Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
Keris Madura Koso Pamor Brahma Watu
Rp 4.000.000| Kode | TAG072 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Dhapur Brojol, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Brahma Watu, Tangguh Madura |
| Jenis | : Keris Leres |
| Dhapur | : Brojol |
| Pamor | : Brahma Watu |
| Tangguh | : Madura (Empu Koso) |
| Warangka | : Daunan Madura, Kayu Kemuning |
| Deder/Handle | : Donoriko |
| Pendok | : Blewah Madura, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Madura, Bahan Kuningan |
Keris Madura Koso Pamor Brahma Watu
DHAPUR BROJOL
Dhapur Brojol merupakan salah satu dhapur keris lurus atau leres dengan ricikan yang relatif sederhana. Ricikan utamanya adalah gandik lugas dan pejetan. Kesederhanaan susunan ricikan tersebut menjadi salah satu karakter yang mudah dikenali dari dhapur Brojol.
Nama Brojol dalam bahasa Jawa berkaitan dengan pengertian keluar, lolos, atau terlepas dari suatu keadaan. Istilah ini dapat digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang berhasil keluar dari tempat atau keadaan yang sebelumnya membatasinya.
Dari makna tersebut, Brojol dapat dimaknai sebagai simbol jalan keluar dari kesulitan dan awal dari kehidupan atau keadaan yang baru. Makna ini juga dapat dikaitkan dengan gambaran kelahiran, ketika seorang manusia keluar dari rahim dan memulai perjalanan hidupnya.
Karena itu, Brojol dapat menjadi pengingat tentang keberanian untuk menghadapi perubahan, kemampuan mencari jalan keluar, serta kemauan untuk memulai kembali ketika menghadapi kesulitan.
Kesederhanaan dhapur Brojol justru dapat dibaca sebagai sebuah pameling: kehidupan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang rumit. Yang penting adalah kesadaran, keberanian, dan ikhtiar untuk terus bergerak keluar dari persoalan dan melanjutkan perjalanan.
Pemaknaan tersebut merupakan interpretasi budaya dan simbolik, bukan klaim bahwa keris secara otomatis memberikan kemampuan tertentu kepada pemiliknya.
PAMOR BRAHMA WATU
Pamor Brahma Watu dikenal sebagai salah satu pola pamor yang dalam tradisi perkerisan sering dikaitkan dengan gaya Madura. Secara visual, pamor ini menampilkan bulatan-bulatan besar yang tersusun pada sepanjang bilah, sehingga menghasilkan karakter motif yang mudah dikenali.
Nama Brahma Watu tersusun dari dua unsur. Brahma merujuk pada Brahma dalam kosmologi Hindu yang dikenal sebagai figur pencipta, sedangkan watu dalam bahasa Jawa berarti batu.
Dari kedua unsur tersebut, nama Brahma Watu dapat dibaca sebagai simbol perpaduan antara daya mencipta dan keteguhan. Brahma dapat menjadi gambaran tentang energi penciptaan dan awal kehidupan, sementara batu menggambarkan sesuatu yang kokoh dan memiliki daya tahan.
Karena itu, secara simbolik Brahma Watu dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk menciptakan dan berkembang tanpa kehilangan keteguhan dalam menjalani kehidupan.
Pemaknaan ini merupakan simbolisme budaya terhadap nama dan bentuk pamor, bukan sifat objektif yang secara ilmiah melekat pada material pamor.
Teknik Tempa Pamor: Mlumah/Miring — disesuaikan dengan hasil identifikasi bilah.
Kemunculan Motif Pamor: Rekan/Tiban — disesuaikan dengan hasil identifikasi dan rujukan yang digunakan.
TANGGUH MADURA
Dalam tradisi perkerisan, keris yang dikaitkan dengan Tangguh Madura Koso merupakan bagian dari pembahasan mengenai keris Madura sepuh yang secara tradisional dihubungkan dengan sosok Empu Koso. Nama Koso kemudian berkembang menjadi salah satu istilah yang digunakan untuk menyebut keris dengan karakter tertentu dalam tradisi perkerisan Madura.
Keris yang dikaitkan dengan karakter Koso umumnya memiliki kesan lebar, gagah, dan berwibawa. Besinya cenderung terlihat matang dan padat, dengan warna yang dapat memberikan kesan hitam kebiruan. Pamornya sering tampak putih, tebal, dan kontras terhadap dasar bilah yang lebih gelap.
Salah satu karakter pamor yang sering dikaitkan dengan gaya ini adalah nggajih, yaitu pamor yang secara visual mengingatkan pada lelehan lemak. Lapisan pamornya dapat terlihat tebal dan bertumpuk dengan warna putih yang cukup terang. Pada beberapa bilah juga dapat ditemukan kilau pamor yang memberikan kesan lebih hidup pada permukaan bilah.
Dalam perkembangan nomenklatur perkerisan, nama empu dapat digunakan untuk menyebut gaya atau karakter keris yang kemudian diasosiasikan dengan tokoh empu tersebut. Karena itu, penyebutan Koso sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari klasifikasi dan tradisi penamaan perkerisan, bukan sebagai bukti kepengarangan yang pasti.
Madura sendiri memiliki sejarah panjang dalam perkembangan tosan aji. Wilayah Madura berkembang melalui berbagai pusat kekuasaan dan kadipaten, termasuk Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan, serta memiliki hubungan politik dan budaya dengan kerajaan-kerajaan besar di Jawa pada berbagai periode.
Hubungan dengan Majapahit, Demak, Mataram, hingga kekuasaan-kekuasaan berikutnya turut membentuk perkembangan budaya Madura. Perpindahan manusia, hubungan antarkerajaan, perdagangan, ketersediaan bahan, serta perkembangan teknologi tempa menjadi bagian dari proses yang memungkinkan tradisi pembuatan keris berkembang dan berubah dari waktu ke waktu.
Keris Madura sepuh yang memiliki karakter kuat juga relatif semakin sulit ditemukan karena banyak di antaranya telah menjadi bagian dari koleksi pribadi. Kelangkaan tersebut kemudian turut membuat keris-keris dengan karakter Madura sepuh semakin menarik untuk dipelajari dan dibandingkan.
Dalam penetapan tangguh, karakter seperti pasikutan, bentuk bilah, besi, pamor, ricikan, serta keseluruhan garap perlu dibaca secara bersama-sama. Penyebutan “Madura Koso” karenanya lebih tepat dipahami sebagai identifikasi tradisional berdasarkan kumpulan karakter, bukan penetapan yang hanya didasarkan pada satu ciri.
CATATAN: Identifikasi dhapur, pamor, dan tangguh merupakan bagian dari pengetahuan dan terminologi tradisional perkerisan. Ciri-ciri yang disebutkan merupakan bahan pengamatan dan pembanding, bukan rumus tunggal.
Perbedaan hasil pengamatan dapat terjadi karena dipengaruhi oleh objek yang diamati maupun cara pengamatan. Kondisi bilah, usia, perawatan, perubahan permukaan, kelengkapan ricikan, pengalaman pemerhati, sudut pandang, serta rujukan yang digunakan dapat memengaruhi hasil identifikasi.
Karena itu, deskripsi ini merupakan hasil pembacaan berdasarkan karakter yang dapat diamati, dan tetap terbuka terhadap perbandingan, kajian, maupun koreksi apabila terdapat data atau rujukan lain yang lebih kuat.
TAG072
Keris Madura Koso Pamor Brahma Watu
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 120 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Carito Keprabon Luk 11 Mataram Senopaten Keris Carito Keprabon Luk 11 Mataram Senopaten adalah salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris. Keris ini termasuk dalam golongan jenis keris luk sebelas. Jika dilihat dari bentuk dan ricikannya, keris ini berdhapur Carito Keprabon. Untuk pamor yang tergurat di sekujur bilahnya adalah pamor Wos Wutah, yaitu salah… selengkapnya
Rp 3.000.000Pusaka Keris Carubuk Pamor Pulo Tirto Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Carubuk Luk 7 Pamor (motif lipatan besi) : Pulo Tirto Besi Milah 3 Warna Padat Pulen Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Abad Ke 16 Masehi Panjang Bilah : 34cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Timoho Kuno Ori Bawaan Bilah Handle /… selengkapnya
Rp 2.750.000Keris Sabuk Inten Mataram Amangkurat Keris Sabuk Inten Mataram Amangkurat adalah salah satu koleksi yang cukup banyak dicari para kolektor keris. Berdhapur Sabuk Inten dengan luk berjumlah 11. Ukuran panjang billahnya sedang, permukaan bilahnya nglimpa. Keris ini memakai kembang kacang, lambe gajah-nya ada dua. Ricikan lain yang terdapat pada keris Sabuk Inten adalah sogokan rangkap,… selengkapnya
Rp 3.511.000Pedang Kuno Suduk Maru Pamor Banyu Mili Dhapur/ Nama bentuk Pedang : Suduk Maru Pamor / Motif Lipatan Besi : Banyu Mili & Kulit Semangka Tangguh : Mataram Kartasura Panjang bilah tajam : 57,8 cm Panjang Total Ketika Disarungkan : 81 cm Warangka : Kayu Cemara Kate Berhias Tembaga Handel / Gagang Pedang : Kayu… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Berkelas Super Istimewa Naga Liman Lar Monga Kinatah Kamarogan Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Naga Liman / Lar Monga Pamor (motif lipatan besi) : Pedaringan Kebak Segoro Muncar (kinatah tembaga lapis emas) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kamardikan Alusan (Dipesan Secara Khusus) Panjang Bilah : 38,1 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Galih… selengkapnya
Rp 11.555.000Pusaka Keris Parungsari Pamor Wengkon Isen Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Parungsari Pamor (motif lipatan besi) : Wengkon Isen (Wengkon Isen pamor yang sangat sulit dibuat, besi keris sangat padat pulen serta garap keris istimewa) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Amangkurat (Sebagian orang perkerisan menyebutnya Tangguh Kartasura) Panjang Bilah : 36,2 cm Pesi… selengkapnya
Hubungi AdminDHAPUR TILAM UPIH Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus yang bentuknya sederhana dan sangat dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Gandhik-nya polos, sementara ricikan yang menjadi cirinya antara lain tikel alis dan pejetan. Di beberapa daerah, dhapur ini juga dikenal dengan sebutan Tilam Petak atau Tilam Putih. Kesederhanaan bentuk tersebut bukan berarti menjadikannya kurang… selengkapnya
Hubungi AdminPusaka Kujang Naga Primitif Tangguh Pajajaran Pamor Banyu Mili Dhapur / Bentuk : Kujang Naga ( Asli original sepuh kuno tua) Pamor : Banyu Mili mrambut dom kecer Tangguh : Pajajaran Madya Panjang Bilah : 17 cm Panjang pesi : 7 cm Panjang total kujang & warangka : 28,5 cm Warangka : Kayu cendana jawa… selengkapnya
Rp 2.111.000Keris Tangguh Majapahit Pamor Dom Kecer Keris Tangguh Majapahit Pamor Dom Kecer merupakan keris yang sangat sepuh. Keris ini diperkirakan dibuat pada era Majapahit abad ke-14 Masehi. Memiliki pasikutan bilah yang ramping dengan material dan tempaan yang matang. Dhapur keris ini adalah Tilam Upih dengan ciri khas ricikan tikel alis, pejetan dan gandhik polos. Ricikan… selengkapnya
Rp 2.100.000




















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.