Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Carang Soka » Keris Carang Soka Gonjo Iras Pamor Singkir
click image to preview activate zoom

Keris Carang Soka Gonjo Iras Pamor Singkir

KodePRA061
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Carang Soka, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 9, Pamor Adeg, Pamor Singkir, Tangguh Blambangan
Jenis : Keris Luk 9
Dhapur Carang Soka
Pamor Singkir (Adeg)
Tangguh Blambangan
Warangka : Ladrang Surakarta, Kayu Kemuning
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Kemuning
Pendok : Bunton, Bahan Kuningan
Mendak : Selut Rujakwuni, Bahan Kuningan
Tentukan pilihan yang tersedia!
INFO HARGA
Silahkan menghubungi kontak kami untuk mendapatkan informasi harga produk ini.
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Carang Soka Gonjo Iras Pamor Singkir

DHAPUR CARANG SOKA – GONJO IRAS

Dhapur Carang Soka merupakan salah satu dhapur keris luk 9. Secara umum, ricikan yang menjadi cirinya antara lain sekar kacang, Jalen, lambe gajah, pejetan, tikel alis, sraweyan, dan greneng.

Hal yang cukup menarik dari keris ini adalah bentuk gonjo yang menyatu dengan bilah. Dalam istilah perkerisan, konstruksi semacam ini disebut gonjo iras, yakni bagian gonjo tidak dibuat sebagai komponen yang terpisah, melainkan masih menyatu dengan bilah sejak proses penempaan. Karena itu, gonjo iras bukan sekadar persoalan bentuk, tetapi juga menjadi salah satu karakter teknis yang menarik untuk diperhatikan ketika mengamati sebuah keris.

Nama Carang Soka secara harfiah dapat dipahami sebagai ranting pohon soka. Carang berarti ranting atau cabang kecil, sedangkan soka merujuk pada pohon soka, tanaman yang dikenal memiliki bunga yang indah dan tumbuh dengan banyak percabangan.

Dari nama tersebut, kita dapat membaca sebuah simbol yang sederhana namun dalam. Ranting adalah bagian kecil dari sebuah pohon, tetapi dari rantinglah daun, bunga, dan kehidupan baru bertumbuh. Ia menjadi penghubung antara batang dengan bagian-bagian pohon yang lebih muda dan terus berkembang.

Karena itu, Carang Soka dapat dimaknai sebagai gambaran tentang pertumbuhan, kesinambungan, dan kemampuan untuk terus berkembang dari akar kehidupan yang telah ada. Ranting boleh tampak kecil, tetapi ia membawa kehidupan menuju ujung-ujung yang baru.

Dalam pembacaan nilai Jawa, makna tersebut dapat menjadi pengingat bahwa manusia pun demikian. Kita tidak pernah berdiri sendiri. Ada akar berupa keluarga, leluhur, pengalaman, ilmu, dan nilai-nilai yang membentuk diri kita. Tugas manusia bukan hanya menikmati apa yang telah diwariskan, tetapi juga meneruskan dan mengembangkannya agar memberikan kehidupan bagi generasi setelahnya.

Dengan demikian, Carang Soka tidak semata-mata dibaca sebagai nama sebuah bentuk keris, tetapi dapat menjadi simbol tentang bagaimana seseorang bertumbuh tanpa melupakan akar, berkembang tanpa memutus hubungan dengan asal-usul, serta memberi manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.

 

PAMOR SINGKIR

Singkir merupakan salah satu sebutan yang populer di kalangan perkerisan untuk pamor yang membentuk garis-garis membujur dari pangkal hingga mendekati ujung bilah, sebagaimana terlihat pada keris ini.

Secara teknis dan dalam pembacaan pakem pamor, motif seperti ini sebenarnya lebih tepat dikenal sebagai pamor Adeg. Apabila garisnya sangat tipis dan halus, dikenal dengan istilah Adeg Mrambut, sedangkan apabila garisnya lebih tebal disebut Adeg Sapu.

Penyebutan Singkir yang berkembang di kalangan perkerisan memiliki latar budaya tersendiri. Nama tersebut antara lain dikaitkan dengan sosok Empu Singkir, sehingga dalam tradisi lisan masyarakat perkerisan, motif Adeg tertentu kemudian lebih populer disebut sebagai pamor Singkir.

Di sisi lain, nama singkir juga melahirkan pembacaan simbolik. Secara bahasa, singkir berarti menyingkir atau menjauhkan. Dari sinilah pamor ini kemudian sering dimaknai sebagai doa agar pemiliknya mampu menyingkirkan berbagai halangan, marabahaya, dan sambikala, atau dalam ungkapan Jawa disebut kalis ing sambikala.

Namun, pemaknaan seperti ini sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari interpretasi budaya dan doa simbolik, bukan sebagai klaim bahwa pamor secara otomatis memiliki kekuatan tertentu. Dalam tradisi tosan aji, bentuk fisik sebuah pamor sering kali menjadi pintu untuk membaca nilai, harapan, dan doa yang diwariskan oleh masyarakat pendukungnya.

Secara visual, garis-garis lurus pada pamor Adeg juga menghadirkan kesan tegak, teratur, dan memiliki arah. Karena itu, ia dapat dibaca sebagai pengingat agar manusia memiliki arah hidup yang jelas, teguh dalam prinsip, serta mampu menyingkirkan berbagai hal yang menjauhkannya dari tujuan yang baik.

 

TANGGUH BLAMBANGAN

Blambangan merupakan salah satu kerajaan yang berkembang di ujung timur Pulau Jawa, kawasan yang kini mencakup wilayah Banyuwangi dan sekitarnya. Blambangan memiliki posisi penting dalam sejarah Jawa karena menjadi salah satu pusat kekuasaan Hindu yang bertahan hingga masa yang relatif akhir.

Dalam tradisi perkerisan, Blambangan kemudian dikenal sebagai salah satu tangguh keris, yaitu istilah yang digunakan untuk membaca perkiraan zaman, lingkungan budaya, serta karakter garap sebuah keris berdasarkan ciri fisik dan teknik pembuatannya.

Secara umum, keris yang dikaitkan dengan tangguh Blambangan memiliki pasikutan yang cenderung ndemes, dengan sosok bilah yang titih atau padat. Pada keris luk, karakter luk-nya sering terasa lebih hambar, tidak terlalu menonjolkan lengkungan yang tajam.

Beberapa ciri teknis lain yang kerap digunakan dalam pembacaan antara lain sirah cecak yang relatif pendek, gandhik pendek dan agak miring, serta wasuhan besi yang terasa padat. Rabaan pada bilah juga dapat terasa cukup keras, salah satunya berkaitan dengan karakter material dan proses pengerjaan pada lingkungan pandai besi di wilayah tersebut.

Pada bagian pamor, keris tangguh Blambangan kerap memperlihatkan pamor yang nggajih dan pandes, dengan sebagian bilah menunjukkan karakter pamor yang mrambut atau nyekrak. Tentu saja, ciri-ciri tersebut tidak dapat digunakan secara tunggal untuk menetapkan tangguh. Pembacaan tangguh merupakan proses yang mempertimbangkan keseluruhan karakter bilah, sehingga perlu dilakukan secara komparatif dan hati-hati.

Menariknya, keberadaan tangguh Blambangan menunjukkan bahwa perjalanan budaya keris tidak hanya berkembang di pusat-pusat kekuasaan Jawa bagian tengah. Wilayah ujung timur Pulau Jawa pun memiliki tradisi penempaan dan karakter kerisnya sendiri.

Karena itu, sebuah keris tangguh Blambangan bukan hanya menarik dari sisi bentuk dan estetika, tetapi juga menjadi jejak kecil dari perjalanan sejarah, teknologi tempa, dan kebudayaan masyarakat di ujung timur Pulau Jawa.

 

PRA061

Keris Carang Soka Gonjo Iras Pamor Singkir

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 19 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us