Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Kujang Lanang Sepuh Pamor Tirto Tumetes Tangguh Pa
- Keris Pamor Kenanga Ginubah Tangguh Tuban Sepuh Ku
- Keris Singo Barong Kinatah Emas Pamor Pedaringan K
- Jual Warangka Keris Branggah Jogja Kayu Timoho Mot
- Keris Mundarang Pamor Bonang Rinenteng
- Keris Tilam Pamor Kuto Mesir Tangguh Mataram TUS S
- Keris Jalak Ngore Pamor Jung Isi Dunyo Tangguh HB
- Jual Mendak Cincin Keris Kendit Surakarta
Keris Gumbeng Pajajaran Sepuh
| Kode | TAG042 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Bethok Gumbeng, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Banyu Mili, Tangguh Pajajaran |
| Jenis | : Keris Leres |
| Dhapur | : Gumbeng |
| Pamor | : Banyu Mili |
| Tangguh | : Pajajaran |
| Warangka | : Sandang Walikat, Bahan Kayu Sono Keling |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Bahan Kayu Kemuning |
| Pendok | : - |
| Mendak | : Parijata, Bahan Kuningan |
Keris Gumbeng Pajajaran Sepuh
Dhapur Gumbeng
Gumbeng merupakan salah satu dhapur keris lurus dengan bentuk yang sederhana dan berkarakter tenang. Sepintas, bentuknya menyerupai Kebo Lajer, terutama pada gandhik yang memanjang, namun bilahnya cenderung lebih lebar. Sebagian besar Keris Gumbeng yang dikenal saat ini berasal dari tangguh sepuh sehingga memiliki nilai historis sekaligus spiritual yang tinggi.
Di balik tampilannya yang sederhana, Dhapur Gumbeng menyimpan filosofi mendalam mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.
Secara harfiah, “Gumbeng” dimaknai sebagai suatu tingkat kesadaran yang dicapai ketika seseorang berada dalam laku semedi atau meditasi. Pada keadaan ini, hati, pikiran, dan jiwa berada dalam keselarasan yang utuh sehingga menghadirkan keheningan batin, kedamaian, serta rasa kedekatan dengan Sang Pencipta.
Dalam tradisi spiritual Jawa, semedi bukan sekadar praktik menenangkan pikiran, melainkan sebuah laku batin untuk menyelaraskan cipta, rasa, dan karsa manusia dengan kehendak Tuhan serta keteraturan alam semesta. Melalui semedi, seseorang berusaha membersihkan batin, mengendalikan hawa nafsu, dan mencapai keseimbangan antara aspek lahir maupun batin.
Pada tingkatan tertentu, laku semedi dipahami sebagai perjalanan melintasi tahapan kesadaran spiritual, mulai dari syariat, tarekat, hakikat, hingga makrifat. Dalam budaya Jawa, perjalanan tersebut dikenal sebagai laku raga, laku budi, laku manah, dan laku rasa. Ajaran serupa juga dijelaskan oleh Mangkunegara IV dalam Wedhatama melalui empat tahapan sembah, yaitu sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa.
Hakikat dari perjalanan spiritual ini adalah menyelaraskan berbagai dorongan dalam diri manusia. Kecenderungan menuju kebaikan maupun keburukan harus diharmoniskan agar tercipta keseimbangan. Ketika hawa nafsu mampu dikendalikan, manusia akan semakin dekat kepada sifat-sifat ketuhanan.
Penyatuan dengan Tuhan dalam pengertian ini bukanlah menyatunya zat manusia dengan Zat Tuhan, melainkan menyelaraskan sifat, asma, dan af’al manusia dengan sifat, asma, dan af’al Tuhan yang dianugerahkan melalui kodrat dan iradat-Nya. Dengan demikian, tugas manusia adalah menjaga keselarasan dirinya dengan kehendak Ilahi yang telah tertanam dalam kehidupannya.
Semedi yang dijalankan tanpa pemahaman akan batas-batas tersebut dikhawatirkan justru dapat membuat seseorang kehilangan keseimbangan batin dan mengalami perubahan cara pandang yang menyimpang terhadap hakikat kehidupan.
Puncak dari laku semedi adalah tercapainya ketenangan pikiran, hati, dan jiwa. Sebagaimana ajaran yang diyakini dalam berbagai tradisi spiritual, hanya dengan selalu mengingat Tuhan, hati akan memperoleh ketenteraman yang sejati.
Oleh karena itu, Dhapur Gumbeng mengandung pesan agar manusia senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan, hidup selaras dengan alam semesta, serta menjaga kejernihan hati dalam setiap langkah kehidupan. Dalam khazanah tuah keris, Dhapur Gumbeng dipercaya membawa energi yang melambangkan ketenangan batin (kasepuhan), ketenteraman keluarga, kebijaksanaan, dan sifat pengayom.
Pamor Banyu Mili
Pamor Banyu Mili secara harfiah berarti “air yang mengalir.” Motif pamor ini termasuk salah satu pamor yang paling dikenal karena bentuknya menyerupai aliran air, berupa garis-garis memanjang dari pangkal hingga ujung bilah. Garis-garis tersebut dapat tampak utuh, terputus-putus, bercabang, maupun berkelok sehingga memberikan kesan seperti aliran sungai yang terus bergerak.
Filosofi Banyu Mili berangkat dari sifat air yang senantiasa mengalir mengikuti jalannya sendiri. Air mengalir dari pegunungan menuju samudra, melewati berbagai rintangan, membasahi tanah yang kering, serta menjadi sumber kehidupan bagi alam di sekitarnya. Air tidak melawan alam, tetapi selalu menemukan jalan terbaik untuk mencapai tujuannya.
Makna tersebut menjadikan Pamor Banyu Mili sebagai lambang keluwesan, ketekunan, kemampuan beradaptasi, dan semangat untuk terus melangkah menghadapi perubahan hidup. Sebagaimana air yang tidak pernah berhenti mengalir, manusia diharapkan mampu bangkit dari kesulitan, menemukan jalan keluar dari setiap persoalan, serta terus berkembang menuju kehidupan yang lebih baik.
Dalam dunia tosan aji, Pamor Banyu Mili dipercaya memiliki tuah yang berkaitan dengan kelancaran rezeki, kemudahan dalam usaha, kemampuan keluar dari kesulitan, serta keberlangsungan kehidupan yang harmonis. Kesederhanaan bentuk pamornya justru menjadi daya tarik tersendiri sehingga motif ini termasuk salah satu pamor yang paling digemari oleh para pecinta keris.
Tangguh Pajajaran
Tangguh Pajajaran merujuk pada keris-keris yang diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Pajajaran dan Galuh di Tatar Sunda. Dalam tradisi Jawa maupun Bali, keris-keris dari wilayah barat Pulau Jawa ini sering disebut sebagai Keris Kulonan, yakni keris yang berasal dari daerah “kulon” atau barat.
Keris tangguh Pajajaran memiliki karakter bentuk yang khas dan berbeda dengan gaya keris Jawa Timur maupun Mataram. Beberapa ciri yang umum dijumpai antara lain:
- Bilah relatif panjang dan lebar.
- Ganja (gado) berbentuk tegas, cenderung menyerupai siku atau dikenal dengan bentuk jenong atau nongnong.
- Luk yang sangat landai (luk malas) sehingga sekilas tampak hampir lurus. Bentuk seperti ini justru membutuhkan keterampilan tempa yang tinggi.
- Pamor cenderung berkarakter besar dengan pola menyerupai bercak-bercak atau nggajih.
Di masyarakat, masih berkembang anggapan bahwa warisan pusaka Pajajaran hanya berupa kujang. Padahal, berbagai bukti sejarah maupun tradisi pekerisan menunjukkan bahwa budaya keris juga berkembang kuat di Tatar Sunda. Keris-keris Kulonan dari Pajajaran, Galuh, hingga wilayah Priangan merupakan bagian penting dari khazanah tosan aji Nusantara.
Beberapa manuskrip tradisi Surakarta bahkan menyebut adanya hubungan antara para empu Pajajaran dengan perkembangan tradisi pembuatan keris di Tuban, Madura, dan Majapahit. Pada masa Mataram, sejumlah empu dari wilayah Priangan juga diketahui turut berperan dalam perkembangan dunia perkerisan Jawa.
Di kalangan pecinta keris, keris-keris Sunda dan Galuh dikenal sebagai pusaka yang memiliki kedudukan istimewa, bahkan sering dianggap sebagai pusaka tindih, yaitu pusaka pelengkap yang ideal dimiliki bersama keris dari tangguh lainnya.
Tradisi perkerisan di Tatar Sunda kemudian berkembang semakin pesat pada masa Kesultanan Cirebon, Banten, dan Sumedang Larang. Pada periode ini lahir berbagai variasi bentuk keris yang memperlihatkan perpaduan pengaruh budaya Sunda, Sumatra, serta Jawa Timur.
Dengan demikian, sejarah menunjukkan bahwa budaya pusaka masyarakat Sunda tidak hanya diwujudkan melalui kujang, tetapi juga melalui tradisi perkerisan yang kaya, beragam, dan memiliki nilai sejarah serta filosofi yang sangat penting dalam perkembangan budaya Nusantara.
TAG042
Keris Gumbeng Pajajaran Sepuh
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 75 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Pusaka Keris Brojol Pamor Rojo Abolo Rojo Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Brojol Pamor (motif lipatan besi) : Rojo Abolo Rojo (pamor langka) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Blambangan Tus Panjang Bilah :34 cm Warangka : Branggah Jogjakarta Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang : Putri Kinurung Jogjakarta Pendok : Bunton Jogja Perak Kuno… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Kerajaan Segaluh Kuno Pamor Adeg Singkir Keris Kerajaan Segaluh Kuno Pamor Adeg Singkir – Keris yang akan diulas adalah Keris Kerajaan Segaluh Kuno dengan pamor Adeg Singkir. Sebagai peninggalan dari era Kerajaan Segaluh, keris ini memiliki keistimewaan tertentu. Pamornya dikenal sebagai pamor Adeg, yang juga sering disebut sebagai pamor Singkir karena empu yang menciptakan… selengkapnya
Hubungi AdminPedang Kuno Lar Bango Original Lar Bango merupakan salah satu pedang tradisional asli Nusantara yang memiliki bentuk khas dan menjadi bagian penting dari warisan budaya senjata tradisional Indonesia. Nama Lar Bango berasal dari bahasa Jawa, yaitu lar yang berarti sayap, dan bango yang berarti burung bangau. Penamaan tersebut merujuk pada bentuk bilahnya yang memanjang dengan… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Pamor Wos Wutah Putri Kinurung Keris pamor Wos Wutah Putri Kinurung adalah salah satu pusaka yang memancarkan pesona halus sekaligus misterius. Pamornya yang menyerupai butiran gabah tumpah, tersusun alami di permukaan bilah, menghadirkan kesan kesuburan, kelimpahan, dan berkah yang tidak putus. Sementara sebutan Putri Kinurung memberi nuansa lebih dalam—menggambarkan sesuatu yang berharga, dijaga, tersimpan,… selengkapnya
Rp 2.800.000Keris Blambangan Pamor Junjung Derajat Keris Blambangan Pamor Junjung Derajat merupakan salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris kami. Keris ini termasuk dalam golongan jenis keris lurus. Jika dilihat dari bentuk dan ricikannya, keris ini berdhapur Tilam Upih. Untuk pamor yang tergurat di bilahnya adalah pamor Junjung Derajat. Warangka memakai model Gayaman Yogyakarta dari bahan kayu Timoho…. selengkapnya
Rp 5.000.000Keris Pamor Pandita Bala Pandita Keris merupakan senjata tradisional Indonesia yang penuh dengan nilai seni dan filosofi mendalam. Salah satu pamor keris yang menarik untuk dibahas adalah Pamor Rojo Abolo Rojo atau yang juga dikenal dengan nama Pandita Bala Pandita. Membicarakan pamor ini seolah-olah otomatis membahas tiga pamor lain yang serupa, yakni pamor Ujung Gunung,… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Singo Barong Kinatah Emas Pamor Pedaringan Kebak Nginden Kawung Garap Istimewa Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Singobarong Luk 5 Pamor (motif lipatan besi) : Pedaringan Kebak Nyutro Lembut (kinatah tembaga lapis emas) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kamardikan Alusan (Dipesan seacara khusus) Panjang Bilah : 37 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Cendana… selengkapnya
Rp 7.777.000Tilam Upih Pamor Jung Isi Dunyo Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Upih Pamor (motif lipatan besi) : Jung Isi Dunyo (pamor Langka) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Tuban Era Majapahit Panjang Bilah : 33,3 cm Warangka : Gayaman Surakarta Gandar Iras Kayu kemuning Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno… selengkapnya
Rp 3.777.000Kebo Teki Damar Murup Urubing Dilah Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Kebo Teki Damar Murub Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajajaran Panjang Bilah : 33 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Trembalo Kuno Gandar Iras Original Bawaan Bilah Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno Pendok… selengkapnya
Rp 4.111.000


















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.