Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Singo Barong » Keris Singo Barong Luk 13 Mataram Senopaten Kinatah Emas
click image to preview activate zoom

Keris Singo Barong Luk 13 Mataram Senopaten Kinatah Emas

Rp 100.000.000
KodeP250
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Singo Barong, Katalog Produk, Keris, Keris Luk 13, Pamor Beras Wutah, Pamor Tunggul Kukus, Tangguh Mataram Senopaten
Jenis : Keris Luk 13
Dhapur Singa Barong
Pamor Wos Wutah Tungguk Kukus
Tangguh Mataram Senopaten
Warangka : Ladrang Surakarta, Kayu Cendana Wangi
Deder/Handle : Yudawinatan, Kayu Trembalo
Pendok : Blewah, Bahan Kuningan
Mendak : Kendhit, Bahan Tembaga
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Singo Barong Luk 13 Mataram Senopaten Kinatah Emas

Keris Singo Barong Luk 13 Mataram Senopaten Kinatah Emas

Salah satu pusaka Nusantara yang namanya mampu menggetarkan hati para pecinta keris adalah Keris Kyai Singo Barong. Sejak masa lampau, keris dengan dapur Singa Jantan ini selalu menjadi buruan para pencari pusaka, karena diyakini memiliki kekuatan isoteri yang sangat tinggi. Dapur Singo Barong dipercaya membentuk karakter pemiliknya menjadi sosok yang pemberani, berwibawa, dan teguh pendirian—laksana singa sebagai raja rimba yang sarat kekuatan dan keberanian.

Dalam kisah tutur yang berkembang di masyarakat, disebutkan bahwa Patih Gajah Mada yang tersohor sakti mandraguna pernah berhadapan dengan Putri Dyah Pitaloka. Meski Sang Putri akhirnya gugur, ia dikisahkan berhasil melukai tubuh Gajah Mada dengan Keris Singo Barong berlekuk tiga belas, pusaka leluhur tanah Pasundan yang diyakini merupakan peninggalan Prabu Jayasinga Warman, pendiri Kerajaan Tarumanegara. Konon, luka tersebut menyebabkan Gajah Mada menderita sakit yang tak kunjung sembuh, hingga akhirnya mengantarkannya pada kematian.

Mencoba menatap lebih dalam pasikutan Keris Pusaka Singa Barong luk 13 ini, seolah mengajak siapa pun untuk jatuh cinta pada kesan mendalam yang ditinggalkannya. Lekuk luk-nya mengalir luwes, dengan bentuk yang prigel dan sereg, menegaskan keindahan artistik yang matang sekaligus memancarkan aura wingit yang kuat dalam dimensi esoteris. Pamornya menancap pandes, dengan warna yang kontras dengan warna besi yang cenderung hitam kebiruan khas pusaka era Mataram Senopaten. Pun demikian dengan bentuk dan karakter singa pada bagian gandik. Posisi Jhampasimha atau Udyata, yang dianggap sebagai penggambaran singa paling suci—digambarkan mengaum, duduk bertumpu pada kedua kaki belakang dengan kaki depan lurus menyangga tubuh—terpahat dengan sangat sempurna. Representasi ini kian menegaskan sifat keris yang wingit, sinengker, angker, dan berwibawa, sekaligus menambah guwaya yang kuat pada pusaka ini.

Dhapur Singo Barong Luk 13

Dhapur Singa Barong dikenal memiliki ragam luk yang beragam, mulai dari lurus, luk 3, luk 5, luk 7, hingga luk 13. Seluruhnya memiliki ciri khas yang sama pada bagian gandik, berupa ornamen Singa Jantan dalam posisi duduk bertumpu pada kedua kaki belakang, dengan kedua kaki depan lurus menyangga tubuh. Pada beberapa pusaka, ornamen ini dihias dengan lapisan emas atau perak, meski ada pula yang dibiarkan polos tanpa pelapisan logam lain. Dan kebetulan, pusaka yang satu ini menampilkan kinatah emas asli.

Kinatah emas pada bilahnya tidak hanya menghiasi ganan singa semata, tetapi juga mencakup tiga bidang lain, yakni pada bagian wuwungan serta kedua sisi gonjo. Dengan demikian, jika dihitung secara keseluruhan, terdapat lima bidang yang terhias dan dilapisi emas, yang dalam istilah tinatah dikenal sebagai panca wadhana atau gangsal wadhana.

Secara filosofis, Keris Singa Barong merepresentasikan simbol kekuasaan, kewibawaan, dan pengendalian diri. Sosok singa dalam khazanah Nusantara tidak semata dimaknai sebagai lambang keberanian, tetapi juga sebagai penjaga keseimbangan antara kekuatan lahir dan kebijaksanaan batin. Karena itu, dhapur Singa Barong kerap diasosiasikan dengan pemimpin atau pribadi yang memikul tanggung jawab besar, dituntut tegas dalam sikap namun matang dalam pertimbangan.

Posisi singa dalam sikap Jhampasimha atau Udyata—mengaum namun tetap duduk mantap—mengandung ajaran bahwa kekuatan sejati tidak selalu diwujudkan melalui amarah dan agresi, melainkan melalui kesiapsiagaan, penguasaan diri, dan kesadaran penuh. Inilah sebabnya keris Singa Barong sering dipandang sebagai pusaka yang “sinengker”: kuat, tertutup, dan tidak mudah menunjukkan daya pengaruhnya kepada sembarang orang.

Adapun kinatah emas dengan susunan panca wadhana melambangkan kesempurnaan laku dan kelengkapan unsur kepemimpinan: keberanian, kewibawaan, kebijaksanaan, keadilan, dan tanggung jawab. Emas sendiri dimaknai sebagai simbol kemuliaan budi serta kemantapan niat, sehingga kehadirannya pada bilah Singa Barong bukan semata hiasan estetis, melainkan penegasan nilai luhur yang menyertai pusaka tersebut.

Pamor Wos Wutah Tunggul Kukus

Pamor ini kami sebut Wos Wutah Tunggul Kukus, karena pada pola motifnya tampak satu bentuk utama yang menonjol, berangkat dari pangkal bilah dengan susunan menyerupai segitiga: lebar di bagian bawah, lalu mengerucut ke atas dan terus mengikuti alur luk, layaknya kukusan nasi tradisional dari anyaman bambu. Gambaran tersebut semakin kuat dengan kesan seolah asap mengepul dari lubang kecil di puncak kerucutnya.

Sementara itu, jika dicermati lebih rinci, susunan pamornya membentuk bulatan-bulatan halus yang lembut, ciri khas pamor Wos Wutah, sehingga keseluruhan motif menghadirkan perpaduan yang unik antara bentuk tunggul kukus yang tegas dengan sebaran wos wutah yang merata dan hidup.

Secara filosofis, pamor Wos Wutah dimaknai sebagai simbol rezeki yang tercurah, kemakmuran yang menyebar, serta berkah yang tidak terpusat pada satu titik saja, melainkan mengalir dan terbagi secara adil. Ia menggambarkan kehidupan yang subur, cukup sandang pangan, serta kesejahteraan yang hadir melalui kerja, ketekunan, dan ketulusan niat.

Adapun bentuk Tunggul Kukus mengandung makna proses dan laku. Kukusan nasi adalah perlambang pengolahan: beras yang mentah tidak serta-merta menjadi makanan, melainkan harus melalui tahapan panas, uap, dan waktu. Ini mengajarkan bahwa kematangan hidup, kedewasaan jiwa, serta keberhasilan sejati hanya dapat dicapai melalui proses, kesabaran, dan pengendalian diri. Asap yang seolah mengepul dari puncak kukusan dimaknai sebagai doa dan harapan yang naik ke atas, menyertai setiap usaha yang dijalani dengan niat baik.

Ketika kedua unsur ini berpadu, Wos Wutah Tunggul Kukus menjadi pamor yang melambangkan rezeki yang lahir dari proses yang benar. Bukan kekayaan yang datang secara tiba-tiba, melainkan kemakmuran yang tumbuh perlahan, stabil, dan membawa manfaat tidak hanya bagi pemiliknya, tetapi juga bagi lingkungan sekitarnya. Karena itu, pamor ini kerap diasosiasikan dengan pribadi yang tekun, rendah hati, dan mampu mengelola kelimpahan dengan kebijaksanaan.

Tangguh Mataram Senopaten

Dalam Serat Centhini, tangguh Mataram Senopaten digambarkan sebagai pusaka dengan perawakan pasikutan yang prigel dan bagus, besi bersemu biru, kering namun halus, pamor menancap pandhes, berwatak ngawat, kencang, dan keras—sebuah pusaka yang tan ana kang nguciwani, tidak mengecewakan. Keris-keris pada masa ini umumnya masih membawa karakter Majapahit, karena banyak empu pada masa Panembahan Senopati merupakan empu Majapahit atau keturunannya. Salah satu tokoh empu penting pada masa peralihan ini adalah Empu Supo Anom, yang juga dikenal sebagai Empu Kinom.

Dalam Pakem Pusaka Duwung, Sabet, Tombak peninggalan R.Ng. Ronggowarsito (ditulis ulang oleh R.Ng. Hartokretarto, 1964), digambarkan ciri-ciri keris Senopaten dengan gandik sedang hingga agak panjang, sekar kacang besar, tikel alis, pejetan, dan sogokan yang dalam serta lebar. Wilahnya berperawakan sedang, agak tebal, dengan luk yang kekar. Besinya halus, agak kering, dan pamornya putih terang serta alus.

Keris tangguh Mataram Senopaten juga banyak dijumpai menggunakan gonjo sebit ron tal, dinamai demikian karena bentuk wuwungannya menyerupai sobekan daun tal (siwalan). Bentuk gonjo ini banyak diminati, karena sering dijumpai pada keris-keris bergelar tua, di mana ekor cicak tidak terlalu runcing. Hal ini berbeda dengan gonjo nguceng mati, yang memiliki sirah cecak kecil dan lancip serta buntut panjang dan tajam. Keseluruhan ciri tersebut menegaskan karakter tangguh Senopaten sebagai pusaka masa peralihan: kokoh, matang, dan sarat wibawa sejarah.

Warangka Cendana Wangi

Salah satu alasan besar bangsa-bangsa asing berlayar jauh ke Nusantara, selain rempah-rempah, adalah kayu cendana. Kayu yang oleh dunia Barat dikenal sebagai sandalwood ini sejak berabad-abad lalu telah menempati posisi istimewa dalam perdagangan global. Teksturnya halus, seratnya indah, aromanya harum semerbak, serta menghasilkan minyak bernilai tinggi yang serbaguna. Tak berlebihan bila kayu dengan nama ilmiah Santalum album ini kemudian dijuluki sebagai emas hijau.

Sejak dahulu, daerah yang paling termasyhur sebagai penghasil cendana berkualitas terbaik adalah Pulau Timor, yang oleh orang Jawa disebut cendana sabrang. Dalam bahasa setempat—Bahasa Dawan—cendana dikenal sebagai hau fo meni atau hau meni: hau berarti kayu, fo berarti berbau, dan meni berarti harum. Sebuah penamaan yang sepenuhnya mewakili karakternya. Keharuman cendana Timor memang tiada banding, bahkan kerap dinilai melampaui cendana dari wilayah lain, termasuk India.

Catatan Tome Pires dalam Suma Oriental pada abad ke-16 menyebut Kepulauan Timor sebagai Pulau Cendana, tempat dihasilkannya cendana putih berkualitas tinggi yang sulit ditemukan di wilayah lain. Ia menuliskan pengakuan para pedagang Melayu bahwa Tuhan menciptakan Timor untuk cendana, Banda untuk pala, dan Maluku untuk cengkih—tiga komoditas yang kala itu tidak ditemukan di tempat lain. Cendana Timor pun ramai diperdagangkan ke Malaka dan pusat-pusat niaga lain, diminati bukan hanya oleh bangsa asing, tetapi juga oleh masyarakat Nusantara sendiri untuk kebutuhan ritual, pengobatan, dan keseharian.

Di balik keistimewaan fisiknya, cendana juga menyimpan filosofi hidup yang luhur. Kayu terbaik justru tumbuh di tanah yang kering, berbatu, dan tampak tidak ramah. Dari sanalah muncul ajaran bahwa kemuliaan dan keberhasilan sejati sering lahir dari perjuangan yang berat, bukan dari kemudahan. Sebuah filosofi yang sangat selaras dengan laku hidup Jawa.

Keistimewaan cendana ini pun tercermin hingga era modern. Konon, Presiden Soeharto menamai jalan tempat kediamannya sebagai Jalan Cendana, karena bagi beliau cendana adalah kayu istimewa dengan aroma khas yang memikat dan menenangkan.

Dalam dunia perkerisan, khususnya keris Jawa, kayu cendana menempati kedudukan yang sangat tinggi sebagai bahan warangka. Selain harum dan berserat indah, cendana tidak terlalu keras sehingga aman bagi bilah. Kandungan minyak alaminya membantu menjaga bilah tetap wangi dan terlindung dari karat. Karena itu, untuk Keris Surakarta, cendana Timor menjadi pilihan utama. Sementara di Yogyakarta, meski warangka umumnya berbahan timoho, gandarnya kerap tetap menggunakan cendana. Bahkan pusaka utama Keraton Yogyakarta, Kanjeng Kiai Ageng Kopek, diketahui berwarangka cendana.

Penggunaan cendana sebagai bahan warangka Keris Surakarta tercatat dalam manuskrip Kaweruh Damel Sarung karya Ngabehi Nayawirangka. Dalam catatan yang dikutip oleh Daryono dkk. dalam buku Keris Punggawa Jawa, disebutkan bahwa sebelum tahun Jawa 1790, warangka keris di lingkungan Karaton Kasunanan Surakarta umumnya dibuat dari cendana dan timoho. Kayu lain seperti awar-awar dan mentaos digunakan lebih terbatas, dengan mentaos khusus untuk warangka yang akan disungging.

Cendana berkualitas tinggi kala itu tergolong langka digunakan masyarakat umum, selain karena harganya mahal, juga karena dianggap sebagai kayu khusus kaum bangsawan. Cendana pilihan adalah yang sudah tua, diambil dari bagian bawah pohon (pok), memiliki galih harum, dan serat indah—baik yang lurus maupun yang berpola nganam kepang. Namun memasuki tahun Jawa 1820, ketersediaan cendana kualitas super kian menipis. Warangka gandar iras dari cendana pun semakin jarang dijumpai, hingga akhirnya digunakan cendana dengan kualitas di bawahnya.

Dalam tradisi perkerisan Jawa, cendana kemudian diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama: cendana sari dari Timor sebagai kelas tertinggi, cendana cengi dari Cina dengan aroma lebih lemah, dan cendana Jawa yang secara wangi dan tekstur berada di bawah cendana Timor. Saat ini, cendana Jawa justru lebih banyak digunakan, terutama yang memiliki serat menarik seperti ndaging urang atau nganam kepang.

Kini, cendana Timor berkualitas warangka hampir sepenuhnya menjadi artefak masa lalu. Jika pun ada, biasanya hanya ditemukan pada warangka lama atau randan pusaka. Waktu tumbuh yang sangat panjang, kebutuhan minyak cendana, serta kelangkaan bahan membuat hukum pasar pun tak terelakkan: semakin langka, semakin mahal.

Dan di situlah warangka cendana tidak lagi sekadar pelindung bilah, melainkan menjadi penanda zaman—jejak sejarah, filosofi hidup, dan kemuliaan rasa dalam dunia perkerisan Nusantara.

P250

Tags: , , , , ,

Keris Singo Barong Luk 13 Mataram Senopaten Kinatah Emas

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 8 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us