Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Tilam Upih » Keris Tilam Upih Pamor Pulo Tirto Tangguh Pajajaran
click image to preview activate zoom

Keris Tilam Upih Pamor Pulo Tirto Tangguh Pajajaran

Rp 3.500.000
KodeTAG074
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Tilam Upih, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Pulo Tirto, Tangguh Pajajaran
Jenis : Keris Leres
Dhapur Tilam Upih
Pamor Pulo Tirto
Tangguh Pajajaran
Warangka : Gayaman Yogyakarta, Kayu Kemuning
Deder/Handle : Banaran, Kayu Kemuning
Pendok : Bunton Slorok, Bahan Kuningan
Mendak : Parijata, Bahan Kuningan
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Tilam Upih Pamor Pulo Tirto Tangguh Pajajaran

DHAPUR TILAM UPIH

Dhapur Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus atau leres yang sangat dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Ricikannya relatif sederhana, yaitu gandik lugas, tikel alis, dan pejetan. Kesederhanaan tersebut justru menjadi salah satu ciri utama dhapur ini.

Nama Tilam Upih berasal dari kata tilam, yang berarti alas atau tempat beristirahat, dan upih, yang merujuk pada pelepah pinang. Pada masa lalu, pelepah pinang dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat alas sederhana.

Dari makna tersebut, Tilam Upih dapat dimaknai sebagai simbol tempat beristirahat, ketenteraman, dan kenyamanan hidup. Dalam konteks keluarga, makna ini berkembang menjadi harapan akan rumah tangga yang harmonis, tenteram, dan berkecukupan.

Karena itu, Tilam Upih sering memiliki kedekatan dengan simbol kehidupan keluarga dan kesinambungan generasi. Dalam tradisi pewarisan, dhapur ini juga kerap dikaitkan dengan pusaka keluarga yang diberikan sebagai doa dan nasihat agar pemiliknya mampu membangun kehidupan yang baik.

Makna tersebut bukan semata-mata tentang kemewahan, tetapi tentang bagaimana menciptakan ketenteraman melalui kasih sayang, tanggung jawab, kecukupan, dan kemampuan menjaga keharmonisan keluarga.

Sebutan “Ibu dari Semua Keris” yang kadang dilekatkan kepada Tilam Upih lebih tepat dipahami sebagai ungkapan atau tradisi tutur di kalangan sebagian pemerhati keris, bukan istilah baku dalam nomenklatur dhapur. Demikian pula kisah mengenai anjuran tokoh tertentu untuk memiliki Tilam Upih sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari tradisi lisan apabila tidak disertai sumber sejarah yang kuat.

PAMOR PULO TIRTO

Pamor Pulo Tirto memiliki pola berupa bulatan-bulatan pamor yang menjadi bagian utama dari karakter visualnya. Nama Pulo Tirto secara harfiah dapat dimaknai sebagai “pulau air”, dari kata pulo yang berarti pulau dan tirto yang berarti air.

Air memiliki kedudukan penting dalam kehidupan. Ia menjadi sumber kehidupan bagi manusia, tumbuhan, dan berbagai makhluk lainnya. Karena itu, bentuk pamor yang menyerupai unsur air kemudian dapat menjadi simbol tentang kehidupan, kesuburan, kecukupan, dan keberlangsungan.

Dalam pemaknaan tradisional, Pulo Tirto kemudian dikaitkan dengan harapan agar pemiliknya tidak kekurangan sumber kehidupan dan rezeki. Rezeki sendiri tidak harus dipahami hanya dalam bentuk materi, tetapi dapat berupa kesempatan, kesehatan, hubungan yang baik, maupun berbagai bentuk kecukupan lainnya.

Dengan demikian, Pulo Tirto dapat dibaca sebagai doa agar kehidupan senantiasa memiliki sumber yang cukup untuk tumbuh dan berlangsung dengan baik.

Pemaknaan mengenai rezeki dan keberkahan tersebut merupakan bagian dari simbolisme budaya dan doa atau harapan pemilik, bukan sifat objektif yang secara ilmiah melekat pada material pamor.

TANGGUH PAJAJARAN

Dalam tradisi perkerisan, Tangguh Pajajaran merupakan salah satu penamaan tangguh yang dikaitkan dengan lingkungan budaya Sunda pada masa Kerajaan Sunda atau yang dalam tradisi populer sering disebut Pajajaran.

Secara historis, penting membedakan antara Kerajaan Sunda dan Pakuan Pajajaran. Pakuan Pajajaran dikenal sebagai ibu kota Kerajaan Sunda, yang pusatnya diperkirakan berada di wilayah yang kini menjadi Kota Bogor. Sumber sejarah seperti Prasasti Batutulis menjadi salah satu bukti penting mengenai keberadaan Pakuan Pajajaran dan pemerintahan Sri Baduga Maharaja.

Sri Baduga Maharaja merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Sunda. Masa pemerintahannya, yang secara tradisional ditempatkan sekitar 1482–1521 M, menjadi salah satu periode yang banyak dibicarakan dalam sejarah Pakuan Pajajaran. Prasasti Batutulis sendiri merupakan tinggalan penting yang berkaitan dengan Sri Baduga dan lingkungan pusat kerajaan tersebut.

Pakuan Pajajaran juga tidak dapat dipahami hanya sebagai nama sebuah kerajaan. Kajian terhadap sumber tertulis seperti Prasasti Batutulis, Carita Parahyangan, dan Bujangga Manik memberikan gambaran mengenai kehidupan, tata ruang, serta lingkungan budaya pusat Kerajaan Sunda. Beberapa penelitian menyebut adanya kompleks keraton yang terdiri atas beberapa bangunan, alun-alun, serta fasilitas lain yang menunjukkan bahwa Pakuan merupakan pusat pemerintahan dan kehidupan masyarakat yang cukup kompleks.

Dalam konteks perkerisan, penyebutan Tangguh Pajajaran kemudian menjadi bagian dari tradisi klasifikasi yang berusaha menghubungkan karakter sebuah bilah dengan lingkungan budaya dan periode sejarah Sunda tersebut. Namun, penetapan tangguh tidak cukup dilakukan hanya berdasarkan nama atau satu ciri fisik tertentu. Perlu dilakukan pembacaan terhadap pasikutan, bentuk bilah, ricikan, bahan, pamor, garap, serta perbandingan dengan bilah-bilah yang telah menjadi rujukan.

Dengan demikian, Tangguh Pajajaran menarik bukan hanya karena persoalan usia sebuah keris, tetapi karena membuka ruang untuk memahami kemungkinan hubungan antara keris, teknologi pengerjaan logam, dan lingkungan kebudayaan Sunda pada masa lalu.

Catatan Identifikasi: Identifikasi tangguh merupakan bagian dari pengetahuan dan terminologi tradisional perkerisan. Penyebutan “Tangguh Pajajaran” sebaiknya dipahami sebagai hasil pembacaan terhadap sejumlah karakter yang saling mendukung, bukan sebagai kepastian mutlak yang dapat ditentukan hanya dari satu ciri.

Catatan: Identifikasi dhapur, pamor, dan tangguh merupakan bagian dari pengetahuan dan terminologi tradisional perkerisan. Ciri-ciri yang disebutkan merupakan bahan pengamatan dan pembanding, bukan rumus tunggal. Perbedaan hasil pengamatan dapat terjadi karena dipengaruhi oleh objek yang diamati maupun cara pengamatan, termasuk kondisi bilah, usia, perawatan, kelengkapan ricikan, pengalaman pemerhati, sudut pandang, serta rujukan yang digunakan. Karena itu, deskripsi ini merupakan hasil pembacaan berdasarkan karakter yang dapat diamati dan tetap terbuka terhadap perbandingan, kajian, maupun koreksi apabila terdapat data atau rujukan lain yang lebih kuat.

Keris Tilam Upih Pamor Pulo Tirto Tangguh Pajajaran

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 3 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us