Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Sabuk Inten » Sabuk Inten Mataram Senopaten
click image to preview activate zoom

Sabuk Inten Mataram Senopaten

Rp 2.500.000
KodeF211
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Sabuk Inten, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 11, Keris Sepuh, Pamor Beras Wutah, Tangguh Mataram Senopaten
Jenis : Keris Luk 11
Dhapur Sabuk Inten
Pamor Wos Wutah
Tangguh Mataram Senopaten
Warangka : Ladrang Surakarta, Kayu Timoho
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Kemuning Bang
Mendak : Parijata Bahan Kuningan
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Sabuk Inten Mataram Senopaten

Sabuk Inten Mataram Senopaten

Sabuk Inten Mataram Senopaten merupakan pusaka yang memadukan kelengkapan ricikan khas dhapur Sabuk Inten dengan karakter kuat era Panembahan Senapati. Di masa awal berdirinya Mataram, ketika para empu pewaris Majapahit melanjutkan keilmuannya di bawah panji Senopaten, lahirlah bilah-bilah dengan garap prigel, tegas, namun tetap memancarkan aura wingit yang halus. Dalam lingkungan budaya yang menuntut kedisiplinan, spiritualitas, dan laku, dhapur Sabuk Inten tampil sebagai lambang kemuliaan hidup—inten—yang hanya dapat dicapai melalui pengendalian diri—sabuk. Maka, Sabuk Inten bertangguh Mataram Senopaten bukan sekadar keris, tetapi perpaduan antara estetika adiluhung, warisan Majapahit, dan falsafah awal Mataram yang menjunjung keteguhan laku dan kemuliaan budi.

Dhapur Sabuk Inten

Dalam tradisi lisan Jawa, disebutkan bahwa dhapur Sabuk Inten diciptakan oleh para empu pada Tahun Jawa 1381, pada masa Prabu Brawijaya Akhir. Pusaka ini dikaitkan dengan Empu Domas, yang namanya sering dimaknai sebagai “delapan ratus”. Dalam Kamus Sunda-Inggris Jonathan Rigg (1862), domas berasal dari dwa (dua) dan mas (empat ratus), sekaligus memiliki arti “emas” — sebuah simbol kemuliaan. Karena dibuat oleh empu yang kedudukannya begitu istimewa, keris Sabuk Inten diyakini mengandung nilai dan makna yang sangat khusus.

Nama Sabuk Inten juga familiar di telinga masyarakat luas, salah satunya karena diabadikan dalam karya sastra legendaris SH. Mintardja, “Nagasasra Sabuk Inten”, sehingga menjadikan dhapur ini semakin populer dan lekat dalam ingatan budaya.

Secara ricikan, Sabuk Inten tergolong dhapur dengan kelengkapan tinggi: luk sebelas, kembang kacang, jalen, lambe gajah, pejetan, tikel alis, sogokan depan-belakang (rangkap), sraweyan, serta greneng atau eri pandan.


Filosofi Sabuk Inten

Nama “Sabuk Inten” mengandung dua unsur simbolik yang sangat dalam:

  • Inten melambangkan kemuliaan hidup, kekayaan, kejernihan pikiran, dan keluhuran.

  • Sabuk atau ikat pinggang melambangkan laku prihatin, pengendalian diri, ketekunan, serta kerja keras.

Bagi masyarakat Jawa, kemuliaan hidup tidak diperoleh dari kemudahan, melainkan dari kesungguhan menjalani laku. Pepatah Jawa menyatakan:

“Sapa obah mamah, ulet ngelamet. Ana awan ana pangan. Sregep iku gawe kamulyan.”
“Siapa bergerak akan mendapat makan, siapa tekun akan selamat. Selama matahari terbit ada rezeki. Kerajinan dan laku prihatin adalah jalan menuju kemuliaan.”

Dengan demikian, Sabuk Inten menjadi simbol perjalanan hidup: kemuliaan yang lahir dari pengendalian diri, kerja keras, dan kesabaran.


Pamor Beras Wutah

Pamor Wos Wutah / Beras Wutah menampilkan bercak-bercak putih kecil yang tersebar di permukaan bilah, menyerupai beras yang tumpah. Bentuk ini bukan sekadar keindahan visual, tetapi menyimpan pesan moral yang kuat.

Secara umum, ia melambangkan rezeki yang melimpah — sebagaimana beras yang tersebar, menjadi tanda keberkahan yang tak terhenti.

Namun, di balik makna kemakmuran, pamor ini juga merupakan pameling (pengingat). Pepatah Jawa mengatakan, “beras tumpah jarang bisa kembali ke takarannya.” Ungkapan ini menegaskan bahwa sesuatu yang sudah berubah tidak mudah dikembalikan seperti semula.

Dalam konteks rumah tangga, Beras Wutah menjadi pesan agar suami istri menjaga kepercayaan dan saling menghormati. Sekali kepercayaan pecah — seperti beras tumpah — memulihkannya memerlukan waktu, kesabaran, dan kadang tidak pernah kembali utuh seperti sebelumnya.

Karenanya, pamor ini menjadi simbol kewaspadaan, kesetiaan, dan tanggung jawab dalam hubungan.


Tangguh Mataram Senopaten

Keris ini digolongkan sebagai tangguh Mataram Senopaten, sebuah periode emas yang lahir pada masa Panembahan Senapati. Pada era ini, para empu menghasilkan karya adiluhung yang menggabungkan ketegasan, keluwesan, serta aura keangkeran yang halus.

Ciri garapnya tampak prigel, tegas namun tetap anggun. Warna besinya cenderung hitam kebiruan dengan pamor yang pandes dan kuat menempel pada bilah. Jejak Majapahit masih terasa jelas — sebuah warisan yang diturunkan secara langsung dari para empu Majapahit kepada generasi Mataram.

Walaupun jumlah lipatan besi pada masa Senopaten lebih sedikit dibanding masa Majapahit, namun pakem bentuk, struktur, aura wingit, dan karakter pamornya tetap membawa napas lama yang tidak terputus.

Warisan Majapahit ke Mataram

Keruntuhan Majapahit setelah era Hayam Wuruk dan Gajah Mada membuka masa transisi besar di Jawa. Islam menyebar, Demak bangkit, kemudian dilanjutkan oleh Pajang. Dari sinilah muncul Danang Sutawijaya yang mendirikan Kerajaan Mataram dan bergelar Panembahan Senapati.

Para empu Majapahit — baik keturunan maupun pewaris ilmunya — kemudian melanjutkan karya mereka di bawah Mataram. Karena itu, keris-keris Mataram Senopaten tidak sekadar pusaka baru, tetapi merupakan lanjutan estetik, teknik, dan spiritual dari kebesaran masa klasik.

Di tangan para empu Mataram, tradisi lama tidak hilang. Ia justru berakulturasi dengan nilai-nilai baru, sehingga melahirkan gaya tosan aji yang khas: perpaduan Hindu-Buddha Majapahit dengan spirit Islam Jawa.


Keris Sabuk Inten bertangguh Mataram Senopaten dengan pamor Beras Wutah bukan hanya pusaka agung, tetapi juga jejak sejarah panjang, simbol ketekunan, laku spiritual, dan warisan kebijaksanaan Jawa yang terus hidup hingga hari ini.

Tags: , ,

Sabuk Inten Mataram Senopaten

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 314 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us