Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Keris Pasopati Kinatah Emas Tangguh PB X
- Pusaka Keris Omyang Jimbe Meteor
- Tempat Aqua Motif Hewan Angsa Kayu Jati
- Keris Pamor Bendo Segodo Corok Panjang Sepuh Kuno
- Keris Nogo Manglar Bersayap Luk 19 Kinatah Kamarog
- Carubuk Pamor Toya Mambeg
- Pendok Selongsong Warangka Keris Kelas Premium Mod
- Jual Blawong Keris Tombak Ukir Alusan
Keris Patram Original Sepuh Antik Unik
Rp 950.000| Kode | TAG246 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Brojol, Keris, Keris Lurus, Pamor Ngulit Semangka, Tangguh Madiun |
| Jenis | : Keris Lurus - Patrem |
| Dhapur | : Brojol |
| Pamor | : Kulit Semangka |
| Tangguh | : Madiun |
| Warangka | : Gayaman Yogyakarta, Kayu Kemuning Bang |
| Deder/Handle | : Banaran, Kayu Kemuning Bang |
| Pendok | : - |
| Mendak | : Parijata, Bahan Kuningan |
Keris Patram Original Sepuh Antik Unik
Keris Patram Original Sepuh Antik Unik
Dalam tradisi Jawa masa kerajaan, membawa senjata tajam berukuran kecil oleh kaum perempuan dan anak-anak bukanlah hal yang asing. Namun praktik ini umumnya hanya dijumpai di lingkungan keluarga terpandang—seperti bangsawan dan saudagar—sebagai bentuk perlindungan diri dari perampok maupun gangguan binatang. Selain berfungsi praktis, patrem juga menjadi bagian dari pendidikan awal bagi anak-anak tertentu yang dipersiapkan untuk menempuh jalan keprajuritan.
Catatan sejarah Yingyai Shenglan karya Ma Huan, seorang penjelajah Tiongkok pada abad ke-15, menguatkan pandangan bahwa patrem pada masa lampau lazim digunakan sejak usia dini. Dalam kunjungannya ke Majapahit, Ma Huan mencatat bahwa hampir seluruh laki-laki di negeri tersebut telah menyandang belati—baik lurus maupun berkelok—bahkan sejak berumur tiga tahun. Belati yang dimaksud tidak lain adalah keris dalam ukuran kecil, yang berfungsi sebagai sarana pembiasaan sekaligus penanaman identitas budaya dan keberanian.
Keterangan serupa juga ditemukan dalam Sejarah Pulau Jawa karya Sir Thomas Stamford Raffles, yang menyebutkan bahwa prajurit-prajurit perempuan di Keraton Yogyakarta menyandang sejenis keris kecil (patrem) di pinggang mereka. Fakta ini menegaskan bahwa patrem tidak semata benda pelindung, melainkan simbol kesiapsiagaan, kedisiplinan, dan peran sosial perempuan serta anak-anak dalam struktur masyarakat Jawa tradisional.
Dhapur Brojol
Dhapur Brojol merepresentasikan filosofi kelahiran—sebuah momen sakral ketika manusia hadir ke dunia dalam keadaan suci, tanpa membawa apa pun selain kepasrahan. Seperti bayi yang baru lahir, manusia diingatkan akan asal-usulnya: hadir atas kehendak Gusti dan kelak kembali sepenuhnya dalam lindungan-Nya. Dalam pemaknaan ini, keris dhapur Brojol menjadi simbol laku sumarah—berserah diri dengan penuh kesadaran kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam tafsir yang lebih luas, Brojol juga dimaknai sebagai lambang kelancaran dan keterbukaan jalan hidup. Kata mbrojol mengandung harapan agar segala urusan, ikhtiar, dan kesulitan dapat terselesaikan dengan lancar, tanpa hambatan yang berarti. Karena itu, keris dhapur Brojol kerap dipandang sebagai pusaka doa: agar pemiliknya dianugerahi kemudahan, kelegaan batin, serta jalan keluar dari setiap persoalan kehidupan.
Pamor Kulit Semangka
Pamor Kulit Semangka, atau Ngulit Semangka, dinamai demikian karena coraknya menyerupai kulit buah semangka—berlapis, teratur, dan tampak hidup. Dalam filsafat Jawa, pamor ini dimaknai sebagai lambang rezeki yang berlapis dan berkesinambungan; bukan datang secara tiba-tiba lalu habis, melainkan mengalir seiring usaha, ketekunan, dan kecermatan pemiliknya.
Secara tuah, pamor Kulit Semangka dipercaya mendukung sifat optimis, keluwesan dalam pergaulan, serta kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Ia mengajarkan kemampuan menyesuaikan diri tanpa kehilangan prinsip—fleksibel nanging ora kecalan waton. Rezeki yang dibawanya tidak semata bersifat materi, tetapi juga berupa kemudahan relasi, kejernihan berpikir, dan kematangan rasa dalam menghadapi dinamika kehidupan.
Tangguh Madiun
Madiun tidak dapat dipandang sebelah mata dalam pembahasan dunia perkerisan. Sejarah Madiun adalah sejarah keris dan tosan aji. Hampir setiap peristiwa penting di wilayah ini berkaitan erat dengan pusaka senjata. Bahkan hingga kini, keris dijadikan ikon utama yang terpampang di tengah lambang Kabupaten Madiun—sebuah penegasan identitas budaya yang kuat.
Sebagaimana lazimnya sejarah keris di berbagai daerah, perkembangan keris Madiun sangat ditentukan oleh karakter masyarakat, situasi politik, dan peta kekuasaan pada masanya. Setelah runtuhnya Pajang sebagai kelanjutan Demak, Mataram yang masih muda muncul sebagai ancaman bagi kerajaan-kerajaan kecil dan kadipaten di Jawa Timur, termasuk Madiun yang enggan berada di bawah kekuasaan Mataram. Kondisi ini mendorong Madiun untuk memperkuat diri, salah satunya dengan memproduksi sebanyak mungkin senjata—keris dan tombak—demi mempertahankan kedaulatan. Keris-keris Madiun pun lahir sesuai tuntutan zaman yang penuh pergolakan, sehingga aspek keindahan garap kerap dikesampingkan.
Tak sedikit pihak yang mencibir keris Madiun karena bentuknya dianggap wagu, menyimpang dari pakem umum, serta jarang dijumpai dalam kemewahan kinatah emas. Kalaupun ada, detail ukirannya sering kali tampak kasar, dengan batas emas yang tidak rapi. Namun di balik kesederhanaan itu, justru tersimpan perbawa yang kuat. Dalam bahasa esoteri perkerisan, banyak keris Madiun memancarkan kesan nggegirisi dan angker—sebuah watak batin yang dipercaya menjadi keunggulan utama keris-keris tangguh Madiun.
Tak mengherankan bila sejarah Madiun begitu erat dengan pusaka-pusaka yang diyakini sangat bertuah. Bahkan Panembahan Senopati dari Mataram pernah mengalami dua kali kegagalan dalam upaya menundukkan Purubaya (Madiun) pada tahun 1587 dan 1589. Kegagalan ini secara turun-temurun diyakini berkaitan dengan keampuhan sebilah keris pusaka legendaris, Kanjeng Kiai Kala Gumarang. Hingga akhirnya, melalui taktik “pura-pura takluk”, ekspansi Mataram berhasil dijalankan. Konon, sebagai penanda peristiwa tersebut, sejak 16 November 1950 nama Purubaya resmi diubah menjadi Mbediyun atau Madiun.
TAG246
Tags: Filosofi Keris Patrem, Gambar keris patrem, Jenis Keris Patrem, Kegunaan Keris Patrem, keris patrem brojol
Keris Patram Original Sepuh Antik Unik
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 915 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Sengkelat Luk 13 Tangguh Mataram Sepuh Utuh TUS Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sengkelat Luk 13 Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka (Pamor Jelas dan Cerah) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram (Abad XVII) Panjang Bilah : 35 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang : Kemuning Bang… selengkapnya
Rp 3.555.000Keris Tangguh Tuban Asli Keris Tangguh Tuban Asli memang memiliki bentuk yang tebal dan gagah. Bilahnya lebar dan cukup berat jika ditanting. Memiliki dhapur Tilam Upih yang sederhana namun menjadi dhapur yang wajib dimiliki untuk para kolektor keris. Berpamor kulit semangka yang filosofinya baik untuk hubungan sosial dan keluwesan. Hampir bisa dikatakan t idak… selengkapnya
Rp 2.300.000Keris Jangkung Luk 3 Keleng Sendang Sedayu Sepuh Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jangkung Pamor (motif lipatan besi) : Keleng (Besi Kehijauan) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Sendang Sedayu (Abad XIV) Panjang Bilah : 35 cm Warangka : Ladrang Surakarta Capu Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang : Model Surakarta Kayu Kemuning Kuno… selengkapnya
Hubungi AdminLANGKA!! Keris Betok Sombro Putut Pandito Semedi Tangguh Jenggala Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Betok Putut Pandita Semedi Pamor (motif lipatan besi) : Beras Wutah Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Jenggala (Abad XI) Masuk Kategori Pusaka Tindih Panjang Bilah : 22,7 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Trembalo Gandar Iras Kuno Handle / Gagang… selengkapnya
Rp 3.999.000Keris Carubuk Pamor Lintang Kemukus Keris Carubuk Pamor Lintang Kemukus adalah salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris. Keris ini termasuk dalam golongan jenis keris luk tujuh. Jika dilihat dari bentuk dan ricikannya, keris ini berdhapur Carubuk. Untuk pamor yang tergurat di sekujur bilahnya adalah pamor Lintang Kemukus, yaitu salah satu jenis pamor miring yang langka dan sulit… selengkapnya
Rp 15.000.000Keris Sabuk Inten Mataram Luk 11 Pamor Beras Wutah Sepuh Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sabuk Inten Luk 11 Pamor (motif lipatan besi) : Beras Wutah Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Abad Ke 17 Masehi Panjang Bilah : 35 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang : Kayu… selengkapnya
Rp 4.111.000Pusaka Keris Betok Sombro Pejetan Dhapur Keris (penyebutan bentuk keris) : Betok Sombro Pejetan Pamor Keris (motif lipatan besi tempa) : Mrambut Tangguh (perkiraan masa pembuatan): Pajajaran Panjang Bilah : 21 cm Warangka (sarung keris) : kayu cendana jawa Handel keris : Kayu cendana jawa Kode: PK087 INFO SELENGKAPNYA Tentang Pusaka Keris Betok Sombro Pejetan… selengkapnya
Rp 1.555.000Keris Bugis Kuno Luk 7 Lawu Lawu Keris Bugis Kuno Luk 7 Lawu Lawu adalah salah satu pusaka peninggalan dari Bugis kuno yang masih bisa kita nikmati keindahan maha karyanya. Dalam catatan naskah kuno, keris khas Bugis dengan jumlah luk 7 disebut dengan nama Lawu-lawu. Keris ini tergolong sepuh dengan bilah yang masih sangat utuh…. selengkapnya
Rp 6.555.000Keris Sinom Robyong Pamor Lar Gangsir Garap Istimewa Tangguh Mangkubumen Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sinom Robyong Pamor (motif lipatan besi) : Lar Gangsir (Pamor yang sangat detail dan sempurna) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mangkubumen Putran Panjang Bilah : 36,5 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Galeh Nagasari Handle / Gagang : Kayu… selengkapnya
Rp 5.555.000














WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.