Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
Puthut Sajen Keris Pichit Majapahit
Rp 1.550.000| Kode | TAG233 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Dhapur Putut Sajen, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Tangguh Majapahit |
| Jenis | : Keris Leres |
| Dhapur | : Putut Sajen |
| Pamor | : Keleng |
| Tangguh | : Majapahit |
| Warangka | : Sandang Walikat, Kayu Cendana |
| Deder/Handle | : Stilasi Puthut - Iras |
Puthut Sajen Keris Pichit Majapahit
Puthut Sajen Keris Pichit Majapahit
Keris sajen, yang juga dikenal dengan sebutan seking atau keris Majapahit, merupakan salah satu jenis keris dengan bentuk yang relatif sederhana. Keris ini diperkirakan memiliki keterkaitan dengan tradisi perkerisan masa lampau, meskipun penentuan asal-usul dan periodenya tetap memerlukan kajian berdasarkan bentuk bilah, bahan, serta konteks temuannya.
Secara umum, keris sajen berukuran pendek, kurang lebih sepanjang sejengkal tangan. Salah satu ciri yang kerap dijumpai adalah ganja iras, yaitu ganja yang menyatu dengan bilah karena dibuat dari satu kesatuan bahan logam. Pada bagian hulu, sering ditemukan figur manusia yang dibentuk secara sederhana, tetapi memiliki daya tarik tersendiri dari segi simbol dan penggambarannya.
Kesederhanaan juga tampak pada bilahnya. Beberapa keris jenis ini dijumpai tanpa pamor atau dengan pola pamor seperti keleng, sanak, dan mrambut. Pada bentuk yang diperkirakan berasal dari masa lebih muda, ditemukan pula pola seperti banyu mili dan singkir. Keragaman ini menunjukkan bahwa keris sajen tidak selalu hadir dalam satu bentuk yang seragam.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, keris sajen erat dikaitkan dengan kegiatan ritual, khususnya yang berhubungan dengan kehidupan agraris. Dalam upacara bersih desa, misalnya, keris ini dapat menjadi bagian dari ubo rampe sesaji. Keberadaannya dimaknai sebagai bagian dari ikhtiar memohon keselamatan, perlindungan, dan keseimbangan kehidupan masyarakat. Dalam tradisi tertentu, setelah upacara selesai, keris tersebut dipasrahkan kembali kepada bumi dengan cara ditanam di pematang sawah atau ladang.
Hubungan antara keris dan ritual sendiri memiliki jejak sejarah yang panjang. Prasasti Poh tahun 904 Masehi menyebut istilah keris dalam konteks perlengkapan sesaji. Namun, penyebutan tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa keris yang dimaksud telah memiliki bentuk dan karakteristik yang sama dengan keris sajen yang dikenal sekarang.
Dalam sejumlah literatur Barat, keris jenis ini juga disebut Pichit Majapahit. Bentuk hulunya sangat beragam, mulai dari figur manusia yang membungkuk, sosok yang duduk bersila, hingga bentuk kepala yang sederhana. Perbedaan tersebut memperlihatkan kekayaan bentuk dalam tradisi perkerisan sekaligus membuka ruang kajian mengenai perkembangan simbol dan perjumpaan budaya pada masa lampau.
Salah satu temuan yang menarik adalah keris dengan hulu berbentuk puthut, yang ditemukan dalam kegiatan pemugaran awal Candi Borobudur pada tahun 1842. Figur puthut dikenal dalam tradisi Jawa sebagai sosok yang berkaitan dengan lingkungan sanggar, pertapaan, atau pendidikan spiritual. Ia dapat digambarkan sebagai pribadi yang sedang belajar, mengabdi, dan menjalani laku untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam.
Dari sudut pandang filosofi, figur puthut pada hulu keris dapat dimaknai sebagai gambaran kawula alit, yakni manusia yang menyadari keterbatasan dirinya, bersedia belajar, tekun menjalani proses, dan tidak merasa lebih tinggi daripada pengetahuan yang ingin diraihnya.
Di sisi lain, dalam tradisi para empu dikenal pula kisah mengenai besi kadewatan, termasuk besi Pulosani atau Wuryan, yang dipercaya memiliki keistimewaan tertentu. Bahan-bahan tersebut dikaitkan dengan tuah kajen kineringan, yaitu keadaan ketika seseorang dihormati, dipercaya, dan memiliki kewibawaan. Pemaknaan semacam ini merupakan bagian dari kepercayaan dan tradisi tutur dalam dunia perkerisan, sehingga perlu dibedakan dari keterangan yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
Pada akhirnya, keris sajen tidak hanya menarik karena bentuknya yang sederhana atau kaitannya dengan ritual masa lampau. Di dalamnya terdapat pertemuan antara sejarah, keterampilan tempa, seni, kepercayaan, dan pandangan hidup masyarakat yang mewariskannya.
Terlebih ketika kita memperhatikan figur manusia pada bagian hulunya. Sosok kecil yang dibentuk tanpa kemegahan itu dapat menjadi pengingat bahwa manusia tidak akan pernah selesai belajar. Ada kalanya, semakin dalam pengetahuan seseorang, semakin ia memahami batas dirinya dan semakin besar kesediaannya untuk merendah.
Sebab, kekuatan sejati tidak selalu ditunjukkan melalui kemegahan dan kekuasaan, tetapi juga melalui kerendahan hati, ketekunan menjalani laku, dan kejernihan budi.
TAG233
Puthut Sajen Keris Pichit Majapahit
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 4 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Pandito Semedi Damar Murub Kinatah Emas Dhapur: Putut Pandita Semedi Damar Murub Pamor: Pedaringan Kebak Warangka: Gayaman Surakarta Kayu Timoho Hulu/Handle: Kayu Kemuning Bang Pendok: Bunton Kuningan Mamas Mendak: Kendit Kuningan
Hubungi AdminKeris Jangkung Patrem Luk 3 Tangguh Pajang Pamor Akhodiyat Meteorit Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jangkung Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Akhodiyat Meteorit Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajang Panjang Bilah : 27 cm Warangka : Gayaman Jogjakarta Kayu Timoho Handle / Gagang : Kayu Sawo Pendok : Bunton Jogjakarta Kuningan Jeglog… selengkapnya
Rp 1.555.000Keris Yudho Gati Pamor Brahma Watu Sumenep Madura Empu Citranala Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Yudho Gati Pamor (motif lipatan besi) : Brahma Watu Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Sumenep, Madura Sepuh (Empu Citranala) Panjang Bilah : 35,7 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang : Kayu Timoho Kuno Pendok… selengkapnya
Rp 3.999.000Pusaka Keris Naga Liman Luk 7 Pamor Kupu Tarung Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Manglar Monga / Naga Liman Luk 7 (Dhapur Langka) Pamor (motif lipatan besi) : Kupu Tarung (Pamor Sangat Langka) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kasultanan Cirebon Abad Ke 16 Masehi Panjang Bilah :32 cm Warangka : Gayaman Solo Kayu… selengkapnya
Rp 7.550.000Keris Singo Barong Kinatah Emas Keris Singo Barong Kinatah Emas ini juga memiliki nilai filosofi yang luhur. Ornamen atau ganan berbentuk singa menjadi simbol kepemimpinan, kekuasaan dan kadigdayan. Lalu luk berjumlah 5 pada jaman dulu hanya dimiliki oleh golongan ningrat dan bangsawan. Sehingga untuk keris dengan luk berjumlah 5 ini juga memiliki simbolik serta julukan… selengkapnya
Hubungi AdminPusaka Tombak Sigar Jantung Pamor Banyu Mili Dhapur Tombak : Sigar Jantung Tangguh : Pajajaran Abad Ke 16 Masehi pamor : Banyu Mili Panjang Bilah Tombak : 22,2 Cm Panjang Total tombak : 37,2 cm pesi Tombak Mlintir Warangka Tombak : Kayu Jati Kode: PK033 INFO SELENGKAPNYA Tentang Pusaka Tombak Sigar Jantung Pamor Banyu Mili… selengkapnya
Rp 690.000Keris Pamor Kol Buntet Sepuh Dhapur: Jalak Ngore Luk: Lurus Pamor: Kol Buntet Tangguh: Pajajaran Warangka: Gayaman Kayu Trembalo Kuno Hulu: Yudawinatan Kayu Trembalo Kuno Mendak: Widengan Kuningan Pendok: Bunton Kuningan Filosofi Keris Pamor Kol Buntet Dalam kaya budaya Nusantara, Keris Pamor Kol Buntet menjelma menjadi salah satu simbol kearifan dan keindahan warisan nenek moyang…. selengkapnya
Rp 1.999.000Tombak Pusaka Biring Lanang Pamor Sanak Dhapur Tombak: Biring Lanang Pamor: Sanak Kode: PK064 INFO SELENGKAPNYA Tentang Tombak Pusaka Biring Lanang Pamor Sanak Silahkan Hubungi Kami Melalui Whatsapp/Telp/SMS: 082177400100
Hubungi AdminPusaka Keris Sengkelat Luk 13 Gonjo Wilut Pamor Maskumambang Sepuh Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sengkelat Luk 13 Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Abad Ke 17 Masehi Panjang Bilah : 36 cm Warangka : Ladrang Surakarta Gandar Iras Kayu Kemuning Kuno Handle / Gagang :… selengkapnya
Rp 3.333.000


















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.