Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Korowelang » Korowelang Luk 13 Kinatah Emas Original Sepuh
click image to preview activate zoom

Korowelang Luk 13 Kinatah Emas Original Sepuh

Rp 25.000.000
KodeP233
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Korowelang, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 13, Pamor Ngulit Semangka, Tangguh Mataram Sultan Agung
Jenis : Keris Luk 13
Dhapur Korowelang - Kinatah Emas
Pamor Kulit Semangka
Tangguh Mataram Sultan Agung
Warangka : Ladrang Surakarta, Kayu Trembalo Gandar Iras
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Kemuning
Pendok : Blewah, Bahan Mamas
Mendak : Kendhit, Bahan Perak
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Korowelang Luk 13 Kinatah Emas Original Sepuh

Korowelang Luk 13 Kinatah Emas Original Sepuh

Dhapur Korowelang

Korowelang merupakan singkatan dari ungkapan “Perkoro piweling lan piwulang”, yang bermakna nasihat dan ajaran. Ia hadir sebagai pengingat bahwa waktu—kala—adalah sesuatu yang tidak pernah dapat diulang. Sekali berlalu, ia tidak akan kembali.

Dalam tradisi tutur, tombak dan keris Korowelang juga kerap disebut Kolowelang. Istilah ini berasal dari kata kolo atau kala yang berarti waktu, serta welang, nama seekor ular berbisa yang mematikan. Perpaduan dua makna ini melahirkan simbol yang sangat kuat: waktu yang diabaikan dapat berubah menjadi bahaya yang mencelakakan.

Pesan utama dari dhapur Korowelang adalah peringatan agar manusia menyadari keterbatasan usia dan singkatnya waktu hidup di dunia. Waktu hendaknya dimanfaatkan untuk melakukan laku yang bermanfaat, berbuat kebajikan, serta mendekatkan diri kepada Tuhan, sebagaimana piwulang yang diwariskan para leluhur. Sebab apabila waktu yang singkat ini disia-siakan, maka kala justru akan menjelma menjadi welang—ular berbisa yang perlahan namun pasti membawa petaka.

Filosofi inilah yang turut menjelaskan mengapa angka 13 memiliki kedudukan istimewa dalam dunia tosan aji. Keris dan tombak ber-luk 13 dipercaya mengemban misi besar. Ada perbawa yang berbeda ketika menanting pusaka luk 13—sebuah getaran tanggung jawab, keteguhan, dan kesadaran akan waktu serta tugas hidup.

Salah satu contohnya adalah Keris berdhapur Sengkelat, yang sejak dahulu dikenal sebagai pusaka kewibawaan, simbol kestabilan dan kebijaksanaan. Keris ini diperuntukkan bagi para pemimpin dan penguasa, karena kepemimpinan sejati menuntut ketenangan batin, ketegasan sikap, dan kejernihan dalam mengambil keputusan. Hingga kini, Sengkelat masih digemari oleh para pemimpin dan pejabat sebagai piandel penunjang amanah dan tanggung jawab jabatan.


Pamor Kulit Semangka

Pamor Kulit Semangka, atau Ngulit Semangka, dinamai demikian karena coraknya menyerupai kulit buah semangka—berlapis, teratur, dan tampak hidup. Dalam filsafat Jawa, pamor ini dimaknai sebagai simbol rezeki yang berlapis dan berkesinambungan: bukan rezeki yang datang seketika lalu lenyap, melainkan mengalir perlahan seiring usaha, ketekunan, dan kecermatan pemiliknya.

Secara tuah, pamor Kulit Semangka dipercaya mendukung sikap optimis, keluwesan dalam pergaulan, serta kebijaksanaan dalam menyikapi persoalan hidup. Ia mengajarkan kemampuan menyesuaikan diri tanpa kehilangan prinsip—fleksibel nanging ora kecalan waton. Rezeki yang diisyaratkan pamor ini tidak semata bersifat materi, tetapi juga berupa kemudahan relasi, kejernihan berpikir, dan kematangan rasa dalam menghadapi dinamika kehidupan.


Tangguh Mataram Sultan Agung

Masa Mataram Islam, khususnya pada pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma, kerap dipandang sebagai salah satu puncak kejayaan dunia perkerisan Jawa. Pada periode ini, pembuatan keris dan tombak berkembang pesat, baik dari segi kualitas, kuantitas, maupun ragam garapnya.

Dalam berbagai sumber tutur, diceritakan bahwa Sultan Agung mengeluarkan titah yang memperkenankan rakyat memiliki pusaka wesi aji—keris, tombak, maupun pedang—tanpa rasa takut pusaka tersebut akan dirampas oleh pihak keraton. Titah ini menumbuhkan rasa aman, kepercayaan kepada pemimpin, serta semangat membangun dari desa hingga pusat kerajaan.

Pada masa ini, keris tidak lagi semata menjadi simbol kaum elit, melainkan menjelma sebagai bagian dari identitas dan kepercayaan diri masyarakat. Dalam berbagai upacara adat dan pisowanan, rakyat berani mengenakan busana lengkap dengan keris—baik sebagai ageman maupun pusaka tayuhan.

Sultan Agung juga dikenal memberikan anugerah pusaka kinatah emas kepada mereka yang berjasa, disesuaikan dengan kedudukan dan perannya. Prajurit hingga lurah memperoleh kinatah dengan motif tertentu, para perwira dan panewu menerima kinatah bergambar gajah atau singa sebagai simbol kekuatan dan kepemimpinan, sementara kerabat dekat dan patih dalem dianugerahi pusaka dengan kinatah yang lebih halus, sarat simbol kebijaksanaan dan keagungan.

Zaman Mataram Sultan Agung menjadi masa yang subur bagi para empu. Mereka diberi kebebasan untuk berkreasi, sekaligus melestarikan bentuk-bentuk lama, memadukan warisan masa sebelumnya dengan ciri khas Mataram. Karena itulah, keris-keris tangguh ini tampil beragam dalam pasikutan dan garap, namun tetap memancarkan watak yang matang, agung, dan berwibawa—menjadikan era ini kerap disebut sebagai “surga para empu”.

P233

Korowelang Luk 13 Kinatah Emas Original Sepuh

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 12 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us