Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Keris Mundarang Pamor Meteorit Empu Guling Mataram
- Keris Sengkelat Pamor Rojo Abolo Rojo Sepuh Kuno
- Pendok Aksesoris Keris Penutup Gandar Warangka
- Keris Tilam Upih Pamor Tejo Kinurung
- Sempono Pamor Janur Sinebit
- Keris Sabuk Inten Mataram Senopaten Pamor Meteorit
- Keris Pamor Banyu Netes Meteorit Kuno
- Pusaka Tindih Keris Jalak Budha Original Otentik A
Keris Sapukala Pusaka Bugis Kuno
Rp 2.250.000| Kode | PK474 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Sapukala, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Beras Wutah, Tangguh Bugis |
Keris Sapukala Pusaka Bugis Kuno
Keris Sapukala Pusaka Bugis Kuno
- Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sapukala
- Pamor (motif lipatan besi) : Beras Wutah
- Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Bugis Kuno
- Panjang Bilah : 30 cm
- Warangka : Bugis Kayu Timoho
- Handle / Gagang : Kayu Kemuning Ukiran Kuno
- Pendok : Iras
- Mendak : Perak Kuno
- Kode : PK474
ULASAN
Sapukala (Sapu Rata), simbol kejujuran (alempureng), perkataan benar (ada tongeng) dan ketegasan (agettengen).
Ada cerita turun-menurun yang sampai sekarang terus terjaga dari masyarakat Sulawesi Selatan yang meyakini bahwa sejak zaman dahulu manusia yang pertama dikenal sebagai “Tumanurung” yang artinya orang yang turun dari kahyangan, mendiami tanah yang pada sekarang ini disebut dengan nama Luwu.
Berdasarkan cerita turun-temurun yang terus terjaga, masyarakat Sulawesi Selatan meyakini bahwa sejak zaman dahulu manusia pertama dikenal sebagai ‘Tumanurung’ (orang yang turun dari kahyangan), mendiami tanah yang sekarang bernama Luwu. Dan sebagian dari budayawan dan sejarawan Bugis percaya bahwa kerajaan muncul pertama kali di daerah Luwu dengan senjata khasnya berupa kawali atau keris.
Salah satu kekayaan budaya Kerajaan Luwu yang berupa keris, diduga menjadi pusaka para bangsawan dan panglima perang kerajaan, terutama di kalangan orang Bugis-Makassar. Keris dijadikan sebagai simbol dan kebanggaan bagi para pembesar kerajaan tersebut.
Bersumber dari wikipedia; Kedatuan Luwu (juga dieja Luwuq, Wareq, Luwok, Luwu’) adalah salah satu kerajaan Bugis tertua. Pada 1889, Gubernur Hindia Belanda di Makassar menyatakan bahwa masa kejayaan Luwu antara abad ke-10 sampai 14, tetapi tidak ada bukti lebih lanjut. Luwu bersama-sama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka adalah tiga kerajaan Bugis pertama yang tertera dalam epik I La Galigo, sebuah karya orang suku bugis. Namun begitu, I La Galigo tidak dapat diterima sepenuhnya sebagai teks sejarah karena dipenuhi dengan mitos, maka keberadaan kerajaan-kerajaan ini dipertanyakan. Pusat kerajaan ini terletak di Malangke yang kini menjadi wilayah Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Kerajaan Luwu juga disebutkan dalam kitab Kakawin Nagarakretagama, teks pada abad ke-14 sebagai daerah di bawah pengaruh kerajaan Majapahit bersama Lombok Mirah (Lombok), Bantayan (Bantaeng) dan Udamakatraya (Kepulauan Talaud) dan pulau-pulau disekitarnya pada periode Prabu Hayam Wuruk (1350-1389 M).tetapi bukti sejarah penaklukan kerajaan luwu oleh majapahit melainkan perkawinan kerajaan.
Di dalam epik La Galigo, terdapat versi menggambarkan sebuah wilayah pesisir dan sungai yang didefinisikan secara samar-samar yang ekonominya berbasis pada perdagangan. Pusat-pusat penting di wilayah ini adalah Luwu dan kerajaan Cina (diucapkan Cheena tapi identik dalam pengucapan bahasa Indonesia ke China), yang terletak di lembah Cenrana bagian barat, dengan pusat istananya di dekat dusun Sarapao di distrik Pamanna. Ketidakcocokan La Galigo dan ekonomi politik dengan realitas kerajaan agraris Luwu menyebabkan sejarawan Bugis mengajukan periode intervensi kekacauan untuk memisahkan keduanya secara kronologis.
Penelitian arkeologi dan tekstual yang dilakukan sejak tahun 1980-an telah meruntuhkan kronologi ini. Survei dan penggalian yang ekstensif di Luwu telah mengungkapkan bahwa Luwu tidak lebih tua dari kerajaan agraris yang berdiri paling awal di semenanjung barat daya. Pemahaman yang baru adalah bahwa orang Bugis yang berbicara dengan pemukim dari lembah Cénrana barat mulai menetap di sepanjang batas pantai sekitar tahun 1300. Teluk Bone bukanlah daerah yang berbahasa Bugis: ini adalah daerah dengan keragaman etnis yang sangat beragam. Orang Pamona, Padoe, Toala, Wotu dan Lemolang tinggal di dataran rendah pesisir dan kaki bukit, sedangkan lembah dataran tinggi merupakan rumah bagi kelompok yang berbicara dalam berbagai bahasa Sulawesi Tengah dan Selatan lainnya. Orang-orang Bugis ditemukan hampir di sepanjang pantai, yang terbukti bahwa mereka bermigrasi untuk berdagang dengan masyarakat adat Luwu. Sudah jelas bahwa dari sumber arkeologi dan tekstual bahwa Luwu adalah koalisi Bugis dari berbagai kelompok etnis, yang dipersatukan oleh hubungan perdagangan.
Ekonomi politik Luwu didasarkan pada peleburan bijih besi yang dibawa turun, melalui pemerintahan Lémolang di Baebunta, ke Malangke di dataran pantai tengah. Di sini besi yang akan dilelehkan itu diolah menjadi senjata dan alat pertanian dan diekspor ke dataran rendah selatan yang memproduksi beras. Hal ini membawa kekayaan yang besar, dan pada abad ke-14 Luwu telah menjadi entitas yang ditakuti di bagian selatan semenanjung barat daya dan tenggara. Penguasa pertama yang diketahui secara nyata adalah Dewaraja (memerintah 1495-1520). Cerita saat ini di Sulawesi Selatan menceritakan serangan agresifnya terhadap kerajaan tetangga, Wajo dan Sidenreng. Kekuasaan Luwu mulai memudar pada abad ke-16 oleh meningkatnya kekuatan kerajaan agraris dari selatan, dan kekalahan militernya ditetapkan dalam Tawarik Bone.
Pada tanggal 4 atau 5 Februari 1605, Datu Luwu, La Patiwareq, Daeng Pareqbung, menjadi penguasa yang pertama dari wilayah Sulawesi bagian selatan yang memeluk Islam, menggunakan gelar Sultan Muhammad Wali Mu’z’hir (atau Muzahir) al-din. Dia dimakamkan di Malangke dan disebut dalam kronik sebagai Matinroe ri Wareq, (“Dia yang tidur di Wareq”), bekas pusat istana Luwu. Guru agamanya, Dato Sulaiman, dikuburkan di dekatnya. Sekitar tahun 1620, Malangke ditinggalkan dan sebuah ibu kota baru didirikan di sebelah barat, Palopo. Tidak diketahui mengapa wilayah Malangke, yang populasinya mungkin mencapai 15.000 pada abad ke-16, tiba-tiba ditinggalkan: kemungkinan besar termasuk penurunan harga barang besi dan potensi ekonomi perdagangan dengan suku-suku dari dataran tinggi Toraja.
Pada abad ke-19, Luwu telah menjadi kerajaan kecil. James Brooke, yang di kemudian hari menjadi Rajah Sarawak, menulis pada tahun 1830-an bahwa “Luwu adalah kerajaan Bugis tertua, dan yang paling rusak. Palopo adalah kota yang menyedihkan, yang terdiri dari sekitar 300 rumah, tersebar dan bobrok. Sulit dipercaya bahwa Luwu bisa menjadi negara yang kuat, kecuali dalam keadaan peradaban asli yang sangat rendah.”
Pada tahun 1960-an, Luwu menjadi wilayah fokus pemberontakan DI/TII yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar. Dewasa ini, wilayah bekas kerajaan adalah rumah bagi tambang nikel terbesar di dunia dan mengalami ledakan ekonomi yang didorong oleh migrasi ke dalam, namun masih memiliki sebagian besar atmosfer perbatasan aslinya.
Tags: gagang keris bugis, keris bugis, keris bugis asli, keris bugis luk 7, keris melayu, keris pusaka kuno, keris sapukala
Keris Sapukala Pusaka Bugis Kuno
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Baru |
| Dilihat | 4.576 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Carita Keprabon Sultan Agung Keris Carita Keprabon Sultan Agung merupakan salah satu koleksi galeri Pusaka Keris Indonesia yang sangat tua dan sepuh. Keris ini berpamor Wos Wutah atau juga biasa disebut Beras Wutah. Bahan pamor meteorit membuat pamor keris ini nampak indah dan kontras dengan baja bilahnya. Ricikan keris berdhapur Carita Keprabon ini masih… selengkapnya
Rp 2.850.000Keris Pamor Dwi Warno Singkir Toya Mambeg Keris Pamor Dwi Warno Singkir Toya Mambeg merupakan keris yang cukup langka dan unik. Kelangkaan dan keunikan keris ini ada pada pamornya yang sekaligus ada dua pamor yaitu Singkir dan Toya Mambeg. Keris dengan dua pamor dominan seperti ini sudah sangat jarang ditemui. Apalagi untuk keris-keris yang sudah… selengkapnya
Rp 4.500.000Jual Keris Kamardikan Nogo Manglar Bersayap Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Lar Monga / Naga sayap Luk 11 Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Pamor Nggajih Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kamardikan Alusan Pesanan Khusus. Jarang Beredar Dipasaran Panjang Bilah :36 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu SOno Keling Handle / Gagang :… selengkapnya
Hubungi AdminPusaka Tombak Godong Pring Pamor Ujung Gunung Dhapur / Jenis Bentuk Tombak : Godong Pring Tangguh / Masa Pembuatan : Mataram Amangkurat II Pamor / Motif lipatan besi : Junjung Derajad Ujung Gunung Panjang Bilah Tajam : 28 cm Panjang Pesi : 15,5 cm Warangka : Kayu SOno Keling / Rose Wood Landeyan : Kayu… selengkapnya
Hubungi AdminParungsari Mataram Senopaten Parungsari Mataram Senopaten hadir sebagai pertemuan antara keindahan laku batin dan keteguhan sejarah. Dhapur Parungsari yang anggun—berluk tiga belas dengan ricikan lengkap—menyiratkan ajaran tentang keikhlasan dan keseimbangan hidup, sementara tangguh Mataram Senopaten membawa watak kokoh masa peralihan, ketika ruh Majapahit berpadu dengan lahirnya Mataram Islam. Dalam bilahnya terpatri ketenangan yang tidak rapuh… selengkapnya
Rp 4.500.000Pusaka Keris Sabuk Inten Luk 11 Sepuh Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sabuk Inten Pamor (motif lipatan besi) : Ngulit Semangka (Pamor full, tidak putus dari sorsoran hingga ujung bilah) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Sultan Agung Panjang Bilah : 35 cm Warangka : Gayaman Yogyakarta Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Nogo Siluman Pamor Pandan Iris Tambal Keris Nogo Siluman Pamor Pandan Iris Tambal memang memiliki kualitasnya tersendiri. Dari mulai dapurnya yang fenomenal juga pamornya yang indah dan sudah cukup langka. Keris dengan tangguh kamardikan ini tidak kalah menarik, dapur Nogo Siluman berkinatah yang halus dan elegant. Pamor yang begitu estetik dengan penerapan pamor yang… selengkapnya
Rp 2.300.000









WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.