Menu

Keris Korowelang Luk 13 Tangguh Majapahit Sepuh Kuno

KategoriDhapur Korowelang, Keris, Keris Istimewa, Keris Luk 13, Keris Sepuh, Pamor Beras Wutah, Tangguh Majapahit
KodePK107
Di lihat299 kali
DhapurKorowelang
PamorWos Wutah/Beras Wutah (Meteor Akhodiyat)
TangguhMajapahit Madya (Abad XIV)
Panjang Bilah34 cm
WarangkaLadrang Cirebon Kayu Trembalo Nginden Kuno
Deder/HuluKayu Cendana Ukir Ukiran Gaya Corebon Kuno
MendakTembaga Hias Permata
Harga Rp (Hubungi CS)
SUDAH TERMAHAR

Ulasan Keris Korowelang Luk 13 Tangguh Majapahit Sepuh Kuno

Keris Korowelang Luk 13 Tangguh Majapahit Sepuh Kuno

  • Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Korowelang Luk 13
  • Pamor (motif lipatan besi) : Wos Wutah/Beras Wutah (Meteor Akhodiyat)
  • Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Majapahit Madya (Abad XIV)
  • Panjang Bilah : 34 cm
  • Warangka : Ladrang Cirebon Kayu Trembalo Nginden Kuno
  • Handle / Gagang : Kayu Cendana Ukir Ukiran Gaya Corebon Kuno
  • Mendak : Tembaga Hias Permata
  • Kode: PK107

Dialih rawatkan (dimaharkan) Keris Korowelang Luk 13 Tangguh Majapahit Sepuh Kuno sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Keris Korowelang Luk 13 Tangguh Majapahit Sepuh Kuno Keris Korowelang Luk 13 Tangguh Majapahit Sepuh Kuno Keris Korowelang Luk 13 Tangguh Majapahit Sepuh Kuno

Tentang Keris Korowelang Luk 13 Tangguh Majapahit Sepuh Kuno

KOROWELANG, adalah salah satu bentuk dhapur keris luk tiga belas. Ukuran panjang dan lebar bilah keris ini sedang. Permukaan bilahnya nggigir lembu, karena memakai ada-ada. Keris ber-dhapur Korowelang memakai kembang kacang, lambe gajah-nya hanya satu, dan eri pandan. Selain itu tidak ada lagi ricikan lainnya pada keris ini. Menurut Buku Ensiklopedi Keris karangan Alm. Bambang Harsrinuksmo (2004) keris Korowelang tergolong keris yang langka.

CERITA RAKYAT, Pada zaman Majapahit, keris Prabu Brawijaya bernama Jalak Sumelang Gandring menghilang dari gedong pusaka kerajaan. Dalam sayembara yang diadakan Empu Supa Mandrangi menyanggupi untuk menemukan kembali pusaka kerajaan yang hilang dicuri tersebut. Ia kemudian pergi ke daerah Blambangan dan menyamar menjadi Ki Pitrang. Karena kepandaiannya dalam membuat keris, Ki Pitrang pun menjadi cepat terkenal. Suatu waktu Ki Pitrang dipanggil Adipati Blambangan yang bernama Siyunglaut, untuk membuat keris. Setelah sang Adipati mengeluarkan keris untuk diputrani, Ki Pitrang akhirnya tahu, bahwa keris tersebutlah yang sedang dicari. Ki Pitrang lalu menyanggupi untuk membuat putran keris tersebut. Kemudian dibuatlah sebanyak 2 (dua) bilah keris yang sama persis, dan aslinya disembunyikan. Kemudian 2 (dua) keris putran tersebut dihaturkan kepada Adipati Siyunglaut. Karena gembira hati, Sang Adipati memberikan ganjaran kepada Ki Pitrang putrinya yang bernama Retna Sugiyah. Putri ini sudah beberapa kali menikah, namun pernikahan tersebut tidak pernah lama, sang suami selalu meninggal. Ki Pitrang penasaran, rahasia apa yang sebenarnya terdapat pada sang Putri. Akhirnya rahasia tersebut diketahui, sebab pada kemaluan sang Putri terdapat ular welang, dimana ular tersebut keluar dan menggigit alat kelamin pria yang menyanggamainya. Oleh Ki Pitrang ular welang tersebut dicabut, dan kemudian ditanam di bawah pohon Koro (sejenis polong-polongan). Pada malam hari, ular welang yang ditanam itu hilang, yang tertinggal hanya sebilah keris luk tiga-belas. Oleh Ki Pitrang keris tersebut dinamakan Koro Welang.

CERITA KEPAHLAWANAN, Selain itu terdapat juga kisah Keris Korowelang yang menjadi salah satu piyandel Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I, atau yang lebih akrab di telinga sebagai Pangeran Samber Nyawa yang hingga saat ini pusaka tersebut masih tersimpan di Tugu Ireng Kecamatan Selogiri, Wonogiri, Jawa Tengah. Keris pusaka ini dianggap ‘berjasa’ saat digunakan dalam peperangan melawan Belanda, dan dipercaya memiliki tuah untuk menangkal segala macam halangan dan rintangan yang menghadang. Pangeran Jawa satu ini memang tidak mengenal rasa takut. Sejak usia muda, ia sudah akrab dengan konflik. Pada satu titik dalam hidupnya ketika dewasa, ia harus melawan tiga musuh sekaligus: VOC (Belanda), Kasunanan Surakarta, dan Kesultanan Yogyakarta, sebelum tampil sebagai Mangkunegara I. Sepak-terjangnya susah dihentikan dan justru mengakibatkan banyak “makan” korban dari pihak lawan. Dari situlah ia dijuluki Pangeran Sambernyawa, bahkan sampai akhir per­juangannya tidak pernah dapat ditangkap Belanda.

Dalam bertempur, Pangeran Sambernyawa sendiri merupakan peletak dasar strategi perang gerilya. Yaitu sebuah siasat perang dengan menggunakan tiga teknik yaitu jejemblungan, dhedhemitan, dan weweludan. Jemblung bagai orang gila dan tidak punya rasa takut, dhemit atau hantu yang susah diraba keberadaannya, serta welud atau belut yang sangat licin ketika hendak ditangkap, juga berdasar pada pertimbangan kerahasiaan yang tinggi untuk mengecoh dan menguasai lawan. Secara garis besar, Pangeran Sambernyawa dan pasukannya adalah pasukan elite yang sangat taktis, lihai, dan sukar diendus gerakan maupun keberadaannya. Selain konsep gerilya, ternyata Samberyawa pun membagi pasukannya dalam tiga matra, yaitu matra darat, matra laut, dan matra gunung. Untuk pasukan masing-masing matra sengaja dipilih dari penduduk lokal per matra, sehingga menguasai teknis dan medan pertempuran sesuai karakter masing-masing. Strategi perang itu kemudian ditiru Panglima Besar Jenderal Sudirman, dan kemudian juga dipakai pasukan elite TNI hingga sekarang.

Murub Kumbul Kusumaning Bangsa, “Menyala menjulang kusuma bangsa”. Sudah menjadi rahasia umum, jika Pangeran Sambernyowo menjadi salah satu tokoh yang sangat dikagumi oleh mantan presiden ke-2 yakni Soeharto. Kini, makam Soeharto pun tidak jauh dari makam Pangeran Samber Nyawa. Semangat juang dan rasa kesetia-kawanannya juga sangat menonjol tercermin dalam semboyan perjuangan “Tijitibeh” atau “Mati Siji Mati Kabeh Mukti Siji Mukti Kabeh”, yaitu “Mati satu mati semua, mulia satu mulia semua”. Dapat dimaknai sebagai konsep kebersamaan antara seorang pemimpin dengan rakyat yang dipimpin. Sebuah konsep yang patut ditiru oleh pemimpin saat ini.

Pangeran Samber Nyawa ratusan tahun lalu melahirkan falsafah “Tri Dharma” bahwa dalam membela negara seluruh bangsa hendaknya rumangsa melu handarbeni (merasa memiliki), wajib melu hanggondeli (wajib ikut mempertahankan). Dan ajaran ketiga adalah mulat sarira hangrasa wani atau mawas diri. Falsafah Tri Dharma diajarkan untuk memotivasi rakyat mencintai dan loyal terhadap kerajaan/negerinya. Tidak mengherankan dhapur Koro Welang merupakan dhapur klangenan mereka yang berprofesi dalam kedinasan militer/polri.

Keris Korowelang Luk 13 Tangguh Majapahit Sepuh Kuno Keris Korowelang Luk 13 Tangguh Majapahit Sepuh Kuno Keris Korowelang Luk 13 Tangguh Majapahit Sepuh Kuno

Pamor Wos Wutah atau Beras Wutah

PAMOR BERAS WUTAH, Pamor merupakan penampakan dekoratif pada permukaan bilah yang dihasilkan dari proses penempaan dan pelipatan besi, baja dan bahan pamor. Keaneka-ragaman corak dekoratif itu selain memiliki fungsi estetika (keindahan) juga sering diangap sebagai simbol. Suatu penggambaran akan doa, pengharapan dan cita-cita tertentu.

Secara denotasi wos wutah adalah beras yang tumpah dari tempat penyimpanannya (karena terlampau penuh isinya). Sedangkan secara konotasi dalam pamor wos wutah terkandung rasa ucapan syukur atas berkat rahmat yang telah diberikan oleh Tuhan Semesta Alam. Rasa syukur atas hasil yang diperoleh dari perjuangan panjang memeras keringat, rajin dan tidak pernah menyerah dalam merawat tanaman padi agar menghasilkan produksi panen yang berlimpah. Bukti dari sebuah totalitas nyata seseorang dalam perjuangannya memberikan yang terbaik bagi keluarga, masyarakat dan negerinya. Pamor Wos Wutah atau Beras Wutah oleh sbagian pecinta keris dipercaya tuahnya baik untuk kerejekian.

Keris Korowelang Luk 13 Tangguh Majapahit Sepuh Kuno Keris Korowelang Luk 13 Tangguh Majapahit Sepuh Kuno Keris Korowelang Luk 13 Tangguh Majapahit Sepuh Kuno Keris Korowelang Luk 13 Tangguh Majapahit Sepuh Kuno Keris Korowelang Luk 13 Tangguh Majapahit Sepuh Kuno

Keris Tangguh Majapahit

“Daripada memiliki banyak keris/tombak, lebih baik hanya memiliki sebilah keris/tombak Majapahit”. Itulah pepatah guyonan di kalangan kolektor perkerisan yang tentu saja terlalu menghiperbolakan atau memberi bobot berlebihan pada keris tangguh Majapahit. Namun dalam kalimat bernada bercanda itu, ada makna lain yang mengandung kebenaran. Perpaduan antara sisi garap dan ‘isi’ dianggap sebagian kalangan menyatu dalam komposisi yang pas. Material logam dan tempa lipat keris Majapahit dianggap lebih baik, begitu pula dengan angsar keris Majapahit dipercaya penggemar esoteri di atas rata-rata tangguh lainnya. Tidaklah mengherankan jika tangguh Majapahit adalah salah satu tangguh yang mempunyai penggemar fanatiknya tersendiri.

Incoming search terms:

  • foto keris nogo welang
  • lok 13 keris jawa
Rp 6.500.000
Order Sekarang » SMS : 082 177 400 100
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeK231
Nama BarangKERIS MAGETI ASLI!! Dhapur Jalak Ngore Pamor Mlinjon
Harga Rp 6.500.000
Lihat Detail
Rp 3.111.000
Order Sekarang » SMS : 082 177 400 100
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeK217
Nama BarangKeris Pamengkang Jagad Pamor Janur Sinebit Sepuh Kuno
Harga Rp 3.111.000
Lihat Detail
Rp 4.827.000
Order Sekarang » SMS : 082 177 400 100
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeK228
Nama BarangLANGKA!! Keris Kalawijan Luk 27 Kyai Rangga Wirun Sepuh Kuno
Harga Rp 4.827.000
Lihat Detail
Rp 1.111.000
Order Sekarang » SMS : 082 177 400 100
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodeK139
Nama BarangKeris Brojol Pamor Tangkis Sepuh Kuno
Harga Rp 1.111.000
Lihat Detail

Hubungi Kami

082 177 400 100
082 177 400 100
082 177 400 100
cspusakakeris@gmail.com

Semua Kategori