Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Katalog Produk » Kujang Ciung Pusaka Pajajaran Mata 4
click image to preview activate zoom

Kujang Ciung Pusaka Pajajaran Mata 4

Rp 1.700.000
KodeTAG236
Stok Tersedia (1)
Kategori Katalog Produk, Kujang, Pamor Mrambut, Tangguh Pajajaran
Jenis : Kujang
Dhapur : Kujang Ciung Mata Empat
Pamor : Sulangkar
Tangguh : Pajajaran
Warangka : Kowak, Kayu Jati Lawasan
Deder/Handle : Kayu Jati Lawasan
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Kujang Ciung Pusaka Pajajaran Mata 4

KUJANG CIUNG PAMOR SULANGKAR

Sejarah dan Kedudukan Kujang

Kujang merupakan salah satu senjata tradisional yang memiliki kedudukan penting dalam kebudayaan Sunda. Dalam tradisi yang berkaitan dengan Kerajaan Pajajaran, kujang tidak hanya dikenal sebagai senjata, tetapi juga menjadi simbol kedaulatan, kewibawaan, dan identitas kekuasaan.

Kisah mengenai kujang sebagai lambang Pajajaran antara lain dikenal melalui tradisi Pantun Bogor. Salah satu tuturan menyebutkan umbul-umbul Pajajaran berwarna hitam dan putih yang dihiasi gambar kujang serta pakujajar. Ketika Kerajaan Pajajaran mengalami keruntuhan pada akhir abad XVI, sekitar tahun 1579 Masehi, keberadaan kujang dalam kehidupan masyarakat kemudian dikaitkan dengan tradisi penyimpanan dan penyembunyian pusaka.

Dalam penuturan tersebut, kujang seolah menjadi benda yang sinengker, yakni disimpan secara tertutup dan tidak lagi diperlihatkan secara bebas. Gambaran ini menarik apabila dibandingkan dengan arsip foto masa kolonial, yang memperlihatkan sejumlah pejabat pribumi, bangsawan, dan kalangan menak di wilayah Priangan lebih sering membawa atau menyelipkan keris daripada kujang.

Meski demikian, perubahan kedudukan kujang setelah runtuhnya Pajajaran masih memerlukan kajian sejarah lebih lanjut. Tradisi tutur dan dokumentasi visual tersebut dapat menjadi petunjuk untuk memahami perubahan penggunaan senjata tradisional, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kujang sepenuhnya menghilang dari kehidupan seremonial masyarakat Sunda.

Bentuk dan Karakter Kujang Ciung

Kujang Ciung merupakan salah satu bentuk kujang yang memiliki waruga atau bilah dengan siluet menyerupai paruh burung ciung. Burung ini dikenal dalam tradisi Sunda sebagai gambaran makhluk alam atas dan kerap dikaitkan dengan keindahan, kecerdasan, serta kewaspadaan.

Burung ciung memiliki rupa yang menarik, paruh panjang dan lancip, gerakan lincah, serta suara kicauan yang nyaring. Pengambilan bentuk dari dunia hewan dan tumbuhan merupakan salah satu cara masyarakat tradisional mengolah kekayaan alam di sekitarnya menjadi bentuk benda budaya. Bentuk alam tidak sekadar ditiru, tetapi dapat diolah menjadi lambang yang mengandung nilai estetika dan pemaknaan tertentu.

Kujang Ciung termasuk bentuk kujang yang dikenal luas dan memiliki beragam variasi. Bentuk-bentuk yang memiliki kemiripan dengannya dijumpai dalam tradisi kujang di berbagai wilayah, meskipun persebaran, penamaan, dan hubungan historis setiap varian perlu dibedakan berdasarkan bukti yang tersedia.

Secara visual, salah satu ciri yang menonjol ialah susunan dua lengkungan menyerupai sabit yang saling membelakangi. Pada bagian atas terdapat congo atau papatuk, yaitu ujung kujang yang runcing. Lengkungan pada punggung bilah membentuk siih, yakni lekukan atau gerigi yang menjadi salah satu unsur khas bentuk kujang. Sementara itu, bagian bawah membentuk waruga hingga tadah, yaitu bagian menonjol atau melengkung pada pangkal perut kujang.

Perpaduan lengkungan, ujung runcing, dan lekukan tersebut membentuk siluet yang khas. Perbedaan ketebalan, lebar, serta kedalaman lekukan menjadikan setiap bilah memiliki karakter visual tersendiri.

Siloka dan Filosofi Kujang Ciung

Dalam tradisi Pantun Bogor, Kujang Ciung dituturkan sebagai senjata yang berkaitan dengan kalangan berkedudukan tinggi, seperti raja, Prabu Anom, dan pendeta agung kerajaan atau Brahmesta. Penuturan ini memperlihatkan bagaimana bentuk kujang dihubungkan dengan kedudukan sosial dan simbol kewibawaan.

Nama Ciung juga mengingatkan pada tokoh Ciung Wanara, sosok yang dikenal luas dalam tradisi cerita Sunda. Hubungan nama tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari kekayaan simbol dan penuturan budaya, meskipun tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan langsung antara bentuk kujang dan tokoh sejarah tertentu.

Dalam penafsiran tradisional yang berkembang di lingkungan tertentu, kata Ciung juga diuraikan melalui susunan aksara Ca, Ya, Wa, dan Nga. Masing-masing dikaitkan dengan makna berikut:

  • Ca, dimaknai sebagai cahaya.
  • Ya, dimaknai sebagai hurip atau kehidupan.
  • Wa, dimaknai sebagai salaput tunggal, hawa, atau udara.
  • Nga, dimaknai sebagai Nu Kawasa, yakni Yang Mahakuasa.

Dari susunan pemaknaan tersebut, Ciung ditafsirkan sebagai caang, yaitu terang atau tercerahkan. Dalam konteks ajaran udagan kasampurnaan, penafsiran ini dapat dihubungkan dengan upaya manusia untuk mencapai kejernihan batin dan melepaskan diri dari belenggu nafsu duniawi.

Uraian tersebut merupakan siloka dalam tradisi penafsiran budaya Sunda, bukan kaidah etimologi bahasa yang berlaku umum. Nilainya terletak pada pesan filosofis yang diwariskan melalui tradisi tersebut.

Mata atau Lubang Kujang

Salah satu unsur yang menarik pada kujang adalah mata, yaitu lubang-lubang kecil yang terdapat pada bagian bilah. Dalam penjelasan tradisional, lubang-lubang ini disebut pernah diisi atau ditutupi dengan logam mulia seperti emas dan perak, atau dihiasi batu permata. Pada sejumlah benda yang ditemukan sekarang, bagian tersebut hanya menyisakan lubangnya.

Dalam tradisi tertentu, jumlah mata kujang dikaitkan dengan kedudukan sosial, tingkat kewibawaan, atau tingkatan mandala yang dilalui manusia dalam perjalanan kehidupannya. Pengetahuan ini antara lain dikenal dalam lingkungan tradisi Pantun Bogor dan penuturan para prepantun.

Sembilan mandala yang disebut dalam tradisi tersebut adalah:

  1. Mandala Agung, bermata sembilan, kadang disebut medal. Dalam penuturan tradisional dikaitkan dengan Raja Brahmesta dan pandita agung.
  2. Mandala Samar, bermata delapan, kadang disebut ngajadi.
  3. Mandala Jati, bermata tujuh, kadang disebut malik. Dikaitkan dengan Prabu Anom, Mantri Dangka, dan pandita.
  4. Mandala Suda, bermata enam, kadang disebut usik.
  5. Mandala Seba, bermata lima, kadang disebut mangrupa. Dikaitkan dengan bupati dan tokoh tertentu dalam struktur adat.
  6. Mandala Rasa, bermata empat, juga disebut wesi kuning dan kadang disebut gumelar. Dalam penuturan tertentu dikaitkan dengan para putri menak keraton.
  7. Mandala Karna, bermata tiga, kadang disebut gumulung. Dikaitkan dengan para puun.
  8. Mandala Permana, bermata dua, kadang disebut lumenggang.
  9. Mandala Kasungka, bermata satu, kadang disebut ngaherang. Dikaitkan dengan para guru tangtu agama.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa mata kujang tidak hanya dipandang sebagai unsur fisik, tetapi juga memperoleh makna simbolis dalam tradisi tertentu. Namun, hubungan antara jumlah mata, nama mandala, dan kedudukan pemilik sebaiknya dipahami sebagai sistem penafsiran tradisional, bukan ketentuan yang dapat digeneralisasi untuk seluruh kujang Sunda.

Pamor Sulangkar

Kujang ini memiliki pamor Sulangkar, yaitu pola berupa garis-garis atau alur yang tampak memanjang dan relatif sejajar pada permukaan bilah. Dalam penamaan tradisional, istilah sulangkar juga dapat digunakan untuk menyebut garis-garis yang muncul bersama bintik-bintik tidak beraturan, yang dikenal sebagai tutul.

Pada sejumlah kujang tua, pola permukaan logam tidak selalu menunjukkan motif yang teratur seperti pamor pada keris. Garis dan bintik yang muncul dapat berkaitan dengan susunan bahan, proses penempaan, korosi, maupun kondisi permukaan bilah. Karena itu, penamaan Sulangkar perlu mempertimbangkan karakter visual dan tradisi istilah yang digunakan untuk benda tersebut.

Secara tampilan, pola Sulangkar memberikan karakter tersendiri pada Kujang Ciung ini. Garis-garisnya menghadirkan kesan alami dan memperlihatkan permukaan logam yang berbeda dari bilah dengan motif pamor geometris yang lebih teratur.

Kondisi dan Keistimewaan Koleksi

Kujang Ciung ini memiliki empat mata atau lubang, dengan tiga lubang pada bagian tonggong, yaitu punggung bilah, dan satu lubang pada bagian beuteung, yaitu perut bilah.

Jika diperhatikan dengan saksama, ukuran lubang-lubang tersebut tidak sepenuhnya seragam dan bentuknya tidak bulat sempurna. Karakter semacam ini merupakan bagian dari kondisi fisik benda yang patut dicatat. Namun, bentuk lubang saja tidak cukup untuk memastikan usia atau keaslian suatu kujang, sehingga penilaian tetap perlu mempertimbangkan keseluruhan bilah, karakter bahan, pengerjaan, kondisi permukaan, dan pembanding yang relevan.

Kujang Ciung dikenal memiliki banyak variasi bentuk yang dalam penangguhan tradisional dikaitkan dengan rentang masa dari periode Galuh dan Pakuan Pajajaran hingga masa Cirebon, Sumedang Larang, dan Banten. Sebagian penuturan menempatkan variasi tersebut dalam kelompok tangguh Madya Kuno dan Tengahan. Penyebutan ini merupakan kerangka penangguhan tradisional, bukan penanggalan pasti bagi setiap bilah.

Tidak sedikit kujang yang ditemukan dalam kondisi tidak utuh akibat korosi dan kerusakan pada bagian tertentu. Lubang mata dapat terkikis sehingga bentuk aslinya berubah, sementara bagian siih pada punggung bilah juga kerap mengalami kerusakan.

Pada koleksi ini, bagian-bagian utama masih tampak relatif utuh, khususnya bagian siih yang memperlihatkan lekukan atau gerigi pada punggung bilah. Ketebalan bilah juga menjadi salah satu karakter fisik yang menarik untuk diamati.

Keistimewaan Kujang Ciung ini terletak pada perpaduan bentuk yang khas, empat mata kujang, pola Sulangkar, serta kondisi bagian-bagian penting yang masih dapat diamati. Bagi pencinta tosan aji dan budaya Sunda, benda ini menawarkan ruang untuk mempelajari keterampilan pengerjaan logam, tradisi simbol, dan cara masyarakat masa lampau memberikan makna pada benda pusaka.

Kujang tidak hanya menarik sebagai artefak senjata tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari warisan kebudayaan yang menyimpan jejak estetika, pengetahuan, dan pandangan hidup masyarakat Sunda.

 

TAG236

Kujang Ciung Pusaka Pajajaran Mata 4

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 3 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us