Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
Keris Carang Soka Gonjo Iras Pamor Singkir
Rp 4.500.000| Kode | PRA061 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Dhapur Carang Soka, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 9, Pamor Adeg, Pamor Singkir, Tangguh Cirebon |
| Jenis | : Keris Luk 9 |
| Dhapur | : Carang Soka |
| Pamor | : Singkir (Adeg) |
| Tangguh | : Cirebon |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Kayu Kemuning |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Kemuning |
| Pendok | : Bunton, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Selut Rujakwuni, Bahan Kuningan |
Keris Carang Soka Gonjo Iras Pamor Singkir
DHAPUR CARANG SOKA – GONJO IRAS
Dhapur Carang Soka merupakan salah satu dhapur keris luk 9. Secara umum, ricikan yang menjadi cirinya antara lain sekar kacang, Jalen, lambe gajah, pejetan, tikel alis, sraweyan, dan greneng.
Hal yang cukup menarik dari keris ini adalah bentuk gonjo yang menyatu dengan bilah. Dalam istilah perkerisan, konstruksi semacam ini disebut gonjo iras, yakni bagian gonjo tidak dibuat sebagai komponen yang terpisah, melainkan masih menyatu dengan bilah sejak proses penempaan. Karena itu, gonjo iras bukan sekadar persoalan bentuk, tetapi juga menjadi salah satu karakter teknis yang menarik untuk diperhatikan ketika mengamati sebuah keris.
Nama Carang Soka secara harfiah dapat dipahami sebagai ranting pohon soka. Carang berarti ranting atau cabang kecil, sedangkan soka merujuk pada pohon soka, tanaman yang dikenal memiliki bunga yang indah dan tumbuh dengan banyak percabangan.
Dari nama tersebut, kita dapat membaca sebuah simbol yang sederhana namun dalam. Ranting adalah bagian kecil dari sebuah pohon, tetapi dari rantinglah daun, bunga, dan kehidupan baru bertumbuh. Ia menjadi penghubung antara batang dengan bagian-bagian pohon yang lebih muda dan terus berkembang.
Karena itu, Carang Soka dapat dimaknai sebagai gambaran tentang pertumbuhan, kesinambungan, dan kemampuan untuk terus berkembang dari akar kehidupan yang telah ada. Ranting boleh tampak kecil, tetapi ia membawa kehidupan menuju ujung-ujung yang baru.
Dalam pembacaan nilai Jawa, makna tersebut dapat menjadi pengingat bahwa manusia pun demikian. Kita tidak pernah berdiri sendiri. Ada akar berupa keluarga, leluhur, pengalaman, ilmu, dan nilai-nilai yang membentuk diri kita. Tugas manusia bukan hanya menikmati apa yang telah diwariskan, tetapi juga meneruskan dan mengembangkannya agar memberikan kehidupan bagi generasi setelahnya.
Dengan demikian, Carang Soka tidak semata-mata dibaca sebagai nama sebuah bentuk keris, tetapi dapat menjadi simbol tentang bagaimana seseorang bertumbuh tanpa melupakan akar, berkembang tanpa memutus hubungan dengan asal-usul, serta memberi manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.
PAMOR SINGKIR
Singkir merupakan salah satu sebutan yang populer di kalangan perkerisan untuk pamor yang membentuk garis-garis membujur dari pangkal hingga mendekati ujung bilah, sebagaimana terlihat pada keris ini.
Secara teknis dan dalam pembacaan pakem pamor, motif seperti ini sebenarnya lebih tepat dikenal sebagai pamor Adeg. Apabila garisnya sangat tipis dan halus, dikenal dengan istilah Adeg Mrambut, sedangkan apabila garisnya lebih tebal disebut Adeg Sapu.
Penyebutan Singkir yang berkembang di kalangan perkerisan memiliki latar budaya tersendiri. Nama tersebut antara lain dikaitkan dengan sosok Empu Singkir, sehingga dalam tradisi lisan masyarakat perkerisan, motif Adeg tertentu kemudian lebih populer disebut sebagai pamor Singkir.
Di sisi lain, nama singkir juga melahirkan pembacaan simbolik. Secara bahasa, singkir berarti menyingkir atau menjauhkan. Dari sinilah pamor ini kemudian sering dimaknai sebagai doa agar pemiliknya mampu menyingkirkan berbagai halangan, marabahaya, dan sambikala, atau dalam ungkapan Jawa disebut kalis ing sambikala.
Namun, pemaknaan seperti ini sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari interpretasi budaya dan doa simbolik, bukan sebagai klaim bahwa pamor secara otomatis memiliki kekuatan tertentu. Dalam tradisi tosan aji, bentuk fisik sebuah pamor sering kali menjadi pintu untuk membaca nilai, harapan, dan doa yang diwariskan oleh masyarakat pendukungnya.
Secara visual, garis-garis lurus pada pamor Adeg juga menghadirkan kesan tegak, teratur, dan memiliki arah. Karena itu, ia dapat dibaca sebagai pengingat agar manusia memiliki arah hidup yang jelas, teguh dalam prinsip, serta mampu menyingkirkan berbagai hal yang menjauhkannya dari tujuan yang baik.
PRA061
Keris Carang Soka Gonjo Iras Pamor Singkir
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 312 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Kujang Sajen Kuno Pamor Banyu Mili Tangguh Pajajaran Dhapur (jenis bentuk) : Kujang Daun / Kujang Sajen / Kujang Putut Pamor (motif lipatan besi) : Banyu Mili Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajajaran Panjang Bilah : 17 cm Panjang Total : 24,5 cm Warangka : Sandhang Walikat Kayu Jati Kode : PK418 Keistimewaan kujang ini:… selengkapnya
Rp 900.000Keris Jangkung Mataram Sultan Agung Pamor Wos Wutah Meteorit Keris Jangkung Mataram Sultan Agung Pamor Wos Wutah Meteorit adalah pusaka yang memancarkan keanggunan dan kekuatan dari masa kejayaan Mataram di bawah Sultan Agung. Dhapur Jangkung melambangkan perlindungan dan harapan, serta pamor Wos Wutah yang dipercaya membawa berkah dan kemakmuran, keris ini menjadi simbol perjalanan spiritual… selengkapnya
Rp 3.333.000Keris Kalawijan Kanjeng Kyai Carito Buntolo Luk 15 Mataram Amangkurat Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Carita Buntala Luk 15 (dhapur langka) Pamor (motif lipatan besi) : Wos Wutah / Beras Wutah kebak Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Amangkurat Abad ke 16 masehi Panjang Bilah : 36 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Cendana… selengkapnya
Rp 12.555.000Keris Sengkelat Asli Majapahit Keris Sengkelat Asli Majapahit memang sangat istimewa. Disamping dapurnya banyak diburu oleh para kolektor keris, tangguhnya pun juga cukup kuno yaitu dari era kerajaan Majapahit. Jika dilihat dari keseluruhan bilah, keris ini masih cukup utuh dengan ricikan yang terlihat kembang kacang, sogokan rangkap, jalen, lambe gajah dan greneng. Jumlah luknya pun… selengkapnya
Rp 8.000.000Keris Tilam Sari Majapahit Pamor Ceprit-Ceprit “Daripada memiliki banyak keris atau tombak, lebih baik memiliki satu bilah keris atau tombak tangguh Majapahit.” Demikianlah ungkapan guyonan yang kerap beredar di kalangan kolektor perkerisan. Sekilas terdengar berlebihan, seolah mengangkat keris tangguh Majapahit ke singgasana yang terlalu tinggi. Namun di balik nada bercanda itu, tersimpan makna yang tidak… selengkapnya
Rp 4.000.000Keris Pamor Kenanga Ginubah Tangguh Tuban Sepuh Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Brojol Pamor (motif lipatan besi) : Kenanga Ginubah Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Tuban Mataram (Abad XV) Panjang Bilah : 35 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang : Model Surakarta Kayu Kemuning Bang Kuno Pendok :… selengkapnya
Rp 1.755.000Kebo Lajer Udan Mas Tiban Dhapur: Mahesa Lajer Pamor: Wahyu Tumurun + Udan Mas Tiban Tangguh: Pajajaran Warangka: Gayaman Jogja Kayu Timoho Lamen Hulu: Kayu Kemuning Bang Pendok: Blewah Kuningan Mamas Lamen Mendak: Khendit Lamen
Rp 3.250.000Tombak Korowelang Mataram Senopaten Tombak Korowelang Mataram Senopaten yang satu ini adalah salah satu koleksi dari PusakKeris.Com dengan kode KAR540 siap untuk dialihrawatkan. Dengan bentuk bilah yang masih utuh, pamor yang kontras serta filosofi yang tinggi dari tombak yang satu ini tentu menjadi nilai tersendiri. Berdhapur Korowelang dengan perkiraan masa pembuatan (Tangguh) era Mataram Senopaten… selengkapnya
Rp 3.500.000




















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.