Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Tilam Upih » Keris Tuban Sepuh Tilam Upih
click image to preview activate zoom

Keris Tuban Sepuh Tilam Upih

Rp 2.000.000
KodeTAG062
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Tilam Upih, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Beras Wutah, Tangguh Tuban
Jenis : Keris Leres
Dhapur Tilam Upih
Pamor Wos Wutah
Tangguh Tuban
Warangka : Gayaman Surakarta, Kayu Timoho Iras
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Timoho
Pendok : Bleweh, Bahan Mamas
Mendak : Parijata, Bahan Kuningan
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Tuban Sepuh Tilam Upih

DHAPUR TILAM UPIH

Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang bentuknya sederhana dan sangat dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Gandhik-nya polos, sementara ricikan yang menjadi cirinya antara lain tikel alis dan pejetan. Di beberapa daerah, dhapur ini juga dikenal dengan sebutan Tilam Petak atau Tilam Putih.

Kesederhanaan bentuk tersebut bukan berarti menjadikannya kurang bernilai. Justru Tilam Upih menunjukkan bagaimana sebuah keris dapat memiliki karakter kuat tanpa harus dipenuhi banyak ricikan. Dalam tradisi keraton Yogyakarta, setidaknya dikenal beberapa keris pusaka dengan dhapur Tilam Upih, di antaranya KK Pulanggeni, KK Sirap, dan KK Sri Sadono.

Tilam Upih juga termasuk dhapur yang relatif mudah dijumpai di tengah masyarakat, sebagaimana halnya Brojol. Kesederhanaan ricikannya membuat dhapur ini dapat diterima oleh banyak kalangan. Dari sisi pengerjaan, bentuk yang tidak terlalu rumit juga relatif lebih memungkinkan untuk dibuat dibandingkan dhapur dengan ricikan yang lebih kompleks.

Namun, popularitas Tilam Upih tidak semata-mata karena kemudahan pembuatannya. Nama Tilam Upih sendiri membawa makna yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tilam berarti alas atau tempat berbaring, sedangkan upih adalah pelepah pinang yang pada masa lalu dapat dimanfaatkan sebagai alas.

Dari sini, Tilam Upih dapat dibaca sebagai simbol tempat bersandar, ketenteraman, dan kehidupan yang sederhana namun cukup. Ia mengingatkan bahwa manusia pada akhirnya membutuhkan tempat untuk pulang, beristirahat, dan menata kembali dirinya setelah menjalani perjalanan kehidupan.

Kesederhanaan Tilam Upih menjadi semacam pengingat bahwa kehidupan yang baik tidak selalu harus ditandai oleh kemewahan. Terkadang, yang paling penting justru adalah memiliki tempat berpijak yang kokoh, hati yang tenang, dan kehidupan yang tertata.

 

PAMOR WOS WUTAH

Wos Wutah, secara harfiah berarti beras tumpah. Motif pamor ini ditandai oleh titik-titik atau butiran pamor yang tersebar di permukaan bilah, menyerupai butiran beras yang tercecer atau tumpah.

Dalam budaya agraris Jawa, beras bukan sekadar bahan makanan, tetapi merupakan simbol kehidupan dan kecukupan. Karena itu, Wos Wutah kerap dimaknai sebagai lambang kelimpahan rezeki, kecukupan, dan harapan akan kehidupan yang sejahtera.

Namun, ada pembacaan lain yang tidak kalah menarik. Beras yang sudah tumpah tidak mudah dikembalikan seperti semula. Dari kenyataan sederhana inilah Wos Wutah dapat menjadi sebuah pameling, atau pengingat.

Dalam kehidupan rumah tangga, misalnya, rezeki memang perlu disyukuri, tetapi ada hal lain yang jauh lebih penting untuk dijaga: kepercayaan, penghormatan, dan tutur kata. Sebab ketika kepercayaan telah tumpah dan hati telah terluka, mengembalikannya tidak semudah mengumpulkan kembali butiran beras.

Karena itu, secara filosofis Wos Wutah dapat dibaca sebagai ajakan untuk menjaga apa yang telah dimiliki sebelum kehilangan itu terjadi. Bukan hanya menjaga harta dan rezeki, tetapi juga menjaga hubungan, kepercayaan, serta keharmonisan dalam kehidupan.

Ada detail menarik pada pamor keris ini, khususnya di bagian wuwungan gonjo, tepatnya pada sirah cecak. Di sana tampak sebuah motif pamor tiban yang menyerupai sidik jari. Kemunculan motif tersebut memberikan karakter visual yang sangat khas, seolah menjadi semacam signatur alami yang membedakan bilah ini dari bilah lainnya.

Keunikan seperti ini menjadi salah satu hal yang menarik dalam mengamati sebuah keris. Selain membaca dhapur, pamor, dan tangguh, kita juga dapat menemukan detail-detail individual yang menjadikan setiap bilah memiliki identitas visualnya sendiri.

 

TANGGUH TUBAN

Salah satu daya tarik keris ini adalah karakter tangguh Tuban yang melekat padanya. Dalam tradisi perkerisan, keris Tuban dikenal memiliki karakter yang khas. Keris-keris yang dikaitkan dengan tangguh ini relatif lebih sering dijumpai dalam bentuk lurus, dengan dhapur sederhana seperti Brojol, Tilam Upih, atau Tilam Sari.

Karakter tersebut menarik jika dikaitkan dengan posisi Tuban dalam sejarah Jawa. Pada masa Majapahit, Tuban berkembang sebagai salah satu kota pelabuhan penting dan pusat aktivitas perdagangan serta kesyahbandaran. Lingkungan pesisir yang terbuka terhadap berbagai pertemuan budaya turut membentuk karakter masyarakat dan kebudayaannya.

Dalam pembacaan keris, karakter Tuban secara umum sering dikenali melalui kesan bilah yang sederhana, padat, dan tegas. Bentuknya tidak terlalu mengejar kerumitan ricikan, tetapi justru memperlihatkan kekuatan pada kesederhanaan dan ketegasan garap.

Karena itu, keris Tuban dapat menjadi gambaran menarik tentang bagaimana lingkungan budaya dapat tercermin dalam karya seni tempa. Kesederhanaan bukan berarti tanpa karakter. Justru melalui bentuk yang tidak berlebihan, sebuah bilah dapat menghadirkan kesan jujur, lugas, dan berwibawa.

Tentu, penetapan tangguh tidak cukup hanya berdasarkan satu atau dua ciri. Pembacaan tangguh merupakan proses yang membutuhkan perbandingan berbagai unsur, mulai dari pasikutan, bentuk bilah, ricikan, pamor, material, hingga karakter garap secara keseluruhan.

Pada akhirnya, Tilam Upih dengan pamor Wos Wutah dan karakter Tuban ini seperti mempertemukan tiga gagasan yang sederhana: tempat untuk bersandar, rezeki yang harus disyukuri, dan keteguhan dalam menjalani kehidupan.

Sebuah pengingat bahwa keagungan tidak selalu hadir melalui bentuk yang rumit. Ada kalanya justru dari sesuatu yang sederhana, kita menemukan makna yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.

 

TAG062

Keris Tuban Sepuh Tilam Upih

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 20 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us