Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Admin PusakaKeris.com
● online
Admin PusakaKeris.com
● online
Halo, perkenalkan saya Admin PusakaKeris.com
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 23.00
Beranda » Dhapur Tilam Sari » Keris Tilam Sari Majapahit Pamor Ceprit-Ceprit
click image to preview activate zoom

Keris Tilam Sari Majapahit Pamor Ceprit-Ceprit

Rp 4.000.000
KodeTAG249
Stok Tersedia (1)
Kategori Dhapur Tilam Sari, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Beras Wutah, Pamor Ceprit, Pamor Tunggak Semi, Tangguh Majapahit
Jenis : Keris Lurus
Dhapur Tilam Sari
Pamor Wos Wutah + Tunggak Semi Ceprit-Ceprit
Tangguh Majapahit
Warangka : Gayaman Yogyakarta, Kayu Trembalo
Deder/Handle : Banaran, Kayu Trembalo
Pendok : Blewah, Bahan Kuningan
Mendak : Kendhit, Bahan Kuningan
Tentukan pilihan yang tersedia!
Pemesanan lebih cepat! Quick Order
Bagikan ke

Keris Tilam Sari Majapahit Pamor Ceprit-Ceprit

Keris Tilam Sari Majapahit Pamor Ceprit-Ceprit

“Daripada memiliki banyak keris atau tombak, lebih baik memiliki satu bilah keris atau tombak tangguh Majapahit.” Demikianlah ungkapan guyonan yang kerap beredar di kalangan kolektor perkerisan. Sekilas terdengar berlebihan, seolah mengangkat keris tangguh Majapahit ke singgasana yang terlalu tinggi. Namun di balik nada bercanda itu, tersimpan makna yang tidak sepenuhnya tanpa dasar.

Bagi sebagian pemerhati dan penggemar keris, tangguh Majapahit dianggap menghadirkan perpaduan yang nyaris seimbang antara garap dan isi. Kualitas material logamnya, teknik tempa lipatnya, hingga kerapian pengerjaannya dipandang memiliki mutu yang unggul. Sementara dari sisi esoteris, angsar keris Majapahit diyakini memiliki daya yang matang, mapan, dan berada di atas rata-rata tangguh lainnya.

Karena itulah, tidak mengherankan bila tangguh Majapahit memiliki penggemar tersendiri—bahkan bisa disebut fanatik. Bukan semata karena nilai sejarah dan estetikanya, tetapi karena keyakinan bahwa pada keris-keris inilah unsur rupa, rasa, dan makna bertemu dalam satu kesatuan yang utuh.

Dhapur Tilam Sari

Tilam Sari merupakan salah satu dhapur keris lurus yang cukup banyak dijumpai di Pulau Jawa. Secara bentuk, dhapur ini memang sangat menyerupai Tilam Upih, sehingga kerap menimbulkan kebingungan di kalangan pemerhati keris. Ricikan yang melekat pada dhapur Tilam Sari antara lain gandik polos berukuran normal, tikel alis, pejetan, sraweyan, serta thingil berbentuk eri pandan.

Secara filosofis, Tilam Sari dalam terminologi Jawa dimaknai sebagai tempat pembaringan. Keris, yang tersusun atas besi, pamor, dan baja, dipahami sebagai simbol kehidupan rumah tangga. Besi dimaknai sebagai wadah, tempat menetapnya pamor atau sari badan; pamor melambangkan sari kehidupan; sementara baja berfungsi sebagai tulang atau ranting yang menguatkan. Tiga unsur ini menjadi perlambang tiga laku utama yang harus ditanamkan dan ditumbuhkan dalam kehidupan berumah tangga.

Bagi seorang suami, wadah bermakna angomahi: mampu menjadi sandaran, pelindung, dan tempat berteduh bagi istri serta anak-anaknya. Sari dimaknai sebagai anuroni, yakni kemampuan memberi nafkah lahir dan batin. Sedangkan tulang atau ranting yang menguatkan bermakna angingoni: tanggung jawab membimbing anak sejak kecil hingga kelak siap menapaki kehidupan mandiri, bahkan sampai mengantarkannya menuju gerbang pernikahan.

Demikian pula bagi seorang istri, ketiga perkara ini memiliki makna yang sama pentingnya. Sebagai wadah, istri dituntut mampu menjaga rahasia suami serta kehormatan keluarga. Sari badan berarti mampu menjadi kebanggaan suami—dalam tutur kata, sikap, hingga busana—serta dapat diandalkan dalam peran pendamping. Sementara tulang atau ranting yang menguatkan dimaknai sebagai kemampuan menutup celah, mengisi kekosongan, dan menjadi partner sejati dalam kehidupan bersama.

Atas dasar filosofi inilah, dhapur Tilam Sari kerap dianjurkan untuk dimiliki oleh mereka yang telah berumah tangga. Angsar-nya yang dipercaya bersifat ngademke atau mendinginkan diyakini mampu menentramkan, menyeimbangkan, serta menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangga.

Pamor Ceprit-Ceprit

Pamor merupakan penampakan dekoratif pada permukaan bilah keris yang dihasilkan melalui proses penempaan dan pelipatan besi, baja, serta bahan pamor. Keanekaragaman corak yang muncul tidak semata berfungsi sebagai unsur estetika, tetapi juga kerap dimaknai sebagai simbol—sebuah penggambaran doa, harapan, dan cita-cita yang menyertai proses penciptaan pusaka tersebut.

Pamor ini disebut Pamor Ceprit, karena pola pamornya tampak tidak beraturan, muncul secara sporadis, dan jumlahnya relatif sedikit atau ngirid. Pamor Ceprit dikenal sebagai salah satu ciri khas keris bertangguh era Majapahit, dengan tampilan yang wingit, angker, dan sepuh—selaras dengan karakter tangguh sepuh yang matang secara usia dan laku empuannya.

Dari sisi tuah, Pamor Ceprit memiliki makna yang beragam. Hal ini karena Pamor Ceprit bukan termasuk pamor rekan, melainkan pamor tiban, yang hadir secara alami tanpa rekayasa pola. Secara simbolik, pamor ini kerap disamakan dengan pamor pengawak wojo sepet, yang dimaknai sebagai perlambang perlindungan diri, ketahanan batin, serta kemampuan beradaptasi dalam berbagai kondisi. Ia juga sering dikaitkan dengan keilmuan kanuragan, kekuatan batin, hingga simbol keberlangsungan rezeki—nunggak semi—yakni kemudahan dalam mencari penghidupan, sekecil apa pun peluang yang ada.

Karena sifatnya yang tiban dan tidak terduga, Pamor Ceprit dikenal memiliki karakter yang kuat, tertutup, dan terkesan angker, seolah menyimpan daya rahasia yang tidak mudah ditangkap oleh sembarang orang. Inilah yang membuat pamor ini kerap dipandang sebagai pamor bagi mereka yang telah matang secara laku, bukan sekadar pencari keindahan rupa.

Pamor Tunggak Semi

Pamor Tunggak Semi atau Nunggak Semi merupakan salah satu motif pamor yang hampir selalu terletak di bagian sor-soran pada bilah keris, tombak, maupun senjata pusaka lainnya. Ciri visualnya berupa garis-garis pamor yang tidak beraturan dan berlapis, dengan bagian puncak yang seolah-olah “tumbuh” ke atas—menyerupai tunas yang sedang bersemi.

Secara terminologis, tunggak dimaknai sebagai sisa batang atau akar pohon yang telah ditebang namun masih tertanam kuat di dalam tanah dan berpeluang untuk hidup kembali. Sementara semi berarti tumbuh atau bersemi. Gabungan makna ini melambangkan sesuatu yang oleh sebagian orang dianggap telah berakhir atau “mati”, namun dengan kehendak dan campur tangan Yang Maha Kuasa dapat hidup kembali, tumbuh, dan berkembang seperti sediakala. Dengan kata lain, Pamor Tunggak Semi menggambarkan perjalanan dari keadaan kecil, lemah, atau terpuruk, menuju kebesaran dan keberhasilan.

Karena makna filosofis tersebut, Pamor Tunggak Semi sangat digemari oleh para pedagang, pengusaha, maupun pemutar modal. Pamor ini dipercaya memiliki tuah untuk mengawal dan membalikkan perjalanan usaha—dari kondisi merugi menuju keuntungan, dari rintisan kecil hingga berkembang menjadi usaha yang mapan. Ia juga kerap dimaknai sebagai simbol pendamping bagi mereka yang tengah memulai usaha baru, melakukan diversifikasi, atau berupaya membesarkan usaha yang telah ada.

Sebagai pamor tiban, Pamor Tunggak Semi tidak dirancang secara khusus oleh sang Empu, melainkan hadir secara alami dalam proses tempa. Oleh karena itu, pamor ini sering dipandang sebagai berkah khusus dari Yang Maha Kuasa. Keyakinan tersebut menegaskan ajaran lama dalam tradisi Jawa: bahwa keberhasilan dan kesuksesan sejatinya berada di tangan Tuhan, sementara manusia berkewajiban untuk berikhtiar—baik secara lahir maupun batin.

Pamor Wos Wutah

Pada bagian tengah dan ujung bilah keris ini tampak pamor yang menyerupai bulatan-bulatan lembut yang tersebar tidak beraturan. Pola inilah yang dikenal sebagai Pamor Wos Wutah atau Beras Wutah.

Secara visual, Pamor Wos Wutah ditandai oleh bercak-bercak kecil berwarna terang yang menyebar di permukaan bilah, menyerupai butiran beras yang tercecer. Dalam simbolisme perkerisan, pamor ini melambangkan rejeki yang melimpah, keberkahan yang datang dari berbagai arah, serta kecukupan hidup yang terus mengalir dan tidak terputus.

Tags: , , , ,

Keris Tilam Sari Majapahit Pamor Ceprit-Ceprit

Berat 1500 gram
Kondisi Bekas
Dilihat 11 kali
Diskusi Belum ada komentar

Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.

Mohon maaf, form diskusi dinonaktifkan pada produk ini.
Produk Terkait

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah:

WhatsApp WhatsApp us