Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Tilam Upih » Keris Tilam Upih Pamor Bendo Segodo Tangguh Pajajaran
click image to preview activate zoom

Keris Tilam Upih Pamor Bendo Segodo Tangguh Pajajaran

Rp 3.500.000
KodeDN093
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Tilam Upih, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Bendo Segodo, Tangguh Pajajaran
Jenis : Keris Leres
Dhapur Tilam Upih
Pamor Bendo Segodo
Tangguh Pajajaran
Warangka : Ladrang Surakarta, Bahan Kayu Timoho
Deder/Handle : Yudawinatan, Bahan Kayu Kemuning
Pendok : Bleweh, Bahan Kuningan
Mendak : Selut Bahan Kuningan Zircon
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Tilam Upih Pamor Bendo Segodo Tangguh Pajajaran

DHAPUR TILAM UPIH

Dhapur Tilam Upih merupakan salah satu dhapur keris lurus atau leres yang sangat dikenal dalam tradisi perkerisan Jawa. Ricikannya relatif sederhana, yaitu gandik lugas, tikel alis, dan pejetan. Kesederhanaan tersebut justru menjadi salah satu ciri utama dhapur ini.

Nama Tilam Upih berasal dari kata tilam, yang berarti alas atau tempat beristirahat, dan upih, yang merujuk pada pelepah pinang. Pada masa lalu, pelepah pinang dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat alas sederhana.

Dari makna tersebut, Tilam Upih dapat dimaknai sebagai simbol tempat beristirahat, ketenteraman, dan kenyamanan hidup. Dalam konteks keluarga, makna ini kemudian berkembang menjadi harapan akan rumah tangga yang harmonis, tenteram, dan berkecukupan.

Karena itu, Tilam Upih memiliki kedekatan dengan simbol kehidupan keluarga dan kesinambungan generasi. Dalam tradisi pewarisan, dhapur ini juga kerap dikaitkan dengan pusaka keluarga yang diberikan sebagai doa dan nasihat agar pemiliknya mampu membangun kehidupan rumah tangga yang baik.

Makna tersebut bukan semata-mata tentang kemewahan, tetapi tentang bagaimana ketenteraman dibangun melalui kasih sayang, tanggung jawab, kecukupan, dan kemampuan menjaga keharmonisan keluarga.

Sebutan “Ibu dari Semua Keris” yang kadang dilekatkan kepada Tilam Upih lebih tepat dipahami sebagai ungkapan atau tradisi tutur di kalangan sebagian pemerhati keris, bukan istilah baku dalam nomenklatur dhapur. Demikian pula kisah mengenai anjuran tokoh tertentu untuk memiliki Tilam Upih lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari tradisi lisan apabila tidak disertai sumber sejarah yang kuat.

 

PAMOR BENDO SEGODO

Pamor Bendo Segodo memiliki pola yang khas dan nama yang sarat dengan pemaknaan simbolik. Istilah bendo dalam konteks nama pamor ini berkaitan dengan bondo, yaitu harta atau kekayaan. Sementara segodo merupakan ungkapan yang menggambarkan sesuatu yang besar, seperti ukuran sebuah gada.

Dari perpaduan makna tersebut, Bendo Segodo kemudian dimaknai sebagai simbol kekayaan yang besar atau harapan akan kehidupan yang berkecukupan.

Namun kekayaan tidak harus selalu dipahami sebatas materi. Dalam kehidupan, kekayaan juga dapat berupa ilmu, pengalaman, keteguhan hati, hubungan yang baik, nama baik, dan kehormatan. Bahkan hal-hal tersebut sering kali menjadi bekal yang jauh lebih menentukan dalam perjalanan seseorang.

Karena itu, Pamor Bendo Segodo dapat dibaca sebagai doa untuk memperoleh kekayaan dan kecukupan, sekaligus pengingat agar seseorang tidak hanya mengejar apa yang dapat dikumpulkan, tetapi juga memperkaya dirinya dengan ilmu, pengalaman, dan nilai kehidupan.

Pemaknaan tersebut merupakan bagian dari simbolisme dan tafsir budaya dalam tradisi perkerisan, bukan sifat objektif yang secara otomatis melekat pada material pamornya.

 

TANGGUH PAJAJARAN

Tangguh Pajajaran merupakan salah satu penamaan tangguh yang dikaitkan dengan lingkungan budaya Sunda pada masa Kerajaan Sunda, khususnya lingkungan Pakuan Pajajaran yang dalam tradisi sejarah dan budaya Sunda dikenal sebagai pusat kerajaan.

Pakuan Pajajaran berada di wilayah yang kini menjadi Bogor. Salah satu peninggalan penting yang berkaitan dengan sejarahnya adalah Prasasti Batutulis, yang memiliki hubungan erat dengan masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja. Sri Baduga memerintah Kerajaan Sunda sekitar akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16 dan menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah Pajajaran.

Dalam memahami Pajajaran, penting untuk membedakan antara Kerajaan Sunda sebagai kerajaan dan Pakuan Pajajaran sebagai pusat pemerintahannya. Sumber-sumber seperti Prasasti Batutulis, Carita Parahyangan, dan Bujangga Manik menjadi bagian penting dalam memahami lingkungan sejarah dan kebudayaan Sunda pada masa tersebut.

Pakuan tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga merupakan lingkungan kehidupan masyarakat dengan tata ruang, bangunan, dan berbagai aktivitas yang menunjukkan perkembangan kebudayaan pada zamannya. Dari lingkungan inilah kemudian lahir berbagai tradisi, termasuk tradisi pengerjaan logam dan senjata yang menjadi bagian dari kebudayaan Sunda.

Dalam tradisi perkerisan, penyebutan Tangguh Pajajaran kemudian digunakan untuk menghubungkan karakter sebuah bilah dengan lingkungan budaya dan masa tersebut. Pembacaannya dilakukan melalui keseluruhan karakter keris, seperti pasikutan, bentuk bilah, ricikan, bahan, pamor, dan garapnya.

Karena itu, Tangguh Pajajaran tidak hanya menarik untuk dipahami dari sisi perkiraan zaman, tetapi juga sebagai bagian dari upaya melihat jejak kebudayaan Sunda dalam perkembangan keris dan tosan aji.

 

DN093

Keris Tilam Upih Pamor Bendo Segodo Tangguh Pajajaran

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 6 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us