Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Pusaka Keris Sengkelat Pamor Wos Wutah
- Keris Brojol Pamor Udan Mas
- Patrem Tilam Upih Pamor Banyu Mili
- Jual Tombak Karacan Luk 7 Tangguh Pajang Kuno
- Pusaka Keris Tilam Upih Pamor Tritik Tuban Empu Be
- Jual Blawong Keris Tombak Bahan Kayu Jati Ukir
- Pusaka Keris Pandawa Pogog Sepuh
- Dhapur Keris Ron Teki
Keris Sengkelat Mataram Sultan Agung Sepuh
| Kode | K125 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Sengkelat, Keris, Keris Luk 13, Pamor Ngulit Semangka, Tangguh Mataram |
Keris Sengkelat Mataram Sultan Agung Sepuh
Pusaka Keris Sengkelat Mataram Sultan Agung Sepuh
- Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sengkelat Luk 13
- Pamor (motif lipatan besi) : Ngulit Semangka (besi berserat lembut)
- Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Sultan Agung
- Panjang Bilah : 35,5 cm
- Pesi masih panjang original tidak sambungan
- Warangka : Kayu awar awar motif segoro muncar kuno model gayamansurakarta garap istimewa
- Handle / Gagang : Kayu kemuning kuno
- Pendok : Bahan mamas bunton surakarta motif ukiran bunga kuno
- Mendak: kuno
- Keris asli sepuh kuno sangat utuh
- Kode: K125
Dialih rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Tentang Keris Sengkelat Mataram Sultan Agung Sepuh
Filosofi Dhapur Sengkelat
Sengkelat ada yang menyebutnya Sangkelat, adalah salah satu bentuk dhapur luk tiga belas. Keris dhapur Sangkelat mudah dijumpai karena banyak jumlahnya dan salah satu dhapur klangenan yang dianggap wajib dimiliki oleh Pecinta Tosan Aji. Selain keris pusaka Kanjeng Kyai Ageng Sengkelat milik Keraton Kasunanan Surakarta, ada beberapa pusaka milik keraton Kasultanan Yogyakarta yang juga berdhapur Sangkelat. Keris-keris itu adalah KK Laken Manik, KK Naga Puspita, KK Tejokusumo.
Filosofi, keris sengkelat berluk tiga belas. Angka tiga belas dalam khasanah jawa sebagai las-lasaning urip, akhir kehidupan. Kemana manusia setelah mati? kemana kalau tidak bersatu dengan Allah kembali. Itulah pakem dhapur keris luk yang disebut sebagai “Mustikaning manembah – intisari bersujud”. Ada pemahaman lain bahwa lekuk tiga belas juga mempunyai arti tri welas; welas ing sesami, welas ing sato iwen, lan welas ing tetuwuhan. Semua ini diarahkan kepada keselarasan antara Aku manusia – alam dan lingkungannya serta Allah.
Adapun angka 13 dalam tradisi jawa juga dianggap sebagai angka keramat. Angka 13 kadang oleh sebagian orang adalah angka pembawa sial, namun demikian angka ini juga dipercaya sebagai penolak bala, angka tiga belas merupakan angka 1 dan angka 3, keduanya merupakan angka ganjil yang penuh makna. Angka 1 merupakan angka pertama, memiliki makna permulaan, tunggal dan ke-Esa-an yang mencerimkan Ketuhanan. Sedangkan angka 3 merupakan angka ganjil yang mencerminkan keseimbangan. Angka 3 adanya manusia yang selalu mempunyai sifat tiga perkara hidup. Misalnya; Ada 3 hal dalam hidup yang tidak bisa kembali, yakni waktu, ucapan dan kesempatan. Maka hendaknya dijaga supaya tidak ada sesal kemudian. Ada 3 hal yang tidak pernah kita tahu, yakni rejeki, umur dan jodoh, mintalah pada Tuhan dan terakhir ada 3 hal dalam hidup yang pasti, adalah tua, sakit dan mati, persiapkanlah dengan sebaik-baiknya karena jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.
Cerita Mengenai Sengkelat
Kita semua tentunya pernah mendengar tentang sebuah kerajaan besar (imperium) nusantara yakni Majapahit. Zaman keemasan Majapahit melekat erat pada pemerintahan Rajanya keempat, Hayam Wuruk. Bersama Patihnya Gajah Mada membangun Majapahit menuju puncak kejayaan berdasarkan falsafah kenegaraan “Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa”. Namun takdir berkata lain, dalam usia senjanya Majapahit bukan lagi sang surya yang memancarkan kebesaran dan keagungan bagi manusia. Surya Majapahit telah meredup dan tenggelam ke dasar samudera kelam. Kesucian dan keluhuran yang pernah dicita-citakan seolah telah pudar dan kehilangan makna. Kebesaran, keagungan, kemuliaan dan kehormatan yang pernah menjadi kebanggaan beratus tahun tiba-tiba menjadi asing tak dikenal lagi tercabik oleh berbagai intrik. Majapahit perlahan-lahan tetapi pasti telah meranggas, keropos, membusuk dan akhirnya tumbang. Jatuhnya Majapahit ini ditandai dengan Sengkalan, Sirna Ilang Kertaning Bumi (tahun 1400 saka).
Dalam kehidupan bernegara di Majapahit, kerajaan tersebut terpecah menjadi dua golongan, yaitu golongan atas yang terdiri dari anggota kerajaan, keluarga bangsawan dan orang-orang kaya, serta golongan bawah yang terdiri dari rakyat jelata. Perbedaan dan perselisihan di antara kedua golongan ini begitu besar sehingga mengancam persatuan dan kesatuan Majapahit ketika itu. Untuk mengatasi masalah ini, konon dipanggilah sekitar seratus orang Empu (orang bijak, pembuat keris) untuk membuat satu keris sakti. Keris istimewa tersebut dibuat dari bahan yang diambil dari berbagai daerah dan dinamai Kyai Condong Campur. Nama tersebut dipilih sesuai dengan tujuannya. Kata “condong” dalam bahasa Jawa kuno (yang mungkin sudah diserap menjadi bahasa Indonesia) berarti “cenderung/lebih mendekati/mengarah pada…”. Sementara “campur” berarti “menjadi satu” atau “persatuan”. Dengan demikian, arti nama keris ini kurang lebih adalah “pembawa persatuan”.
Pada masa itu, setiap golongan memiliki keris yang menjadi simbol golongan mereka. Golongan Atas memiliki keris pusaka yang bernama Keris Sabuk Inten (nama yang berarti “ikat pinggang permata/intan”) dan golongan bawah memiliki keris pusaka bernama Keris Sengkelat. Nama “sengkelat” diyakin berasal kari kata-kata Jawa “sengkel atine” yang berarti “hati yang berat/lelah/kecewa”, dikaitkan dengan kondisi hati masyarakat kelas bawah yang penuh kekecewaan atas kondisi kehidupan mereka yang berat. Masyarakat Majapahit (dan masih diyakini oleh masyarakat Jawa masa kini) meyakini bahwa setiap keris pusaka memiliki kekuatan spiritual dan supernatural, bahkan memiliki karakter dan kecocokannya sendiri-sendiri. Demikian pula dengan keris Kyai Condong Campur. Keris tersebut diharapkan memiliki karakter pemersatu, namun betapa terkejutnya para Empu pembuat keris ketika mengetahui bahwa Kyai Condong Campur memilki karakter yang jahat dan bernafsu ingin menguasai.
Keris Sabuk Inten merasa terancam dengan kehadiran Keris Kyai Condong Campur, menantang Keris Kyai Condong Campur untuk bertarung. Setelah melalui pertarungan yang sengit, Keris Sabuk Inten dapat dikalahkan. Mengetahui karakter jahat Keris Kyai Condong Campur, Keris Sengkelat akhirnya terpaksa turun gunung untuk bertarung melawan Kyai Condong Campur. Di luar dugaan, Keris Sengkelat berhasil mengalahkan Kyai Condong Campur yang terkenal sakti. Keris Kyai Condong Campur sangat murka karena kekalahannya. Dalam kemarahannya Keris Kyai Condong Campur bersumpah bahwa ia akan kembali setiap 500 tahun untuk membawa ontran-ontran (bahasa Jawa, yang berarti “kekacauan/bencana”) ke tanah Jawa. Setelah mengucapkan sumpahnya, Keris Kyai Condong Campur melesat ke angkasa, meninggalkan jejak cahaya terang. Inilah yang dikenal orang Jawa/Majapahit sebagai Lintang Kemukus, bintang berekor. Mungkin inilah sebabnya masyarakat Jawa hingga saat ini masih percaya bahwa penampakan komet di langit adalah pertanda akan adanya bencana.
Kisah tersebut di atas bisa jadi hanya sebuah legenda atau mitos. Namun entah hanya karena kebetulan semata atau kesengajaan dalam sisi lain terdapat kebenaran makna atau simbol. Sengkelat adalah simbol perjuangan wong cilik (mereka yang tidak berketurunan atau berdarah priyayi) ketika Sang Surya Majapahit mulai meredup. Sengkelat tak ubahnya seperti Tokoh Pewayangan Semar, sebagai pamomong. Dalam lakon apa saja, Semar selalu hadir. Dalam lakon Semar Mbangun Kahyangan, dia menjadi tokoh sentral yang memimpin berjuangan melawan kebatilan. Ketika bathara Guru dianggap tidak pecus memimpin Kahyangan Junggring Salaka, Semar baru turun tangan. Tokoh ini juga sering muncul sebagai sebuah ironi kepemimpinan, misalkan dalam lakon Resi Dandang Seta. Semar berubah wujud menjadi seekor burung raksasa, yang mengalahkan para satria. Tindakan itu dilakukan, karena Semar hendak mengingatkan pada bendara yang dianggap telah lancing, yaitu Arjuna. Arjuna dianggap pernah berbuat tidak sopan pada Semar. Maka Semar berupaya mengingatkan, agar Sang Ksatriya itu kembali ke jalan lurus
Tags: ciri ciri keris dhapur sengkelat, jual keris kyai sengkelat, jual keris sengkelat, jual keris sengkelat kuno, jual keris sengkelat sepuh, kegunaan keris sengkelat mataram, kekuatan keris sengkelat, keris kyai sengkelat sunan kalijaga, keris sengkelat kinatah emas, keris sengkelat madiun, Keris Sengkelat Mataram Sultan Agung Sepuh, keris sunan kalijaga, khodam keris kyai sengkelat, perawatan keris sengkelat, pusaka keris
Keris Sengkelat Mataram Sultan Agung Sepuh
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Baru |
| Dilihat | 7.924 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Sengkelat Luk 13 Mataram Senopaten Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sengkelat Pamor (motif lipatan besi) : Beras Wutah Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Senopaten Panjang Bilah : 35,8 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Trembalo Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno Pendok : Bunton Surakarta Kuningan Jeglok Mendak… selengkapnya
Rp 3.333.000Keris Sempono Luk 9 Pamor Wahyu Tumurun Pajajaran Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sempono Luk 9 Pamor (motif lipatan besi) : Wos Wutah Wahyu Tumurun Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajajaran Panjang Bilah : 36,5 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Trembalo Iras Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno Pendok… selengkapnya
Rp 3.100.000Pusaka Keris Sengkelat Tundung Madiun Kinatah Perak Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sengkelat Luk 13 (Kinatah Perak) Pamor (motif lipatan besi) : Ngulit Semangka Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kadipaten Madiun Era Mataram – Tundung Madiun (Abad XVII) Panjang Bilah : 35 cm Warangka : Gayaman Yogyakarta (Kayu Pandan Laut Motif Kendit) Handle… selengkapnya
Rp 2.550.000Pusaka Keris Nogo Sapto Asli Luk 7 Kinatah Dhapur Keris (penyebutan bentuk keris) : Nogo Sapto Luk 7 Pamor Keris (motif lipatan besi tempa) : Keleng Berserat (Kinatah Kuningan Disepuh Emas) Tangguh (perkiraan masa pembuatan): Kamardikan Alusan Panjang Bilah : 37 cm Warangka (sarung keris) : Ladrang Solo Kayu Jati Handel keris : Kayu Jati… selengkapnya
Rp 1.580.000Keris Pandawa Lare Luk 5 Sepuh Keris Pandawa Lare Luk 5 Sepuh adalah salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris kami. Keris ini termasuk dalam golongan jenis keris luk lima. Jika dilihat dari bentuk dan ricikannya, keris ini berdhapur Pandawa Lare. Untuk pamor yang tergurat di bilahnya adalah pamor Beras Wutah. Warangka memakai model Gayaman dari bahan kayu Trembalo… selengkapnya
Rp 6.500.000Pusaka Keris Putut Pandito Semedi Luk Genap Langka Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Putut Luk Genap Walik (Luk 4) Pamor (motif lipatan besi) : Ngulit Semangka Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Demak Panjang Bilah : 30 cm Pesi masih utuh panjang original tidak sambungan Warangka : Branggah Jogja Kayu Sawo Handle / Gagang :… selengkapnya
Rp 1.750.000Pusaka Keris Carubuk Pamor Melati Rinonce Tangguh Pajajaran Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Carubuk Luk 7 Pamor (motif lipatan besi) : Melati Rinonce (pamor sangat langka paling diburu kolektor keris) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajajaran Abad Ke 14 Masehi Panjang Bilah : 36 cm Pesi masih utuh panjang original tidak sambungan Warangka :… selengkapnya
Rp 5.555.000Dhapur Sengkelat (Luk 13) Sengkelat merupakan salah satu dhapur keris yang paling melegenda dalam khazanah tosan aji Nusantara. Namanya telah dikenal luas di kalangan pecinta keris dan senantiasa hadir dalam berbagai kisah, babad, maupun tradisi lisan yang berkembang dari generasi ke generasi. Dhapur ini kerap dikaitkan dengan Kiai Sengkelat, pusaka agung Majapahit yang menurut berbagai… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Carita Keprabon Pamor Wos Wutah Pajang Mataram Keris Carita Keprabon Pamor Wos Wutah Pajang Mataram – Manusia bak lakon yang memainkan drama kehidupan sendiri dalam dunia fana. Dalam dunia yang tak tahu kapan berakhirnya ini manusia hanya pelaku yang bermain di atas kisaran waktu yang terus berputar dengan skenario atau jalan yang sudah ditulis… selengkapnya
Rp 5.500.000Keris Naga Siluman Tumpuk Kinatah Emas Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Naga Siluman Tumpuk Pamor (motif lipatan besi) : Pedaringan Kebak Meteorit Panjang Bilah: 37 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Timoho Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Pendok: Blewah Surakarta Mendak : Kuningan Kode: JK497
Hubungi Admin




WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.