Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
Keris Buto Ijo Mataram Senopaten
Rp 4.500.000| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Buto Ijo, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 9, Keris Lurus, Pamor Tunggak Semi, Tangguh Mataram Senopaten |
| Jenis | : Keris Luk 9 |
| Dhapur | : Buto Ijo |
| Pamor | : Tunggak Semi |
| Tangguh | : Mataram Senopaten |
| Warangka | : Gayaman Surakarta, Kayu Trembalo |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Trembalo |
| Pendok | : Blewah, Bahan Mamas |
| Mendak | : Widengan, Bahan Kuningan |
Keris Buto Ijo Mataram Senopaten
Keris Buto Ijo Mataram Senopaten
Keris Buto Ijo bertangguh Mataram Senopaten merupakan pusaka yang memadukan kekuatan simbolik tokoh raksasa dalam khazanah pewayangan dengan karakter awal Dinasti Mataram yang gagah, tegas, dan sarat laku spiritual. Dalam tradisi Jawa, Buto Ijo bukan sekadar gambaran makhluk besar dan menakutkan, melainkan perlambang dari kekuatan dahsyat yang harus ditaklukkan—baik dalam medan pertempuran maupun dalam batin manusia. Pada masa Panembahan Senapati, ketika kerajaan masih bertumpu pada kekuatan prajurit dan kedisiplinan laku, simbol raksasa hijau ini menjadi gambaran tentang keberanian menghadapi musuh terbesar: keserakahan, kemarahan, dan kegelapan dalam diri.
Di tangan para empu Mataram Senopaten, gambaran tersebut diterjemahkan menjadi sebuah bilah yang tegas, enteng saat ditanting, namun tetap memancarkan aura wingit khas masa-masa awal Mataram. Dengan pamor sepuh yang cenderung ramai dan garap bilah yang lugas, keris Buto Ijo dalam tangguh Senopaten tidak hanya menjadi pusaka pertahanan, tetapi juga simbol pengendalian diri dan kewaspadaan. Ia mewakili pesan penting yang diwariskan Panembahan Senapati kepada para ksatria: bahwa kekuatan sejati bukanlah mengalahkan dunia luar, melainkan menaklukkan “buto” dalam diri sendiri.
Dhapur Buto Ijo
Dalam khazanah budaya Jawa, istilah buto merujuk pada sosok raksasa, sementara ijo berarti hijau. Dalam dunia pewayangan, para raksasa—disebut pula denawa atau golongan Asura—digambarkan jauh dari sifat ketuhanan (a-sura: bukan dewa). Bentuknya besar, buruk rupa, dan menakutkan: hidung melengkung seperti tepi perahu (canthiking baita), mata membulat lebar, mulut bergigi besar, taring panjang, rambut gimbal, bulu lebat (dhiwut), dan ekspresi bengis yang mencerminkan sifat jahat.
Tokoh Buto Ijo telah hidup dalam narasi pewayangan maupun cerita rakyat sejak masa Mataram. Pada pemerintahan Mas Jolang (Pangeran Seda Krapyak, 1601–1613), muncul pembuatan wayang denawa jenis baru seperti buto cakil, dengan taring mencuat ke atas dan gerakan tangan yang luwes. Pada masa Sultan Agung (1631 M) muncul pula buto rambut geni, lalu di era Amangkurat I lahir wayang buto alasan atau buto ijo—raksasa bercawat yang membawa parang. Tradisi penciptaan karakter raksasa ini berlanjut hingga Kartasura dengan hadirnya buto gundul atau buto endhog, berhidung besar seperti terung dan bermata satu.
Dalam gambaran masyarakat, Buto Ijo adalah sosok raksasa besar berwarna hijau, berambut gimbal, berhidung besar, dan bertaring melengkung. Ia hidup dalam kerasnya hutan belantara dan ditempa menjadi prajurit tangguh—selalu berada di garis depan dan pantang mundur demi perintah rajanya. Namun di sisi lain, ia juga melambangkan sifat keserakahan manusia: keinginan memiliki semua hal tanpa peduli batas, aturan, atau kepemilikan orang lain. Buto Ijo menjadi cermin sifat rakus yang harus diberantas dalam diri manusia, sekaligus simbol kekuatan destruktif seperti imperialisme dan penindasan.
Meski demikian, dalam ranah spiritual dan esoteri, keris Buto Ijo justru dianggap sebagai pusaka piyandel. Ia dipercaya sebagai “satpam gaib” yang menjaga harta dan usaha pemiliknya, tak mudah diganggu oleh makhluk halus lain. Namun bila ditarik pada pemahaman yang lebih dalam, segala harta dan kekuasaan pada hakikatnya hanyalah titipan dari Yang Maha Kuasa—semuanya dapat diberikan maupun dicabut kapan saja.
Pamor Tunggak Semi
Pamor merupakan motif pada bilah keris yang tercipta melalui proses tempa-lipat besi, baja, dan bahan pamor. Selain memunculkan keindahan visual, pamor juga memuat simbol, doa, serta harapan tertentu.
Pada keris ini, tampak pamor ceprit, motif tidak beraturan yang menjadi ciri khas keris Majapahit. Ia berkesan wingit, sepuh, dan kuat—termasuk pamor tiban yang hadir secara alami dalam proses tempa. Pamor ceprit sering dimaknai sebagai perlindungan diri, ketahanan menghadapi situasi sulit, kemampuan beradaptasi, hingga kemudahan dalam mencari nafkah yang bahkan sekecil apa pun tetap dapat diperoleh.
Di bagian sor-soran bilah juga tampak Pamor Tunggak Semi. Tunggak ialah sisa batang atau akar pohon yang masih tertanam, sedangkan semi berarti tumbuh kembali. Filosofinya sangat dalam: sesuatu yang dianggap telah mati atau tamat, di tangan Tuhan dapat hidup kembali dan tumbuh jauh lebih besar. Itulah sebabnya pamor ini disukai para pedagang dan pemilik usaha—melambangkan pulihnya keadaan dari keterpurukan menuju keberhasilan.
Pamor Tunggak Semi termasuk pamor tiban, bukan pamor rekan, sehingga dianggap sebagai anugerah yang muncul dengan sendirinya dalam bilah. Pesannya jelas: manusia berusaha sekuat mungkin, namun keberhasilan pada akhirnya adalah pemberian Yang Maha Kuasa.
Tangguh Mataram Senopaten
Menurut Keris & Tombak Jawa Dwipa (Sugiri Suganda, 2012), karakter umum keris tangguh Mataram Senopaten memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-
Tanting : cenderung enteng
-
Besi : dominan ngrekes, sebagian halus
-
Pamor : tampak agak banyak
-
Baja : proporsional, sepuhan sebatas wadidang
-
Bilah : ukuran cukup, tidak berlebihan
-
Gonjo : nyecak-nyander, tidak terlalu nglempreh
-
Gandik : agak tipis; sekar kacang kecil
-
Pejetan : tidak terlalu dalam, berbentuk persegi
-
Sogokan : relatif dangkal dan sempit
-
Ada-ada : hanya sampai luk ke-3
-
Kruwingan : samar di atas luk ke-3
-
Luk : sedikit kemba
-
Wedidang : cenderung mblancir
Keris Mataram Senopaten menggambarkan masa awal kebangkitan Mataram Islam di tangan Panembahan Senapati. Garapannya lugas, tegas, namun tetap menyimpan aura wingit sebagai warisan Majapahit. Para empu pada masa Senopaten adalah penerus langsung empu Majapahit, sehingga teknik tempa, pakem bentuk, dan gaya lama tetap melekat kuat.
Kekuatan keris pada masa ini bukan hanya pada fisiknya, tetapi juga pada nilai yang ia wariskan—ketegasan laku, kedisiplinan diri, dan spiritualitas yang kokoh.
Tags: keris buto ijo, keris kuno, keris mataram senopaten, keris sepuh
Keris Buto Ijo Mataram Senopaten
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 1.183 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Jalak Nyucup Madu Pamor Wos Wutah Era Pajajaran Filosofi Keris Jalak Nyucup Madu Keris Jalak Nyucup Madu adalah pusaka yang memancarkan kesederhanaan dan keanggunan. Lebih dari sekadar sebuah senjata, keris ini sarat akan makna mendalam yang mengajarkan jalan menuju makrifat. Bentuknya yang sederhana menjadi simbol ketenangan jiwa yang tidak terpengaruh oleh gemerlap dunia…. selengkapnya
Rp 2.500.000Tombak Pusaka Sigar Jantung Pamor Sanak Dhapur Tombak: Sigar Jantung Pamor Tombak: Sanak Kode: K056 INFO SELENGKAPNYA Tentang Tombak Pusaka Sigar Jantung Pamor Sanak Silahkan Hubungi Kami Melalui Whatsapp/Telp/SMS: 082177400100
Hubungi AdminDhapur Kebo Lajer Dhapur Kebo Lajer merupakan salah satu dhapur keris lurus yang dikenal dengan bentuknya yang tegas dan sederhana. Ciri utamanya terletak pada gandhik yang memanjang dan lugas, sehingga menghadirkan kesan kokoh serta berwibawa tanpa banyak ornamen yang berlebihan. Nama Kebo Lajer mengandung makna simbolik yang erat kaitannya dengan karakter seekor kerbau. Dalam tradisi… selengkapnya
Rp 3.500.000Pusaka Keris Sepang Nogo Kembar Kalacakra Kinatah Kamardikan Alusan Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Kontemporer Sepang Nogo Kembar Kalacakra Pamor (motif lipatan besi) : Keleng (kinatah tembaga sepuh emas) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kamardikan Alusan Panjang Bilah : 36 cm Warangka : Sandhang Walikat Kayu Galeh Jati Handle / Gagang : Kayu Galeh… selengkapnya
Rp 2.250.000Dhapur Gumbeng Gumbeng merupakan salah satu dhapur keris lurus dengan bentuk yang sederhana dan berkarakter tenang. Sepintas, bentuknya menyerupai Kebo Lajer, terutama pada gandhik yang memanjang, namun bilahnya cenderung lebih lebar. Sebagian besar Keris Gumbeng yang dikenal saat ini berasal dari tangguh sepuh sehingga memiliki nilai historis sekaligus spiritual yang tinggi. Di balik tampilannya yang… selengkapnya
Rp 3.350.000Keris Sepang Patrem Pamor Kulit Semangka Asli Sepuh Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sepang (dhapur langka) Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Abad Ke 16 Masehi Panjang Bilah : 23 cm Pesi masih utuh panjang original tidak sambungan Warangka : Wulan Tumanggal Kayu Nagasari Handle /… selengkapnya
Hubungi AdminPusaka Keris Tilam Upih Pamor Udan Mas Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Upih Pamor (motif lipatan besi) : Udan Mas. Pola 2 – 1 – 2 Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajajaran Tus Panjang Bilah : 35 cm (pesi utuh masih panjang original) Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Trembalo Kuno Gandar Iras… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Sepang Naga Kembar Kalacakra Kinatah Kamarogan Unik Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Kontemporer Sepang Naga Kembar Kalacakra (Kinatah Kamarogan Kuningan Sari Sepuh Emas) Pamor (motif lipatan besi) : Keleng Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kamardikan Alusan Istimewa Panjang Bilah : 35 cm Warangka : Sandhang Walikat Kayu Jati Alas Handle / Gagang :… selengkapnya
Rp 1.888.000


















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.