Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Keris Tilam Upih Pamor Wiji Timun HB Sepuh
- Deder Pegangan Keris Model Yogyakarta
- Keris Dholog Luk 5 Mataram Senopaten Pamor Wos Wut
- Pusaka Keris Pamengkang Jagad Gonjo Iras
- Keris Sinom Pamor Wengkon Mataram Sultan Agung
- Keris Nogo Kembar Asli Majapahit
- Pusaka Tombak Pleret PB IX Pamor Segoro Muncar
- Keris Carito Genengan Pamor Banyu Mili
Keris Pulanggeni Tangguh Cirebon Sepuh
Rp 4.500.000| Kode | FR066 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Dhapur Pulanggeni, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 5, Pamor Ngulit Semangka, Tangguh Cirebon |
| Jenis | : Keris Luk 5 |
| Dhapur | : Pulanggeni |
| Pamor | : Ngulit Semangka |
| Tangguh | : Cirebon |
| Warangka | : Ladrang Surakarta, Kayu Trembalo |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Kayu Kemuning |
| Pendok | : Bunton, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Rujakwuni, Bahan Kuningan |
Keris Pulanggeni Tangguh Cirebon Sepuh
Dhapur Pulanggeni
Pulanggeni merupakan salah satu nama dhapur keris yang cukup dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Nama ini juga memiliki hubungan yang kuat dengan dunia pewayangan, khususnya tokoh Arjuna, karena Pulanggeni dikenal sebagai salah satu nama atau sebutan bagi pusaka milik Arjuna dalam tradisi pewayangan Jawa.
Secara etimologis, nama Pulanggeni kerap dikaitkan dengan kata api atau sesuatu yang memiliki sifat menyala. Karena itu, nama ini membawa gambaran tentang semangat, keberanian, daya hidup, dan keteguhan dalam menghadapi berbagai keadaan.
Api sendiri memiliki dua sisi. Ia dapat memberikan cahaya dan kehangatan, tetapi apabila tidak dikendalikan juga dapat membakar dan merusak. Dari sinilah Pulanggeni dapat dibaca sebagai simbol tentang energi yang harus dikendalikan oleh kebijaksanaan.
Manusia membutuhkan semangat untuk bergerak, keberanian untuk mengambil keputusan, dan keteguhan untuk mempertahankan prinsip. Namun semua itu tetap membutuhkan pengendalian diri. Sebab keberanian tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi kesembronoan, sementara semangat tanpa kendali dapat membawa seseorang pada kehancuran.
Karena itu, filosofi Pulanggeni dapat diringkas sebagai semangat yang menyala, tetapi tetap berada dalam kendali. Sebuah pengingat bahwa kekuatan terbesar bukan sekadar kemampuan untuk menyala, melainkan kemampuan untuk menjaga api tersebut agar tetap memberikan manfaat.
Pamor Kulit Semangka
Kulit Semangka, atau yang juga dikenal dengan istilah Ngulit Semangka, merupakan salah satu motif pamor yang memiliki pola visual menyerupai kulit buah semangka. Permukaannya menampilkan perpaduan garis atau serat pamor yang memberikan kesan seperti corak pada kulit buah tersebut.
Penamaan pamor dalam tradisi keris sering kali lahir dari kemampuan masyarakat membaca kemiripan bentuk alam dengan motif yang muncul pada bilah. Karena itu, nama Ngulit Semangka menunjukkan hubungan yang sangat dekat antara dunia keris dan lingkungan kehidupan sehari-hari.
Semangka sendiri merupakan buah yang memiliki kulit sebagai lapisan pelindung, sementara bagian dalamnya menyimpan isi yang segar dan bernilai. Dari simbol sederhana ini, pamor Ngulit Semangka dapat dibaca sebagai pengingat bahwa apa yang tampak di luar belum tentu menggambarkan keseluruhan isi di dalam.
Dalam kehidupan manusia, penampilan hanyalah lapisan luar. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang membangun isi diri, watak, pengetahuan, dan laku hidupnya.
Pamor ini juga dapat dimaknai sebagai simbol perlindungan dan ketahanan, sebagaimana kulit yang menjaga isi di dalamnya. Namun perlindungan tidak berarti menutup diri sepenuhnya. Sebagaimana buah tetap memiliki nilai karena isi yang ada di dalamnya, manusia pun dinilai bukan hanya dari penampilan, tetapi dari apa yang ia simpan dan tumbuhkan di dalam dirinya.
Dalam tradisi pemaknaan pamor, Ngulit Semangka dapat dikaitkan dengan harapan agar pemiliknya memiliki ketahanan dalam menghadapi kehidupan, mampu menjaga diri, serta memiliki isi pribadi yang baik dan bermanfaat.
Pemaknaan tersebut merupakan tafsir simbolik yang berkembang dalam kebudayaan perkerisan. Ia dapat dipandang sebagai doa atau pameling, bukan sebagai klaim bahwa motif pamor secara otomatis memberikan kemampuan tertentu.
Tangguh Cirebon
Tangguh Cirebon merupakan salah satu tangguh keris yang dikaitkan dengan perkembangan tradisi tosan aji di lingkungan Kesultanan Cirebon, yang berkembang sebagai salah satu pusat kekuasaan dan kebudayaan penting di pesisir utara Jawa sejak sekitar abad ke-16.
Posisi Cirebon yang berada di wilayah pesisir menjadikannya tempat bertemunya berbagai kebudayaan. Pengaruh Jawa, Sunda, Islam, serta hubungan perdagangan dengan berbagai wilayah turut membentuk karakter kebudayaan Cirebon. Dalam perkembangan tersebut, tradisi pembuatan keris juga tumbuh dan menghasilkan karakter bilah yang kemudian dikenal dalam dunia perkerisan sebagai Tangguh Cirebon.
Secara fisik, pembacaan tangguh Cirebon dapat dilakukan melalui beberapa unsur, terutama pasikutan, pamor, karakter besi, serta bentuk ricikan.
Dari sisi pasikutan, keris Cirebon umumnya memberikan kesan wingit. Kesan tersebut bukan berarti harus dimaknai secara mistis, melainkan lebih kepada karakter visual sebuah bilah yang terasa tua, dalam, dan memiliki kewibawaan tertentu ketika dipandang.
Pada bagian pamor, keris Cirebon memiliki karakter yang cukup beragam. Beberapa motif yang dapat dijumpai antara lain Sanak, Kelengan, Kulit Semangka, Adeg, dan berbagai jenis pamor lainnya. Keragaman tersebut menunjukkan bahwa tradisi tempa di lingkungan Cirebon tidak terpaku pada satu corak pamor tertentu.
Sementara itu, besi pada keris tangguh Cirebon umumnya memberikan kesan hitam agak kecokelatan dan cenderung kering. Karakter besi semacam ini menjadi salah satu unsur yang dapat membantu dalam melakukan pembacaan tangguh, meskipun tentu tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya dasar penentuan.
Pada bagian ganja, keris Cirebon umumnya memiliki bentuk yang relatif tipis, dengan sirah cecak yang pendek dan bagian ujung yang tidak terlalu lancip. Keseluruhan bentuk tersebut kemudian berpadu dengan pasikutan bilah yang memberikan karakter khas Cirebon.
Namun perlu dipahami bahwa ciri-ciri tersebut merupakan pedoman umum dalam tradisi pembacaan tangguh, bukan rumus mutlak. Sebuah keris tidak dapat ditetapkan tangguhnya hanya berdasarkan warna besi atau satu bentuk ricikan saja. Diperlukan pengamatan terhadap keseluruhan karakter bilah dan perbandingan dengan keris pembanding yang telah diketahui tangguhnya.
Menariknya, karakter Cirebon memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi keris berkembang di lingkungan budaya pesisir yang terbuka terhadap berbagai pengaruh. Karena itu, keris Cirebon dapat dipandang sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan yang mempertemukan tradisi Jawa, Sunda, Islam, dan budaya perdagangan pesisir.
Dengan memahami tangguh Cirebon melalui bentuk, material, dan konteks sejarahnya, kita tidak hanya belajar mengidentifikasi sebuah keris, tetapi juga melihat bagaimana sebuah bilah dapat menjadi jejak perjalanan kebudayaan pada zamannya.
FR066
Keris Pulanggeni Tangguh Cirebon Sepuh
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 293 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Singo Barong Kinatah Emas Keris Singo Barong Kinatah Emas adalah salah satu keris koleksi kami yang berusia ratusan tahun. Keris ini sangat sepuh dan tergolong kuno. Jika dilihat dari pasikutan dan material besinya, keris ini bisa diperkirakan dibuat pada era Kerajaan Mataram Senopaten. Keris-keris di era Mataram Senopaten memiliki karakter yang indah namun wingit…. selengkapnya
Rp 39.999.000Keris Jalak Tilam Sari Tangguh PB Sepuh Sederhana dalam rupa, dalam dalam makna Keris pusaka yang satu ini menampilkan sosok yang sederhana namun berkarakter kuat. Garapnya menghadirkan ricikan yang lugas dan proporsional, dengan ghandik tegas, tikel alis, pejetan, sraweyan, serta tingil di bagian belakang yang tersusun harmonis. Pada bagian tengah bilah terdapat ada-ada yang semakin… selengkapnya
Rp 6.500.000Sempono Pamor Banyu Mili Sempono Pamor Banyu Mili, Sebilah keris bukan hanya wujud logam yang ditempa, tetapi cermin dari kepribadian dan laku batin manusia. Demikian pula sebuah keris Sempoño luk sembilan, yang sejak masa lalu dipandang sebagai pusaka para pangabdi—mereka yang memilih jalan ketekunan, kesetiaan, dan pengabdian sebagai dasar kehidupannya. Bentuknya sederhana tetapi berwibawa, mencerminkan… selengkapnya
Rp 3.300.000Keris Tumenggung Pamor Rambut Pinutung Tangguh Blambangan Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tumenggung Pamor (motif lipatan besi) : Rambut Pinutung Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Blambangan Era Majapahit Panjang Bilah :32,5 cm Warangka : Ladrang Surakarta Gandar Iras Kayu Sono Keling Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno Pendok : – Mendak :… selengkapnya
Hubungi AdminPusaka Keris Putut Sombro Pajajaran Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Putut Betok Sombro Pamor (motif lipatan besi) : Tiban Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajajaran (abad ke 14 masehi) Panjang total : 25,5 cm Warangka : Sandhang Walikat Kayu Sono Kembang (rose Wood) Kode: PK053 INFO SELENGKAPNYA Tentang Pusaka Keris Putut Sombro Pajajaran Silahkan… selengkapnya
Hubungi AdminSengkelat Luk 13 Dhapur: Sengkelat Pamor: Beras Wutah Tangguh: Mataram Abad 17 Masehi Warangka: Ladrang Surakarta Kayu Trembalo Hulu/Handle: Yudawinatan Kayu Kemuning Bang Pendok: Blewah Kuningan Mamas Mendak: Bejen Kuningan
Rp 4.133.000Keris Pamor Rojo Gundolo Tangguh Tuban Sepuh Keris Pamor Rojo Gundolo Tangguh Tuban Sepuh – Keris Pusaka Brojol dengan pamor Rojo Gundolo. Keris ini merupakan keris sepuh dari Kadipaten Tuban era Majapahit. Pamor Rojo Gundolo adalah salah satu motif pamor yang lazim ditemukan pada sor-soran keris. Bentuknya menyerupai lukisan abstrak yang sekilas menampilkan sosok makhluk misterius,… selengkapnya
Rp 15.100.000


















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.