Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Putut Sajen » Puthut Sajen Keris Pichit Majapahit
click image to preview activate zoom

Puthut Sajen Keris Pichit Majapahit

Rp 1.550.000
KodeTAG233
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Putut Sajen, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Tangguh Majapahit
Jenis : Keris Leres
Dhapur : Putut Sajen
Pamor : Keleng
Tangguh : Majapahit
Warangka : Sandang Walikat, Kayu Cendana
Deder/Handle : Stilasi Puthut - Iras
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Puthut Sajen Keris Pichit Majapahit

Puthut Sajen Keris Pichit Majapahit

Keris sajen, yang juga dikenal dengan sebutan seking atau keris Majapahit, merupakan salah satu jenis keris dengan bentuk yang relatif sederhana. Keris ini diperkirakan memiliki keterkaitan dengan tradisi perkerisan masa lampau, meskipun penentuan asal-usul dan periodenya tetap memerlukan kajian berdasarkan bentuk bilah, bahan, serta konteks temuannya.

Secara umum, keris sajen berukuran pendek, kurang lebih sepanjang sejengkal tangan. Salah satu ciri yang kerap dijumpai adalah ganja iras, yaitu ganja yang menyatu dengan bilah karena dibuat dari satu kesatuan bahan logam. Pada bagian hulu, sering ditemukan figur manusia yang dibentuk secara sederhana, tetapi memiliki daya tarik tersendiri dari segi simbol dan penggambarannya.

Kesederhanaan juga tampak pada bilahnya. Beberapa keris jenis ini dijumpai tanpa pamor atau dengan pola pamor seperti keleng, sanak, dan mrambut. Pada bentuk yang diperkirakan berasal dari masa lebih muda, ditemukan pula pola seperti banyu mili dan singkir. Keragaman ini menunjukkan bahwa keris sajen tidak selalu hadir dalam satu bentuk yang seragam.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, keris sajen erat dikaitkan dengan kegiatan ritual, khususnya yang berhubungan dengan kehidupan agraris. Dalam upacara bersih desa, misalnya, keris ini dapat menjadi bagian dari ubo rampe sesaji. Keberadaannya dimaknai sebagai bagian dari ikhtiar memohon keselamatan, perlindungan, dan keseimbangan kehidupan masyarakat. Dalam tradisi tertentu, setelah upacara selesai, keris tersebut dipasrahkan kembali kepada bumi dengan cara ditanam di pematang sawah atau ladang.

Hubungan antara keris dan ritual sendiri memiliki jejak sejarah yang panjang. Prasasti Poh tahun 904 Masehi menyebut istilah keris dalam konteks perlengkapan sesaji. Namun, penyebutan tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa keris yang dimaksud telah memiliki bentuk dan karakteristik yang sama dengan keris sajen yang dikenal sekarang.

Dalam sejumlah literatur Barat, keris jenis ini juga disebut Pichit Majapahit. Bentuk hulunya sangat beragam, mulai dari figur manusia yang membungkuk, sosok yang duduk bersila, hingga bentuk kepala yang sederhana. Perbedaan tersebut memperlihatkan kekayaan bentuk dalam tradisi perkerisan sekaligus membuka ruang kajian mengenai perkembangan simbol dan perjumpaan budaya pada masa lampau.

Salah satu temuan yang menarik adalah keris dengan hulu berbentuk puthut, yang ditemukan dalam kegiatan pemugaran awal Candi Borobudur pada tahun 1842. Figur puthut dikenal dalam tradisi Jawa sebagai sosok yang berkaitan dengan lingkungan sanggar, pertapaan, atau pendidikan spiritual. Ia dapat digambarkan sebagai pribadi yang sedang belajar, mengabdi, dan menjalani laku untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam.

Dari sudut pandang filosofi, figur puthut pada hulu keris dapat dimaknai sebagai gambaran kawula alit, yakni manusia yang menyadari keterbatasan dirinya, bersedia belajar, tekun menjalani proses, dan tidak merasa lebih tinggi daripada pengetahuan yang ingin diraihnya.

Di sisi lain, dalam tradisi para empu dikenal pula kisah mengenai besi kadewatan, termasuk besi Pulosani atau Wuryan, yang dipercaya memiliki keistimewaan tertentu. Bahan-bahan tersebut dikaitkan dengan tuah kajen kineringan, yaitu keadaan ketika seseorang dihormati, dipercaya, dan memiliki kewibawaan. Pemaknaan semacam ini merupakan bagian dari kepercayaan dan tradisi tutur dalam dunia perkerisan, sehingga perlu dibedakan dari keterangan yang dapat dibuktikan secara ilmiah.

Pada akhirnya, keris sajen tidak hanya menarik karena bentuknya yang sederhana atau kaitannya dengan ritual masa lampau. Di dalamnya terdapat pertemuan antara sejarah, keterampilan tempa, seni, kepercayaan, dan pandangan hidup masyarakat yang mewariskannya.

Terlebih ketika kita memperhatikan figur manusia pada bagian hulunya. Sosok kecil yang dibentuk tanpa kemegahan itu dapat menjadi pengingat bahwa manusia tidak akan pernah selesai belajar. Ada kalanya, semakin dalam pengetahuan seseorang, semakin ia memahami batas dirinya dan semakin besar kesediaannya untuk merendah.

Sebab, kekuatan sejati tidak selalu ditunjukkan melalui kemegahan dan kekuasaan, tetapi juga melalui kerendahan hati, ketekunan menjalani laku, dan kejernihan budi.

 

TAG233

Puthut Sajen Keris Pichit Majapahit

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 4 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us