Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Keris Tilam Upih Pamor Kulit Semangka Sepuh
- Pusaka Tombak Banyak Angrem Pamor Kulit Semangka P
- Keris Corok Pulanggeni Luk 5 Pamor Banyu Netes Kun
- Keris Pasopati Pamor Sekar Manggar
- Keris Tilam Sari Pamor Jung Isi Dunyo Mataram Sult
- Keris Sinom Kinatah Emas Mataram Amangkurat
- Deder Hulu Keris Solo Model Pakubuanan
- Keris Parungsari Pamor Pedaringan Kebak
Keris Putut Sajen Sombro
Rp 870.000| Kode | TAG060 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Dhapur Putut Sajen, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Mrambut, Tangguh Pajajaran |
| Jenis | : Keris Leres |
| Dhapur | : Putut Sajen |
| Pamor | : Mrambut |
| Tangguh | : Pajajaran |
| Warangka | : Sandang Walikat, Kayu Jati |
| Deder/Handle | : Stilasi Putut Iras |
Keris Putut Sajen Sombro
Keris Sajen
Keris sajen, yang juga dikenal dengan sebutan seking atau keris Majapahit, merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut kelompok keris dengan bentuk sederhana dan ukuran yang relatif pendek, kira-kira sekitar sejengkal tangan.
Salah satu ciri khasnya adalah ganja iras, yaitu bagian ganja yang menyatu dengan bilah karena dibuat dari satu bahan logam. Pada bagian hulu biasanya terdapat bentuk manusia yang telah mengalami stilisasi. Bentuknya sederhana, tetapi justru memiliki nilai simbolik yang kuat.
Dari sisi garap, keris sajen umumnya tidak menampilkan ricikan yang rumit. Pamor yang dijumpai antara lain keleng, sanak, dan mrambut. Pada bentuk yang lebih muda juga ditemukan pamor seperti banyu mili dan singkir.
Keris Sajen dan Tradisi Ritual
Sebutan “sajen” berkaitan dengan dugaan fungsi keris ini dalam kegiatan ritual masyarakat masa lalu.
Dalam tradisi Jawa, keris sajen sering dikaitkan dengan bersih desa, pertanian, dan perlindungan terhadap sawah maupun ladang. Dalam beberapa tradisi, keris tersebut ditempatkan bersama ubo rampe sesaji, kemudian setelah upacara dipasrahkan kembali kepada bumi dengan cara ditanam di pematang sawah atau di tengah ladang.
Jika dilihat dari sudut pandang budaya, tradisi tersebut menunjukkan hubungan erat antara manusia, alam, dan kehidupan spiritual. Masyarakat agraris menyadari bahwa kehidupannya sangat bergantung pada tanah, air, musim, dan kesuburan. Ritual menjadi salah satu cara untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus harapan terhadap keberlangsungan kehidupan.
Namun, istilah keris sajen sebaiknya tidak dipahami bahwa semua keris dengan bentuk tersebut pasti dibuat untuk sesaji. Sebutan itu lebih merupakan pengelompokan berdasarkan bentuk dan dugaan fungsi yang berkembang dalam tradisi.
Jejak Sejarahnya
Pembahasan mengenai keris pada masa awal Nusantara memang masih menjadi kajian yang menarik.
Prasasti Poh tahun 904 Masehi sering disebut karena memuat istilah keris dalam konteks perlengkapan tertentu. Tetapi, keberadaan kata “keris” dalam prasasti tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa bentuknya sudah sama dengan keris yang kita kenal sekarang.
Karena itu, hubungan antara keris dalam sumber Jawa Kuno dengan keris sajen masih perlu dilihat melalui berbagai bukti, seperti prasasti, artefak arkeologi, relief, bentuk benda, dan perkembangan teknologi tempa.
Salah satu temuan yang sering dikaitkan dengan keris sajen adalah keris berhulu puthut yang ditemukan dalam pemugaran awal Candi Borobudur pada tahun 1842. Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa benda berbentuk keris pernah hadir dalam lingkungan yang memiliki nilai sakral.
Figur Puthut
Salah satu bagian paling menarik dari keris sajen adalah figur manusia pada hulunya. Di antara berbagai bentuk tersebut terdapat figur yang dikenal sebagai puthut.
Dalam tradisi Jawa, puthut berkaitan dengan kehidupan sanggar atau lingkungan pertapaan. Sosok ini digambarkan sebagai manusia sederhana yang menjalani kehidupan spiritual, belajar, dan mengabdi kepada gurunya.
Karena itu, figur puthut dapat dipahami sebagai simbol manusia yang rendah hati dan bersedia menundukkan diri untuk belajar.
Ia bukan sosok raja yang menunjukkan kebesaran.
Bukan pula seorang prajurit yang menunjukkan kekuatan.
Justru sosok yang sederhana.
Di situlah nilai filosofinya menjadi menarik.
Antara Tradisi dan Kajian
Dalam tradisi para empu juga dikenal berbagai cerita mengenai besi kadewatan, termasuk besi Pulosani atau Wuryan. Besi tersebut dipercaya memiliki sifat khusus dan dikaitkan dengan keris yang memiliki tuah tertentu, seperti kajen kineringan—dihormati, dipercaya, dan memiliki kewibawaan.
Hal seperti ini sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari kepercayaan dan pengetahuan tradisional, bukan sebagai fakta ilmiah yang harus diterima begitu saja.
Sebab mempelajari keris tidak hanya berarti mempelajari kepercayaan, tetapi juga memahami sejarah, arkeologi, teknologi metalurgi, seni, dan kehidupan masyarakat yang melahirkannya.
Pada akhirnya, keris sajen bukan sekadar keris yang bentuknya sederhana.
Di dalamnya terdapat jejak hubungan manusia dengan alam, leluhur, ritual, dan kehidupan spiritual.
Dan figur manusia pada hulunya seolah mengingatkan kita pada satu hal sederhana:
manusia tidak akan menjadi besar hanya karena merasa dirinya tinggi. Kadang justru ketika mampu merendahkan hati, belajar, dan mengabdi, di situlah manusia menemukan nilai dirinya.
TAG060
Keris Putut Sajen Sombro
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 0 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Kerajaan Segaluh Kuno Pamor Adeg Singkir Keris Kerajaan Segaluh Kuno Pamor Adeg Singkir – Keris yang akan diulas adalah Keris Kerajaan Segaluh Kuno dengan pamor Adeg Singkir. Sebagai peninggalan dari era Kerajaan Segaluh, keris ini memiliki keistimewaan tertentu. Pamornya dikenal sebagai pamor Adeg, yang juga sering disebut sebagai pamor Singkir karena empu yang menciptakan… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Korowelang Luk 13 Tangguh Madiun Sepuh TAG154
Rp 4.500.000Keris Tilam Upih Pamor Simbang Wahyu Tumurun Tuban Empu Bekel Jati Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Upih Pamor (motif lipatan besi) : Simbang Wahyu Tumurun (pamor gonjo sumber mas tembus) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Tuban (Empu Bekel Jati) Panjang Bilah : 33 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Gembol Jati Kuno Handle… selengkapnya
Rp 2.850.000Keris Carito Keprabon Luk 11 Kesultanan Cirebon Keris Carito Keprabon Luk 11 Kesultanan Cirebon merupakan salah satu koleksi keris pusaka dari peninggalan era Kesultanan Cirebon. Dengan usianya yang sudah ratusan tahun keris ini menjadi bukti sejarah sekaligus warisan dari kejayaan Kerajaan Cirebon pada kala itu. Dengan garap yang cukup bagus yang bisa jadi merupakan keris… selengkapnya
Rp 4.111.000Keris Bali Sepuh Carita Genengan Luk 11 Pusaka ini menggunakan warangka model Kekandikan berbahan kayu Sono Keling lawasan yang menampilkan karakter klasik khas Bali. Hulu atau deder menggunakan model Buto Nawasari, juga dari kayu Sono Keling lawasan, dipadukan dengan mendak model uwer berbahan perak berhias batu safir. Keseluruhan busana memancarkan kesan gagah, klasik, dan berwibawa…. selengkapnya
Rp 35.000.000Keris Sempaner Pamor Kulit Semangka Putih Ndeling Tangguh Mataram Asli Sepuh Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Sempaner Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Abad ke 17 Masehi Panjang Bilah : 33 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno… selengkapnya
Rp 1.750.000Keris Kamardikan Istimewa Singo Barong Kembar Luk 13 Kinatah Kamarogan Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Singo Barong Kembar Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka (Kinatah Kamoragan Kuningan Disepuh Emas) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Kamardikan Garap Halus Istimewa Panjang Bilah : 37 cm Warangka : Gayaman Solo Kayu Sono Keling Handle / Gagang… selengkapnya
Hubungi Admin


















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.