Menu

Kujang Ciung Mata 3 Tangguh Pajajaran Sepuh Kuno

KategoriKatalog Produk, Kujang, Pamor Banyu Mili, Tangguh Pajajaran
KodePK163
Di lihat34 kali
DhapurKujang Ciung
PamorBanyu Mili
TangguhPajajaran (Abad XII)
Panjang Bilah17 cm
WarangkaKayu Cendana Jawa
Deder/HuluKayu Cendana Jawa
Harga Rp 1.350.000
Beli Sekarang

Ulasan Kujang Ciung Mata 3 Tangguh Pajajaran Sepuh Kuno

Pusaka Kujang Ciung Mata 3 Tangguh Pajajaran Sepuh Kuno

  • Dhapur (jenis bentuk pusaka) : Kujang Ciung Mata 3
  • Pamor (motif lipatan besi) : Banyu Mili
  • Tangguh (perkiraan masa pembuatan) : Pajajaran (Abad XII)
  • Panjang Bilah : 17 cm
  • Warangka : Kayu Cendana Jawa
  • Handle / Gagang : Kayu Cendana Jawa
  • Kode : PK163

Dialih rawatkan (dimaharkan) Kujang Ciung Mata 3 Tangguh Pajajaran Sepuh Kuno sesuai dengan foto dan deskripsi yang tertera.

Kujang Ciung Mata 3 Tangguh Pajajaran Sepuh Kuno Kujang Ciung Mata 3 Tangguh Pajajaran Sepuh Kuno Kujang Ciung Mata 3 Tangguh Pajajaran Sepuh Kuno

Tentang Kujang Ciung Mata 3 Tangguh Pajajaran Sepuh Kuno

KUJANG CIUNG, merupakan varian kujang yang paling banyak diketemukan. Bentuknya menyerupai burung ciung. Kata Ciung dalam penamaan Kujang Ciung mengarahkan kepada seorang tokoh dalam babak Banjar Nagara yang bergelar Ciung Wanara atau Sang Manarah atau Maharaja Panunggalan. Kujang Ciung yang juga merupakan kategori kujang pusaka yang berfungsi sebagai penolak bala.

Jika dicermati lebih detail, varian-varian kujang ciung, seperti cengkok pakuan, cengkok mangkubumi, dan cengkok mangkualam tetap mengacu pada struktur dua sabit yang saling membelakangi. Sabit bagian atas membentuk papatuk, yakni ujung atau bagian paling runcing dari kujang ciung. Ujung sabit atas yang melengkung ke bawah membentuk siih. Sabit pada bagian bawah membentuk waruga dalam bentuk kepala burung ciung (beo) sampai ke tadah kujang. Dua sabit tersebut saling membelakangi sehingga terwujudlah keseimbangan bentuk.

Kujang Ciung Mata 3 Tangguh Pajajaran Sepuh Kuno Kujang Ciung Mata 3 Tangguh Pajajaran Sepuh Kuno Kujang Ciung Mata 3 Tangguh Pajajaran Sepuh Kuno

Filosofi Kujang Ciung

FILOSOFI, Kata “Ciung” merupakan personifikasi Burung. Struktur aksara pembentuk kata Ciung : “Ca Ya Wa Nga“. Ca memaknai Cahaya, Ya memaknai Hurip atau kahirupan, Wa memaknai Salaput Tunggal atau Hawa atau Udara, Nga memaknai Nu Kawasa. Ciung mempunyai makna Ca’ang dalam konotasi ajaran udagan kasamapurnaan melepaskan segala nafsu duniawi. Yang Niti Harti, Niti Surti, Niti Bakti, Niti Bukti, dan Niti Kasajatiannya.

Kujang Ciung Mata 3 Tangguh Pajajaran Sepuh Kuno

Niti Harti : Ciung Bermakna Manuk. Perupaan bilahnya sebagai bentuk substansi atau esensi dari bentuk burung ciung (beo).

Niti Surti : Asal kata “Ciung” dari Manu yang bermakna manusia. Pemaknaan terhadap gelar manusia bersih atau yang sudah mendapatkan pencerahan (dalam bahasa Sunda= Ca’ang), makna dari “Ca’ang” bermakna bersih yang menunjuk pada seorang raja. Kata “Ciung” merupakan personifikasi burung, yang bermakna sesuatu yang ada di angkasa atau alam atas. Esensi makna dari Ciung adalah kata “Ca’ang”, mengarahkan pada Buana Nyuncung, yang merupakan tempat yang paling tinggi kedudukannya. Buana Nyungcung merupakan tempat para hyang atau para wali nagara yang sudah purna atau sampurna.

Niti Bukti : Dalam konteks kenegaraan purba, kata “Ciung” merupakan landasan filosofis bangsa dan negara. Ciung Wanara mendirikan kerajaan Galuh di Panjalu, periode Banjarnagara yang dikenal Banjar Pataruman, karena keilmuannya Ciung Wanara menjadi Kerta (ajaran) => Nagara Kerta Gama (ajaran atau tatanan negara yang berlandaskan nilai-nilai luhur agama). Manusia yang sudah mencapai tingkat Ca’ang ini memberikan contoh berupa ajaran kepada masyarakat melalui perilakunya. Data sejarah yang memperkuat nama dapuran kujang Ciung, antara lain : Raden Manarah (sang Manarah), Mangkubumi Surapati, Ciung Wanara hingga setelah berhasil berkuasa bergelar Kuda Lelean. Sundapura dan Galuh bersatu melalui perjanjian Galuh tahun 739 M atau 661 Saka. Pada saat itulah wilayah Jawa Kalwan atau Jawa Kulon disebut kerajaan Mangkukuhan. Pada waktu itu disalah satu tempat bertapanya, prabu Kuda Lelean mendapat ilham untuk merancang ulang bentuk perupaan kujang dengan menyeseuaikan bentuknya dengan bentuk dari “Djawa Dwipa”, yang dikenal dengan nama Pulo Jawa saat ini.

Niti Sajati : Ajaran Ciung Wanara menjadi keilmuan baru yang dijadikan pedoman-pedoman untuk raja-raja sunda pajajaran.

Rp (Hubungi CS)
Order Sekarang » SMS : 082 177 400 100
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodePK003
Nama BarangPusaka Keris Patrem Majapahit
Harga Rp (Hubungi CS)
Lihat Detail
Rp 3.333.000
Order Sekarang » SMS : 082 177 400 100
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodePK020
Nama BarangPusaka Keris Paksi Dewata Lurus
Harga Rp 3.333.000
Lihat Detail
Rp 1.555.000
Order Sekarang » SMS : 082 177 400 100
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodePK012
Nama BarangPusaka Keris Bethok Brojol Tindik Perak Pamor Tunggak Semi
Harga Rp 1.555.000
Lihat Detail
Rp 2.500.000
Order Sekarang » SMS : 082 177 400 100
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
KodePK131
Nama BarangPusaka Keris Santan Pamor Setro Banyu
Harga Rp 2.500.000
Lihat Detail

Hubungi Kami

082 177 400 100
082 177 400 100
082 177 400 100
cspusakakeris@gmail.com

Semua Kategori