Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
Keris Luk 13 Tundung Madiun
Rp 5.000.000| Kode | PRA208 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Parungsari, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 13, Pamor Ngulit Semangka, Tangguh Madiun |
| Jenis | : Keris Luk 13 |
| Dhapur | : Parungsari |
| Pamor | : Kulit Semangka |
| Tangguh | : Madiun |
| Warangka | : Ladrang Surakarta Kayu Trembalo Iras |
| Hulu/Deder | : Yudawinatan Kayu Trembalo |
| Pendok | : Blewah Bahan Mamas |
| Mendak | : Kendit Bahan Kuningan |
Keris Luk 13 Tundung Madiun
Keris Luk 13 Tundung Madiun
Dhapur Keris Parungsari
Parungsari merupakan salah satu dhapur keris berluk tiga belas dengan ukuran bilah sedang. Dapur ini dikenal memiliki ricikan yang relatif lengkap, antara lain kembang kacang—ada yang berjenggot dan ada pula yang tanpa jenggot—lambe gajah dua, sraweyan, sogokan rangkap, pejetan, serta greneng.
Sekilas, Parungsari kerap disamakan dengan dhapur Sengkelat. Namun perbedaan paling mendasar di antara keduanya terletak pada jumlah lambe gajah: Parungsari selalu memiliki dua lambe gajah, sementara Sengkelat hanya satu.
Menurut beberapa literatur perkerisan, dhapur Parungsari diperkirakan mulai diciptakan pada masa pemerintahan Prabu Banjaransekar dari Pajajaran, sekitar tahun Jawa 1170-an. Hal ini menempatkan Parungsari sebagai dapur tua yang sarat makna simbolik dan filosofis.
Filosofi Parungsari
Secara etimologis, parung berarti deretan lereng bukit dan lembah, sedangkan sari bermakna bunga atau inti keindahan. Parungsari dapat dimaknai sebagai hamparan bukit dan lembah yang dipenuhi bunga—sebuah gambaran keindahan alami yang tumbuh apa adanya. Ibarat “bukit berbunga”, ia menjadi simbol tempat yang elok, subur, dan menenteramkan, sebagaimana metafora keindahan yang kerap hadir dalam sastra maupun tembang lama.
Dalam alam, irisan tanah yang terjal dan vertikal bukanlah tempat yang ramah bagi semua tumbuhan. Hanya tanaman perintis (pioneer) yang mampu hidup di sana. Namun justru tanaman-tanaman inilah yang berperan penting: menahan laju air hujan, mencegah erosi, sekaligus menjadi rumah dan sumber kehidupan bagi berbagai serangga dan makhluk kecil lainnya.
Dari sini, Parungsari mengajarkan pemahaman hidup: hadir tanpa diadakan, ada tanpa dihadirkan. Ia tampak sederhana, mudah dilihat, tetapi sulit dipahami secara mendalam. Parungsari adalah pelajaran tentang kerendahan hati—bila tidak pernah merasa tinggi, mengapa takut jatuh; bila tidak pernah merasa mulia, mengapa takut direndahkan; bila tidak merasa memiliki, mengapa takut kehilangan.
Lebih jauh, Parungsari adalah simbol kecantikan budi dan keikhlasan. Ia tumbuh tanpa ditanam, mekar tanpa disiram, menerima keadaan apa adanya tanpa tuntutan, namun justru memberi banyak manfaat bagi sekitarnya. Seperti peribahasa lama:
“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.”
Tangguh Madiun
Sebagaimana lazimnya sejarah perkerisan Nusantara, perkembangan keris di suatu wilayah sangat dipengaruhi oleh karakter masyarakat, situasi politik, peta kekuasaan, serta dinamika sosial pada masanya.
Wilayah Madiun—yang sejak masa lampau kerap berada dalam pusaran konflik dan kekuasaan para adipati besar—melahirkan keris-keris dengan karakter khas. Keris tangguh Madiun tidak terlalu menonjolkan keindahan estetis. Kesan yang muncul justru wagu, angker, dan nggegirisi. Bentuknya sederhana, namun memancarkan daya kekuatan dan kewibawaan yang kuat bahkan sejak pandangan pertama.
Sisi esoteri memang lebih menonjol pada keris-keris Mediunan. Sejarah mencatat bahwa Madiun memiliki keterkaitan erat dengan pusaka-pusaka bertuah. Bahkan Panembahan Senopati dari Mataram pernah mengalami dua kali kegagalan dalam upaya menundukkan Purabaya (Madiun) pada tahun 1587 dan 1589. Kegagalan ini diyakini berkaitan dengan keampuhan sebuah pusaka legendaris, Kanjeng Kiai Kala Gumarang. Hingga akhirnya, melalui strategi “pura-pura takluk”, ekspansi Mataram baru membuahkan hasil. Konon, sebagai penanda peristiwa tersebut, sejak 16 November 1950 nama Purabaya berubah menjadi Mbediyun atau Madiun.
Secara fisik, keris tangguh Madiun memiliki ciri khas yang mudah dikenali: bentuk kembang kacang mangan gandik, sogokan dan blumbangan yang jarang imbang kanan-kiri, perut gonjo tampak tipis, sirah cecak lancip, serta luk dan pamor yang cenderung berwarna abu-abu ke-nggajih-an.
Dalam penangguhan, kecocokan antara karakter bilah dan jenis besi sezaman menjadi parameter penting. Besi dan pamor keris Madiun menunjukkan kemiripan dengan besi Mataram awal, kemungkinan besar dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku serta jalur distribusi besi dalam wilayah kekuasaan kerajaan pada masa itu.
PRA208
Keris Luk 13 Tundung Madiun
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 1.213 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Nogo Temanten Kalawijan Luk 27 Kinatah Kamarogan Unik Antik Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Naga Temanten Kolowijan Luk 27 Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka (kinatah kuningan sepuh emas ) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kamardikan Garap Alus (pesanan khusus) Panjang Bilah : 41,5 cm (keris corok panjang) Warangka : Gayaman Surakarta… selengkapnya
Rp 2.250.000Keris Sengkelat Asli Mataram Sultan Agung Keris Sengkelat Asli Mataram Sultan Agung – Keris sengkelat berluk tiga belas. Angka tiga belas dalam khasanah jawa sebagai las-lasaning urip, akhir kehidupan. Kemana manusia setelah mati? kemana kalau tidak bersatu dengan Allah kembali. Itulah pakem dhapur keris luk yang disebut sebagai “Mustikaning manembah – intisari bersujud”. Ada pemahaman… selengkapnya
Rp 3.500.000Dhapur Sengkelat (Luk 13) Sengkelat merupakan salah satu dhapur keris yang paling melegenda dalam khazanah tosan aji Nusantara. Namanya telah dikenal luas di kalangan pecinta keris dan senantiasa hadir dalam berbagai kisah, babad, maupun tradisi lisan yang berkembang dari generasi ke generasi. Dhapur ini kerap dikaitkan dengan Kiai Sengkelat, pusaka agung Majapahit yang menurut berbagai… selengkapnya
Hubungi AdminDhapur Gumbeng Gumbeng merupakan salah satu dhapur keris lurus dengan bentuk yang sederhana dan berkarakter tenang. Sepintas, bentuknya menyerupai Kebo Lajer, terutama pada gandhik yang memanjang, namun bilahnya cenderung lebih lebar. Sebagian besar Keris Gumbeng yang dikenal saat ini berasal dari tangguh sepuh sehingga memiliki nilai historis sekaligus spiritual yang tinggi. Di balik tampilannya yang… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Pamor Bendo Segodo Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Upih Pamor (motif lipatan besi) : Bendo Segodo Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram abad ke 17 Masehi Panjang Bilah : 35,1 cm Warangka : Ladrang Surakarta Gandar Iras Kayu Walikukun Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno Pendok : Blewah… selengkapnya
Rp 4.111.000Keris Pandawa Lare Luk 5 Tinatah Emas Panji Wilis Sepuh TAG146
Rp 25.555.000Tombak Pusaka Kuno Luk 5 Pesi Kotak Dhapur : Tombak Luk 5 Pamor : Ngulit Semangka Tangguh : Kuno Kode : PK187 INFO SELENGKAPNYA Tentang Tombak Pusaka Kuno Luk 5 Pesi Kotak Silahkan Hubungi Kami Melalui Whatsapp/Telp/SMS: 082177400100
Hubungi AdminKeris Sengkelat Mataram Pamor Wahyu Tumurun Sepuh TUS Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sengkelat Pamor (motif lipatan besi) : Wahyu Tumurun Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Abad Ke 17 Masehi Panjang Bilah : 34,8 cm Warangka : Branggah Jogjakarta Kayu Timoho Handle / Gagang : Kayu Songgo Langit Kuno Pendok : Bunton Slorok… selengkapnya
Rp 5.555.000Pusaka Keris Santan Pamor Setro Banyu Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Satan Luk 11 Pamor (motif lipatan besi) : Setro Banyu Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajajaran Abad ke 14 masehi Panjang Bilah :34 cm Warangka : Ladrang SUrakarta Gandar Iras Kayu Trembalo Kuno Handle / Gagang : Kemuning Bang Kuno Pendok : Blewah… selengkapnya
Rp 2.500.000
















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.