Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami
● online 6282177400100
● online
- Pusaka Keris Nogo Sosro Kinatah Emas Asli Sepuh Ku
- Pusaka Keris Sempaner Pamor Pedaringan Kebak
- Jagrak Keris Isi 5 Ukiran Rojomolo Alusan Istimewa
- Jual Keris Putut Sajen Majapahit Kuno
- Keris Jalak Sangu Tumpeng Asli Sepuh
- Keris Panimbal Pamor Pedaringan Kebak Mataram Sult
- Keris Jalak Sumelang Gandring Sepuh
- Keris Gonjo Iras Pamor Setro Banyu
Puthut Sajen Original Sepuh Primitif
Rp 1.700.000| Kode | TAG200 |
| Stok | Tersedia (1) |
| Kategori | Dhapur Putut Sajen, Katalog Produk, Keris, Keris Lurus, Pamor Sanak, Tangguh Pajajaran |
| Jenis | : Keris Leres |
| Dhapur | : Putut Sajen |
| Pamor | : Sanak |
| Tangguh | : Pajajaran |
| Warangka | : Sandang Walikat, Kayu Jati |
| Deder/Handle | : Stilasi Puthut - Iras |
| Pendok | : - |
| Mendak | : - |
Puthut Sajen Original Sepuh Primitif
Puthut Sajen Original Sepuh Primitif
Puthut Sajen merupakan salah satu bentuk tosan aji yang sederhana, tetapi memiliki simbolisme yang cukup dalam. Dalam tradisi Jawa, sosok atau ornamen puthut sering dikaitkan dengan figur pertapa yang menjalani laku prihatin, mengendalikan keinginan, dan mendekatkan diri kepada nilai-nilai kehidupan yang lebih tinggi.
Namun bentuk puthut juga sering diasosiasikan dengan janin atau bayi yang masih berada dalam kandungan. Dua pemaknaan ini memberikan ruang filosofi yang menarik. Pertapa dan janin sama-sama menggambarkan keadaan ketika manusia kembali pada kesederhanaan dirinya. Yang satu sedang menjalani laku untuk menata batin, sementara yang lain sedang berada pada tahap awal kehidupan, belum memiliki apa-apa selain kesempatan untuk tumbuh.
PUTHUT SEBAGAI SIMBOL LAKU
Dalam pengertian sebagai pertapa, puthut menggambarkan manusia yang memilih untuk menepi sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, mengendalikan keinginan, dan belajar mengenali dirinya sendiri.
Laku prihatin bukan berarti menjauhi kehidupan, melainkan belajar menempatkan keinginan agar tidak menguasai diri. Seorang pertapa dalam gambaran tradisional Jawa menjadi simbol ketekunan, kesabaran, pengendalian diri, dan pencarian makna.
Dari sini Puthut Sajen dapat menjadi pameling bahwa semakin banyak yang kita miliki, semakin penting pula kemampuan untuk mengendalikan diri. Manusia tidak hanya perlu mengejar apa yang diinginkan, tetapi juga perlu belajar memahami apa yang benar-benar dibutuhkan.
PUTHUT SEBAGAI SIMBOL JANIN
Sementara itu, bentuk puthut yang sering diasosiasikan dengan janin bayi membawa makna yang berbeda namun saling melengkapi.
Janin berada dalam keadaan yang sangat sederhana. Ia belum memiliki nama, kedudukan, harta, maupun pencapaian. Ia hanya sedang tumbuh, terlindungi di dalam kandungan, menunggu waktunya untuk lahir dan menjalani kehidupan.
Makna ini mengingatkan manusia pada asal mula dirinya. Sebelum menjadi seseorang yang memiliki kedudukan dan berbagai pencapaian, setiap manusia pernah berada dalam keadaan yang sama: kecil, lemah, dan sepenuhnya bergantung kepada kehidupan yang merawatnya.
Dari sini muncul piwulang tentang andhap asor dan eling marang asal. Setinggi apa pun seseorang tumbuh, jangan sampai lupa bahwa dirinya juga pernah memulai kehidupan dari keadaan yang sangat sederhana.
MAKNA SAJEN
Kata sajen berkaitan dengan persembahan, penghormatan, dan ungkapan rasa syukur dalam tradisi masyarakat Jawa. Jika dipertemukan dengan simbol puthut sebagai pertapa dan janin, Puthut Sajen dapat dimaknai sebagai pengingat untuk menghormati kehidupan dan menjalani proses pertumbuhan dengan kesadaran.
Janin membutuhkan waktu untuk tumbuh sebelum dilahirkan. Pertapa membutuhkan waktu untuk menjalani laku sebelum mencapai kematangan batin. Keduanya sama-sama mengajarkan bahwa kematangan tidak lahir secara instan.
Manusia pun demikian. Menjadi pribadi yang matang membutuhkan waktu, pengalaman, kesabaran, pengendalian diri, serta kesediaan untuk terus belajar.
Pada akhirnya, Puthut Sajen dapat dibaca sebagai simbol tentang asal kehidupan dan perjalanan menuju kematangan. Ia mengajarkan untuk eling marang asal, mampu mengendalikan diri, sabar menjalani proses, serta senantiasa bersyukur atas kehidupan yang telah diberikan.
Sederhana bentuknya, tetapi dalam piwulangnya: sebelum menjadi seseorang, kita pernah menjadi janin. Dan untuk menjadi manusia yang matang, kita tetap membutuhkan laku.
TAG200
Puthut Sajen Original Sepuh Primitif
| Berat | 1500 gram |
| Kondisi | Bekas |
| Dilihat | 141 kali |
| Diskusi | Belum ada komentar |
Keris Sabuk Inten Kuno Mataram Sultan Agung Pamor Wos Wutah Meteorit Dhapur Keris (Jenis Bentuk Keris) : Sabuk Inten Pamor (Motif Lipatan Besi) : Beras Wutah Meteorit Tangguh (Perkiraan Masa Pembuatan) : Mataram Sultan Agung Panjang Bilah : 34,3 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Timoho Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang Kuno Pendok… selengkapnya
Rp 3.111.000Keris Sengkelat Luk 13 Kembang Kacang Nggelung Wayang Sepuh Kuno Dhapur: Sengkelat Pamor: Wos Wutah Tangguh: Mataram Sultan Agung (Abad XVI) Warangka: Ladrang Surakarta Kayu Trembalo Kuno Handle/Deder: Solo (Surakarta) Kayu Kemuning Bang Kuno Mendak: Selut Pendok: Blewah Surakarta Kode: K200 Dialih rawatkan (dimaharkan) Keris Sengkelat Luk 13 Kembang Kacang Nggelung Wayang sesuai dengan foto… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Sepuh Pamor Pandito Bolo Pandito Sepasang Dialih rawatkan (dimaharkan) Keris Sepuh Pamor Pandito Bolo Pandito Sepasang. Kedua keris ini kami maharkan sepasang karena pada saat kami dapatkan keris tersebut keduanya bersamaan dalam dhapur dan pamor yang sama. Secara tak tersirat memberikan petunjuk bahwa keris ini memang sepasang dan tidak bisa dipisahkan. Dengan alasan itulah… selengkapnya
Hubungi AdminDHAPUR LANGKA!! Keris Ron Teki Pamor Tunggak Semi Pajajaran Kuno Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Ron Teki Pamor (motif lipatan besi) : Tunggak Semi (Besi istimewa berserat padat menandakan ribuan kali lipatan tempa) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajajaran Awal (Abad XII) Panjang Bilah : 33 cm Warangka : Gayaman Solo Kayu Timoho Kuno… selengkapnya
Rp 2.555.000Keris Parungsari Keleng Pengawak Waja Garap Istimewa Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Parungsari Luk 13 Pamor (motif lipatan besi) : Keleng / Pengawak Wojo Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : PB Putran Panjang Bilah : 36 cm Warangka : Ladrang Surakarta Kayu Gembol Jati Handle / Gagang : Kayu Kemuning Pendok : Blewah Surakarta Model… selengkapnya
Hubungi AdminKeris Pamor Kol Buntet Sepuh Dhapur: Jalak Ngore Luk: Lurus Pamor: Kol Buntet Tangguh: Pajajaran Warangka: Gayaman Kayu Trembalo Kuno Hulu: Yudawinatan Kayu Trembalo Kuno Mendak: Widengan Kuningan Pendok: Bunton Kuningan Filosofi Keris Pamor Kol Buntet Dalam kaya budaya Nusantara, Keris Pamor Kol Buntet menjelma menjadi salah satu simbol kearifan dan keindahan warisan nenek moyang…. selengkapnya
Rp 1.999.000Keris Tilam Sari Pamor Batu Lapak Tangguh Tuban Empu Bekel Jati Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Sari Pamor (motif lipatan besi) : Batu Lapak Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Tuban (Empu Bekel Jati) Panjang Bilah : 36,3 cm Warangka : Gayaman Surakarta gandar Iras Kayu Trembalo Pisang Kuno Handle / Gagang : Kayu… selengkapnya
Rp 4.333.000Keris Brojol Pamor Sumur Bandung Pajajaran Sepuh TAG153
Rp 2.500.000Keris Pamor Udan Mas Mataram Dhapur Keris (jenis bentuk keris) : Tilam Upih Pamor (motif lipatan besi) : Udan Mas (pamor jadi pola 2 1 2 dan tembus di gonjo) Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Mataram Panjang Bilah : 36,2 cm Warangka : Gayaman Surakarta Kayu Timoho Kuno Handle / Gagang : Kayu Kemuning Bang… selengkapnya
Rp 17.500.000DHAPUR PARUNGSARI Dhapur Parungsari merupakan salah satu dhapur keris luk 13. Dhapur dikenali terutama dari bentuk bilah dan susunan ricikannya. Pada Dhapur Parungsari terdapat ricikan sekar kacang, jalen, lambe gajah dua, pejetan, tikel alis, sogokan rangkap, sraweyan, dan greneng. Susunan ricikan tersebut menjadi salah satu dasar untuk mengenali Dhapur Parungsari dan membedakannya dari dhapur lain… selengkapnya
Rp 3.500.000


















WhatsApp us
Belum ada komentar, buka diskusi dengan komentar Anda.