Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
Keris dan Dukun
Keris dan Dukun
Hari ini, cara pandang terhadap keris telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Keris tidak lagi semata-mata diposisikan sebagai benda mistis yang identik dengan dukun, mantra, atau kisah-kisah horor sebagaimana kerap digambarkan dalam film dan cerita populer. Gambaran semacam ini memang terlanjur mengendap kuat di benak masyarakat, seolah-olah keris hanya hidup di ruang gelap penuh klenik dan jauh dari nalar.
Padahal, kenyataannya keris telah lama melampaui stigma tersebut. Keris kini telah memasuki ruang akademik, ruang kajian ilmiah, bahkan ruang pendidikan formal. Salah satu bukti paling nyata adalah berdirinya Program Studi Keris di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Kehadiran program studi ini bukan sekadar simbol, melainkan penanda penting bahwa keris dipelajari, diteliti, dan dikembangkan sebagai objek ilmu pengetahuan—bukan sebagai praktik perdukunan.
Pada titik inilah kita perlu menegaskan satu hal yang kerap kabur dalam diskursus publik: dukun bukanlah ahli keris. Seorang dukun mungkin memiliki laku spiritual, kepercayaan batin, atau praktik pengobatan tradisional tertentu. Namun keahlian tersebut tidak serta-merta menjadikannya memahami keris sebagai produk sejarah, karya seni, dan hasil peradaban. Ahli keris bekerja dengan pengetahuan, metode, dan kajian, bukan dengan klaim suprarasional semata.
Namun demikian, tidak adil pula jika unsur mistisisme dalam tradisi perkerisan sepenuhnya dinafikan. Dalam perjalanan sejarahnya, istilah-istilah mistik memang kerap muncul dan menyertai pemahaman tentang keris. Hal ini wajar, sebab pengetahuan tentang keris tumbuh secara bertahap dan mengikuti cara berpikir pada zamannya. Untuk menempatkan unsur mistik secara proporsional, kita perlu memahami fase-fase perkembangan kawruh paduwungan sebagaimana diklasifikasikan oleh Bapak Haryono Haryoguritno.
Fase pertama adalah kawruh paduwungan klasik. Salah satu rujukan utama pada tahap ini adalah Serat Centhini, yang ditulis pada masa pemerintahan Pakubuwana IV oleh Empu Ronggo Sutrasno. Serat ini memuat legenda, mitologi, kepercayaan personal, kisah perjalanan, serta sejarah perorangan yang sangat subjektif. Pengetahuan pada fase ini belum disusun secara sistematis dan belum dibukukan sebagai disiplin ilmu. Ia lebih tepat disebut sebagai seserepan—pengetahuan yang terserak, bukan ilmu yang terstruktur. Pada fase inilah unsur-unsur mistik sangat kental, bukan karena keris itu sendiri, melainkan karena cara pengetahuannya.
Fase kedua adalah kawruh paduwungan tradisional. Fase ini dipersonifikasikan oleh Gusti Pangeran Hadi Wijoyo dan mulai berkembang di lingkungan Keraton Surakarta sekitar tahun 1920. Pada masa ini muncul upaya untuk menata pengetahuan tentang keris agar lebih rapi dan terpilah dibandingkan kawruh klasik. Meski demikian, pendekatan yang digunakan masih belum bersifat ilmiah. Kawruh paduwungan tradisional lebih merupakan proses penajaman dan penyaringan dari pengetahuan sebelumnya. Walau belum ilmiah, fase ini memiliki peran penting sebagai jembatan menuju lahirnya ilmu perkerisan modern.
Fase ketiga adalah ilmu perkerisan modern, yang kini dikenal sebagai krisologi. Pada tahap inilah terjadi perubahan mendasar. Keris tidak lagi dipahami semata melalui rasa, kepercayaan, atau tafsir mistik, melainkan dikaji dengan pendekatan multidisipliner. Rujukannya dapat ditemukan dalam karya-karya tokoh seperti Bapak Haryono Haryoguritno, salah satunya melalui buku Keris Jawa: Antara Mistik dan Nalar. Dalam krisologi, keris dikaji melalui perspektif antropologi, sejarah, arkeologi, sosiologi, seni, hingga teknologi material. Ilmu perkerisan modern berdiri di atas dialog dengan banyak cabang ilmu lain agar kokoh secara akademik.
Inilah tahap yang hari ini harus terus dikembangkan. Sebagaimana pernah disampaikan oleh Bapak Haryono Haryoguritno, pengembangan krisologi merupakan bentuk “membayar utang kita kepada dunia”—utang pengetahuan, utang penjelasan, dan utang tanggung jawab ilmiah. Terlebih setelah keris diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Pengakuan ini bukan semata-mata kebanggaan, melainkan juga kewajiban untuk menjelaskan keris secara rasional, ilmiah, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat modern.
Tanpa kawruh paduwungan klasik dan tradisional, krisologi modern tentu tidak akan pernah lahir. Namun berhenti pada mistik justru akan membuat keris kehilangan martabatnya. Di sinilah penegasan itu kembali menjadi penting: dukun bukanlah ahli keris. Ahli keris adalah mereka yang bersedia belajar, meneliti, membaca konteks sejarah, serta memahami keris sebagai hasil kecerdasan peradaban Nusantara.
Keris tidak kehilangan nilainya ketika didekati dengan akal sehat. Justru sebaliknya, martabat keris akan semakin tinggi ketika ia dipahami melalui ilmu pengetahuan, bukan sekadar ditakuti lewat mitos. Keris bukan benda horor. Ia adalah warisan intelektual dan budaya. Dan sudah semestinya kita memperlakukan keris sebagaimana martabatnya.
penulis: Daksa Niyata (Tosan Aji Group)
Keris dan Dukun
Filosofi Keris Pamor Tunggak Semi Tunggak Semi atau Nunggak Semi adalah salah satu pamor keris yang cukup unik. Pola... selengkapnya
Batik Jawa Hokokai: Memahami Karya Seni Batik Saat Penjajahan Jepang Batik Jawa Hokokai, sebuah warisan seni yang unik dan berharga,... selengkapnya
Tari Kecak: Memikat Jiwa dengan Ritme dan Gerak yang Megah Di pulau Bali yang mempesona, keberagaman seni tari menjadi bagian... selengkapnya
Tips Menjadi Kolektor Keris Tips Menjadi Kolektor Keris adalah artikel yang akan saya buat untuk para pecinta tosan aji pusaka... selengkapnya
Meratap Kehilangan: Punahnya Budaya Keris dalam Sorotan Budaya keris, yang selama berabad-abad menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Indonesia, menghadapi... selengkapnya
Ken Arok: Antara Legenda dan Sejarah dalam Berdirinya Kerajaan Singhasari Sejarah Indonesia dipenuhi dengan berbagai tokoh dan peristiwa yang memberikan... selengkapnya
Keris Bali: Simbol Kekuatan dan Spiritualitas dalam Budaya Pulau Dewata Pulau Bali, yang dikenal sebagai “Pulau Dewata,” tidak hanya terkenal... selengkapnya
Keris Jalak Sangu Tumpeng: Karya Seni Budaya Nusantara yang Memukau Indonesia adalah negeri yang kaya akan budaya dan warisan seni... selengkapnya
Keris Sebagai Simbol Kasta dan Strata Sosial Keris Sebagai Simbol Kasta dan Strata Sosial – Konon Pada awalnya di tanah... selengkapnya
Sejarah Amangkurat: Perebutan Kekuasaan dan Dinasti Mataram Amangkurat adalah salah satu nama yang mengemuka dalam sejarah dinasti Mataram di Jawa,... selengkapnya
Jalak Ngore Pamor Wos Wutah Byor Dhapur: Jalak Ngore Pamor: Wos Wutah Tangguh: Tuban Winongan Warangka: Branggah Yogyakarta Kayu Timoho… selengkapnya
Rp 7.111.000Dhapur Langka!! Keris Sempono Luk 11 Sepuh Dhapur Langka!! Keris Sempono Luk 11 Sepuh adalah salah satu dari ratusan koleksi pusaka… selengkapnya
Rp 9.111.000Keris Dholog Pamor Pedaringan Kebak Meteorit Keris Dholog Pamor Pedaringan Kebak Meteorit merupakan keris koleksi kami yang memiliki pampr cukup… selengkapnya
Rp 3.555.000Pusaka Keris Carubuk Pamor Pulo Tirto Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Carubuk Luk 7 Pamor (motif lipatan besi)… selengkapnya
Rp 2.750.000Keris Pamor Udan Mas Dhapur Tilam Upih Sepuh Warangka Cendana Wangi Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Upih Pamor… selengkapnya
Rp 7.555.000Keris Panimbal Luk 9 Mataram Senopaten Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Panimbal Luk 9 Pamor (motif lipatan besi) :… selengkapnya
Rp 2.777.000Keris Tindih Bethok Gumbeng Pamor Rojogundolo Pajajaran Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Bethok Gumbeng Pamor (motif lipatan besi)… selengkapnya
Rp 3.333.000Keris Sengkelat Pamor Pulo Tirto Amangkurat I Mengenal Keris Sengkelat merupakan salah satu koleksi dengan dhapur Sengkelat luk 13. Keris… selengkapnya
Rp 9.300.000
WhatsApp us
Saat ini belum tersedia komentar.