seolah mengangkat keris tangguh Majapahit ke singgasana yang terlalu tinggi. Namun di balik nada bercanda itu, tersimpan makna yang tidak sepenuhnya tanpa dasar.
Bagi sebagian pemerhati dan penggemar keris, tangguh Majapahit dianggap menghadirkan perpaduan yang nyaris seimbang antara garap dan isi. Kualitas material logamnya, teknik tempa lipatnya, hingga kerapian pengerjaannya dipandang memiliki mutu yang unggul. Sementara dari sisi esoteris, angsar keris Majapahit diyakini memiliki daya yang matang, mapan, dan berada di atas rata-rata tangguh lainnya.
Karena itulah, tidak mengherankan bila tangguh Majapahit memiliki penggemar tersendiri—bahkan bisa disebut fanatik. Bukan semata karena nilai sejarah dan estetikanya, tetapi karena keyakinan bahwa pada keris-keris inilah unsur rupa, rasa, dan makna bertemu dalam satu kesatuan yang utuh.
Dhapur Tilam Sari
Tilam Sari merupakan salah satu dhapur keris lurus yang cukup banyak dijumpai di Pulau Jawa. Secara bentuk, dhapur ini memang sangat menyerupai Tilam Upih, sehingga kerap menimbulkan kebingungan di kalangan pemerhati keris. Ricikan yang melekat pada dhapur Tilam Sari antara lain gandik polos berukuran normal, tikel alis, pejetan, sraweyan, serta thingil berbentuk eri pandan.
Secara filosofis, Tilam Sari dalam terminologi Jawa dimaknai sebagai tempat pembaringan. Keris, yang tersusun atas besi, pamor, dan baja, dipahami sebagai simbol kehidupan rumah tangga. Besi dimaknai sebagai wadah, tempat menetapnya pamor atau sari badan; pamor melambangkan sari kehidupan; sementara baja berfungsi sebagai tulang atau ranting yang menguatkan. Tiga unsur ini menjadi perlambang tiga laku utama yang harus ditanamkan dan ditumbuhkan dalam kehidupan berumah tangga.
Bagi seorang suami, wadah bermakna angomahi: mampu menjadi sandaran, pelindung, dan tempat berteduh bagi istri serta anak-anaknya. Sari dimaknai sebagai anuroni, yakni kemampuan memberi nafkah lahir dan batin. Sedangkan tulang atau ranting yang menguatkan bermakna angingoni: tanggung jawab membimbing anak sejak kecil hingga kelak siap menapaki kehidupan mandiri, bahkan sampai mengantarkannya menuju gerbang pernikahan.
Demikian pula bagi seorang istri, ketiga perkara ini memiliki makna yang sama pentingnya. Sebagai wadah, istri dituntut mampu menjaga rahasia suami serta kehormatan keluarga. Sari badan berarti mampu menjadi kebanggaan suami—dalam tutur kata, sikap, hingga busana—serta dapat diandalkan dalam peran pendamping. Sementara tulang atau ranting yang menguatkan dimaknai sebagai kemampuan menutup celah, mengisi kekosongan, dan menjadi partner sejati dalam kehidupan bersama.
Atas dasar filosofi inilah, dhapur Tilam Sari kerap dianjurkan untuk dimiliki oleh mereka yang telah berumah tangga. Angsar-nya yang dipercaya bersifat ngademke atau mendinginkan diyakini mampu menentramkan, menyeimbangkan, serta menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangga.
Pamor Ceprit-Ceprit
Pamor merupakan penampakan dekoratif pada permukaan bilah keris yang dihasilkan melalui proses penempaan dan pelipatan besi, baja, serta bahan pamor. Keanekaragaman corak yang muncul tidak semata berfungsi sebagai unsur estetika, tetapi juga kerap dimaknai sebagai simbol—sebuah penggambaran doa, harapan, dan cita-cita yang menyertai proses penciptaan pusaka tersebut.
Pamor ini disebut Pamor Ceprit, karena pola pamornya tampak tidak beraturan, muncul secara sporadis, dan jumlahnya relatif sedikit atau ngirid. Pamor Ceprit dikenal sebagai salah satu ciri khas keris bertangguh era Majapahit, dengan tampilan yang wingit, angker, dan sepuh—selaras dengan karakter tangguh sepuh yang matang secara usia dan laku empuannya.
Dari sisi tuah, Pamor Ceprit memiliki makna yang beragam. Hal ini karena Pamor Ceprit bukan termasuk pamor rekan, melainkan pamor tiban, yang hadir secara alami tanpa rekayasa pola. Secara simbolik, pamor ini kerap disamakan dengan pamor pengawak wojo sepet, yang dimaknai sebagai perlambang perlindungan diri, ketahanan batin, serta kemampuan beradaptasi dalam berbagai kondisi. Ia juga sering dikaitkan dengan keilmuan kanuragan, kekuatan batin, hingga simbol keberlangsungan rezeki—nunggak semi—yakni kemudahan dalam mencari penghidupan, sekecil apa pun peluang yang ada.
Karena sifatnya yang tiban dan tidak terduga, Pamor Ceprit dikenal memiliki karakter yang kuat, tertutup, dan terkesan angker, seolah menyimpan daya rahasia yang tidak mudah ditangkap oleh sembarang orang. Inilah yang membuat pamor ini kerap dipandang sebagai pamor bagi mereka yang telah matang secara laku, bukan sekadar pencari keindahan rupa.
Pamor Tunggak Semi
Pamor Tunggak Semi atau Nunggak Semi merupakan salah satu motif pamor yang hampir selalu terletak di bagian sor-soran pada bilah keris, tombak, maupun senjata pusaka lainnya. Ciri visualnya berupa garis-garis pamor yang tidak beraturan dan berlapis, dengan bagian puncak yang seolah-olah “tumbuh” ke atas—menyerupai tunas yang sedang bersemi.
Secara terminologis, tunggak dimaknai sebagai sisa batang atau akar pohon yang telah ditebang namun masih tertanam kuat di dalam tanah dan berpeluang untuk hidup kembali. Sementara semi berarti tumbuh atau bersemi. Gabungan makna ini melambangkan sesuatu yang oleh sebagian orang dianggap telah berakhir atau “mati”, namun dengan kehendak dan campur tangan Yang Maha Kuasa dapat hidup kembali, tumbuh, dan berkembang seperti sediakala. Dengan kata lain, Pamor Tunggak Semi menggambarkan perjalanan dari keadaan kecil, lemah, atau terpuruk, menuju kebesaran dan keberhasilan.
Karena makna filosofis tersebut, Pamor Tunggak Semi sangat digemari oleh para pedagang, pengusaha, maupun pemutar modal. Pamor ini dipercaya memiliki tuah untuk mengawal dan membalikkan perjalanan usaha—dari kondisi merugi menuju keuntungan, dari rintisan kecil hingga berkembang menjadi usaha yang mapan. Ia juga kerap dimaknai sebagai simbol pendamping bagi mereka yang tengah memulai usaha baru, melakukan diversifikasi, atau berupaya membesarkan usaha yang telah ada.
Sebagai pamor tiban, Pamor Tunggak Semi tidak dirancang secara khusus oleh sang Empu, melainkan hadir secara alami dalam proses tempa. Oleh karena itu, pamor ini sering dipandang sebagai berkah khusus dari Yang Maha Kuasa. Keyakinan tersebut menegaskan ajaran lama dalam tradisi Jawa: bahwa keberhasilan dan kesuksesan sejatinya berada di tangan Tuhan, sementara manusia berkewajiban untuk berikhtiar—baik secara lahir maupun batin.
Pamor Wos Wutah
Pada bagian tengah dan ujung bilah keris ini tampak pamor yang menyerupai bulatan-bulatan lembut yang tersebar tidak beraturan. Pola inilah yang dikenal sebagai Pamor Wos Wutah atau Beras Wutah.
Secara visual, Pamor Wos Wutah ditandai oleh bercak-bercak kecil berwarna terang yang menyebar di permukaan bilah, menyerupai butiran beras yang tercecer. Dalam simbolisme perkerisan, pamor ini melambangkan rejeki yang melimpah, keberkahan yang datang dari berbagai arah, serta kecukupan hidup yang terus mengalir dan tidak terputus.
Tags: ciri ciri keris majapahit asli, Gambar Keris Majapahit, keris majapahit yang hilang, Keris Tangguh Majapahit, pusaka majapahit yg paling ampuh
Keris Tilam Sari Majapahit Pamor Ceprit-Ceprit
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 428 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Sengkelat Pamor Keleng Keris ini bernama Keris Sengkelat Pamor Keleng yang asli sepuh, berikut penjabaran spesifikasinya : Dhapur Keris : Sengkelat Pamor Keris : Keleng Tangguh Keris : Mataram Senopaten Panjang Bilah : 35,7 cm Kode Produk : KAR594 Filosofi Keris Dengan Dhapur Sengkelat Keris yang satu ini berdhapur Sengkelat dengan jumlah luk 13…. selengkapnya
Rp 2.999.000Pusaka Keris Tilam Upih Pamor Lintas Mas Langka Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Upih Pamor (motif lipatan besi) : Lintas Mas Dan Wos Wutah (Dwi Warno) Pamor tidak putus dari atas sampai bawah bilah. Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Abad Ke 17 masehi Panjang Bilah : 36,8 cm Warangka : Ladrang Surakarta… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Jalak Ngore Tangguh Pakubuwono PB IV Asli Pamor Wos Wutah Kebak Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jalak Ngore Pamor (motif lipatan besi) : Beras Wutah Kebak Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : PB IV (Pakubuwono Ke-4) Panjang Bilah : 35 cm Warangka : Ladrang Surakarta Gandar Iras Kayu Trembalo Kuno Handle / Gagang :… selengkapnya
Rp 9.777.000Jual Keris Tangguh Majapahit Kuno Pamor Banyu Tetes Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Brojol Pamor (motif lipatan besi) : Banyu Tetes Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Majapahit Madya Panjang Bilah : 31 cm Warangka : Gayaman Jogjakarta Kayu Timoho Handle / Gagang : Kayu Kemuning Kuno Pendok : Bunton Jogjakarta Slorok Tembaga Mendak &… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Sabuk Inten Tangguh Pengging Keris Sabuk Inten Tangguh Pengging tentu saja merupakan keris yang punya nilai tersendiri di mata kolektor tosan aji. Bagaimana tidak, keris berdhapur sabuk inten dengan tangguh pengging memang sangat jarang sekali dijumpai. Ditambah pamornya wahyu tumurun yang memenuhi bilah menambah nilai seni dan keindahan dari keris ini. Sekilas pamor keris… selengkapnya
Rp 4.555.000Keris Gonjo Iras Keleng Tangguh Sedayu Majapahit Keris Gonjo Iras Keleng Tangguh Sedayu Majapahit adalah salah satu koleksi pusaka kami yang cukup istimewa. Keris ini memiliki keunikan tersendiri dibanding keris-keris lainnya. Beberapa hal yang menjadikan keris ini istimewa adalah sebagai berikut; Tilam Upih sebagai keris keluarga, dapur tilam upih memang biasa menjadi pusaka turun-temurun, karena inilah… selengkapnya
Rp 4.555.000Keris Nogososro Sabuk Inten Luk 11 Keris Nogososro Sabuk Inten Luk 11 adalah salah satu koleksi keris kamardikan yang sesuai pakem keris ini sebenarnya bernama Nogososro saja. Imbuhan Sabuk Inten di belakangnya adalah trend penyebutan nama keris Nogososro luk 11. Keris Pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten adalah dua benda pusaka berbeda. Nagasasra adalah nama salah… selengkapnya
Rp 2.300.000Pusaka Keris Sabuk Inten Mataram Sultan Agung Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sabuk Inten Luk 11 Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Kebak (Tidak Putus dari ujung sampai pangkal keris) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Sultan Agung Panjang Bilah : 35 cm Pesi Panjang Warangka : Gayaman Jogjakarta Kayu Timoho Kuno Handle… selengkapnya
Hubungi Admin


















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.