Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Naga Manglar Luk 13 Kinatah
- Keris Sengkelat Luk 13 Pamor Kulit Semangka Sepuh
- Keris Pamor Putri Kinurung Sepuh
- Pusaka Keris Omyang Jimbe Meteor
- Keris Jangkung Luk 3 Keleng Sendang Sedayu Sepuh K
- Jual Blawong Tempat Keris Mentahan Bahan Kayu Jati
- Keris Jangkung Pamor Kuto Mesir
- Pendok Bunton Kuningan Suasa
Keris Gumbeng Pajajaran Sepuh
Rp 3.400.000| Kode | TAG042 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Dhapur Bethok Gumbeng, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Banyu Mili, Tangguh Pajajaran |
| Jenis | : Keris Leres |
| Dhapur | : Gumbeng |
| Pamor | : Banyu Mili |
| Tangguh | : Pajajaran |
| Warangka | : Sandang Walikat, Bahan Kayu Sono Keling |
| Deder/Handle | : Yudawinatan, Bahan Kayu Kemuning |
| Pendok | : - |
| Mendak | : Parijata, Bahan Kuningan |
Keris Gumbeng Pajajaran Sepuh
Dhapur Gumbeng
Gumbeng merupakan salah satu dhapur keris lurus dengan bentuk yang sederhana dan berkarakter tenang. Sepintas, bentuknya menyerupai Kebo Lajer, terutama pada gandhik yang memanjang, namun bilahnya cenderung lebih lebar. Sebagian besar Keris Gumbeng yang dikenal saat ini berasal dari tangguh sepuh sehingga memiliki nilai historis sekaligus spiritual yang tinggi.
Di balik tampilannya yang sederhana, Dhapur Gumbeng menyimpan filosofi mendalam mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.
Secara harfiah, “Gumbeng” dimaknai sebagai suatu tingkat kesadaran yang dicapai ketika seseorang berada dalam laku semedi atau meditasi. Pada keadaan ini, hati, pikiran, dan jiwa berada dalam keselarasan yang utuh sehingga menghadirkan keheningan batin, kedamaian, serta rasa kedekatan dengan Sang Pencipta.
Dalam tradisi spiritual Jawa, semedi bukan sekadar praktik menenangkan pikiran, melainkan sebuah laku batin untuk menyelaraskan cipta, rasa, dan karsa manusia dengan kehendak Tuhan serta keteraturan alam semesta. Melalui semedi, seseorang berusaha membersihkan batin, mengendalikan hawa nafsu, dan mencapai keseimbangan antara aspek lahir maupun batin.
Pada tingkatan tertentu, laku semedi dipahami sebagai perjalanan melintasi tahapan kesadaran spiritual, mulai dari syariat, tarekat, hakikat, hingga makrifat. Dalam budaya Jawa, perjalanan tersebut dikenal sebagai laku raga, laku budi, laku manah, dan laku rasa. Ajaran serupa juga dijelaskan oleh Mangkunegara IV dalam Wedhatama melalui empat tahapan sembah, yaitu sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa.
Hakikat dari perjalanan spiritual ini adalah menyelaraskan berbagai dorongan dalam diri manusia. Kecenderungan menuju kebaikan maupun keburukan harus diharmoniskan agar tercipta keseimbangan. Ketika hawa nafsu mampu dikendalikan, manusia akan semakin dekat kepada sifat-sifat ketuhanan.
Penyatuan dengan Tuhan dalam pengertian ini bukanlah menyatunya zat manusia dengan Zat Tuhan, melainkan menyelaraskan sifat, asma, dan af’al manusia dengan sifat, asma, dan af’al Tuhan yang dianugerahkan melalui kodrat dan iradat-Nya. Dengan demikian, tugas manusia adalah menjaga keselarasan dirinya dengan kehendak Ilahi yang telah tertanam dalam kehidupannya.
Semedi yang dijalankan tanpa pemahaman akan batas-batas tersebut dikhawatirkan justru dapat membuat seseorang kehilangan keseimbangan batin dan mengalami perubahan cara pandang yang menyimpang terhadap hakikat kehidupan.
Puncak dari laku semedi adalah tercapainya ketenangan pikiran, hati, dan jiwa. Sebagaimana ajaran yang diyakini dalam berbagai tradisi spiritual, hanya dengan selalu mengingat Tuhan, hati akan memperoleh ketenteraman yang sejati.
Oleh karena itu, Dhapur Gumbeng mengandung pesan agar manusia senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan, hidup selaras dengan alam semesta, serta menjaga kejernihan hati dalam setiap langkah kehidupan. Dalam khazanah tuah keris, Dhapur Gumbeng dipercaya membawa energi yang melambangkan ketenangan batin (kasepuhan), ketenteraman keluarga, kebijaksanaan, dan sifat pengayom.
Pamor Banyu Mili
Pamor Banyu Mili secara harfiah berarti “air yang mengalir.” Motif pamor ini termasuk salah satu pamor yang paling dikenal karena bentuknya menyerupai aliran air, berupa garis-garis memanjang dari pangkal hingga ujung bilah. Garis-garis tersebut dapat tampak utuh, terputus-putus, bercabang, maupun berkelok sehingga memberikan kesan seperti aliran sungai yang terus bergerak.
Filosofi Banyu Mili berangkat dari sifat air yang senantiasa mengalir mengikuti jalannya sendiri. Air mengalir dari pegunungan menuju samudra, melewati berbagai rintangan, membasahi tanah yang kering, serta menjadi sumber kehidupan bagi alam di sekitarnya. Air tidak melawan alam, tetapi selalu menemukan jalan terbaik untuk mencapai tujuannya.
Makna tersebut menjadikan Pamor Banyu Mili sebagai lambang keluwesan, ketekunan, kemampuan beradaptasi, dan semangat untuk terus melangkah menghadapi perubahan hidup. Sebagaimana air yang tidak pernah berhenti mengalir, manusia diharapkan mampu bangkit dari kesulitan, menemukan jalan keluar dari setiap persoalan, serta terus berkembang menuju kehidupan yang lebih baik.
Dalam dunia tosan aji, Pamor Banyu Mili dipercaya memiliki tuah yang berkaitan dengan kelancaran rezeki, kemudahan dalam usaha, kemampuan keluar dari kesulitan, serta keberlangsungan kehidupan yang harmonis. Kesederhanaan bentuk pamornya justru menjadi daya tarik tersendiri sehingga motif ini termasuk salah satu pamor yang paling digemari oleh para pecinta keris.
Tangguh Pajajaran
Tangguh Pajajaran merujuk pada keris-keris yang diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Pajajaran dan Galuh di Tatar Sunda. Dalam tradisi Jawa maupun Bali, keris-keris dari wilayah barat Pulau Jawa ini sering disebut sebagai Keris Kulonan, yakni keris yang berasal dari daerah “kulon” atau barat.
Keris tangguh Pajajaran memiliki karakter bentuk yang khas dan berbeda dengan gaya keris Jawa Timur maupun Mataram. Beberapa ciri yang umum dijumpai antara lain:
- Bilah relatif panjang dan lebar.
- Ganja (gado) berbentuk tegas, cenderung menyerupai siku atau dikenal dengan bentuk jenong atau nongnong.
- Luk yang sangat landai (luk malas) sehingga sekilas tampak hampir lurus. Bentuk seperti ini justru membutuhkan keterampilan tempa yang tinggi.
- Pamor cenderung berkarakter besar dengan pola menyerupai bercak-bercak atau nggajih.
Di masyarakat, masih berkembang anggapan bahwa warisan pusaka Pajajaran hanya berupa kujang. Padahal, berbagai bukti sejarah maupun tradisi pekerisan menunjukkan bahwa budaya keris juga berkembang kuat di Tatar Sunda. Keris-keris Kulonan dari Pajajaran, Galuh, hingga wilayah Priangan merupakan bagian penting dari khazanah tosan aji Nusantara.
Beberapa manuskrip tradisi Surakarta bahkan menyebut adanya hubungan antara para empu Pajajaran dengan perkembangan tradisi pembuatan keris di Tuban, Madura, dan Majapahit. Pada masa Mataram, sejumlah empu dari wilayah Priangan juga diketahui turut berperan dalam perkembangan dunia perkerisan Jawa.
Di kalangan pecinta keris, keris-keris Sunda dan Galuh dikenal sebagai pusaka yang memiliki kedudukan istimewa, bahkan sering dianggap sebagai pusaka tindih, yaitu pusaka pelengkap yang ideal dimiliki bersama keris dari tangguh lainnya.
Tradisi perkerisan di Tatar Sunda kemudian berkembang semakin pesat pada masa Kesultanan Cirebon, Banten, dan Sumedang Larang. Pada periode ini lahir berbagai variasi bentuk keris yang memperlihatkan perpaduan pengaruh budaya Sunda, Sumatra, serta Jawa Timur.
Dengan demikian, sejarah menunjukkan bahwa budaya pusaka masyarakat Sunda tidak hanya diwujudkan melalui kujang, tetapi juga melalui tradisi perkerisan yang kaya, beragam, dan memiliki nilai sejarah serta filosofi yang sangat penting dalam perkembangan budaya Nusantara.
TAG042
Keris Gumbeng Pajajaran Sepuh
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 7 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Pamor Tirto Tumetes Asli Kuno Keris Pamor Tirto Tumetes Asli Kuno memang banyak dicari oleh kalangan para kolektor tosan aji pusaka. Keris dengan pamor ini memiliki motif bulatan-bulatan seperti air yang menetes dari ujung hingga pangkal bilah agak acak. Pamor ini cukup indah dan adem bila dipandang dan dirasakan. Secara esoteris, pamor Tirto Tumetes… selengkapnya
Rp 2.750.000Keris Nogo Sosro Sabuk Inten Kamardikan Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Nogo Sosro Sabuk Inten Luk 11 Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kamardikan Panjang Bilah :36 cm Warangka : Gayaman Solo Kayu Jati Handle / Gagang : Kayu Jati Pendok : Bunton Solo Kuningan Mendak : Kuningan… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Jalak Sangu Tumpeng Tangguh Mataram Kartasura Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jalak Sangu Tumpeng Pamor (motif lipatan besi) :Kulit Semangka kebak Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Kartasura Panjang Bilah : 36 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Kemuning Kuno Handle / Gagang : Kemuning Bang Kuno Pendok : Blewah Surakarta Kuningan… selengkapnya
Rp 1.655.000Pusaka Keris Sempaner Pamor Pedaringan Kebak Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sempaner Pamor (motif lipatan besi) : Pedaringan Kebak (pamor lembut khas keris hb) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : HB Sepuh Panjang Bilah : 33,7 cm pesi masih panjang Warangka : Kayu Timoho kuno model gayaman surakarta Handle / Gagang : Kayu kemuning bang… selengkapnya
Hubungi AdminKorowelang Luk 13 Kinatah Emas Original Sepuh Dhapur Korowelang Korowelang merupakan singkatan dari ungkapan “Perkoro piweling lan piwulang”, yang bermakna nasihat dan ajaran. Ia hadir sebagai pengingat bahwa waktu—kala—adalah sesuatu yang tidak pernah dapat diulang. Sekali berlalu, ia tidak akan kembali. Dalam tradisi tutur, tombak dan keris Korowelang juga kerap disebut Kolowelang. Istilah ini berasal… selengkapnya
Rp 25.000.000Keris Naga Sapta Keleng Yasan Enggal Keris Naga Sapta Keleng Yasan Enggal – Pusaka dengan ornamen naga memang menjadi salah satu pusaka primadona bagi pecintanya. Ragam dari pusaka dengan ganan naga sendiri cukup banyak, seperti Naga Sasara, Naga Siluman, Naga Salira, Naga Raja dan lain sebagainya. Dan kali ini kami akan mengalihrawatkan salah satu pusaka… selengkapnya
Rp 7.200.000Keris Mundarang Pamor Meteorit Empu Guling Mataram Keris Mundarang Pamor Meteorit Empu Guling Mataram merupakan karya yang membanggakan dari Empu Ki Guling, seorang empu terkemuka pada masa kejayaan Kerajaan Mataram di bawah pemerintahan Raja Sultan Agung. Pada masa tersebut, keris-keris yang dihasilkan oleh Empu Ki Guling menjadi luar biasa karena penggunaan bahan pamor yang melimpah,… selengkapnya
Rp 66.000.000Keris Panimbal Mataram Senopaten Sepuh Keris Panimbal Mataram Senopaten Sepuh merupakan salah satu koleksi dari sekian banyak koleksi kami. Keris ini berdhapur Panimbal, merupakan dhapur keris lurus dengan ricikan kembang kacang, lambe gajah, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan dan greneng. Untuk pamor yang tergurat di sekujur bilahnya adalah pamor Wos Wutah. Sedangkan dari penilaian material bilah,… selengkapnya
Rp 3.500.000Pusaka Keris Omyang Jimbe Meteor Dhapur: Omyang Jimbe Pamor: Sanak Meteorit Kode: PK057 INFO SELENGKAPNYA Tentang Pusaka Keris Omyang Jimbe Meteor Silahkan Hubungi Kami Melalui Whatsapp/Telp/SMS: 082177400100
Hubungi Admin


















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.