Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Keris Majapahit Parungsari Luk 13 Sepuh
- Keris Karno Tinanding Luk 17 Bali Sepuh
- Keris Tangguh Kahuripan Abad 12
- Keris Jangkung Patrem Luk 3 Tangguh Pajang Pamor A
- Pusaka Keris Sengkelat Pamor Rojo Abolo Rojo
- Pusaka Bethok Nogo Siluman Pamor Gunung Kobong
- Keris Singo Barong Pandawa Luk 5 Kinatah Kamarogan
- Tombak Biring Jaler Tongkat Komando Mataram Sultan
Keris Tilam Sari Majapahit Pamor Ceprit-Ceprit
Rp 4.000.000| Kode | TAG249 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Dhapur Tilam Sari, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Beras Wutah, Pamor Ceprit, Pamor Tunggak Semi, Tangguh Majapahit |
| Jenis | : Keris Lurus |
| Dhapur | : Tilam Sari |
| Pamor | : Wos Wutah + Tunggak Semi Ceprit-Ceprit |
| Tangguh | : Majapahit |
| Warangka | : Gayaman Yogyakarta, Kayu Trembalo |
| Deder/Handle | : Banaran, Kayu Trembalo |
| Pendok | : Blewah, Bahan Kuningan |
| Mendak | : Kendhit, Bahan Kuningan |
Keris Tilam Sari Majapahit Pamor Ceprit-Ceprit
Keris Tilam Sari Majapahit Pamor Ceprit-Ceprit
“Daripada memiliki banyak keris atau tombak, lebih baik memiliki satu bilah keris atau tombak tangguh Majapahit.” Demikianlah ungkapan guyonan yang kerap beredar di kalangan kolektor perkerisan. Sekilas terdengar berlebihan, seolah mengangkat keris tangguh Majapahit ke singgasana yang terlalu tinggi. Namun di balik nada bercanda itu, tersimpan makna yang tidak sepenuhnya tanpa dasar.
Bagi sebagian pemerhati dan penggemar keris, tangguh Majapahit dianggap menghadirkan perpaduan yang nyaris seimbang antara garap dan isi. Kualitas material logamnya, teknik tempa lipatnya, hingga kerapian pengerjaannya dipandang memiliki mutu yang unggul. Sementara dari sisi esoteris, angsar keris Majapahit diyakini memiliki daya yang matang, mapan, dan berada di atas rata-rata tangguh lainnya.
Karena itulah, tidak mengherankan bila tangguh Majapahit memiliki penggemar tersendiri—bahkan bisa disebut fanatik. Bukan semata karena nilai sejarah dan estetikanya, tetapi karena keyakinan bahwa pada keris-keris inilah unsur rupa, rasa, dan makna bertemu dalam satu kesatuan yang utuh.
Dhapur Tilam Sari
Tilam Sari merupakan salah satu dhapur keris lurus yang cukup banyak dijumpai di Pulau Jawa. Secara bentuk, dhapur ini memang sangat menyerupai Tilam Upih, sehingga kerap menimbulkan kebingungan di kalangan pemerhati keris. Ricikan yang melekat pada dhapur Tilam Sari antara lain gandik polos berukuran normal, tikel alis, pejetan, sraweyan, serta thingil berbentuk eri pandan.
Secara filosofis, Tilam Sari dalam terminologi Jawa dimaknai sebagai tempat pembaringan. Keris, yang tersusun atas besi, pamor, dan baja, dipahami sebagai simbol kehidupan rumah tangga. Besi dimaknai sebagai wadah, tempat menetapnya pamor atau sari badan; pamor melambangkan sari kehidupan; sementara baja berfungsi sebagai tulang atau ranting yang menguatkan. Tiga unsur ini menjadi perlambang tiga laku utama yang harus ditanamkan dan ditumbuhkan dalam kehidupan berumah tangga.
Bagi seorang suami, wadah bermakna angomahi: mampu menjadi sandaran, pelindung, dan tempat berteduh bagi istri serta anak-anaknya. Sari dimaknai sebagai anuroni, yakni kemampuan memberi nafkah lahir dan batin. Sedangkan tulang atau ranting yang menguatkan bermakna angingoni: tanggung jawab membimbing anak sejak kecil hingga kelak siap menapaki kehidupan mandiri, bahkan sampai mengantarkannya menuju gerbang pernikahan.
Demikian pula bagi seorang istri, ketiga perkara ini memiliki makna yang sama pentingnya. Sebagai wadah, istri dituntut mampu menjaga rahasia suami serta kehormatan keluarga. Sari badan berarti mampu menjadi kebanggaan suami—dalam tutur kata, sikap, hingga busana—serta dapat diandalkan dalam peran pendamping. Sementara tulang atau ranting yang menguatkan dimaknai sebagai kemampuan menutup celah, mengisi kekosongan, dan menjadi partner sejati dalam kehidupan bersama.
Atas dasar filosofi inilah, dhapur Tilam Sari kerap dianjurkan untuk dimiliki oleh mereka yang telah berumah tangga. Angsar-nya yang dipercaya bersifat ngademke atau mendinginkan diyakini mampu menentramkan, menyeimbangkan, serta menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangga.
Pamor Ceprit-Ceprit
Pamor merupakan penampakan dekoratif pada permukaan bilah keris yang dihasilkan melalui proses penempaan dan pelipatan besi, baja, serta bahan pamor. Keanekaragaman corak yang muncul tidak semata berfungsi sebagai unsur estetika, tetapi juga kerap dimaknai sebagai simbol—sebuah penggambaran doa, harapan, dan cita-cita yang menyertai proses penciptaan pusaka tersebut.
Pamor ini disebut Pamor Ceprit, karena pola pamornya tampak tidak beraturan, muncul secara sporadis, dan jumlahnya relatif sedikit atau ngirid. Pamor Ceprit dikenal sebagai salah satu ciri khas keris bertangguh era Majapahit, dengan tampilan yang wingit, angker, dan sepuh—selaras dengan karakter tangguh sepuh yang matang secara usia dan laku empuannya.
Dari sisi tuah, Pamor Ceprit memiliki makna yang beragam. Hal ini karena Pamor Ceprit bukan termasuk pamor rekan, melainkan pamor tiban, yang hadir secara alami tanpa rekayasa pola. Secara simbolik, pamor ini kerap disamakan dengan pamor pengawak wojo sepet, yang dimaknai sebagai perlambang perlindungan diri, ketahanan batin, serta kemampuan beradaptasi dalam berbagai kondisi. Ia juga sering dikaitkan dengan keilmuan kanuragan, kekuatan batin, hingga simbol keberlangsungan rezeki—nunggak semi—yakni kemudahan dalam mencari penghidupan, sekecil apa pun peluang yang ada.
Karena sifatnya yang tiban dan tidak terduga, Pamor Ceprit dikenal memiliki karakter yang kuat, tertutup, dan terkesan angker, seolah menyimpan daya rahasia yang tidak mudah ditangkap oleh sembarang orang. Inilah yang membuat pamor ini kerap dipandang sebagai pamor bagi mereka yang telah matang secara laku, bukan sekadar pencari keindahan rupa.
Pamor Tunggak Semi
Pamor Tunggak Semi atau Nunggak Semi merupakan salah satu motif pamor yang hampir selalu terletak di bagian sor-soran pada bilah keris, tombak, maupun senjata pusaka lainnya. Ciri visualnya berupa garis-garis pamor yang tidak beraturan dan berlapis, dengan bagian puncak yang seolah-olah “tumbuh” ke atas—menyerupai tunas yang sedang bersemi.
Secara terminologis, tunggak dimaknai sebagai sisa batang atau akar pohon yang telah ditebang namun masih tertanam kuat di dalam tanah dan berpeluang untuk hidup kembali. Sementara semi berarti tumbuh atau bersemi. Gabungan makna ini melambangkan sesuatu yang oleh sebagian orang dianggap telah berakhir atau “mati”, namun dengan kehendak dan campur tangan Yang Maha Kuasa dapat hidup kembali, tumbuh, dan berkembang seperti sediakala. Dengan kata lain, Pamor Tunggak Semi menggambarkan perjalanan dari keadaan kecil, lemah, atau terpuruk, menuju kebesaran dan keberhasilan.
Karena makna filosofis tersebut, Pamor Tunggak Semi sangat digemari oleh para pedagang, pengusaha, maupun pemutar modal. Pamor ini dipercaya memiliki tuah untuk mengawal dan membalikkan perjalanan usaha—dari kondisi merugi menuju keuntungan, dari rintisan kecil hingga berkembang menjadi usaha yang mapan. Ia juga kerap dimaknai sebagai simbol pendamping bagi mereka yang tengah memulai usaha baru, melakukan diversifikasi, atau berupaya membesarkan usaha yang telah ada.
Sebagai pamor tiban, Pamor Tunggak Semi tidak dirancang secara khusus oleh sang Empu, melainkan hadir secara alami dalam proses tempa. Oleh karena itu, pamor ini sering dipandang sebagai berkah khusus dari Yang Maha Kuasa. Keyakinan tersebut menegaskan ajaran lama dalam tradisi Jawa: bahwa keberhasilan dan kesuksesan sejatinya berada di tangan Tuhan, sementara manusia berkewajiban untuk berikhtiar—baik secara lahir maupun batin.
Pamor Wos Wutah
Pada bagian tengah dan ujung bilah keris ini tampak pamor yang menyerupai bulatan-bulatan lembut yang tersebar tidak beraturan. Pola inilah yang dikenal sebagai Pamor Wos Wutah atau Beras Wutah.
Secara visual, Pamor Wos Wutah ditandai oleh bercak-bercak kecil berwarna terang yang menyebar di permukaan bilah, menyerupai butiran beras yang tercecer. Dalam simbolisme perkerisan, pamor ini melambangkan rejeki yang melimpah, keberkahan yang datang dari berbagai arah, serta kecukupan hidup yang terus mengalir dan tidak terputus.
Tags: ciri ciri keris majapahit asli, Gambar Keris Majapahit, keris majapahit yang hilang, Keris Tangguh Majapahit, pusaka majapahit yg paling ampuh
Keris Tilam Sari Majapahit Pamor Ceprit-Ceprit
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 11 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Dimaharkan Pusaka Keris Brojol Warangka Ladrang Iras Sepuh Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Brojol Pamor (motif lipatan besi) : Kulit Semangka (dibagian sor soran ada pamor bentuk gunung) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Panjang Bilah : 35 cm Warangka : Ladrang Surakarta Gandar Iras Kayu Trembalo Kuno Handle / Gagang : Kemuning… selengkapnya
Hubungi AdminPulanggeni Pangeran Sedayu Mpu Supo Madrangi Keris Pulanggeni Pulanggeni merupakan salah satu dapur keris yang populer dan banyak dikenal karena memiliki padan nama dengan pusaka Arjuna. Pulang Geni bermakna Ratus atau Dupa atau juga Kemenyan. Bahwa manusia hidup harus berusaha memiliki nama harum dengan berperilaku yang baik, suka tolong menolong dan mengisi hidupnya dengan hal-hal… selengkapnya
Rp 3.555.000Keris Jalak Sangu Tumpeng Mataram Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Jalak Sangu Tumpeng (JST) Pamor Keris (motif lipatan besi) : Kulit Semangka Tangguh Keris (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Abad Ke 18 Masehi Panjang Bilah Keris : 32 cm Warangka Keris : Gayaman Surakarta Kayu Cendana Wangi Kuno Handle / Gagang Keris : Kayu… selengkapnya
Rp 3.555.000Keris Pandawa Lare Luk 5 Sepuh Keris Pandawa Lare Luk 5 Sepuh adalah salah satu dari ratusan koleksi pusaka keris kami. Keris ini termasuk dalam golongan jenis keris luk lima. Jika dilihat dari bentuk dan ricikannya, keris ini berdhapur Pandawa Lare. Untuk pamor yang tergurat di bilahnya adalah pamor Beras Wutah. Warangka memakai model Gayaman dari bahan kayu Trembalo… selengkapnya
Rp 6.500.000Pusaka Keris Majapahit Tilam Upih Pamor Wos Wutah Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Upih Pamor (motif lipatan besi) : Wos Wutah / Beras Wutah Ceprit Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Majapahit Abad Ke 13 Masehi Panjang Bilah : 32,2 cm Pesi masih utuh panjang original tidak sambungan Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Trembalo… selengkapnya
Rp 1.770.000Pusaka Keris Tindih Kudi Petel Kapak Kabudhan Berpamor Sodo Sak Ler Asli Kuno Dhapur / Bentuk : Kudi / Kapak Pamor : Sodo Sak Ler (sangat langka kudi keluar pamor seperti ini) Tangguh : Kabudhan / Mataram Hindu Budha Panjang bilah : 18 cm Warangka : Kayu Jati Handle : Kayu Jati Kode : PK415… selengkapnya
Rp 1.555.000




















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.