Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Jual Keris Jalak Sangu Tumpeng JST Mataram Sultan
- Jangkung Pacar Madiun Sepuh
- Kudi Sabit Bendo Kabudhan Kuno
- Keris Sabuk Inten Mataram Senopaten Pamor Meteorit
- Keris Corok Era Pajajaran Kuno
- KERIS LANGKA!! Pamor Rajah Tundung Musuh Tuban Sep
- Dhapur Langka!! Keris Sempono Luk 11 Sepuh
- Pusaka Keris Tilam Sari Sepuh Kuno
Keris Patrem Pamor Tambal Sepuh
| Kode | TAG075 |
| Stok | Habis |
| Kategori | Dhapur Brojol, Katalog Produk, Keris, Pamor Tambal, Tangguh Pajajaran |
| Jenis | : Keris Leres (Patrem) |
| Dhapur | : Brojol |
| Pamor | : Tambal |
| Tangguh | : Pajajaran |
| Warangka | : Gayaman Yogyakarta, Kayu Timoho |
| Deder/Handle | : Banaran, Kayu Kemuning Werut |
| Pendok | : Bleweh, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Tumpalan, Bahan Kuningan Kemalo Hijau |
Keris Patrem Pamor Tambal Sepuh
KERIS PATREM
Patrem merupakan salah satu jenis keris yang dibedakan terutama berdasarkan ukuran bilahnya yang relatif kecil. Istilah patrem tidak menunjuk pada satu bentuk dhapur tertentu, sehingga keris patrem dapat memiliki bentuk lurus maupun luk. Pada umumnya jumlah luknya tidak banyak dan sering dijumpai hingga luk 5. Bentuk gandhik juga dapat beragam, antara lain berbentuk naga, singa, maupun kikik.
Secara tradisional, ukuran patrem dapat dikenali dengan membandingkan panjang bilah dengan rentangan jari tangan, yaitu jarak antara ujung ibu jari dan ujung jari kelingking. Dalam ukuran modern, panjang bilah patrem umumnya berada di sekitar 15-25 cm, meskipun ukuran tersebut bukan batas mutlak.
Patrem terkadang disalahartikan sebagai cundrik, padahal keduanya merupakan istilah yang berbeda. Cundrik merupakan nama dhapur dengan bentuk yang lebih mendekati pedang pendek daripada keris pada umumnya. Ciri khasnya antara lain gandhik yang relatif panjang, hampir separuh bilah, dan berada di sisi belakang. Ganja cundrik juga memiliki bentuk khas, dengan buntut cecak yang pendek dan mengarah terbalik ke depan. Pada bentuk tertentu, cundrik dapat memiliki ganja yang menyatu dengan bilah atau ganja iras.
Mengenai fungsi dan siapa yang menggunakan patrem, terdapat beberapa pendapat dalam literatur maupun tradisi perkerisan. Salah satu pendapat mengaitkannya dengan kaum perempuan. Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java mencatat keberadaan prajurit perempuan di lingkungan Keraton Yogyakarta yang mengenakan keris berukuran kecil. Mereka dikenal memiliki kemampuan berkuda dan memanah, serta menjalankan tugas menjaga lingkungan keraton pada waktu-waktu tertentu.
Pendapat lain menghubungkan patrem dengan senjata pertama bagi anak laki-laki. Salah satu sumber yang sering digunakan sebagai pembanding adalah catatan Ma Huan dalam Ying-Yai Sheng-Lan. Dalam catatannya mengenai masyarakat Jawa, Ma Huan menggambarkan bahwa orang Jawa dari anak-anak hingga orang tua membawa senjata pendek di pinggang. Catatan tersebut menunjukkan bahwa senjata berukuran kecil telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa, meskipun tidak dapat secara langsung disamakan dengan pengertian patrem dalam tradisi perkerisan Jawa sekarang.
Ada pula pendapat yang menyebutkan, bahwa keris patrem tersebut tidak hanya menjadi monopoli kaum hawa dan taruna, akan tetapi bisa saja menjadi senjata fungsional khusus untuk mempersenjatai para Wira Tamtama (prajurit pilihan) untuk menunjang kepraktisan tugas mata-mata, hingga mudah disembunyikan ketika dibawa, dan mudah dicabut ketika hendak dipakai.
Tetapi ada juga pendapat lain lagi mengatakan bahwa kecilnya bilah itu untuk keperluan spiritual, agar pusaka itu mudah disematkan di tubuh sebagai piandel yang bisa dibawa kemana-mana.
Karena beragamnya pendapat tersebut, patrem sebaiknya tidak dipahami secara sederhana sebagai “keris untuk perempuan” atau “keris untuk anak-anak”. Ukuran kecil merupakan ciri utamanya, sementara fungsi dan konteks penggunaannya dapat berbeda-beda sesuai lingkungan budaya dan zamannya.
Secara filosofis, istilah patrem sering dikaitkan dengan kata patrêm, yang dimaknai sebagai sesuatu yang memberikan ketenteraman. Dari pengertian tersebut, patrem dapat dipahami sebagai perlambang ketenteraman hati—sebuah pengingat agar manusia mampu menghadapi kekhawatiran, ancaman, dan ketidakpastian dengan hati yang lebih tenang.
Apabila patrem merupakan pusaka warisan orang tua atau leluhur, maknanya dapat berkembang menjadi simbol hubungan antargenerasi. Nilainya tidak semata-mata terletak pada keyakinan terhadap daya gaib, tetapi juga pada sejarah, pesan, keteladanan, dan ingatan keluarga yang melekat pada pusaka tersebut.
PAMOR TAMBAL
Pamor Tambal merupakan salah satu pamor yang memiliki bentuk khas berupa bidang-bidang pamor yang seolah-olah ditambalkan pada permukaan bilah. Secara visual, motifnya dapat tampak seperti sapuan atau goresan kuas besar pada sebuah bidang lukisan. Bentuk, ukuran, dan jarak antarbagian pamor tidak selalu sama, namun ketidakteraturan tersebut justru menjadi bagian dari karakter visual Pamor Tambal.
Dalam klasifikasi tradisional, Pamor Tambal termasuk pamor rekan, yaitu pamor yang motifnya sengaja dirancang dan diusahakan oleh Empu dalam proses penempaan.
Nama tambal memberikan ruang tafsir filosofis yang kuat. Menambal berarti memperbaiki bagian yang kurang, menutup celah, atau melengkapi sesuatu yang belum sempurna. Karena itu, Pamor Tambal sering dimaknai sebagai doa dan harapan agar kekurangan serta kelemahan dalam kehidupan dapat diperbaiki.
Makna tersebut dapat dibaca secara lebih luas sebagai perlambang ikhtiar untuk menjadi lebih baik. Manusia menyadari bahwa dirinya tidak sempurna. Ada kekurangan yang harus diperbaiki, ada kelemahan yang perlu diperkuat, dan ada kesalahan yang harus diperbaiki melalui pengalaman serta pembelajaran.
Dalam sebagian tradisi perkerisan, Pamor Tambal juga dipercaya memiliki kecocokan tertentu dengan pemiliknya dan sering dikaitkan dengan kemajuan kehidupan, kedudukan, serta tercapainya derajat yang lebih baik. Pemaknaan tersebut sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari kepercayaan dan tafsir budaya, bukan sebagai jaminan atas hasil tertentu.
Secara simbolik, Pamor Tambal dapat menjadi pengingat bahwa setiap kekurangan bukan alasan untuk berhenti berkembang. Apa yang kurang dapat ditambal dengan ikhtiar, apa yang lemah dapat diperkuat dengan pembelajaran, dan apa yang belum sempurna dapat terus diperbaiki sepanjang perjalanan hidup.
Teknik Tempa Pamor: Mlumah
Kemunculan Motif Pamor: Rekan
TANGGUH PAJAJARAN
Dalam tradisi perkerisan, Tangguh Pajajaran merupakan salah satu penamaan tangguh yang dikaitkan dengan lingkungan budaya Sunda pada masa Kerajaan Sunda, yang dalam tradisi populer sering disebut sebagai Pajajaran.
Secara historis, perlu dibedakan antara Kerajaan Sunda dan Pakuan Pajajaran. Pakuan dikenal sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Sunda yang keberadaannya antara lain diketahui melalui Prasasti Batutulis di wilayah Bogor. Salah satu tokoh penting yang berkaitan dengan periode tersebut adalah Sri Baduga Maharaja, yang secara tradisional ditempatkan memerintah sekitar 1482–1521 M.
Peninggalan seperti Prasasti Batutulis, serta sumber tertulis seperti Carita Parahyangan dan Bujangga Manik, memberikan gambaran mengenai lingkungan politik, sosial, dan kebudayaan Sunda pada masa tersebut. Pakuan bukan sekadar nama sebuah tempat, melainkan pusat pemerintahan dan kehidupan masyarakat dengan lingkungan budaya yang kompleks.
Dalam konteks perkerisan, istilah Tangguh Pajajaran merupakan bagian dari sistem klasifikasi tradisional untuk membaca kemungkinan asal-usul sebuah bilah berdasarkan sejumlah karakter tertentu. Penilaian tangguh tidak semestinya ditentukan hanya dari satu ciri, apalagi semata-mata dari nama atau perkiraan usia.
Pembacaan tangguh perlu mempertimbangkan berbagai unsur secara bersama-sama, seperti pasikutan, bentuk bilah, ricikan, karakter besi, pamor, garap, serta perbandingan dengan bilah-bilah pembanding yang telah dikenal dalam tradisi perkerisan.
Karena itu, penyebutan Tangguh Pajajaran lebih tepat dipahami sebagai hasil identifikasi berdasarkan pembacaan karakter bilah, bukan sebagai kepastian mutlak mengenai tahun pembuatan sebuah keris. Kajian tangguh selalu terbuka terhadap perbandingan, pengalaman pemerhati, perkembangan penelitian, serta kemungkinan ditemukannya data atau rujukan yang lebih kuat.
Dengan pendekatan tersebut, Tangguh Pajajaran tidak hanya menarik untuk dibicarakan dari sisi usia sebuah pusaka, tetapi juga sebagai pintu untuk memahami kemungkinan hubungan antara teknologi tempa, perkembangan seni bilah, dan lingkungan kebudayaan Sunda pada masa lalu.
Catatan Identifikasi: Identifikasi dhapur, pamor, dan tangguh merupakan bagian dari pengetahuan serta terminologi tradisional perkerisan. Ciri-ciri yang disebutkan merupakan bahan pengamatan dan pembanding, bukan rumus tunggal. Perbedaan hasil pengamatan dapat terjadi karena dipengaruhi kondisi bilah, usia, perawatan, kelengkapan ricikan, pengalaman pemerhati, sudut pandang, serta rujukan yang digunakan. Karena itu, deskripsi ini merupakan hasil pembacaan berdasarkan karakter yang dapat diamati dan tetap terbuka terhadap perbandingan, kajian, maupun koreksi apabila terdapat data atau rujukan lain yang lebih kuat.
Keris Patrem Pamor Tambal Sepuh
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 354 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Dhapur Sempana (Luk 9) Sempana merupakan salah satu dhapur keris berluk sembilan yang dikenal karena bentuknya sederhana, proporsional, dan berkesan anggun. Kesederhanaan pasikutannya justru menjadikan dhapur ini digemari sejak lama dan banyak dijumpai pada berbagai pusaka penting. Salah satunya adalah Kanjeng Kyai Panukup, pusaka milik Keraton Kasultanan Yogyakarta yang juga berdhapur Sempana. Nama Sempana diyakini… selengkapnya
Rp 4.500.000Keris Tindih Bethok Sombro Pamekang Jagad Asli Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Betok Sombro Pamor (motif lipatan besi) : Beras Wutah Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajajaran Awal Panjang Bilah : 28 cm Warangka : Sandhang Walikat Kayu Galih Nagasari Handle / Gagang : Kayu Gembol Jati Ukiran Rojomolo Asli Kuno Mendak :… selengkapnya
Rp 12.555.000Dhapur Jalak Sangu Tumpeng Dalam tradisi keraton, Jalak Sangu Tumpeng merupakan salah satu dhapur yang memiliki kedudukan istimewa. Salah satu pusaka Keraton Yogyakarta yang paling dihormati, KKA Kopek, berdhapur Jalak Sangu Tumpeng dengan sor-soran berlapis emas bergaya Panji Wilis sebagai penanda pusaka keraton. Pusaka ini tidak hanya dimuliakan sebagai senjata, tetapi juga sebagai simbol ajaran… selengkapnya
Hubungi AdminPusaka Keris Sengkelat Pamor Kenongo Ginubah Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sengkelat Luk 13 Pamor (motif lipatan besi) : Kenongo Ginubah Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : STW Panjang Bilah :35 cm Warangka : Ladrang Ukiran Ular Kayu Sawo Handle / Gagang : Kemuning Kuno Mendak : Kuningan Kode: K151 Dialih rawatkan (dimaharkan) sesuai dengan… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Pamor Rojo Gundolo Kuno Keris Pamor Rojo Gundolo Kuno yang satu ini tentu saja sangat spesial. Sebuah pamor tiban yang eksotis nampak pada bagian sor-soran keris ini. Berbentuk sebuah gambar pola sesosok makhluk misterius yang pada umumnya pamor seperti ini disebut dengan sebutan pamor Rojo Gundolo. Jika dihayati dan diamati pola pamor Rojo Gundolo… selengkapnya
Rp 2.555.000Keris Singo Pandawa Tangguh Madiun Sepuh Keris Singo Pandawa Tangguh Madiun Sepuh – Singa dalam mitologi Indonesia biasanya terdapat dalam bentuk patung pada bangunan keagamaan seperti candi, tempat pemujaan, pertapaan, dll. Motif singa juga terdapat pada motif batik, ukiran, pedalangan, sungging, tempa, tari, sastra, dll. Yang menonjol adalah motif singa yang terdapat pada tempaan keris…. selengkapnya
Rp 15.555.000Pedang Suduk Kuno Pamor Tangkis Dhapur/ Nama bentuk Pedang : Pedang Suduk Pamor / Motif Lipatan Besi : Tangkis (dua sisi bilah beda pamor) Kulit semangka dan keleng Tangguh : Zaman pembuatan Kerajaan Cirebon abad ke 16 masehi Panjang bilah tajam : 51 cm Panjang Total Ketika Disarungkan : 65,5 cm Warangka : Kayu Jati… selengkapnya
Rp 700.000Jangkung Pacar Madiun Sepuh Jangkung Pacar Madiun Sepuh – Jangkung Pacar merupakan salah satu dhapur keris luk tiga, yang ukuran panjang bilahnya sedang, permukaan bilahnya nglimpa. Keris ini menggunakan pejetan, tikel alis, sraweyan, kembang kacang, jalen, lambe gajah, greneng, sogokan rangkap (kadang dibagian depan berukuran panjang, ada yang sampe ke tengah bilah kadang sampai ke… selengkapnya
Rp 3.333.000Keris Nogo Siluman Pamor Pandan Iris Tambal Keris Nogo Siluman Pamor Pandan Iris Tambal memang memiliki kualitasnya tersendiri. Dari mulai dapurnya yang fenomenal juga pamornya yang indah dan sudah cukup langka. Keris dengan tangguh kamardikan ini tidak kalah menarik, dapur Nogo Siluman berkinatah yang halus dan elegant. Pamor yang begitu estetik dengan penerapan pamor yang… selengkapnya
Rp 2.300.000














WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.